Cinta Alina

Cinta Alina
Jumpa kangen


__ADS_3

Alina tersenyum melihat kartu ucapan dari dion.


" calon mantu mama romantis ya" anjani mengerlingkan mata untuk menggoda putrinya.


berlian yang baru sampai dari acara berkemah selama empat hari pun terkejut melihat bunga yang begitu banyak.


" mah.. kita mau jualan bunga ya, kak alina gak ke rumah sakit?"


" bunga dari dion untuk kakak mu dan kak alina sedang sakit jadi dia istirahat di rumah dulu" jelas anjani pada berlian yang cuma ber ooohhhhh ria.


" kak temani berlian ke moll ya hari ini.. "


" boo.. ll.... "


" tidak bisa.. kakak mu sedang sakit, cepat mandi kamu udah bau terasi" ketus mama belum sempat alina menjawab pertanyaan berlian mama sudah menegaskan tidak ada acara di luar rumah.


----____----_____----___----____----___-----___


Setelah sekian hari terpenjara di rumah, hari ini alina sudah bisa kembali beraktivitas melayani semua pasien yang mengantri di poliklinik nya.


" pagi dokter... sudah sehat, kangen banget sama dokter" adel dengan segala kecerewetannya


" pagi adel... saya kangen juga sama kamu, tiga hari kuping saya aman dari ocehan kamu"


" ahh dokter alina bisa saja"


"oh iya del.. saya hari ini jam sepuluh pagi ada janji ke poli bedah mau kontrol jahitan, jadi saya usahakan kembali secepatnya nya setelah kontrol"


"okey dok"


dion telah berhasil membalas renold otak dari penyerangan terhadapnya dan alina.


walaupun tidak semudah yang dion kira, dion harus menambah waktu yang harusnya selesai dua hari menjadi empat hari. renold cukup licin untuk di serang.


" cepat atur kepulangan ku.. " perintah nya pada asisten setia dion bernama rudi.


Sesampainya di kota A dion segera menuju rumah sakit, bukan karena ingin bekerja tetapi ingin menemui sang pujaan hati.


dion membuka ruang kerja alina, yang terlihat hanya asisten alina.


" dimana dokter alina??"


"di.. direktur, dokter alina sedang kontrol jahitan ke poli bedah"


dion segera menutup pintu dan menuju ke poli bedah,

__ADS_1


di poli bedah luka alina di periksa oleh dokter gunadi yang berwajah oriental lumayan lah pemandangan bagus menurut alina.


awww... dok, alina sedikit meringis karena kasa yang menutup luka masih sedikit menempel.


" maaf.. maaf... saya akan pelan"


dion yang mendengar percakapan itu dari luar sedikit tersengat cemburu, dia tau dokter guna masih lajang.


dion membuka tirai di ruang tindakan, alina dan dokter guna terkejut karena melihat direktur mereka ada di ruangan ini.


"pak dion... ada apa?" alina bersikap formal karena di rumah sakit tidak ada yang tau kalau alina adalah kekasih dion.


" saya hanya ingin melihat keadaan kamu" dion memperhatikan setiap proses perawatan luka yang dilakukan oleh dokter guna, aneh.. dokter guna merasa aneh kenapa seorang direktur rumah sakit repot repot melihat proses perawatan luka pegawainya.


"sudah selesai, mungkin tiga hari lagi jahitannya bisa kita angkat" jelas dokter guna, alina hanya menganggukan kepala.


"kalau begitu saya permisi dulu, saya harus melanjutkan pekerjaan saya" alina pamit dan meninggalkan dion begitu saja.


dion sedikit berlari mengikuti alina ke ruang kerja nya. Alina masuk dan menutup pintu, dion membuka pintu dan memegang tangan alina.


"kamu keluar saya mau bicara dengan dokter alina" perintah dion pada adel. Adel pun segera keluar melihat aura dingin yang ada pada direktur pemilik rumah sakit ini.


