
2 tahun kemudian...
Tak terasa, aku telah melewati dua tahun yang terasa begitu singkat melintas di kehidupan remajaku.
Canda tawa bersama teman-teman sekelasku menjadi kenangan masa-masa terindahku.
Begitu juga dengan ketiga sahabatku.
Zen, Adrian, dan Nurul, kami akan merasakan perpisahan setelah menjadi teman sekelas, teman seperjuangan dan teman sepercintaan.
Meskipun, di dalam hati kami masing-masing memendam benih-benih cinta, tapi kami tidak pernah mengutarakannya sebagai pacaran.
Aku dan Zen berkomitmen untuk tetap menjadi teman terindah.
Kami saling mengisi dalam suka maupun duka. Kami hanya saling mendukung satu sama lain dalam hal prestasi.
Oleh sebab itu di kelas, prestasi kami cukup gemilang.
Hasil ujian kami pun masuk 3 besar juara umum.
Ehh, bukan hasil Ujian Nasional lho!
Tapi, hasil keseluruhan nilai rata-rata raport selama 5 semester.
Kenapa? Karena kehadiran Mr. Covid-19 lah menjadi penghilang UN di negeri ini.
"Horeee...." Sorak sorai kebahagiaan pun terpancar dari orang-orang yang tidak suka berfikir.
Lalu, lomba menulis cerpen yang aku ikuti waktu itu, bagaimana?
Nah, lomba itu menjadi lomba terakhir ku yang sangat berkesan sekaligus meninggalkan sedikit kekecewaan.
Ya, berkesan, karena bisa mengenal teman-teman baru yang super ramah juga super bersahabat. Meskipun, saat itu kami baru kenal, tapi pertemanan kami awet hingga kembali ke kehidupan masing-masing.
Yups! Kami sering sekali berkomunikasi baik melalui chat maupun sosial media.
Kami sering berbagi like, koment bahkan subcribe sekalipun. hehe
Apalagi pertemanan ku dengan Hans, dia adalah teman yang paling tak terlupakan.
Bagaimana tidak! Dia salah satu dari tiga orang yang menertawakanku dan Zen.
Di saat aku sedang berada satu mobil dengan Adrian dan juga Nurul.
Waktu itu, aku lupa mematikan ponselku.
Hingga Hans mendengarkan jelas seluruh kejadian di dalam mobil itu.
"Sungguh memalukan!" batinku. Karena setiap kali Hans menghubungiku, pasti dia meledekku.
"Tukang Es mana yang telah kau dustakan, Di! haha" goda Hans merasa puas.
Karena aku selalu mengelak ketika di tanya tentang pacar. Tapi gombalan Zen kala itu, seolah mencerminkan orang berpacaran.
"Iya, deh. Mungkin... teman rasa pacar kali ya?" hihi
"Terus, kok Hans bisa mengetahui perihal Tukang Es, ya?" pikirku bertanya.
Tentu saja, karena pada saat aku sedang bersama Hans waktu di hotel, beberapa kali ia memergoki ponselku mendapatkan panggilan dari Tukang Es.
Dan rasa kekecewaanku yang muncul adalah karena hasil perlombaan ku, aku hanya meraih harapan satu. Itu artinya aku tidak mendapatkan gelar 'Winner' di ajang itu.
Begitu juga dengan Hans, sepuluh besar pun sungkan menempel dalam dirinya.
Ya, maklum kami hanya penulis amatir yang bermodalkan hanya hobi.
Ehh, ralat deh! Lebih tepatnya hanya halu. haha
Jadi, wajarlah gelar juara tak dapat kami raih.
"Sabar... sabar..." batinku menyabarkanku.
Tapi, aku tetap semangat menyalurkan hobiku. Karena, jika ada waktu senggang, aku masih bisa belajar menulis di aplikasi novel online.
Sementara itu, tanda hubunganku dengan Zen, atau lebih tepatnya ciuman Zen kepadaku di waktu itu, benar-benar menjadi ciuman pertama dan terakhirku.
Zen, tidak berani lagi melakukan hal itu.
Katanya, "Aku akan melakukannya jika kau telah siap!"
