
Setelah aku duduk di mejaku dan menyiapkan perlengkapan belajar ku. Aku menoleh ke belakang. Dan ternyata benar, dia yang menabrakku tadi.
Dia tersenyum semanis tadi, seperti waktu kita bertemu pertama kali.
Tapi ada yang aneh, ketika aku melihat kesampingnya. Seseorang berkulit putih, berperawakkan tegap, penuh wibawa dan kedewasaan menempel di raut wajahya. Sangat tampan juga. Tapi, dia menatapku begitu. Tatapan menakutkan, sangat tidak ramah, seperti mengucapkan "Apa? Kenapa melihatku. Wajahmu itu jelek tahu!"
Ihh takut. Aku langsung memalingkan wajahku ke depan lagi, mendengarkan guru yang sedang menjelaskan pelajaran. Lebih baik begitu kan.
***
Waktunya istirahat pun tiba, Nurul mengajakku membeli makanan di kantin.
Dan setelah tangan ini membawa beberapa makanan yang di beli tadi, Nurul membawaku duduk di bangku taman.
Sepertinya sengaja taman ini di simpan beberapa kursi panjang di setiap sudutnya.
Dan kursi-kursi tersebut menghadap kolam ikan yang di sekelilingnya di tanami bunga-bunga. Sungguh tenang jika berada di taman ini. Seperti setelah lelah berfikir, bisa merelaksasi otak agar lebih fresh lagi. Dan siswa dapat menggunakannya saat istirahat seperti ini.
Tiba-tiba seseorang memanggilku.
__ADS_1
"Hai Diana, aku Adrian. Duduk di sini aja yuk! Masih kosong nih!" sambil menggeser tubuhnya menyuruhku duduk di sampingnya.
"Ohh iya, terimakasih. Tapi aku duduk di sana aja deh, iya kan Nurul?" spontan Nurul mengangguk.
Ohh, yang menabrakku pagi tadi namanya Adrian. Tapi siapa sih temannya yang disebelahnya?
Isshh apa sih salahku, lagi-lagi menatapku menakutkan begitu. Batin Diana.
"Ups, maaf. Aku gak sengaja," sambil mengacungkan ke dua jariku.
Padahal dalam hatiku, "Ya, aku sengaja menginjak kakimu. Karena sebal, aku melihat wajah mu. Wajah yang dingin, menakutkan, dan hanya sorot mata yang tajam."
Tapi saat aku menginjak kakinya, dia hanya bergeming. Hanya sorot matanya, yang seperti mengatakan, "Kau mau cari gara-gara denganku? Dan kaki ku juga tidak sakit sama sekali." Begitu matanya berbicara, sambil ada seringai licik di senyumnya.
"Nur, siapa sih dia?" sambil menatap benci kepada orang itu.
"Mana?" Nurul malah balik bertanya.
"Itu, yang duduk di sebelah Adrian. Rasanya pengen nampol deh tuh orang," sambil menunjuk kesal.
__ADS_1
"Hush," Nurul mengejutkanku dengan menepuk pundakku. Dan melanjutkan kata-katanya. "Dia itu Ketua OSIS tahu. Namanya Zen. Zen Nugraha. Dia itu orang yang paling berpengaruh di sekolah ini. Karena selain orangtuanya adalah pemilik sekolah ini, dia juga seorang Ketua OSIS yang banyak berkontribusi dalam kegiatan sekolah," jelas Nurul.
Ahh bisa ya orang judes kayak gitu banyak kontribusinya, pasti hanya dengan satu kedipan mata semua nya langsung tunduk.
Karena matanya itu lho. Kayak mata singa yang siap menerkam. haha... Diana
"Ehh, Di. Kenapa kamu?" tanya Nurul heran melihatku tertawa.
"Awas lho. Jangan cari gara-gara sama dia.
Bisa di tendang kamu. haha.." bisik Nurul di telingaku.
Nyaliku langsung menciut, teringat kejadian tadi saat menginjak kakinya. "Bagaimana bisa, kalau aku harus berhenti meraih mimpi, di tendang dari sekolah ini," pikirku berkecamuk.
Karena aku tahu, Harapan Bangsa merupakan salah satu sekolah terfavorit. Aku pun masuk kesini di bantu beasiswa.
"Aahhh..." ketusku, menyesali perbuatanku.
Tiba-tiba bel berbunyi mengagetkan ku.
__ADS_1
Makanan yang tadi dibeli pun sudah ludes habis masuk ke perutku.
Aku dan Nurul pun berlari menuju ruang kelas ku.