Cinta Alina

Cinta Alina
Menuju pernikahan


__ADS_3

" Menunda tiga bulan ya .. tak apa yang penting aku masih bisa bersama dengan kamu"


" hhmmmm"


" ayo ikut aku.. "


dion merangkul alina mengajaknya pergi ke luar ruangan kerja alina.


" ihhh... lepasin, ini kan rumah sakit.. kita masih di jam kerja" alina menahan langkah dion untuk keluar ruangan.


" heii.. kamu lupa siapa pemilik rumah sakit ini"


" sombong amat, jangan lupa saham rumah sakit ini sebagian milikku"


"hahahahah... iya iya nyonya dion dirgantara hamzah, kamu akan memiliki semua yang aku miliki"


dion mencium kening alina lama, setelah pertengkaran yang membuat jarak antara mereka akhirnya dion bisa kembali merasakan kehangatan sikap alina.


" Boleh mas peluk"


" biasanya juga gak pakai nanya"


dion tersenyum dan membawa alina kedalam pelukannya, alina menghirup dalam wangi parfum dion tanpa alina sadari dia merindukan pelukan ini dan wangi tubuh dion.


" udah ayo.. kita mau kemana mas" alina menggamit lengan dion mengajaknya ke luar ruangan.


" kita kerumah ku ya, bunda nungguin kita"


" okeyy bos" alina antusias mendengar akan bertemu anggi.


Di ruang tunggu alina berpapasan dengan adel yang terlihat manyun.


" del saya duluan ya...bye adel " alina melambaikan tangannya pada adel yang terbengong melihat pasangan yang tadi seperti kucing dan anjing sekarang malah lengket banget.


' huhhh.... pasangan yang aneh' gumam adel.


Di perjalanan menuju rumah dion


Tring.. tring... tringg... bunyi panggilan masuk dari ponsel alina tertera nama pemanggil gavin di layar ponsel alina.


' iya vin.. kenapa?'


' kamu ada acara malam ini? mau gak makan malam sama aku'


' emm.. gimana ya, aku kaya nya gak bisa deh... maaf ya'


' oh ya udah lain kali aja.. dah ya aku tutup dulu'

__ADS_1


' okey vin'


Wajah dion mengeras setelah alina menutup ponselnya, dion merasa gavin akan terus menjadi duri dalam hubungannya.


" dari siapa? Gavin?"


" iya mas.. kenapa?"


" jangan terlalu dekat dengan dia, takut dia akan mengharapkan lebih dari kamu"


" iya kalau kamunya gak berubah kan ada gavin siap membawa ku kemana saja aku mau"


pletakk.. dion menyentil dahi alina.


"aawww.. mas dion ih sakit tau"


" kamu pikir aku gak akan berubah.. trus kamu akan pergi dengan gavin gitu, jangan harap"


Dion diam sepanjang jalan, hingga mereka sampai di depan rumah dion.


Rumah besar dengan halaman luas yang di penuhi tanaman hijau dan bunga mawar merah yang terawat dengan baik, sungguh indah di pandang mata.


" mas.. indah banget taman bunganya, siapa yang rawat?"


" bunda.. dia sangat suka mawar" dion mengajak alina memasuki rumah.


" Makasih bik sumi.. "


Alina melihat tante anggi yang sedang memberikan makan ikan koi yang bergerombol di kolam. Halaman belakang rumah yang juga sangat luas ini kelihatan sangat sejuk tapi halaman belakang ini di peruntukan sebagai tempat bersantai dan kumpul keluarga.


" siang menjelang sore tante... "


" hai sayang.. kalian sudah disini, duduk dulu lin anggap rumah sendiri" tante anggi memberikan senyum yang sangat teduh, siapapun yang melihatnya akan otomatis membalas senyumnya.


Bik sumi membawakan dion dan alina minuman dingin dan kudapan untuk mereka nikmati.


" aku ganti baju dulu ya.. kamu tunggu disini sama bunda" alina menganggukkan kepalanya tanda setuju.


" bunda aku bantu beri makan ikan boleh.. ?"


" tentu sayang.. sini"


Menenangkan bisa melihat ikan yang berenang seolah tanpa beban, seakan kehidupan bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita mau tapi realitanya adalah kehidupan tak semudah yang kita bayangkan.


