CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Kerja Kelompok


__ADS_3

Di hari pertama masuk sekolah, setelah masing-masing menghabiskan liburan akhir pekannya, teman-teman di kelasku di kejutkan dengan tugas Matematika. Pelajaran tersebut, mengawali pembelajaran di pagi hari ini.


"Anak-anak, tugas ini harus di kerjakan secara bersama-sama ya. Atau lebih tepatnya, di kerjakan dengan berkelompok," ujar Pak Dindin selaku guru Matematika. Setelah tadi beliau panjang lebar memberikan penjelasan.


Murid-murid di kelasku langsung riuh saling melemparkan ucapan mereka, menanggapi tugas kelompok ini. Ada yang senang, karena tak perlu berfikir keras untuk menyelesaikan tugasnya. Ada juga yang menepuk jidatnya, karena bagi orang-orang yang cukup pintar dialah yang akan menjadi korban. Selain menjadi Ketua Kelompok, mereka jugalah yang akan lebih banyak berfikir.


"Diana, Nurul, dan Adrian kalian masuk ke kelompok Zen ya!" lanjut Pak Dindin sambil menunjuk ke arah Zen.


Deg!


Hatiku langsung terkejut. Seperti darah yang mengalir di tubuhku tiba-tiba berhenti. Karena sudah beberapa hari ini, aku dan Zen tidak bertegur sapa. Setelah kejadian di pagi itu, saat aku melihat Zen dengan Tania. Ditambah lagi Tania mengancamku, yang membuat nyaliku langsung menciut. Karena aku tahu, siapapun yang berurusan dengan Tania, orang itu tidak akan bertahan lama bersekolah disini. Karena, orang tua Tania merupakan orang kedua paling berpengaruh di Harapan Bangsa, setelah orang tua Zen Sang Pemilik sekolah.


Aku menyadari, bahwa diriku hanya butiran debu yang tak berharga, kalau bukan tanpa keberuntungan dari beasiswa.


Dan setelah itu, meskipun kami berpapasan sekalipun, kami selalu membuang muka ke arah yang berbeda. Aku selalu acuh, judes dan memberikan tatapan kebencian.


Begitu juga dengan Zen. Dia selalu menghindar dariku. Aku semakin yakin, untuk tidak memberikan celah kepada hatiku agar perasaan ini tidak berkembang.


Tapi, hati ini tidak dapat di ajak berkompromi.


Semakin aku menjauh, malah rasa ini semakin tumbuh. Diana.


"Diana!" teriak Nurul didekat telingaku.


Refleks aku pun menutup kedua telinga.


"Apa sih? Aku kan gak budek," jawabku sambil memalingkan muka dan memanyunkan bibirku.


"Lagian, di panggil dari tadi ngelamun... mulu! Apa sih yang kamu pikirkan?" goda Nurul mencubit pipiku.


"Aahh ... sakit. Sudah ahh, kita ke kantin yuk! Aku lapar, sudah waktunya istirahat juga kan?" ucapku, sambil menarik tangan Nurul meninggalkan ruangan kelas. Tanpa membantah, Nurulpun mengikuti keinginanku.


Sementara itu di tempat lain, seorang Zen sedang merasa senang.


"Akhirnya, setelah beberapa hari aku mengacuhkannya, aku bisa dekat dengannya lagi. Aku rindu bersamanya." Senyum tipis muncul di bibir Zen.


Zen tidak mengetehui, kalau Diana ingin


menjauhi dirinya.


"Diana!" panggil Zen dari kejauhan.


Terlihat, Diana sedang membawa makanan di tangannya. Tapi, Diana tidak menghiraukannya. Hanya berhenti sejenak, memastikan siapa yang memanggilnya. Lalu melanjutkan lagi langkah kakinya.


"Apa? Dia masih judes! Sial, kenapa juga kemarin aku harus menjauhinya.

__ADS_1


Diakan paling jago kalau mengacuhkanku," gumam Zen menyesali tindakannya.


***


Selepas pulang sekolah, aku meminta izin kepada pamanku untuk libur bekerja hari ini. Karena, kegiatanlah yang mengharuskan aku untuk mengerjakan tugas secara berkelompok.


