
Bagaimanapun kondisinya alina harus tetap menghadapi segala tantangan ini, tantangan harus hidup dengan orang yang arogan, mudah marah dan banyak lagi hal yang sangat bertolak belakang dengan kepribadian alina.
Tapi hidup berjalan bukan seperti apa yang kita mau, tapi hidup berjalan dengan jalan yang sudah di atur oleh yang maha kuasa.
Bahkan rasa cinta pada dion sudah mulai tumbuh dan berkembang, membuka hati pada orang lain mampu mengalihkan hati dan pikirannya dari gavin sang cinta pertama.
Cinta pertama tidaklah harus dimiliki, tapi jalani lah hidup dengan cinta sejati. Mungkin kata kata dari mama anjani inilah yang mampu memberikan ketenangan saat dia harus menetapkan langkah menuju sakinah mawadah warahmah bersama dion.
Hari lamaran yang sudah di atur oleh kedua keluarga berjalan lancar, acara sederhana tapi sangat sakral bagi dion ini wujud keseriusannya untuk meminta seorang alina menjadi pendamping hidupnya.
" kedatangan kami kesini untuk melamar ananda alina putrianjani untuk anak kami dion dirgantara hamzah"
om hamzah yang mengatakan maksud kedatangannya di hadapan seluh keluarga besar.
Papa anton yang mewakili seluruh keluarga menyambut hangat maksud kedatangan keluarga hamzah.
" bagaimana alina, apa kamu mau menerima lamaran nak dion untuk mempersunting mu menjadi istrinya?" papa anton menyerahkan semua jawaban pada alina.
alina yang ditanya nampak diam, sehingga seluruh keluarga menjadi was was apa jawaban yang akan alina berikan.
Alina senyum tertahan melihat ketegangan seluruh keluarga. Alina sengaja memperlambat jawabannya untuk menegerjai calon suaminya itu yang hampir tak bernafas menunggu alina memberikan jawaban.
" iya.. iya... saya bersedia"
" alhamdulillah.... "seluruh keluarga menyambut bahagia persetujuan yang telah alina berikan.
dion memasangkan cincin untuk alina sebagai tanda alina sudah akan menjadi miliknya.
" acara pernikahan dan resepsi akan kita langsungkan satu bulan lagi, saya hanya ingin menghindari hal hal yang dion inginkan" om hamzah memberikan sorotan kepada dion dan alina mengingat tingkah mereka di ruang kerja alina.
" iya saya juga melihat drama korea saat saya mengecek cctv ruang keluraga" mama anjani memberikan pernyataan yang mengejutkan.
" iihh.. mama jangan nyebarin berita dong" alina merengut, muka nya terasa panas karena malu. Alina mendelik melihat dion yang terlihat biasa saja.
Ternyata mama anjani melihat cctv ruang keluarga saat alina membersihkan luka memar di wajah dion yang berakhir dengan adegan dewasa.
acara berlanjut makan malam keluarga.. gelak tawa pun mengiringi berakhirnya acara lamaran.
__ADS_1
___---___---___----___---___---___---___----
" mama.. mama.. alina mau ke rumah sakit kota C ya, dea di rawat disana katanya sih sakit" alina mencari mama anjani yang sedang berada di dapur membantu bik nah menyiapkan sarapan.
" loh kok dadakan.. mama kan mau ngajakin kamu fitting baju pengantin"
" mana ada mah... orang sakit berencana, nanti aja ya fitting nya habis dari nengokin si dea"
" udah ngasih tau dion kalau kamu mau ke kota C"
" belum lah.. ntar aja kalo udah nyampe sana"
" terserah kamu aja, udah dewasa bukan lagi seperti berlian yang harus mama beri komando, kamu udah tau baik dan buruknya buat kamu.. setidaknya kalau dion tau atau ikut bersama kamu mama tidak terlalu cemas, kamu ingat terakhir kali kamu ke kota C apa yang terjadi"
" kata orang orang tua dulu, orang yang mau menikah itu lebih rentan terkena bahaya, itulah kenapa orang yang mau menikah di pingit gak boleh kemana mana"
" jadi alina gak di ijinin yah ma pergi?"
