
Lelah berpikir tentang hubungan nya dengan dion, alina memutuskan untuk makan di kafetaria rumah sakit, ternyata masih ramai pengunjung padahal sudah melewati jam makan siang, tempat duduk semua terisi.
Setelah dilihat lebih teliti ada satu tempat duduk tersisa, kursi kosong di sebelah dokter guna.
terlihat dokter guna melambaikan tangannya dan menunjuk kursi kosong di sebelah tempat duduknya.
Dan itu artinya alina akan makan bareng dengan dokter guna, tapi entah kenapa perasaan alina jadi tidak enak tapi karena kondisi perut sudah sangat lapar dan alina juga harus meminum obat maka alina putuskan untuk duduk di samping dokter guna.
"maaf.. saya boleh duduk di kursi kosong itu" tanya alina ramah pada dokter guna yang memiliki senyum yang sangat membuat hati tenang.
" tentu dokter alina, silahkan duduk dulu.. saya tak menyangka bisa mendapatkan kesempatan makan bersama dokter"
" dokter alina duduk saja, biar saya yang pesankan makan"
" wah jadi enak kalo begini" jawab alina dengan senang karena tidak perlu susah payah mengantri pesanan.
" saya mau pesan.. ayam goreng sama lalapan aja dok, minumnya air mineral aja"
makanan yang di pesan dokter guna sudah ada karena memang dokter guna lebih dulu memesanny. alina bingung dokter guna masih belum memulai untuk makan.
" dokter guna silahkan makan terlebih dulu, nanti makanannya jadi dingin"
" saya tunggu pesanan dokter alina, biar kita makan bareng"
sambil menunggu pesanan dokter guna dan alina mengobrol ringan, guna yang berpembawaan tenang membuat alina merasa nyaman saat berbicara.
makanan yang dipesan alina datang, makan bersama pun berjalan lancar, tapi saat menikmati makan guna dan alina tak memperhatikan sekitar tanpa sadar ada dion yang kebetulan lewat menuju ruang rapat melihat pemandangan yang membuat hatinya memanas,
'bisa bisanya dokter guna mendekati alina, atau jangan jangan mereka sudah janjian untuk makan siang bersama' batin dion.
mata dion nyalang melihat kekasih hati makan bersama laki-laki lain.
" maaf tuan... tuan besar sudah menunggu anda di ruang rapat" rudi memperingatkan dion untuk segera memasuki ruang rapat.
Sepanjang rapat berlangsung dion tidak bisa berkonsentrasi, tubuh berada di ruang rapat namun pikirannya berada di luar.
Di parkiran rumah sakit saat alina akan pulang, alina lagi lagi bertemu dengan dokter guna, mobil dokter guna bersebelahan dengan mobil alina.
" kayak nya kita sudah seperti minum obat, tiga kali dalam sehari bertemu" dokter guna tertawa mendengar sapaan alina yang kebetulan sama sama membuka pintu mobil,
Ternyata dion ingin menyusul alina keparkiran, dari jauh dion melihat interaksi antara guna dan alina yang tertawa bersama, hatinya terasa tertusuk sembilu . Nyeri tapi tak berdarah itulah yang di rasakan dion.
__ADS_1
dion yang tidak bisa menahan amarah, langsung menghadang mobil alina.
alina yang bingung kenapa dion menghalangi jalannya dengan muka yang memerah, apa dia sedang marah gumam alina,
" mas kamu kenapa, untung saja aku sempet ngerem" alina yang sudah keluar dari mobil menghampiri dion.
" ikut aku.." dion menarik tangan alina dengan kasar.
" tapi mas.. mobil ku menghalangi jalan"
" rudi akan membereskannya" jawab dion pendek.
alina seakan di seret dengan langkah kaki dion yg cepat dan lebar. Alina yang tak tau ada masalah apa hanya mengikuti kemauan dion, karena hak sepatu alina yang tinggi saat berjalan cepat keseimbangan tak stabil sehinggal alina terjatuh.