" apa sih mas.. aku mau kerja, masalah pribadi jangan di bawa ke tempat kerja. Dulu ada seseorang yang mengatakan seperti itu pada ku"


" oh iya orang itu juga mengatakan kalau dia tidak suka di bantah"


Dion tersenyum karena perkataannya dulu berbalik menyerang nya. Dion segera menarik alina kedalam pelukannya.


" maaf.. maafkan aku, jangan seperti ini aku tidak terlalu kuat menahan rasa rinduku"


" kamu suka bunganya... ??"


" mas dion kamu beneran sudah gila, bunga sebanyak itu untuk apa coba" ketus alina


" iya aku sudah gila sangat tergila gila dengan dirimu"


dion merapatkan tubuh alina pada dinding ruangan kerja alina, tak mampu melawan kekuatan dion, alina hanya bisa pasrah.


" aku merindukanmu.. " dion ******* bibir alina sedikit menggitnya agar alina membuka mulut nya, lidah mereka saling membelit mengecap rasa manis dan rindu setelah empat hari berpisah membuat dion tak mampu mengendalikan gairahnya.


dion membawa alina pada kursi panjang yang ada pada rungan itu dion membaringkan alina tanpa melepaskan lumatannya pada bibir alina , dion yang sudah berada di atas tubuh alina merasa tubuhnya terbakar, dion menghirup wangi tubuh alina, menciumi leher dan dion mencoba membuka kancing baju alina.


alina tersadar saat pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar.. mereka segera merapikan pakaian yang sudah berantakan.


" aku buka pintunya.. sebentar, ini jam kantor mas.

__ADS_1


aku jadi malu kalo kayak begini"


ternyata ada rudi yang mengetuk pintu menanyakan direktur yang menghilang, karena setelah makan siang ada janji rapat dengan para pemegang saham.


" tunda rapat hari ini... saya ada rapat dengan dokter alina" perintah dion pada rudi.


" maaf tuan, sudah tiga kali kita menunda rapat ini"


" bapak dion silahkan pergi rapat.. " alina mendekatkan bibirnya ke telinga dion


" nanti kita sambung rapatnya" alina sedikit memberikan gigitan kecil pada telinga dion.


sshhhh... dion menahan sesuatu yang sudah menegang didalam sana.


rudi membutakan mata nya untuk kegiatan panas bos nya ini. kalau tidak bisa berbahaya untuk kelangsungan hidup nya.


" mas cepat pergi.. aku juga mau makan siang dulu sama adel"


" kamu mengusir ku hmm... " dion menarik alina dan menjatuhkan alina di pangkuannya.


" mana berani mengusir pemilik rumah sakit"


hal yang tak terduga pun terjadi, rudi menoleh pada seseorang yang berdiri di samping nya.


" ttuuu.. ann besar.. " rudi bingung harus berkata apa pada tuan hamzah yang tiba tiba saja ada di sampingnya menyaksikan drama romantis ini.


" ssstttttt... " hamzah memberikan tanda untuk diam


tok tok tok... hamzah mengetuk meja dimana dion dan alina sedang bermesraan.


" aaayyyyaahhhhh.... " dion terkejut melihat ayah nya sudah ada di hadapannya.


alina segera bangkit dari pangkuan dion, wajahnya terasa panas karena malu sudah tertangkap basah oleh om hamzah.


alina hanya bisa menunduk malu tak mampu menatap mata om hamzah.


" rupanya disini, ayah mencarimu di ruang kerja mu tidak ada, ponsel tidak aktif.. untungnya ayah cerdas, mengingat alina, sudah pasti kau akan disini kalau tak ada disana"


" cepat persiapkan bahan untuk rapat, ayah tidak mau tau urusan kalian" ayah hazah yang sudah membuka pintu untuk keluar tiba tiba berbalik.


" oh.. iya alina, tolong sampaikan kepada anton dan anjani minggu depan kami akan datang untuk melamar kamu.. saya sudah tidak bisa membiarkan ini terlalu lama, yang ada kamu bisa bunting karena ulah bocah tengik ini"


" i.. iya om"


setelah semua orang pergi, hanya ada alina di ruangan itu, merenung apa mingkin secepat ini pernikahannya dengan dion, sedangkan alina belum terlalu mengenal dion.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2