
Humaira menoleh ke arah Abraham yang berada tepat di samping bahunya dan wow, satu pukulan dari genggaman tangan kecil yang di tancapi selang infus mendarat mulus di dada Abraham, membuat Abraham meringis, melihat hal itu membuat Yusuf benar-benar heran, kenapa dengan sangat mudah Humaira mendaratkan pukulan pada kakaknya, namun keheranan Yusuf itu menghilang dan berganti dengan rasa grogi yang teramat, karena sekarang Humaira sedang menatapnya penuh tanya "Humaira apa kau ingat aku?" tanya Abraham normal yang dijawab anggukan oleh Humaira "dan apa kau ingat, laki-laki ini?" tanya Abraham sambil menunjuk ke arah Yusuf dan Humaira pun mengangguk, namun matanya masih mengarah ke Yusuf dengan tatapan penuh tanya membuat Abraham harus kembali angkat bicara "Humaira, kenapa kau melihatnya seperti itu? Apa kau tidak benar-benar mengingatnya?" tanya Abraham normal "kenapa dia ada di sini?" Humaira balik bertanya.
Suasana hening beberapa detik. "Karena ayahnya yang membayar biaya pengobatanmu" jawab Abraham sambil menunjuk ke wajah Yusuf membuat Yusuf hanya bisa tersenyum kikuk, entah kenapa Yusuf menjadi merasa begitu grogi dari sebelumnya jika diperboleh kan Yusuf kabur saja dari kamar ini, maka ia akan lari menjauh, karena rasanya jantung Yusuf ingin meloncat keluar jika terus berada di sini. "maaf pasien ingin diperiksa lagi" untung saja suster datang untuk memeriksa Humaira, tanpa menunggu jantung Yusuf keluar, Abraham dan Yusuf pun keluar dan duduk di kursi tunggu, Yusuf melihat Abraham sedang menelpon, Ya..sedangkan Yusuf lupa membawa ponselnya.
Setelah Abraham selesai menelpon "kak, apa pukulan Humaira tadi sakit?" pertanyaan yang aneh sebenarnya, tapi Yusuf penasaran jadi Ya..harus di pertanyakan, "begitulah, pukulan Humaira tidak pernah pelan,dia selalu memukul dengan keras" jawab Abraham dengan senyum yang mulai mengembang karena teringat tentang adiknya yang tidak pernah pelan jika masalah memukul, "betulkah,lalu kenapa pada hari pertama aku di AL-MA'RUF, Humaira sama sekali tidak melawan kakak, jika dia ahli dalam memukul"t anya Yusuf mengingat kejadian saat hari pertama ia bertemu dengan kakak beradik yang dulu ia anggap sebagai pengganggu hidupnya.
Tiba-tiba raut wajah Abraham berubah menjadi murung "pada saat itu Humaira baru saja membeli payung di koperasi dan ingin masuk ke kelas, namun aku menariknya dan membawanya keluar pondok tanpa sepengetahuan satpam, aku memintanya memberikan uang hasil ia bekerja di koperasi padaku, namun ia belum mendapatkan upah, aku tetap memaksanya sambil memukulinya, dia sangat melawan, bahkan aku kewalahan untuk melawannya, namun, Ya..karena aku adalah laki-laki jadi tenagaku masih tersisa banyak dan akhirnya Humaira tidak bisa melawan, aku juga tidak tahu bahwa ia belum mendapatkan upah, aku menganggap ia berbohong padaku, aku juga tidak memikirkan apa Humaira akan baik-baik saja jika aku hampir setiap hari memukulnya, dan akhirnya kau datang, mulai saat itu, Humaira bukan satu-satunya orang untukku meminta uang, maaf ya Yusuf, aku memang sangat menyukai santri lemah sepertimu, jika aku boleh jujur, kekuatan Humaira masih terlalu banyak jika di bandingkan dengan kekuatan mu, kau lihat buktinya bukan, dia kuat mendapatkan musibah seperti sekarang, dia masih bisa bertahan, mungkin jika kau, aku yakin kau sudah mati di tempat" jawab Abraham panjang lebar dan sedikit membuat Yusuf mengeluarkan raut wajah manjanya.
__ADS_1
Setelah suster selesai memeriksa Humaira, tidak lama kemudian ada seorang wanita Ya..mungkin ibu-ibu "kau mengatakan Humaira sudah sadar mana dia" tanya wanita itu pada Abraham "di dalam kak" jawab Abraham normal, wanita itu adalah Jamilah, kakak tertua Humaira "Yusuf, karena ada tamu, aku ingin membeli kue dulu" ucap Abraham sambil berlari, sekarang Yusuf bingung harus apa,apa dia harus masuk, atau menunggu di kursi tunggu sampai aby nya datang "apa ini kamar Humaira?" suara itu membuat Yusuf kaget, ternyata ada anak laki-laki yang bisa Yusuf tebak lebih muda darinya "iya" jawab Yusuf padat dan singkat, dengan cepat anak laki-laki itu masuk ke kamar Humaira, berpapasan dengan kak Jamilah yang keluar.