" kamu tidak apa apa" tanya dion cemas.
alina hanya menunduk, matanya sudah berkaca kaca. pergelangan tangan alina yang masih terbalut perban nyeri karena terbentur ujung kursi tunggu.
Darah segar kembali merembes di kasa yang menutup luka alina.
" kamu kenapa sih mas... kalau aku ada salah tolong kamu jelasin salahnya aku tuh dimana, kenapa kamu jadi kasar begini, aku mau pulang jangan temui aku dulu sebelum kamu menyadari kesalahan kamu" alina meninggalkan dion yang mematung.
sesampai dirumah alina meminta bantuan berlian untuk mengganti kasa penutup luka yang berdarah.
" nggak perlu dek.. kamu bantu kakak ganti perbannya ya"
alina tertidur setelah selesai mengganti perbannya.
setelah terbangun sudah menunjukan jam tujuh malam.
saat melihat ponselnya ada panggilan video dari nomor tak dikenal.
saat alina menggeser tombol hijau, terlihat dion yang sedang berlatih memainkan pedang dengan para anak buahnya, dion menyerang dengan emosi seakan mereka semua musuh yang harus dimusnahkan.
"maaf nona muda, tuan muda dion sudah tidak terkendali, saya mohon bantuan nona muda untuk menenangkan tuan kalau tidak akan ada yang menjadi koraban nona" asisten rudi menelpon alina karena dia tau alina pasti bisa menenangkan tuannya itu.
" memangnya saya pawangnya apa?" ketus alina
alina mematikan sambungan telpon dan bergegas mengambil tas dan kunci mobil, sebelumnya rudi sudah Mensharelok posisinya.
" mah pah alina mau menemui dion sebentar" alina meminta ijin pada anjani dan anton yang sedang makan malam.
__ADS_1
" kamu nggak makan dulu sayang, pulangnya jangan malam malam"
alina hanya mengangguk dan langsung pergi.
"akhirnya anda datang nona" rudi menyambut kedatangan alina.
" situasi sudah sangat kacau, banyak yang terluka nona" jelas rudi
"okey.. saya akan kesana"
alina berjalan menuju ruang latihan itu, sangat kasihan melihat para anak buah dion yang sudah terluka.
" stoooppppp mas... tolong hentikan ini" alina melangkah maju mendekati dion yang penuh dengan keringat, dion yang bertelanjang dada menunjukan otot otot besarnya yang di sirami keringat sangat terlihat se**
dion hanya menatap alina, pandangannya menghangat saat melihat sang pujaan hati datang.
" semuanya bubar dan obati luka kalian" dion memberikan uang untuk bonus mereka hari ini.
alina mengajak dion makan malam, dion hanya bisa menurut apa yang di inginkan alina.
Saat ini alina memilih restoran yang sedikit sepi.
" mas coba jelaskan ada apa, saat kita berpisah di ruangan kerja ku dalam ke adaan baik baik saja"
" aku melihat mu bersama dokter guna saat di kafetaria kalian terlihat sangat akrab itu membuat hatiku tidak nyaman"
"kemudian diparkiran aku melihatmu lagi bersama dokter guna, itu membuat ku semakin kacau"
alina menghela nafas.. mendengarkan ungkapan perasaan dion.
" jadi mas cemburu sama dokter guna???
ya ampun mas... kamu kan bisa langsung konfirmasi saat di kafetaria, nggak bakalan panjang kek gini"
" aku sama dokter guna hanya kebetulan bertemu, saat makan tadi kursi kosong hanya di sebelah dokter guna trus yang diparkiran kami cuma kebetulan bertegur sapa karena mobil kami bersebelahan"
" tak ada yang lebih hanya sekedar rekan kerja, kendalikan emosi mu mas".
" maafkan aku ya sayang... kamu harus extra sabar untuk menghadapi sifat ku ini, tolong ajari aku untuk mengendalikan emosi ku sayang" dion menggenggam dan menciumi tangan alina
" bagaimana kondisi luka mu yang tadi berdarah lagi??"
__ADS_1
"tak apa aku bisa mengatasinya" alina memperlihatkan pergelangan tangannya yang sudah tak berdarah lagi.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