CINTA ANAK USTADZ

CINTA ANAK USTADZ
Kenapa? (2)


__ADS_3

Dengan cepat Yusuf membangunkan tubuh si penabrak dan merangkulnya menuju kursi "terimakasih nak, apa kau teman Abraham?"tanya si penabrak ramah "iya pak" jawab Yusuf singkat, tidak mungkin ia akan mengatakan yang sebenarnya bukan, bahwa ia adalah adik kelas yang sering di pukuli Abraham, oh itu tidak boleh di katakan "aku adalah ayahnya, aku telah menabrak putriku sendiri, aku memang tidak pantas di panggil ayah" sesalnya "betulkah pak? Lalu kenapa saat saya berada di depan mobil bapak, bapak tidak membunyikan klakson?" tanya Yusuf heran "maaf nak, aku sedang mabuk, aku juga tidak sadar bahwa aku sudah menabrak Humaira, setelah mendengar hempasan yang keras barulah aku sadar dari mabukku, aku sangat menyesal, sekarang siapa yang bisa membayar biaya rumah sakitnya, apalagi dia harus di operasi, mobil yang aku kendarai itu, bukan mobilku, itu adalah mobil milik bos ku, aku baru mengantarnya ke toko untuk berdagang tadi" lagi-lagi sesalnya, Yusuf merasa lebih bersalah, karena penyebab awal kecelakaan itu ialah dirinya.


"Maaf nak, siapa namamu?" tanya si penabrak untuk mencairkan suasana "nama saya Yusuf pak" jawab Yusuf sopan "ya ampun kau ini, jangan panggil aku dengan sebutan bapak, karena aku bukan seorang yang mempunyai pangkat, panggil saja aku paman, paman Rama" kata ayahnya Abraham dengan senyum kecil, tidak lama Abraham kembali dengan seorang dokter "ada apa kak?" tanya Yusuf seraya bangkit dari tempat duduknya "sudah waktunya ada adikku untuk di operasi" jawab Abraham dengan raut wajah tegang.


Ranjang Humaira didorong oleh beberapa suster menuju ruang operasi, dengan cepat Yusuf, Abraham dan ayahnya mengikuti, setelah tepat di pintu ruangan seorang dokter berhenti dan memalingkan tubuh menghadap mereka bertiga "operasi akan di lakukan, tolong tunggu dan do'akan semoga operasinya berjalan dengan lancar" kata dokter itu seraya menutup pintu ruang operasi, "jemput ibu!" suruh Abraham pada ayahnya dengan suara keras, dengan cepat ayahnya pergi untuk menjemput ibunya.

__ADS_1


Abraham dan Yusuf pun duduk di kursi tunggu yang tersedia "dasar orang bodoh, dia tidak akan bergerak kecuali di suruh"ucap Abraham geram "kak..jangan berkata seperti itu, bagaimana pun dia adalah ayahmu" saran Yusuf hati-hati "iya,Yusuf, dia memang ayahku, tapi ia tidak pernah menganggap kami anaknya, dia itu hanya manusia yang tidak berguna namun memiliki umur yang panjang" jawab Abraham dengan amarah "sudahlah kak,lupakan saja, dia tetap saja ayahmu" lagi-lagi Yusuf memberi nasehat "Yusuf,apa kau tidak melihat? dia sudah menabrak adikku, putrinya sendiri, aku yakin pasti saat itu dia dalam keadaan mabuk, huh..dasar tidak ada kata untuk nya kecuali 'bodoh'" jelas Abraham.


Seketika suasana menjadi hening. Yusuf sedang berkecamuk dengan pikirannya sendiri "kau itu bodoh Yusuf, kau itu pecundang, kau tidak mengatakan yang sebenarnya, bahwa penyebab kecelakaan itu adalah kau, hanya karena kau takut Abraham akan memukulmu, kau pengecut Yusuf" itulah yang ada pada pikiran Yusuf sekarang, ia sedang dilema antara mengaku atau tidak perlu.


Beberapa menit Yusuf berfikir dan "kak..apa aku boleh mengatakan hal jujur?" pertanyaan yang aneh, tapi sudahlah hanya itu yang bisa Yusuf katakan "tentu saja, tidak pernah ada yang melarang seseorang untuk berkata jujur bukan,kau ini ada-ada saja Yusuf" jawab Abraham normal "begini kak, tentang kecelakaan itu"kata Yusuf gugup "apa? katakan saja!".

