
Yusuf memilih untuk ke mushola pasar, ia berwudhu, setelah selesai berwudhu, Yusuf pun duduk di kursi panjang yang ada di dekat mushola, untuk menenangkan pikirannya, menenangkan semua perasaan yang mencakar hatinya, antara marah, kecewa dan bodoh karena hanya bisa menyimpan perasaan tanpa mengungkapkan nya, sehingga Syauqon lebih dulu mendapatkan Najwa, tunggu bukankah pada malam minggu di mana malam Syauqon menyatakan perasaan nya pada Najwa, Yusuf juga bertemu Najwa, sial..ini berarti Najwa telah memberi harapan yang awam pada Yusuf, bukankah pada malam itu Najwa mengatakan bahwa ia berharap bisa memiliki hubungan yang lebih dari teman dengan Yusuf, tapi sebenarnya Najwa sudah menjadi pacar Syauqon,lalu apa yang di maksud Najwa? Aneh bukan?
Setelah kurang lebih 15 menit Yusuf diam, ia pun teringat pada Hakim yang sudah bisa ia tebak sedang menunggu nya dengan segepok roti, Yusuf pun bergegas berjalan untuk menemui Hakim dan wow ternyata memang benar tebakan Yusuf, sekarang Hakim sedang menunggunya dengan di temani segepok roti di sampingnya. "kemana saja kau?" tanya Hakim yang duduk di sebuah kursi panjang di depan toko roti, "berkeliling..memang kenapa? Sudahlah ayo kita temui yang lain! Aku yakin mereka sudah menunggu di gerbang pasar" jawab Yusuf dan berjalan mendahului Hakim, "aneh..bukankah sedari tadi aku menunggu nya, dan kenapa dia yang memberi nasehat padaku" gumam Hakim dalam hati.
Saat di perjalanan kembali ke pondok Yusuf tidak banyak bicara, terkadang ia hanya tersenyum untuk menanggapi gurauan teman-temannya, Amir menyadari perubahan Yusuf, namun ia memilih tidak bertanya dulu,apa masalah Yusuf. Malamnya setelah sholat isya Yusuf tidak kembali kekamar, ya karena malam sabtu Yusuf bertugas sebagai qismul kholis yang berarti bagian kebersihan, dan wow yang membuat Yusuf kaget adalah, kenapa Abraham juga bergabung dengan tim qismul kholis Yusuf, mungkin jika Abraham hanya bergabung dengan tim qismul aman nya,Yusuf bisa menerima, tapi kenapa Abraham juga bergabung pada tim qismul kholis nya, Yusuf bertanya pada para senior nya dan senior nya menjawab "dia ingin menambah nilai, ya berhubung dia adalah murid kelas 3 aliyah yang sebentar Lagi akan melaksanakan kelulusan, pasti malu bukan, jika tidak lulus atau mendapat nilai yang kurang bagus."
Baiklah Yusuf hanya bisa pasrah, setelah selesai memungut sampah dari kamar ke kamar dan membuangnya ke tempat khusus santri, para murid yang bertugas pun kembali kekamar, terlebih lagi Yusuf yang sedang sakit hati, pasti ia sangat ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya ke kasur keras yang ada di kamarnya, tunggu apa Yusuf sakit hati? Ya, Yusuf masih tidak bisa menghilangkan Najwa dari pikiran nya, kenapa? Karena ia menyukai Najwa, apa itu terlihat berlebihan? Sepertinya iya, lagi-lagi Yusuf terlalu berlebihan, saat Yusuf berjalan ingin pergi dari tempat pembuangan sampah itu, tangannya di cekat oleh Ya..siapa lagi jika bukan Abraham, Yusuf sudah bisa menebaknya
__ADS_1
"Ada apa lagi?" tanya Yusuf gemetar, Abraham tidak menjawab, ia langsung memukul perut Yusuf dan menendang kaki Yusuf dengan kasar sehingga membuat Yusuf terkapar di tanah saat Yusuf terkapar Abraham memukul bahu, perut dan menendang kaki Yusuf berkali-kali, membuat Yusuf tidak bisa melawan, Ya..memang Yusuf tidak ingin melawan.
"Ini untuk sentuhan terakhir santri idaman" ucap Abraham dan melayangkan genggaman tangannya ke wajah tampan Yusuf, Abraham ingin pergi, namun "kak..apa kakak melakukan hal yang sama pada santri lain?" pertanyaan Yusuf itu sukses membuat Abraham menghentikan langkah nya "jika iya, apa urusan mu,apa kau ingin menggantikan posisi mereka, seperti kau menggantikan posisi adikku?" ucap Abraham dengan angkuh "iya" jawab Yusuf singkat, namun membuat emosi Abraham meninggi dan tanpa basa-basi lagi Abraham menarik kerah baju Yusuf sehingga membuat tubuh Yusuf terangkat, lalu Abraham memukul wajah Yusuf dengan penuh amarah, kemudian menghempaskan tubuh Yusuf kembali ketanah belakang sekolah dan menendang pinggang Yusuf berkali-kali.
