CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Ikut Lomba (Part II)


__ADS_3

Aku berjalan mengekor di belakang Zen. Wajahku masih terasa memerah karena kejadian tadi. "Semoga saja, Zen tidak bertanya tentang masalah Tukang Es tadi ya.. haha" ucap batinku.


Setelah Zen menyalakan motornya, tanpa di perintah aku langsung naik dan duduk dibelakang Zen.


"Siapa suruh kau naik!" goda Zen dengan wajah datarnya.


"Lalu, kau mau apa memanggilku tadi?" ketusku mendengar ucapan Zen.


"Mengganggu pekerjaanku saja, ya sudah aku mau turun lagi!" ucapku. Tapi, aku tetap duduk tegap di atas motornya Zen. Aku kira akan seperti di drama-drama, jika si wanita marah, Sang Pria akan mohon-mohon agar si wanitanya tetap berada bersamanya. Tapi, sepertinya tidak dengan Zen. Dia tidak bergeming sama sekali.


"Sudah sana! Katanya mau turun!" ujar Zen dengan seringai liciknya.


Aahhh, malu apalagi yang akan menimpaku ini? Diana


Kalau aku turun, pastinya aku akan lebih malu lagi. Membayangkan wajah Kak Fadly saja, rasanya urat maluku ini sudah tidak ada harganya lagi.


"Hehe... Maaf deh! Gak jadi sepertinya. Tiba-tiba perutku lapar. Kita makan ya Zen!" bujukku kepada Zen.


Kenapa aku juga yang kena sih? Diana


Tanpa berfikir lama, akhirnya Zen pun melajukan sepeda motornya. Dengan teriknya sinar matahari, kami pun menyusuri jalanan yang sangat ramai.


Mungkin, karena waktunya makan siang, jadi banyak orang yang berhamburan mencari makan untuk menambah energinya sampai sore hari.


Tidak terlalu jauh dari bengkel pamanku, Zen pun menepikan motornya. Kami berhenti di salahsatu gerai bakso yang cukup megah dibanding tempat bakso biasanya.


"Yah, makan bakso lagi deh!" pikirku, karena meskipun Zen orang kaya, selera makannya ternyata sama. "Orang kaya ko' makannya begini terus ya. Kirain mau di ajak makan ke restoran gitu! Makan spagety ke', burger ke', atau makan pizza yang gede' kaya di tv," keluhku karena tidak sesuai dengan ekspektasi.


"Itu tidak akan sesuai dengan lidahmu!" sahut Zen tiba-tiba.


"Ehh, ternyata dia mendengarku, ya!" batinku.


"Ayo masuk!" ucap Zen sesaat setelah memarkirkan motornya.


Ia menarik tanganku lembut, seperti seorang kekasih mengajak pacarnya berkencan.


Akupun jadi merasa baper, tiba-tiba di hatiku ada sedikit getaran rasa senang.


Entah rasa apa yang tiba-tiba muncul di dalam hatiku ini. Namun, sungguh aku merasa menjadi bahagia saat bersamanya.


Kamipun duduk di tempat yang telah di sediakan. Ada kursi dan meja di ruangan sebelah, dan ada juga meja panjang untuk duduk lesehan. Namun, Zen memilih tempat duduk lesehan.


Sambil menunggu pesanan datang, Zen seperti mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya. Kami duduk dengan jarak cukup dekat, menghadap ke satu arah yang sama.


Lalu, ia menyodorkan sebuah jam tangan berwarna biru berantai magnet.


"Pakailah!" ujar Zen tersenyum kepadaku.


Hati ini pun, tak bisa dikondisikan. Rasanya meleleh bisa melihat senyuman manis Zen. Bagaimana tidak, Zen kan tipe orang yang jutek. Tidak semua orang mendapatkan senyumannya.


Tapi, aku langsung menyadarkan diriku agar tidak terlalu dalam jatuh ke dalam perasaannya.


"Untuk apa Zen?" tanyaku seolah perasaan ini baik-baik saja.


"Kenang-kenangan," jawab Zen seperlunya.


Memang, orang di depanku ini pantas mendapat julukan bukan manusia normal.

__ADS_1


Karena, baik bertanya ataupun menjawab hanya ada satu kata dalam hidupnya.


"Bisa tidak sih, menjawab sejelasnya!" batinku.


"Kenang-kenangan untuk apa? Memang aku mau pergi kemana?" ucapku. Langsung dua pertanyaan sekaligus. haha


"Ya, siapa tahu di sana kau akan lupa padaku!" jawab Zen.


Tuh kan! Jawabannya selalu membuat otakku berfikir lebih keras mengartikan semua perkataannya.


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Jam ini akan selalu ada di tanganmu dan mengingatkanmu kepadaku," ujar Zen sambil meraih tangan kiriku lalu memakaikan jam itu di tanganku.


Deg!


Rasanya, perasaan di hatiku seperti mendapat siraman yang menumbuhkan kembali rasa cintaku kepada Zen.


"Zen, kau menganggapku..." ucapku percaya diri.


"Teman!!" jawaban Zen mengejutkan seluruh urat syarafku.


Yang baru saja tumbuh, kini hangus seperti terbakar api, tinggalah segenggam abu.


"Nasib... nasib..." pikirku pasrah.


"Permisi..." ucap pelayan menyodorkan dua buah mangkok mie bakso.


Akupun secepat kilat, menghabiskan baksoku. Karena rasa jengkel tadi, menambah nafsu makanku.


"Antarkan aku kembali!" ucapku ketus sambil meninggalkan Zen terlebih dahulu.