__ADS_1


Abraham diam sepersekian detik dengan tatapan kosong "tidak papa, aku tidak akan memukulmu, karena aku sudah berjanji pada adikku untuk tidak pernah memukuli orang lagi, aku senang kau mengaku" jawab Abraham dengan senyum seribu makna, membuat Yusuf berkedip tak percaya, Yusuf tersenyum kikuk kearah Abraham yang di jawab senyum simpul oleh Abraham.


Beberapa detik kemudian, ponsel Yusuf berdering keras, ia lupa bahwa tadi ia menyalakan mode dering dengan cepat Yusuf memeriksa ponselnya dan sekarang kontak dengan nama "Aby" sedang menari-nari di layar ponselnya, dengan cepat Yusuf menjawab panggilan dari ayahnya "assalamualaikum, Yusuf, kau di mana nak,Aby sudah di terminal" tanya ayahnya Yusuf dari seberang sana "waalaikumsalam by, Yusuf sekarang di rumah sakit, teman Yusuf kecelakaan" jawab Yusuf sopan "betulkah nak? apa nama rumah sakitnya? apa dia parah?" tanya ayahnya Yusuf beruntun "iya by, Yusuf akan mengirim alamat rumah sakitnya lewat pesan saja ya by, sekarang dia masih di operasi" jawab Yusuf jelas, dan panggilan di berakhir.


"Ada apa Yusuf?" tanya Abraham heran "ayahku akan ke sini ka" jawab Yusuf singkat, beberapa menit kemudian ayahnya Yusuf tiba "ka itu ayahku" kata Yusuf pada Abraham, Tetapi Abraham tidak ada di samping nya, setelah Yusuf menyebarkan pandangannya, ternyata Abraham mendatangi dokter yang sudah keluar dari ruang operasi "nak, di mana temanmu? kenapa dia bisa kecelakaan?" tanya ayahnya Yusuf setelah berada di samping Yusuf "dia masih di ruang operasi by, dia tertabrak oleh ayahnya tapi ini semua adalah salah Yusuf by" jawab Yusuf, "apa maksud mu nak?" tanya ayahnya heran, Yusuf pun menceritakan semua yang terjadi pada ayahnya "ya,sudah, apa kau sudah meminta maaf pada keluarga nya?" tanya ayahnya "sudah by, bagaimana jika kita hampiri kakaknya"ajak Yusuf seraya berjalan menuju ruang operasi.

__ADS_1


"Yusuf..operasinya berjalan dengan lancar.. terimakasih do'anya ya, Yusuf" ucap Abraham setelah Yusuf berada di sampingnya "alhamdulillah.. lalu bagaimana keadaannya kak?" tanya Yusuf pelan "dia masih koma, dia harus opname beberapa hari sampai dia sadar, dan aku akan mencari kamar untuknya" jawab Abraham dengan suara tertahan "sudahlah nak, serahkan saja itu pada keluarga kami" sekarang ayahnya Yusuf yang berbicara "paman ayahnya Yusuf?" tanya Abraham pelan "iya, ya sudah ayo kita cari kamar untuk adikmu" jawab ustadz Usman ramah.


Humaira dimasukkan pada kamar kelas 1, dan tentang biaya, itu sudah di tanggung oleh ayahnya Yusuf. Abraham duduk di kursi yang tersedia di depan kamar Humaira, tidak beberapa lama ibunya Abraham datang "di mana adikmu?" tanya ibunya panik "di kamar bu" jawab Abraham normal, dengan cepat ibunya masuk ke kamar yang di huni oleh Humaira sendirian "Yusuf,s ebentar lagi waktu zuhur, jika kau ingin pulang, pulang lah, ibuku sudah ada untuk menemaniku" kata Abraham datar "aku akan memberitahu ayahku dulu kak" kata Yusuf seraya berlalu untuk menemui ayahnya, tidak beberapa lama, Yusuf kembali bersama ayahnya "kau yakin kau bisa menjaga adikmu?" tanya ustadz Usman pada Abraham "iya ustadz insya Allah, karena orang tua saya juga sudah ada untuk menemani saya menjaga adik saya" jawab Abraham sopan "ya sudah nak, hubungi Yusuf jika adikmu sadar ya,kau sudah bertukar nomor ponsel dengan Yusuf bukan, kami pulang dulu, assalamualaikum" kata ustadz Usman seraya berlalu diiringi dengan Yusuf.


__ADS_2