
Setelah terbangun dari tidur nyenyaknya, alina memperhatikan kebiruan pada pipinya sudah mulai menghilang dan luka pada sudut bibirnya juga sudah sembuh. Setidaknya sisa kebiruan bisa di tutup dengan foundation, semoga mama tidak mengetahui apa yang terjadi. Alina tidak ingin masalah ini melibatkan para orang tua.
tok.. tok.. tok.. alina segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang, ternyata gavin yang datang dengan kantong belanja penuh di kedua belah tangannya.
" hai.. pasti belum sarapan, kita sarapan bareng ya" gavin menerobos masuk ke kamar hotel dan membuka semua makanan yang dia bawa.
" aku bawain roti keju buat kamu.. " gavin terlihat canggung dengan kosakata barunya.
alina terbahak mendengar gavin menggunakan kata kamu aku untuk mereka.
" Sejak kapan aku kamu.. " alina masih menahan tawanya.
" gak apa apa kan untuk merubah suasana kita"
" ya jadi aneh vin, tapi kita coba aja" alina memakan roti keju yang dibawa gavin untuknya.
" pelan pelan, nanti lukanya terbuka lagi,
"kalau panggilan berubah, hubungan kita juga bisa berubah dong " gavin mengerlingkan matanya.
"hubungan yang seperti apa yang kamu maksud ? gw eh aku akan lebih baik kalau kita menjadi sahabat selamanya"
"tidak.. tidak.. aku mau kamu jadi istri ku"
Alina hanya tersenyum miring menanggapi keinginan gavin.
" lu eh kamu sadar gak, aku udah mau nikah sama dion"
" Alina... elu udah buta atau hati lu udah kebas gak bisa merasakan cinta gw, lu masih mengharapkan pernikahan dengan dion yang udah membuat lu terluka begini"
gavin meremas rambutnya, tak tau harus bagaimana agar bisa membuat alina sadar akan cintanya dan dion tidak pantas untuknya.
alina menghela nafas untuk menghadapi gavin.
" gw harus gimana vin, kamu liat cincin ini.. " alina memperlihatkan cincin permata berwarna biru muda yang melingkar di jari manisnya
"gw udah terikat dengan dion kalaupun kita mau bersama menjalin hubungan baru itu berarti gw harus memutuskan ikatan ini".
lama hening tak bersuara di antara mereka, masing masing dari mereka memikirkan jalan apa yang akan di ambil.
" baiklah aku akan menambah kesabaran untuk menunggu keputusan mu, aku pergi dulu ada pekerjaan yang harus di selesaikan"
" vin.. maaf dan terimakasih atas bantuan kamu, mungkin aku akan kembali ke rumah mama sore ini"
"okey.. hati hati, nanti akan ku kirimkan supir untuk mengantarkan mu ke rumah"
alina mempersiapkan kepulangannya ke rumah dengan di antar oleh supir gavin, Alina di sambut oleh mama anjani yang cemas mendengar kabar dari anggi kalau alina sudah pulang sejak kemarin.
" sayang... kamu kenapa lama baru sampai ke rumah? apa ada masalah di sana? kenapa kamu tidak pulang bersama dion?"
" banyak amat pertanyaan mama, alina jawab yang mana dulu ma? mana berlian dan papa"
" jawab dulu pertanyaan mama"
__ADS_1
"iya iya... alina pulang duluan karena masalah di sana sudah selesai dan pesawat alina delay beberapa jam jadi agak lama baru sampai ke rumah, kalo dion dia akan menyusul belakangan karena masih harus menyelesaikan masalah disana"
"gimana wanita itu, bikin masalah gak sama kamu?"
" ya iyalah ma.. dia gak terima kalau alina calon istri dion, tapi sudah di bereskan oleh dion sendiri.
Alina ke kamar dulu ma.. mau mandi biar seger"
alina lega sudah bisa melewati pertanyaan bertubi-tubi dari mama anjani, tinggal menyelesaikan masalahnya dengan dion.
Dion sudah berbuat kasar padanya, itu tidak bisa di toleransi oleh alina. Kalau dion belum bisa merubah sifat kasarnya alina memutuskan membatalkan pernikahannya dengan dion.
alina sudah siap untuk makan malam bersama keluarganya malam ini, alina menatap kembali pipinya apakah seudah sempurna tertutup,
" sempurna.. tak terlihat, mungkin besok sudah sembuh sempurna" gumamnya sambil mengoleskan foundation di wajahnya.
" apa yang tak terlihat?" tiba tiba mama anjani masuk dan memperhatikan wajah alina.
" mama bikin aku jantungan aja, kenapa gak mengetuk pintu dulu sih ma"
" udah di panggil puluhan kali sama mama kamunya gak buka pintunya, ya mama masuk aja. Apa yang tak terlihat lin?"
" ini bekas jerawat, aku gak cocok sama udara di belanda mah"
Alina bergegas menarik tangan mamanya untuk turun makan malam, terlihat berlian dan papa anton sudah menunggu kami.
