CINTA ANAK USTADZ

CINTA ANAK USTADZ
Siapa Dia? (2)


__ADS_3

Yusuf duduk berhadapan dengan ayahnya "ini ponselmu" kata ayahnya sambil menyerahkan ponsel Yusuf "apa aby tidak menyitanya?" tanya Yusuf heran "tidak, aby hanya ingin kau menyetujui permintaan aby" jawab ayahnya masih dengan sikap tegas khas ustadz Usman "tentu by apapun itu, jika bisa membanggakan aby, Yusuf akan setuju" kata Yusuf dengan anggukan cepat "menjadilah salah satu santri Hadramout yang berprestasi" permintaan ayahnya itu, membuat Yusuf heran "maksud aby apa?" tanya Yusuf tanpa bisa menyembunyikan rasa penasarannya "lanjutkan aliyah mu di Hadramout" jawab ayahnya "apa? tapi, tapi bagaimana? E..maksud Yusuf, Hadramout itu jauh by, bagaimana Yusuf bisa bersekolah di sana?" pertanyaan yang bercampur rasa panik dari Yusuf. "Aby hanya ingin kau berprestasi, kau adalah satu-satunya harapan aby dan umy, aby tidak ingin kau terjebak dalam kebodohan dengan ponsel yang selalu bersarang di telapak tanganmu, ke Hadramout, atau tidak perlu lagi pulang kerumah."


Apa-apaan ini, ayahnya Yusuf sangat menyeramkan, tentu saja Yusuf memilih untuk ke Hadramout daripada di usir dari rumah, walau sebenarnya itu adalah hal yang sangat menyakitkan, bagaimana tidak, Yusuf harus berpisah dengan orang tuanya, saat dia ingin di pindah ke AL-MA'RUF saja, Yusuf menangis hampir setengah hari, apalagi nanti jika ia akan pergi ke Hadramout, kira-kira berapa lama Yusuf akan menangis? Tapi bagaimana lagi, Yusuf tetap harus pergi ke Hadramout.


Ayahnya sudah membelikan tiket pesawat untuk Yusuf menuju Hadramout dan pamannya yang sedang berkuliah di Hadramout juga sudah mendaftarkan Yusuf di salah satu pesantren unggulan Hadramout. Sebelum Yusuf ke Hadramout ayahnya mengajaknya untuk bersilaturahmi ke pondok AL-HIDAYAH dan AL-MA'RUF untuk meminta do'a dari guru-guru nya dan sebagai perpisahan.

__ADS_1


Setelah dari kantor pondok AL-MA'RUF, Yusuf berkunjung ke kamarnya yang sudah ia tempati kurang lebih 6 bulan, ia juga mengucapkan salam perpisahan pada teman sekamarnya, Yusuf juga berkunjung ke karang taruna AL-MA'RUF untuk mengucapkan salam perpisahan dengan senior senior nya terutama Yunus. Saat ingin memasuki mobilnya, Yusuf sempat menatap penuh perasaan pada pondok tempatnya menuntut ilmu yang hanya 6 bulan ia tempati namun begitu banyak memiliki kenangan.


Dan berakhir sudah kunjungan ke AL-HIDAYAH dan AL-MA'RUF, sekarang waktunya untuk Yusuf kembali ke rumah "Yusuf, besok kau akan ke Hadramout, bagaimana jika kita kunjungi Humaira, Ya..bukankah Abraham tidak pernah memberi kabar semenjak 2 minggu lalu" ajak ustadz Usman tanpa melirik Yusuf karena sedang menyetir "iya by" jawab Yusuf singkat, dan tidak beberapa lama, akhirnya Yusuf dan ayahnya sudah tiba di rumah sakit tempat Humaira di rawat "Yusuf,tunggu aby, teman aby menelpon" ucap ustadz Usman sambil menutup pintu mobil.


Beberapa detik kemudian "Yusuf, aby lupa bahwa hari ini aby di undang oleh teman aby untuk menghadiri acara MAULID di salah satu pesantren, aby ingin pergi sekarang, kau masuk saja, tunggu aby kembali bagaimana?" Pernyataan ayahnya itu di respon Yusuf dengan anggukan pelan dan senyum kecil.

__ADS_1


"Assalamualaikum kak" sapa Yusuf ramah "waalaikumsalam, Yusuf? Bagaimana kabarmu? Dengan siapa kau kemari?" tanya Abraham tidak kalah ramah "alhamdulillah baik kak, aku tadi bersama ayahku, tapi dia ada perlu sebentar, jadi aku di suruh untuk masuk lebih dulu" jawab Yusuf masih dengan ramah "kakak sendiri bagaimana, dan Humaira? Apa dia sudah sadar dari komanya?" tanya Yusuf mulai serius "aku beginilah Yusuf, tentang Humaira, bagaimana jika kau lihat saja nanti, karena sekarang, suster sedang memeriksanya" jawab Abraham.


Suasana hening beberapa menit dan seorang suster keluar dari kamar Humaira "nak Abraham, alhamdulillah adikmu sudah sadar" kata suster itu ramah, dengan cepat Abraham dan Yusuf bangkit dari tempat duduk mereka "benarkah suster? apa saya bisa melihatnya?" tanya Abraham dengan suara tertahan "tentu saja, sekaligus tanya pada Humaira apakah dia mengenalimu ya nak" jawab suster itu dan berlalu. "Ayo Yusuf" ajak Abraham dan menuntun Yusuf memasuki kamar kelas 1 yang tidak lain adalah kamar Humaira.


Setelah berada di samping ranjang Humaira, perasaan takut mulai menyelimuti pikiran Yusuf, kenapa ia takut? Bukankah seharusnya Yusuf bahagia karena penyelamat nya sudah sadar, tapi yang membuat Yusuf takut adalah ia takut Humaira akan membencinya, Ya..karena Yusuf benar-benar merasa bahwa penyebab kecelakaan itu 100% adalah dirinya "kenapa kau sangat sulit untuk mati" sapaan pertama dari Abraham yang membuat Yusuf mengangkat kedua alisnya karena heran, ada begitu banyak kalimat yang bisa di katakan selain hal itu bukan?tapi kenapa Abraham memilih kalimat itu, Ya..begitulah senior Yusuf yang satu ini.

__ADS_1


.


.


__ADS_2