"Kakak, ingin kemana?" tanya Abraham yang baru saja kembali dari membeli kue "aku masih ada pekerjaan Bra, Humaira sudah makan? Jika belum ambil saja bekalku" kata Jamilah sembari menyodorkan kotak makanan pada Abraham "Humaira tidak memakan makanan darimu, ia hanya memakan makanan dari rumah sakit, ini untuk ku saja ya" pinta Abraham yang di jawab oleh anggukan cepat dari Jamilah sebelum berlalu, "Abraham, ponselku, ponselku masih di jok motor ku,ambilkan ya" tiba-tiba anak laki-laki itu keluar dan langsung saja memerintah Abraham untuk mengambilkan ponselnya "dasar bodoh, ya sudah aku ambilkan" jawab Abraham sinis "kak, siapa dia?" tanya Yusuf setelah anak laki-laki itu kembali ke kamar "namanya Ridwan" jawab Abraham yang berjalan dengan langkah lebarnya, Ya..sepertinya Yusuf harus kembali duduk di kursi tunggu lagi.
"Kau sudah makan?" tanya Ridwan pada Humaira "aku baru sadar sekitar 49 menit yang lalu, bagaimana bisa aku langsung makan" jawab Humaira jengkel "ya sudah cepat makan! Ini..biar aku yang menyuapinya" kata Ridwan seraya mengambil semangkuk bubur yang disediakan rumah sakit "tidak perlu di suapi, aku bisa memakannya sendiri" jawab Humaira masih sinis "tanganmu itu masih lemah, sudahlah biar aku saja yang menyuapi, kau tinggal membuka mulutmu saja" tegas Ridwan "kau ini, belikan aku air mineral saja sana"perintah Humaira yang tidak kalah tegas dari Ridwan "apa? lalu kau di sini bersama siapa jika aku keluar membeli air mineral?" tanya Ridwan sinis "bersama mangkuk, sendok, infus, selang infus, hah sudahlah cepat belikan aku Air mineral! Kau tidak ingin aku mati karena tidak ada air bukan?" jawab Humaira sambil mendorong Ridwan kasar, membuat Ridwan dengan berat hati harus melangkah keluar.
Ridwan kembali masuk ke kamar "mana?" pinta Humaira sambil menadahkan tangan nya kearah Ridwan "tunggu dulu, seseorang sedang membelikannya" jawab Ridwan santai "siapa?" lagi-lagi Humaira bertanya "kau lihat saja nanti, sini, cepat sendoknya! biar aku yang menyuapimu, kau terlalu lamban, aku tahu tanganmu masih belum terlalu kuat" jawab Ridwan seraya memindahkan semangkuk bubur dan sendok yang tadi berada di tangan Humaira ke tangannya, "ayo cepat, buka mulut mu,agar kau cepat sembuh, kau pikir nyaman berada di tempat yang berbau etanol ini" perkataan Ridwan itu membuat Humaira sukses mendaratkan pukulan di bahu Ridwan sehingga membuat Ridwan meringis kesakitan "iya!!" jawab Humaira jengkel.
__ADS_1
Sekarang Yusuf sudah berada di ambang pintu kamar Humaira, ia diam membeku, sambil mengamati objek yang sedang ia saksikan, entah kenapa Yusuf sangat muak melihat insiden di depannya ini, Yusuf serasa ingin menjambak rambut Ridwan agar berhenti menyuapi Humaira, apa? Yusuf ingin Ridwan berhenti menyuapi Humaira? lalu siapa yang akan menyuapi Humaira? Tidak mungkin Yusuf bukan, apa Yusuf cemburu? Secepat itu kah ia cemburu? Entahlah, biarkan saja dulu.
"Assalamualaikum" ucap Yusuf setelah beberapa detik larut dalam pikirannya, Humaira dan Ridwan menoleh hampir bersamaan dan masing-masing menjawab pelan salam Yusuf "terimakasih ka" ucap Ridwan seraya mengambil air mineral yang ada di tangan Yusuf "iya,aku keluar ya" jawab Yusuf dan keluar.
"Ini, minum!" suruh Ridwan pada Humaira "apa kau menyuruhnya?" tanya Humaira dengan wajah heran "iya" jawab Ridwan singkat "dasar bodoh, kenapa kau menyuruhnya, ayahnya lah yang telah membayar biaya pengobatanku, cepat minta maaf karena kau tidak sopan" suruh Humaira sambil mendorong Ridwan, Ridwan pun keluar dan "kak, ayo masuk!" ajak Ridwan tergesa-gesa, dengan cepat Yusuf masuk ke kamar Humaira "Humaira, kau lihat aku ingin meminta maaf pada kakak ini" ucap Ridwan "kak, siapa nama kakak? apa kakak memaafkanku karena aku sudah menyuruhmu membeli air mineral tadi?" tanya Ridwan "iya,namaku Yusuf" jawab Yusuf beberapa detik Abraham dan ustadz Usman datang.
.
__ADS_1
.