" pah.. berli.. apa kabar, kakak kangen banget beberapa hari gak liat kalian"
" lebay si kakak mah.. kalau orang kangen itu ya aku sama mama tuh di telpon, nyatanya kaka gak ada menghubungi kami di sini. Mama udah kaya setrikaan tiap hari mondar mandir menunggu kabar dari kaka" sembur berlian, papa anton hanya tersenyum melihat tingkah dua putrinya.
" udah .. udah.. pusing mama dengerin kalian, cepat makan " kalau sudah dalam mode marah begini gak ada yang berani melawan mama.
___----____------____----____-----____------___
Sudah seminggu alina tak masuk bekerja setelah kepulangannya dari belanda, dion pun tak berani menghubunginya. Tante anggi sudah meminta maaf untuk kejadian yang menimpaku di belanda.
Kalau hubungannya dan dion tak bisa di pertahankan maka alina akan mengundurkan diri dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Tak mungkin rasanya alina harus tetap melakukan kontak dengan dion saat hubungannya sudah berakhir.
Alina memutuskan untuk masuk bekerja hari ini. Sudah waktunya alina menentukan keputusannya, alina akan mundur kalau dion tak mau berubah lebih baik.
" pagi adel... "
"dokter alina, saya merindukan anda. Lama banget dokter cutinya"
" saya juga kangen sama kamu, nanti kita makan siang bareng ya"
" siaappp dokter.. ini sudah siap pelayanan lagi"
" iya dong.. kamu panggil cepat pasien kita, semangattt kerja del!!" alina mengangkat tangan dan mengepalkan tangan ke depan dada tanda pemberi semangat untuk mereka hari ini.
Satu persatu pasien sudah di layani, adel dan alina bersiap untuk pergi makan siang di cafetaria rumah sakit di lantai tiga.
" kita naik lewat lift ini aja dokter.. " adel menggandeng tangan alina untuk masuk ke lift.
__ADS_1
" lama del.. pegel ini kaki saya"
" ini kan jam makan siang dok.. pasti rame lah"
" silahkan nona alina, anda bisa naik lift khusus petinggi rumah sakit" rudi menyapa alina yang sedang mengantri untuk naik lift karyawan.
" tidak terimakasih, saya akan tetap mengantri di sini"
ting.. pintu lift terbuka, alina dan adel segera masuk lift meninggalkan rudi.
Di ruang direktur suasana terasa dingin, dion memperhatikan laporan laporan yang masuk.
" laporan ini tidak singkron perbaiki secepatnya, kalau besok pagi saya tidak menerima laporannya, kamu akan saya pecat... sekarang keluar!!!" dion menumpahkan segala kemarahan pada seluruh kepala bagian.
" ba.. baik direktur" kepala bagian itu tergagap dan segera meninggalkan ruangan dion.
" tuan.. dokter alina sudah masuk bekerja hari ini" rudi memberitahu dion tentang pertemuannya di lift tadi.
" setelah makan siang saya akan ke ruangannya, semoga saya masih bisa mendapatkan maaf darinya"
selesai makan siang alina dan adel kembali ke ruangan mereka, saat masuk adel tiba tiba berhenti karena melihat orang yang sedang duduk di kursi milik alina.
Alina yang baru masuk heran melihat adel tiba tiba berhenti. "kamu kenapa del kaya liat hantu"
" di direktur dion... selamat siang" mendengar adel menyapa seseorang alina mengikuti arah pandang adel.
Alina tau ini pastikan akan terjadi, jadi alina sudah tau harus bersikap seperti apa kepada direkturnya ini.
" adelia.. saya ingin bicara berdua dengan dokter alina silahkan kamu tunggu di luar dulu" adel langsung berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Dion mendekati alina yang hanya diam mematung.
" Tetap disana direktur.. saya akan duduk di sini, katakan apa yang ingin anda katakan" ketus alina
dion tetap mendekat pada alina, dion merendah dengan berdiri dengan ke dua lututnya.
Mencoba menggenggam tangan alina dan menatap mata alina.
" tolong maaf kan aku al.. "
" kalau masalah akan selesai dengan kata MAAf mungkin tidak akan ada peperangan di dunia ini, mas dion sudah bersikap kasar pada ku, aku tidak ingin hidup bersama dengan orang yang tidak bisa menjaga perilaku nya. Masalah tidak harus di selesaikan dengan pukulan mas"
" Aku akan merubah sikap ku"
" sudah dua kali mas... kamu kasar ke aku, apa jaminannya kalau kamu bisa berubah"
" kalau aku masih bersikap kasar .. silahkan kamu tinggalkan aku dan aku tak akan menghalangi kepergianmu al... tolong maafkan aku kali ini"
" Pernikahan kita akhir bulan ini aku undur tiga bulan lagi, aku mau liat perubahan kamu sebelum aku memutuskan menikah dengan mu dan yang paling penting hubungan mu dan selena jangan sampai menjadi duri di hubungan kita"
"baiklah aku akan mengikuti apapun mau mu.. dan selena sudah ku bereskan dia tak akan berani lagi muncul di hadapanmu"
Alina merasa menunda pernikahan adalah jalan terbaik untuk melihat bagaimana sikap kasar dion dan tempramen nya menghilang.
__ADS_1
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