CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Hari Bersama Ibu


__ADS_3

Akhir pekan kali ini, aku ingin menghabiskan waktu bersama ibuku. Sengaja, aku meminta hari libur di minggu ini. Biasanya, pamanku memberi cuti sehari dalam sebulan. Terbayangkan, lelahnya aku, meskipun libur sekolah aku tetap menghabiskan waktuku seharian di bengkel pamanku. Sering sekali aku mengeluh, tapi semenjak obrolanku dengan Zen di kala itu, akhirnya ku lewati setiap hari dengan keikhlasan. Aku jadi merasa senang, selain bisa membantu meringankan beban ibuku, aku juga bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit tabungan untuk melanjutkan kuliahku nanti.


Sedangkan ibuku, memang di hari Minggu ia selalu berada di rumah. Karena, majikan ibuku tiap akhir pekan tidak bekerja. Sehingga, tidak mengharuskan ibu untuk datang ke rumahnya.


Di bulan biasanya, aku lebih sering mengambil cuti menghindari hari Minggu. Karena, aku tidak mau berhubungan dengan Ibu secara langsung. Tapi, kali ini aku ingin menebus semua waktu yang telah aku lewatkan bersama Ibu. Aku ingin merasa lebih dekat dengannya. Karena, semenjak Ayah dan Ibu berpisah, aku selalu menghindar darinya.


Padahal, di waktu kecil aku sangat dekat dan manja kepada Ibu. Dibandingkan kakak ku, yang saat ini ia telah menikah dan tinggal di luar kota bersama suaminya. Aku menyesal, pernah membenci keputusan kedua orang tuaku. Dan aku, akan belajar berlapang dada atas sikap ayahku kepada ibuku. Karena, bagaimana pun ayahku, ia tetap menunjukkan kasih sayang dan tanggung jawabnya kepadaku, dengan selalu mengirim uang setiap bulannya.


Pagi ini, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku ingin hari ini, akulah yang menyiapkan sarapan untuk Ibu.


Tidak seperti biasanya, ibulah yang selalu menghidangkan makanan untukku setiap pagi.


Aku ingin memasak terong balado dan cumi goreng crispy, untuk menu makanan di hari ini. Sedikit lebih spesial dibanding hari biasanya. Setelah aku mengambil semua bahan yang ada di kulkas, tiba-tiba Ibu menghampiriku.


"Sini, biar Ibu saja yang memasak," ujar Ibu sambil mengambil bahan masakan di tanganku.


Sepertinya, Ibu baru selesai dari kamar mandi, terlihat dari bajunya yang sedikit basah. Mungkin, Ibu baru menyelesaikan mencuci pakaian.


"Tidak Bu," tersenyum sambil meraih kembali mangkok yang di pegang Ibu.


"Ibu, lelahkan. Sekarang, Ibu duduk saja sambil menungguku selesai memasak. Aku akan membuatkan segelas susu untuk Ibu," lanjutku sambil menarik tangannya lembut dan mendudukkan Ibu di meja makan.


Ibu melihatku heran, tapi ada raut kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.


"Terimakasih ya Di, kamu sekarang sudah mengerti Ibu. Hari ini, sikap kamu jauh lebih hangat terhadap Ibu," gumam Ibu dalam hatinya.


Setelah membuatkan susu untuk Ibu, aku kembali melanjutkan acara memasaknya. Dengan cekatan, aku memotong sayuran dan daging cuminya. Kemudian, menyiapkan semua bumbunya.


Pertama, aku memasak terong terlebih dahulu.


Setelah ku potong-potong tadi, aku merendamnya dalam air ditambah dengan sedikit garam. Supaya, tidak merubah tekstur warna terong agar tetap terlihat segar.


Kemudian, aku menghaluskan bumbu dan menumisnya.


Setelah terong baladonya matang, tanganku langsung melanjutkan menggoreng cumi. Sebelum itu, telah aku siapkan dua buah telur yang sudah di kocok lepas. Lalu, aku juga telah menyiapkan tepung terigu yang sudah di campur dengan kaldu bubuk dan sedikit garam.

__ADS_1


Sekiranya, semua bumbu sudah dirasa cukup, aku mengambil satu persatu potongan cuminya. Kemudian, memasukkannya kedalam kocokan telur, lalu mengguling-gulingkan daging cuminya di dalam tepung terigu. Kemudian, menggorengnya hingga kuning keemasan.


Setelah semuanya selesai, aku menghidangkannya di meja makan. Terlihat, sepertinya Ibu sudah merasa sangat lapar. Mungkin, karena terlalu lama ia menungguku memasak.


Aku dan Ibupun menikmati makanannya dengan sedikit obrolan.


"Ibu, kita main yuk!" ujarku seperti bocah mengajak ibunya bermain.


"Main kemana?" tanya Ibu sambil memasukkan sendok ke dalam mulutnya.


