
Keesokan harinya, nama seorang santri yang tidak lain adalah Yusuf, menjadi bahan pembicaraan para murid pondok, terlebih lagi para santriwati yang centil dan cerewet.
Mulai siang hari rabu ke 5 Yusuf berada di AL-MA'RUF,ia bukan lagi santri asing yang baru pindah,melainkan seorang santri dengan wajah tampan dan suara emas yang baru populer, pembicaraan para santriwati berkeliling pada masalah malam rabu yang mengatakan bahwa Yusuf melirik salah satu dari mereka dan tidak sedikit santriwati yang berusaha mencuri perhatian Yusuf, namun Yusuf selalu di bantu oleh Amir untuk tidak menghiraukan mereka.
__ADS_1
Berhubung Yusuf sudah Menjadi salah satu vokalis tetap majelis hadroh AL-MA'RUF jadi Yusuf di suruh oleh para senior untuk membeli seragam hadroh, setelah 3 bulan Yusuf berada di AL-MA'RUF, dan ia sudah memesan seragam hadroh nya seminggu yang lalu, sekarang Yusuf sedang berbaring di lantai kamar bersama Hakam dan Hakim, Hakam dan Hakim adalah si kembar yang suka makan, tapi bukan lemak yang mereka dapatkan dari hasil banyak nya makanan yang mereka telan karena berat badan mereka tidak jauh dari Yusuf, ya mungkin lebih berat 4 sampai 6 kilo saja.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mereka, Hakam langsung menyenggol bahu Yusuf tanda menyuruh untuk membuka pintu, Yusuf pun dengan cepat menuju pintu dan membukanya "assalamualaikum... ini seragam hadroh mu nak" itu adalah pak satpam yang mengantarkan seragam hadroh Yusuf "waalaikumsalam, terimakasih pak..saya sudah membayarnya saat memesan kemarin pak" jawab Yusuf sopan "iya nak bapak pergi dulu ya" ucap pak satpam dan berlalu setelah mendapat senyum manis dari Yusuf, Yusuf kembali kekamar nya, "wahhh ini bagus sekali" kata Yusuf sambil mengukur seragam itu ketubuh nya tanpa memperdulikan si kembar yang sudah tertidur pulas di lantai beton beralaskan tikar, seketika mata Yusuf melirik kearah kantong plastik pembungkus seragamnya dan ia melihat ada amplop putih kecil di dalam sana, Yusuf mengambil dan membuka amplop itu, ternyata ada 2 lembar uang 100 ribu dan secarik kertas bertuliskan pensil, Yusuf membaca deretan huruf yang tersusun rapi di atas secarik kertas itu.
__ADS_1
Setelah membaca surat itu Yusuf memejamkan matanya dan mencoba mengingat siapa orang yang pernah ia pinjami uang, Yusuf tidak ingat... lalu ia memutar bola mata nya, ia juga tetap tidak ingat, seketika matanya terarah pada payung hijau cerah yang berada di samping ranselnya. Ya...bagus, sekarang Yusuf mengingat nya anak itu, anak perempuan yang meminjamkan payung hijau itu pada nya, tanpa pikir panjang Yusuf langsung mengambil payung yang berada di samping tas ransel nya dan bergegas keluar kamar untuk menemui pak satpam.
Ia berlari karena jarak nya memang agak jauh, setelah tiba di pos satpam, Yusuf langsung menghampiri pak satpam yang tadi baru saja dari kamarnya, "maaf pak.. boleh saya tau, siapa yang mengantarkan seragam hadroh saya pada bapak?" tanya Yusuf sambil ngos-ngosan karena baru saja berlari, "ohhh itu nak,dia santriwati yang bekerja di koperasi" jawab pak satpam ramah "apa bapak bisa memberikan payung ini pada santriwati itu" pinta Yusuf sopan "tentu nak..memang dia siapa mu? Pacarmu Ya..?" tanya pak satpam bercanda sambil meraih payung yang sudah di sodorkan oleh Yusuf "bapak bisa saja" jawab Yusuf malu "tapi bukan kah benar" tanya pak satpam menggoda dan sukses membuat Yusuf salah tingkah setengah mati "tidak pak santri tidak boleh pacaran" jawab Yusuf terbata-bata,kenapa Yusuf jadi salah tingkah? Bukankah Yusuf saja tidak tahu bagaimana tampang santriwati itu,apalagi menjadi pacarnYa.. hm ...tidak mungkin.
__ADS_1
bersambung . . .