__ADS_1
Memang mau apa juga dia kepadaku? Diana
Sementara, Nurul dan Adrian mereka bersahabat dengan baik. Mereka saling suka dalam diam. Tapi tidak pernah saling mengutarakan.
Karena, Adrian menahan dirinya. Ia sadar perkataanku waktu itu. Ia tak mau menyakiti banyak hati wanita. Ia menyayangi Nurul sebagai sahabatnya. Jika berjodoh, mungkin Tuhan akan mempersatukan.
Nah, kalau Nurul, ia sangat berharap Adrian bisa menganggap dirinya lebih dari seorang sahabat. Bisa pacar-pacaran, bisa suka-sukaan, bisa senggol-senggolan, bisa... banyak deh, selayaknya seorang pacar memperlakukan pacarnya.
Tapi kata Adrian, "Kita sahabatan dulu ya, Nurul?"
Bleesss.... Ambyarrr ... semua harapan Nurul.
"Haha... sabar ya, Nurul!" Hanya itu yang dapat aku ucapkan saat sedang bersama Nurul waktu itu.
Karena sesuka apapun Nurul kepada laki-laki, dia hanya berani mengucapkannya kepadaku. Akupun juga begitu. Kami bisa saling mencurahkan segala isi hati kami, baik tentang gebetan maupun tentang segala hal.
***
"Diana!" panggil Nurul kepadaku.
"Iya, Nur!" jawabku. Aku menoleh ke arah Nurul yang setengah berlari menghampiriku.
Yups! Sekarang aku sedang duduk di taman, tempat favoritku dimana aku menghabiskan waktu istirahatku.
"Di, sekarang giliran mu berfoto dengan Pak Kepsek dan juga Bu Fani!" sahut Nurul kepadaku.
"Baiklah!" jawabku singkat.
Akupun melangkahkan kaki ini, menuju tempat pemotretan.
Tidak ada yang mewah dengan acara perpisahan kali ini.
Hanya spanduk bertuliskan 'Happy Graduation' yang menjadi latar belakang pemotretan.
Karena situasi yang sedang pandemi yang mewajibkan menjaga jarak dan juga memakai masker. Akhirnya perpisahan kali ini hanya sebatas pemotretan untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan, dan di akhiri dengan pengambilan ijazah.
Setelah itu, kami sebagai alumni yang sah di persilahkan untuk kembali ke rumah masing-masing.
***
Ting!
Bunyi notifikasi pesan chatt masuk di ponselku.
Kemudian meraih ponselku di atas meja lalu membuka pesan chatt yang masuk.
'Tukang Es', nama itu yang tertera di layar notifikasi.
"Haha... masih suka aku dengan nama itu, meskipun setelah dua tahun berlalu.
Biarlah, biar menjadi nama kesayanganku kepada Zen," gumam batinku.
/Diana, kamu mau melanjutkan kuliahmu ke universitas mana?/ tanya Zen kepadaku melalui pesan whatsapp.
Deg!
Perasaanku langsung berkecamuk. Tak bisa lagi aku menahan air mata yang sudah membendung di ujung mataku.
Sedih! Itu yang kurasakan. Karena, impianku untuk bisa melanjutkan kuliahku, meraih cita-citaku, dan menuntut ilmu setinggi-tingginya, pupuslah sudah dalam waktu sekejap.
Uang tabunganku hasil kerja keras di bengkel pamanku, yang aku kumpulkan sedikit demi sedikit, mau tidak mau harus aku gunakan untuk berobat ibuku.
Karena satu tahun terakhir ini, ibuku sering mengalami sakit karena penyakit hipertensi nya yang cukup parah. Alhasil, tiap bulan gajiku yang tak seberapa itu harus aku gunakan untuk mengobati penyakit Ibu.
Tapi, syukur alhamdulillah pengorbananku tidak sia-sia. Ibuku kembali sehat seperti sedia kala.
Namun, hati ini masih menyisakan kesedihan yang belum hilang dari ingatanku.
"Ohh... kasihan... Ohh... kasihan... Sungguh kasihan..." Upin Ipin pun bersedih atas yang aku alami.