Akhirnya, aku kembali ke bengkel pamanku diantar oleh Zen. Sampai sore, aku menghabiskan waktuku bekerja di sana. Karena hari ini aku kerja dari pagi, maka sekitar jam lima sore pun aku telah sampai di rumah.


***


Di pagi hari, aku bangun sangat pagi. Agar aku punya waktu untuk menenangkan hatiku supaya tidak merasa tegang saat keberangkatanku nanti. Sesekali sambil memeriksa tas ku, yang berisi pakaian dan perlengkapan untuk nanti saat aku sedang berada di luar kota.


Hari ini, karena memang bukan mau pergi ke sekolah, aku memakai baju yang biasa aku pakai. Kaos putih berlengan panjang menempel di tubuhku, lalu kumasukkan ke dalam celana beige berwarna coklat susu.


Dan, memakai sepatu pantopel dengan warna senada yang biasa aku pakai saat liburan.


Tak lupa, menyisir rambutku dan melingkarkan bando pita berwarna pink kesukaanku. Karena rambutku hanya sebahu, jadi ku biarkan tergerai begitu saja.


Setelah aku pamit kepada Ibu, dan meminta restunya, tibalah sebuah mobil minibus yang akan menjemputku. Didalamnya ada Bu Fani dan salah seorang staff penjaga sekolah yang akan mengantarkan kami menuju pusat kota.


Di pusat kotalah kami berkumpul. Setelah sampai di sana, aku dan Bu Fani di persilahkan mendekat ke kerumunan orang. Beberapa bis pariwisata telah terparkir di depan alun-alun kota, yang siap mengantarkan kami menuju tempat kami berjuang menunjukkan potensi yang kami miliki.


Karena bis antara anak didik dan pendampingnya berbeda, maka akupun berpisah dengan Bu Fani. Aku masuk ke dalam bisku diantar oleh panitia menuju ke tempat dudukku. Disana telah duduk dua orang perempuan sebayaku, duduk tepat di depanku. Ketika aku sampai di kursi yang akan aku duduki, mereka menoleh ke arahku dan tersenyum kepadaku. Akupun tanpa banyak bicara, hanya membalas senyuman keduanya.


Aku duduk tepat di samping jendela kaca, sehingga terlihat jelas beberapa panitia sibuk mengatur orang-orang yang akan berangkat.


Karena mungkin belum datang seluruhnya, aku hanya duduk seorang diri di bangku yang berisikan dua orang ini.


Karena merasa jengah terlalu lama menunggu, kedua temanku yang ada di depanku tadi menengok ke belakang dan menyapaku.


"Hai," sapa keduanya kepadaku.


"Hai juga," jawabku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu ikut lomba apa?" tanya salah seorang dari keduanya. Ia begitu imut dengan pipi cabinya, dan rambutnya yang sedikit bergelombang.


Setelah berkenalan tadi, ternyata namanya Wia. Dan satunya lagi bernama Dita, ia terlihat cantik dengan kulitnya yang putih dan rambut panjangnya di kucir ekor kuda.


"Cerpen," jawabku pendek.


"Kalau kalian?" tanyaku kepada keduanya.


"Kita sama-sama ikut loma bernyanyi lagu daerah," jawab Dita menjelaskan.


"Ohh, kalian satu sekolah, ya?" tanyaku karena mereka terlihat sangat akrab.


"Tidak!" jawab mereka bersamaan.


"Kita baru kenal di sini, tapi obrolan kita sudah sangat nyambung. Mungkin karena satu hobi kali ya? haha" jelas Wia sambil tertawa kecil.


Tiba-tiba mereka berhenti berbicara, masih menghadap ke belakang. Namun, mereka seperti menganga seolah melihat sesuatu yang menakjubkan.


Setelah ku menoleh ke belakang, ternyata benar, seseorang berwajah tampan memakai kaos berwarna hitam dan celana panjang coklatnya, menambah kesan cool ketika melihatnya. Laki-laki itu berjalan menuju kursi di sebelahku yang tadi masih kosong.


"Boleh saya duduk di sini?" ia bertanya kepadaku.


Aku hanya mengangguk tanpa sekalipun mengedipkan mataku.


"Hai, semua..." ia duduk lalu mengedarkan pandangannya ke arah ku, Dita dan Wia.


Kami langsung tersadar dari keajaiban yang dilihat oleh mata kami. Dan sesekali terdengar cekikikan dari arah Dita dan Wia.


"Hai..." jawab Dita dan Wia, aku hanya menganggukan kepala dan tersenyum kepadanya.


"Perkenalkan aku Hans!" ujarnya memperkenalkan dirinya.


"Hans.. Hansip!" ujarku keceplosan.


"Haha... eh maksudku ini aku Diana," ucapku malu dengan candaan garingku.


Dia hanya tersenyum dan menjulurkan tangannya menyalamiku.


"Salam kenal, Diana," ucapnya melelehkan hatiku lagi.


"Persetanlah dengan Zen! Bodo amat, jika mendapat yang lebih baik kenapa di tolak! haha..." pikirku.


Dita dan Wia pun berebut bergantian menyalami Hans. Bahkan tanpa malu mereka meminta nomor ponselnya.


Sedangkan Wia lebih nekat lagi, ia meminta Dita untuk memotretnya bersama dengan Hans.


Aku hanya senyum-senyum masam melihat tingkah laku mereka.


Ketika aku melirik jam tanganku, aku teringat lagi yang di ucapkan Zen.


Aku jadi galau dibuatnya...


"Aahhh..." batinku gelisah merasa jadi serba salah.


***Bersambung...


Ditunggu likenya...πŸ‘πŸ‘β€β€πŸ˜™πŸ˜™***

__ADS_1


__ADS_2