" kalau sama dion boleh.. tapi harus pulang hari ini"
" tapi mah... dion kan belum tentu bisa, dia laki laki super sibuk"
alina mengambil ponselnya yang dia tinggal di kamar.
[ assalamualaikum mas... kamu sibuk banget ya hari ini?]
[ waalaikumsalam sayang.. biasa aja kegiatan hari ini, kenapa?]
[ bisa nggak mas temani aku ke kota C, nengokin dea katanya dirawat di rumah sakit kota C]
[ okey.. tunggu empat puluh lima menit lagi ya]
perjalanan selama tiga jam di tempuh alina dan dion menuju rumah sakit kota C. Alina yang merasa lelah membuatnya tertidur diperjalanan, sesampainya di depan rumah sakit dion membangunkan alina.
" sayang... bangun udah di depan rumah sakit" dion menyentuh pipi alina dengan jari nya, sedikit menusuk nusuk pipi alina karena merasa gemes.
" mass.., yang mesra gitu bangunin aku nya, kamu malah cubitin pipi aku"
__ADS_1
"iya.. iya... maaf nanti lain kali pakai cara lain ngebangunin nya, kamu tunggu di lobby aku parkirin mobil dulu"
saat menunggu dion di lobby alina tak pernah menduga kalau akan bertemu dengan agneta yang sedang duduk seperti menunggu seseorang.
" selamat siang calon nyonya gavin" alina menyapa seperti biasa,
" selamat siang alina.. senang bisa berjumpa lagi, sedang apa kamu disini?" agneta tersenyum sini memandang alina sebagai ancaman bagi hubungannya dan gavin.
" nengokin dea sakit, kamu sakit keliatan pucat gitu? jangan jangan kamu lagi hamil ya, wah wah.... hebat ya bisa langsung on sebelum nikah!!" alina tersenyum puas bisa membungkam mulut agneta.
" iya gw hamil.. tapi acara pernikahan kami minggu ini dan... " agneta tidak melanjutkan perkataan nya meliat gavin sudah ada di hadapannya.
" dia hamil karena sudah menjebak gw lin... " ketus gavin menatap agneta tajam.
" hai vin... kamu disini juga, kalian dari poli kandungan ya?"
" tak masalah bagi gw vin.. baik sengaja ataupun di jebak toh kalian sebentar lagi menikah" alina hanya menunjukan bahwa dia tidak perduli dengan hubungan gavin dan agneta.
dion yang memperhatikan interaksi ketiga orang ini dari jauh dan mendekati alina karena raut wajah alina yang sudah mulai berubah masam.
" ayo sayang... kamu sudah telpon dea ada di ruangan mana??" dion merangkul pinggang alina dan menjauh dari gavin. Dion hanya diam seakan tak melihat ada orang lain disana.
" tunggu alina.. biar gw jelasin ini semua tidak benar" gavin berusaha menarik tangan alina agar mau mendengarkan penjelasannya.
" lepasin tangan alina.. lu mau nyari ribut disini" dion sudah maju selangkah untuk menghadang gavin.
"ccckkkkk.... neta tolong bawa tunangan lo dari sini, gw gak mau ada ribut ribut di rumah sakit"
tangan agneta ditepis oleh gavin yang ingin membawanya keluar dari rumah sakit.
Gavin berjalan cepat meninggalkan agneta, dia sama sekali tidak perduli dengan agneta.
Alina yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggelengkan kepala, betapa rumit sebuah hubungan yang di paksakan.
" kamu baik baik aja kan..? " tanya dion yang cemas melihat alina yang mendadak diam.
" kenapa bertanya begitu, tentulah aku tidak baik baik saja. Aku mencemaskan dea... ayo dia ada di lantai dua" alina menggandeng tangan dion.
__ADS_1
dion sangat senang karena alina sudah tak terpengaruh oleh kehadiran gavin. Mereka berjalan dengan perasaan lega, dion berdoa semoga tak ada halangan sampai hari pernikahannya dengan alina.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