" tante menunggu saya dan dion.. ? "


" iya kita duduk disana lin biar bisa sambil minum.."anggi mengajak alina duduk di kursi santai di bawah pohon rindang" boleh tante meminta sesuatu sama kamu, mungkin tante terlalu egois meminta ini dari kamu tapi mungkin tante tak punya keinginan lain lagi selain ini dan ini juga permintaan om pada kalian"

__ADS_1


" apa itu tan.. "


" saya hanya ingin melihat kalian menikah secepatnya,saya akan merasa tenang menitipkan dion sama kamu. Dion orang yang baik lin, hanya saja tekanan dari ayahnya untuk menjadikannya seorang pemimpin sehingga membuatnya menjadi orang yang keras dan tempramen. Saya yakin kamu yang bisa memahami dion dan mampu meredam segala amarahnya"


" Saya tak sekuat itu tan.. apa tante tau apa yang dion lakukan pada saya pada saat kami di Amsterdam".


" ya saya tau itu dion sudah menceritakan semuanya"


"eeekkkhhhmmmm.... serius banget keliatannya, kalian membicarakan apa?" dion datang dan duduk di samping ku dengan menggunakan celana bahan dan kaos rumahan, rambutnya masih basah , aroma parfume yang menyegarkan menggelitik penciuman ku untuk lebih merapat ke tubuh dion.


" udah seger.. wangi lagi, lah aku masih dengan pakaian tempur ini" alina menekuk mukanya.


" gini aja kamu cantik.. " dion mencubit hidung alina gemas.


" adduhhhh... mas ih, tuh kan jadi merah hidung aku" alina mengambil kaca dari dalam tas dan melihat hidungnya yang sedikit merah karena ulah dion.


Anggi tersenyum melihat tingkah anak dan calon menantunya ini.


" dion.. alina...apa kalian bisa secepatnya menikah"tanya anggi pada dion dan alina.


" alina meminta waktu tiga bulan bun.. karena aku harus membuktikan kalau aku bisa berubah menjadi lebih baik untuknya" jelas dion.


" maafkan saya tan... saya masih belum bisa menikah sesuai rencana kita akhir bulan ini, saya perlu waktu untuk menerima dion kembali setelah kejadian kemarin di Belanda"


" maafkan bunda dion alina.. mungkin ini bukan berita baik untuk kita tapi ini alasan mengapa bunda meminta secepatnya kalian menikah, ayah sedang sakit.. " bunda menghela nafas, matanya sudah berkaca kaca.


" Bunda... ayah sakit? kenapa bunda tak menceritakan ini pada dion, kita bisa membawa ayah ke rumah sakit terbaik di Korea atau negara manapun agar ayah bisa sembuh dengan cepat tapi kita harus menghormati keputusan alina bun, kita tidak bisa memaksanya hanya karena masalah pribadi kita" dion melangkah dan memeluk ibundanya yang terlihat rapuh.


" bunda... boleh alina memanggil tante bunda seperti dion memanggil tante"


" Tentu sayang... sudah lama tante ingin kamu memanggil bunda pada tante"


Aku memeluk bunda dengan erat, menyalurkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan ini.


" bunda yang kuat ya... kita akan memberikan dukungan untuk ayah, maaf bun ayah sakit apa?"


" ayah menderita kanker paru stadium tiga, sekarang dia mendapatkan terapy di rumah sakit chonbuk korea, ada mita menemaninya disana. Bunda akan kesana mungkin besok, alina bunda tanyakan sekali lagi apa kamu belum bisa untuk menikah dengan dion bulan ini?"


alina terdiam.. ini bukan hal yang mudah, ayah yang ingin melihat kami menikah dan perasaan kecewa pada dion masih sangat besar tapi sangat tidak baik menolak permintaan ayah hamzah untuk yang terakhir kalinya.


" berikan waktu untuk alina bun... jangan memaksanya" jelas dion kembali


" mas... siapkan pernikahannya dan kita akan memberitahukan mama dan papa tentang masalah ini secepatnya, apa ayah bisa pulang ke Indonesia setelah terapy bun?"


" iya ayah akan terapy seminggu disana setelah itu ayah akan kembali kesini dan kita akan laksanakan pernikahan ini secepatnya setelah ayah kembali"


Dion memandang alina kaget mendengar jawaban alina yang mau menikah dengannya bulan ini.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2