CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Menerima Kenyataan


__ADS_3

Setelah beberapa hari aku bersekolah, hari ini adalah hari pertamaku berangkat sendirian. Nurul izin tidak masuk sekolah karena ia sakit. Dan hari ini bertepatan dengan rapat orang tua/wali murid.


Sehingga para siswa dan guru di bebaskan dari belajar mengajar.


Sambil menunggu rapat selesai, aku pergi ke halaman belakang sekolah. Disana ada sebuah gubuk kecil beratapkan jerami. Menghadap ke sebelah utara dengan di suguhi pemandangan gunung berwarna biru.


Aku berjalan menuju gubuk itu.


Suasana hening yang tercipta, mengingatkanku kejadian tadi pagi.


Kejadian dimana aku baru masuk ke gerbang ini. Melihat teman-temanku berjalan beriringan dengan kedua orang tua mereka. Sedangkan aku hanya berjalan seorang diri. Karena ibuku tadi terlambat datang ke sekolah. Ia harus minta izin dulu kepada majikannya untuk libur bekerja.


Tak terasa air mataku menetes membasahi pipi mungilku.


"Kenapa sih, kalian harus berpisah?


Mungkin, jika kalian bersama, ibuku tidak harus banting tulang bekerja. Dari pagi buta hingga menjelang sore. Ayah, kenapa sih kamu meninggalkan kami, dan menceraikan ibuku?" sambil sesenggukan aku menangis.


"Apa kalian tidak berfikir, jika tindakan kalian itu, akulah yang jadi korban," sambil menggerutu menahan kekesalanku.


"Aku sakit Ayah, aku sakit Ibu, sakit hatiku melihat orang lain berbahagia dengan kedua orang tua mereka. Terkadang aku lelah ibu, setelah capek pulang sekolah aku harus bekerja lagi hingga hampir malam," masih terisak.


Memang, setelah ayah meninggalkan kami, aku harus berjuang keras membantu ibu mencukupi kebutuhan kami. Mencukupi biaya sekolahku. Meskipun aku mendapatkan beasiswa, tapi banyak pula kebutuhan sekolahku yang harus dibeli. Akhirnya, aku memutuskan bekerja di tempat pamanku selepas pulang sekolah.


Tiba-tiba ada uluran tangan memberikan saputangannya.

__ADS_1


"Zen," ucapku kaget.


"Dari kapan dia ada di sini," batinku berbicara.


"Hapus air matamu. Jelek tau kalau kamu menangis," senyum Zen sambil duduk di sebelahku.


Kenapa memang? Memangnya kalau aku gak nangis aku cantik gituh. Kamu saja biasanya memandangku penuh dengan tatapan aneh. Tapi, tadi dia tersenyum padaku kan? Bisik hati Diana.


"Hei, maaf ya aku tadi mendengar semua ucapanmu," kata Zen sambil tetap memandang lurus ke depan.


Sebenarnya dia sudah duduk dari tadi di belakang gubuk ini, namun Diana tidak menyadari keberadaannya.


"Seharusnya kamu itu bersyukur donk. Jangan malah menyalahkan keadaan,"


sahut Zen tiba-tiba.


" Iya dehh maaf..." Sambil menunjukan wajah menggodanya. Dan memberikan senyuman hangatnya.


Akupun tersipu malu. Sejak kapan dia baik padaku, tersenyum manis padaku. Kecuali, saat kejadian di bengkel waktu lalu. Itupun, dia hanya menertawakan ku.


"Boleh... aku bicara?" ucapnya kemudian.


Aku hanya mengangguk.


"Setahu ku, ketika sebuah pasangan berpisah. Itu artinya mereka sudah tidak ada kecocokan lagi dalam menjalankan rumah tangganya," katanya menenangkan.

__ADS_1


"Dan jika hubungan terus dilanjutkan, itu akan saling menyakiti bagi perasaan keduanya. Begitu pula dengan ayah dan ibumu."


Aku terdiam. Membenarkan apa yang dikatakan Zen.


"Apa mereka tidak memikirkan perasaan ku yang hancur?" tanyaku antusias.


"Hei, sadarlah. Bukan hanya hatimu sebagai anak yang merasa tersakiti. Tapi, bagi kedua orang tuamu juga berat mengambil keputusan ini. Siapa sih yang mau bercerai, semua orang memimpikan menikah hanya sekali seumur hidup," ucapnya sambil menghembuskan nafasnya.


"Bahagia bersama pasangan seumur hidupnya, itu adalah cita-cita semua orang. Tak ada yang menampik akan hal itu.


Tapi jika Tuhan berkehendak lain, dan sudah tidak ada kecocokan di dalamnya, untuk apa di pertahankan?"


Zen menoleh ke arahku seolah bertanya.


Seperti tamparan keras bagi diriku. "Apa mungkin?" teringat sesuatu. Pernah aku memergoki ibuku meneteskan air matanya. Tapi ia berusaha tegar di hadapanku. "Jadi, ia juga sakit melewati semua ini."


Tiba-tiba Zen mendongakkan kepalaku.


"Nah,, sadarkan. Ibu mu juga sakit dalam keputusan ini. Jadi berusaha lah membanggakan kedua orang tuamu.


Jangan mentang-mentang anak dari broken home, kamu jadi broken kids," ia menatapku penuh senyum.


"Kamu harus semangat, kuat setegar karang. Kokoh seperti semen tigaxx, yang kuat, kokoh dan tangguh. hahaa..." tertawa sambil mengangkat tangannya memberikan semangat.


Akupun hanya bisa memberikan senyuman, sambil mengangkat tanganku juga menunjukkan semangat. Dan menerima semua kenyataan dengan penuh keikhlasan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2