"Ke Mall yuk, Bu. Kitakan sudah lama tidak jalan-jalan ke sana," ucapku meraih tangan Ibu.


"Sayang uangnya, Di. Lebih baik kamu simpan uangnya, untuk menambah tabunganmu," tolak ibu lembut.


"Tapi Bu, aku baru saja gajian kemarin. Malah, Paman memberiku bonus lebih karena aku telah bekerja keras di sana. Ayolah Bu, mau yah?" ucapku sedikit merayu ibu.


Akhirnya, Ibupun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil di bibirnya.


Menandakan, ibu menyetujui keinginanku.


Ibu pun sepertinya begitu, karena tadi Ibu langsung masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Setelah mengunci pintu, aku dan ibupun berjalan melangkahkan kaki keluar dari halaman rumah. Melewati rumah-rumah tetangga, menyusuri jalanan gang, hingga sampai di sisi jalan yang sangat ramai dengan hilir mudik kendaraan.


Aku dan Ibu, menunggu angkutan umum yang akan mengantarkan kami menuju ke sebuah Mall terbesar di kota ini.


Setelah terlihat, kami pun menghentikannya dan langsung masuk ke dalamnya.


Setibanya di depan Mall tersebut, aku pun menggandeng tangan Ibu seperti tak mau lagi melepasnya. Kami masuk dengan senangnya. Berjalan berkeliling, mencari barang-barang yang sesuai dengan kantong kami.


Hingga, sampailah di tempat bermain anak.


Akupun mencobanya satu persatu, seperti anak yang masa kecilnya kurang bahagia saja. Tapi, aku tidak peduli. Toh, Ibu juga dengan sabarnya menemaniku mencoba berbagai macam permainan. Seperti seorang Ibu, yang sedang mengantar gadis kecilnya bermain. Ibu hanya senyum-senyum melihat tingkah konyolku.


Dimulai dengan memasukkan koin, mencoba permainan mengambil sebuah boneka, tapi aku gagal mendapatkannya. Lalu, bermain gitar listrik, yang memainkannya harus menginjak-injak lantai seperti sedang menari saja. Dan, masih banyak lagi hingga aku merasa puas.

__ADS_1


Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, hingga tiba waktunya makan siang.


Aku dan Ibu pun, berjalan untuk mencari tempat makan. Tapi, Ibu berhenti sejenak. Ia meraba-raba satu buah baju berlengan panjang berwarna hijau botol.


Namun, setelah melihat bandrolnya, Ibu mengurungkan keinginannya. Karena, harga baju yang di pegang Ibu, tiga kali lipat lebih mahal di banding baju yang biasa kami beli.


"Sudah Bu, ambil saja kalau Ibu suka. Nanti, aku akan membayarnya," ucapku hampir meraih baju tersebut. Namun, tangan ibu menepis tanganku.


"Jangan Di, bajunya mahal. Sayangkan uangnya, lebih baik di pakai membeli barang-barang yang kita butuhkan," tolak Ibu lagi dengan alasan seperti tadi pagi.


"Sudahlah Bu, izinkan aku membelikannya untuk Ibu. Kan aku sudah bilang, aku baru dapat bonus dari Paman. Beli ya bu, anggap saja ini hadiah untuk Ibu dari hasil keringatku," ucapku meyakinkan Ibu.


Akhirnya, Ibupun mengambilnya dengan penuh senyum.


Sesampainya di tempat makan, aku langsung memesan dua porsi nasi dan ayam goreng. Setelah makanannya tersedia di meja, aku dan Ibu langsung melahapnya.


"Bu, apa aku boleh bertanya?" ujarku sambil memakan ayam goreng. Ibu hanya mengangguk.


"Bu... Apa aku boleh jatuh cinta?" sahutku mengagetkan Ibu. Sepertinya, ibu terkejut dengan pertanyaan polosku.


Terlihat, ibu tersenyum lalu melebarkan senyumannya lagi. Seperti, sedang menahan keinginan tertawanya.


"Diana, kamu sedang jatuh cinta ya?" tanya Ibu sambil menggodaku.


"Bu, apa cinta itu harus sakit?" tanyaku lagi, tanpa menjawab pertanyaan Ibu.


Raut wajah ibu, berubah menjadi serius.


"Apa kau di khianati, Di?" ucap Ibu khawatir. Karena, ia takut anaknya mengalami hal seperti dirinya. Ketika, Ayah Diana pergi meninggalkannya untuk wanita lain.


"Tidak Bu," sambil menggelengkan kepalaku.


Akhirnya, di saat itulah aku kembali dekat dengan Ibu. Aku menjadi selalu terbuka dengan semua yang aku rasakan dan yang aku alami. Termasuk soal cinta, aku menceritakan semuanya tentang Zen. Aku juga menceritakan tentang isi hatiku dengan semua permasalahannya.


Mulai saat itulah, Ibu merangkap posisinya sebagai Ibu dan sahabat untukku.

__ADS_1


__ADS_2