Kebetulan Upin Ipin kesukaanku sedang tayang di televisi hari ini. haha
/Hmm... mungkin kuliahku akan di tunda, Zen./ balasku pada Zen.
Setelah itu, tak ada lagi balasan dari Zen.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu menyadarkanku.
__ADS_1
"Apa Ibu sudah pulang?" pikirku.
"Ahh, tidak mungkin. Kan biasanya Ibu pulang di sore hari."
Aku pun beranjak dari sofa lalu menyeret kakiku untuk membuka pintu.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat orang yang berdiri di balik pintu.
"Zen?" ucapku terkejut.
"Apa?" jawab Zen dengan muka datarnya.
"Mau apa kau datang kesini?" tanyaku kepada Zen karena heran dengan kedatangannya.
"Jadi, kau tidak suka dengan kedatanganku?" tegas Zen dengan volume suara sedikit di naikkan.
"Apa?" batinku.
"Dikit-dikit marah, dikit dikit bentak, bagaimana mungkin aku bisa hidup bersamanya. Jika sikapnya yang emosian, bisa bisa aku keremian hidup bersamanya."
Haha... apa hubungannya dengan keremian, ya? Ada kok, ada hubungannya. Keremian kan biasanya kurus, kering, tak terurus.
Mirip sama jika keseringan membatin, makan hati terus tiap harinya.
Ihh, takuutt... Diana
"Heh, bengong lagi!" ujar Zen menyadarkan lamunanku.
"Ya sudah, jika kau tidak suka dengan kedatanganku. Aku pergi lagi!" ancam Zen.
"Ehh, jangan!" ucapku bimbang.
Karena, aku juga tidak mau dia pergi.
"Tapi, kalau dia masuk, apa kata tetangga?" Tuh kan! Aku melamun lagi.
"Baiklah, tapi jaga jarakmu dan cuci tanganmu!" perintahku kepada Zen.
Ahh, balas lagi deh bentakannya. Mumpung ada kesempatan. haha... Diana
"Duduklah!" ucapku menunjuk kursi yang ada di teras rumahku.
Karena, tidak ada episode masuk rumah, ya.
Kalau ibuku marah bagaimana. Masih teringat jelas amanat-amanat ibuku kepadaku.
Padahal kan, aku yang sekarang akan menjadi orang dewasa.
"Tetap saja, Diana. Jaga jarakmu dengan orang yang belum menjadi muhrimmu!"
Tiba-tiba sekelebat bayangan ibu melintas dalam penglihatanku.
"Ibu, kau ya! Ada ataupun tidak, tetap saja menjadi bodyguard ku!" keluhku di dalam hati ini.
"Pakailah!" ujar Zen menyodorkan sebuah kalung bertuliskan huruf Z.
"Untuk apa?" tanyaku. Karena aku tidak mau berhutang budi dengan orang lain.
"Pakailah!" ucap Zen yang kedua kali.
Cih! Apa Kau tidak memberikan orang yang romantis ke dalam hidupku, Tuhan... Diana
Dengan terpaksa, aku pun meraih kalung tersebut. Ku ayun-ayunkan ke kanan dan ke kiri. Melihat-lihat sebuah kalung yang spesial pemberian seseorang untuk diriku. Sebenarnya, aku cukup suka dengan kalungnya. Tidak terlalu mewah, namun simple dan elegant.
"Terimakasih!" ucapku datar menyembunyikan rasa senangku.
"Kau suka?" tanya Zen dengan tatapan tajamnya.
"Tidak!" ujarku pura-pura tidak suka.
"Jadi? Beraninya, kau..." semakin marah dia ya...
"Iya... iya.. aku suka kok!" ucapku langsung tersenyum manis di hadapannya.
"Maaf, yaa.. kan bercanda! hehe"
"Terus, kenapa kamu menunda kuliahmu?" tanya Zen mulai serius dengan ucapannya.
"Ya mungkin, sekarang belum waktunya, Zen. Aku harus ikhlas..." ucapku selalu sedih jika membahas kuliahku.
__ADS_1
Tapi, aku harus bisa kuat. Sekarang, kehidupan menjadi orang dewasa akan segera di mulai.
Bersambung...