"Bagaimana? Sakit? Kau tidak berdaya santri tampan, lemah...untuk menggantikan posisi adikku saja kau sudah hampir mati, bagaimana kau ingin menggantikan posisi para santri yang sering kupukuli? Huhhh...dasar pengecut, kau itu anak ustadz pemimpin pondok ini, Yusuf, tapi kenapa kau begitu lemah? Kau tahu?aku akui kau lebih lemah dari adikku, pengecut!" ucap Abraham meledak sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Yusuf yang bisa di katakan sangat memprihatinkan, "aku rasa kau lebih pengecut, kenapa kau memukuli adik perempuan mu? Tentu saja ia tidak melawan, apa itu yang di sebut dengan santri jagoan, aku rasa gelar itu tidak pantas untuk mu karena kau lebih pengecut dari padaku kak" mendengar perkataan Yusuf tadi tiba-tiba raut wajah Abraham berubah seperti ada kesedihan yang tersirat di raut wajahnya, Abraham diam beberapa detik dan "aku tidak tahu" jawab Abraham pelan dengan nada lesu dan berlalu dengan langkah lunglai meninggalkan Yusuf yang sudah bangkit dari terkapar nya, sekarang Yusuf duduk sambil memijat-mijat anggota tubuhnya yang terasa nyeri akibat pukulan Abraham. Melihat tingkah Abraham yang berubah derastis membuat Yusuf hanya bisa mengerutkan keningnya.
Saat ia masuk ternyata semua teman-temannya sudah tertidur pulas, Yusuf pun melirik jam beker yang bertengger di rak kitab bersama, jam sudah menunjukkan pukul 22:18 sebenarnya tadi rencana Yusuf ingin tidur lebih awal, dan yang terjadi adalah ia kembali ke kamar lebih lambat dari biasanya, dan yang paling buruk adalah, Yusuf tidak bisa tidur ia berbaring di kasur sambil menatap kosong kearah pintu, yang di pikirkannya sekarang adalah Najwa, apa Najwa? Ya Yusuf memikirkan Najwa, ia kecewa. Ya..seharusnya Yusuf tidak boleh kecewa pada Najwa, karena bagaimana pun, Najwa bukanlah miliknya, tapi hanya teman, seorang teman yang Yusuf sukai, setelah terasa lama ia tidak bisa tidur, ia pun melirik kearah jam "apa?? Sekarang sudah pukul 01:15, tidak mungkin" gumam Yusuf dalam hati, lalu terlintas di pikirannya sebuah kata "daripada kau melamun tidak karuan, lebih baik sholat istikhoroh, minta pada tuhan agar pikiranmu di tenangkan dan dapat dengan cepat melupakan masalah yang sama sekali tidak penting" sebenarnya itu adalah nasehat ayahnya saat Yusuf mulai putus asa karena sering mendapat hinaan dari teman-temannya di AL-HIDAYAH, dengan cepat Yusuf keluar dan menuju tempat wudu.
__ADS_1
Setelah berwudhu ia pun masuk ke mesjid, tidak ada siapa pun karena biasanya mesjid akan ramai dari pukul 3 sampai waktu sholat subuh. Setelah selesai melaksanakan sholat istikhoroh dua rakaat Yusuf berdo'a dan karena pikiran nya sudah mulai tenang ia pun menyenderkan tubuhnya ke tembok mesjid. Beberapa saat kemudian "assalamualaikum" ucapan salam yang diiringi dengan tepukan keras di bahu Yusuf membuat ia terbangun dari tidur ayam nya, setelah ia melirik ke arah suara itu berasal yang tepatnya di sampingnya, ternyata ada Amir dengan wajah santainya menatap Yusuf .
"Waalaikumsalam" jawab Yusuf dengan suara khas bangun tidur nya "apa kau rasa kamar kita tidak cukup luas untuk kau tidur?" tanya Amir yang mulai mengatur posisi duduk nya di samping Yusuf "hmm..tidak, aku hanya ingin menenangkan pikiranku" jawab Yusuf dengan tatapan kosong "kau kenapa?"tanya Amir yang bisa di katakan agak lebay "aku hanya... huh..." jawab Yusuf berat "ceritakan saja apa masalah mu,jangan pernah menutupi satu pun masalah mu dariku" kata Amir lembut "tapi.. kau harus berjanji jangan marah padaku dan jangan sebarkan pada siapapun" pinta Yusuf memelas "iya" jawab Amir cepat, Yusuf pun menceritakan semua yang terjadi padanya hari ini, mulai tentang ia bangun tidur sampai tentang ia bertemu dengan Amir di mesjid waktu ini, tidak ada sedikit pun yang ia tutupi bahkan ia juga menceritakan bahwa tadi siang ia sempat memarahi adiknya senior kasar yang tidak lain adalah Humaira hanya karena Yusuf menganggap Humaira telah mempermalukan Najwa.
Setelah mendengar cerita Yusuf Amir pun memeluk Yusuf, tunggu! Jangan salah paham dulu, Amir memeluk Yusuf sebagai seorang sahabat dengan pelukan seperti seorang kakak untuk menenangkan adiknya, bukan pelukan dengan nafsu "aku mengerti Yusuf bagaimana perasaanmu, karena aku sudah mengalami hal yang lebih sakit darimu" kata Amir sambil menepuk punggung Yusuf, Yusuf pun dengan cepat melepaskan pelukan Amir dan "benarkah? Apa yang terjadi padamu? Apa bisa kau ceritakan padaku?" pinta Yusuf dengan semangat membuat Amir tertawa pelan "apa kau mau mendengarkan cerita menyedihkan dariku?"tanya Amir santai "ceritakan!" jawab Yusuf cepat "baiklah, jika kau tidak sukak, silahkan kau potong cerita ku ya" ucap Amir dan memulai ceritanya.
.
__ADS_1
.