Kami memutuskan untuk belajar di rumah Adrian, di rumah Zen lebih tepatnya.


Ya mau bagaimana lagi, dengan terpaksa aku harus pergi ke sana.


Kalau Nurul jangan di tanya, dia kegirangan mendapatkan momen seperti ini. "Momen-momen bisa deket sama orang ganteng," katanya.


"Ahh, dasar kamu saja kecentilan!" sahutku meledeknya.


Senang ataupun tidak hatiku juga ragu, yang pasti fasilitas di rumah Zen lebih memadai ketimbang di kontrakan rumahku.


Sesampainya di rumah Zen, aku berusaha terlihat biasa. Agar tidak terlihat seperti rakyat jelata memasuki istana. Meskipun sesekali aku kagum dengan kemewahan di dalamnya.


"Assalamu'alaikum," ucapku sambil mengetuk pintu.


"Wa'alaikum salam," Seorang ibu paruh baya keluar membukakan pintu. "Temannya Den Adrian, ya? Silahkan masuk Non, sudah ditunggu di dalam," sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Adrian.


"Terimakasih, Bu," ujar Nurul. Sambil melaju kami bergandengan tangan masuk ke dalam rumah.


"Rumahnya bagus ya," bisik Nurul. Aku hanya tersenyum menganggukkan kepala.


"Hai, Diana... Hai, Nurul..." sapa Adrian sambil berdiri.


"Maaf ya, gak bisa jemput ke depan. Soalnya, sibuk nih nyiapin buku dan peralatan untuk nanti."


"Iya, gak apa-apa kok. Maaf juga, aku telat. Tadi habis ke bengkel dulu minta izin," jawabku sambil duduk dan membuka ransel yang di gendongku.


"Ngapain kamu ke bengkel, Di?" tanya Adrian heran.


"Oh itu... biasanya setelah aku pulang sekolah aku kerja di bengkel pamanku,"


"Jadi montir, Di? Hebat kamu yah!" tanya Adrian sambil mengacungkan jempolnya.


"Ya enggak lah. Mana bisa aku. Aku hanya penjaga tokonya saja. Biasa aja kali, ngeliatnya! Aku kan gak aneh-aneh banget," ujarku menatap Adrian.


"Ya aneh lah, Di. Cewek ko' kerjanya di bengkel. Lagi sekolah pula, apa gak cape gitu?" tanya Adrian lagi. Sekarang, malah mendekatkan wajahnya lalu menatapku.


"Ya lumayanlah, apalagi kalau tugas sekolah lagi banyak.


Tapi ya mau gimana lagi, membantu ibu sambil sedikit-sedikit belajar menabung. Aku juga kan... mau merasakan bangku kuliah!" ucapku sambil menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Hebat kamu yah, Di," puji Adrian lagi.


"Nyamuk...nyamuk...nyamuk," sahut Nurul memotong percakapan dan raut wajahnya seperti terlihat kesal.


"Hehe... Maaf ya Nurul," ucapku dan Adrian hampir berbarengan.


"Ngobrol mulu, kapan belajarnya!" Tiba-tiba Zen datang bersamaan dengan asisten rumah tangga yang membawakan kami beberapa gelas jus.


"Wiihh seger nih!" tanpa canggung Nurul meraih gelas tersebut.


Setelah Ibu ART tadi menyimpan gelas satu persatu, ia pun kembali ke belakang. Mungkin, menyelesaikan pekerjaannya.


Kemudian, kami pun satu persatu mulai membuka buku, mulai membaca beberapa pertanyaan yang di berikan Pak Dindin kepada kami.


"Gimana, kalau kita bagi dua aja ngerjainnya. Soalnya, ini pertanyaan banyak banget. Takut kesorean nanti!" ujar Adrian tiba-tiba. Kami pun berfikir sejenak.


"Diana sama Zen, aku yang bareng Nurul."


"Tidak!" tolakku tegas. Terlihat Adrian dan Nurul merasa heran dengan sikapku.


"Lah, emang aku mau gituh bareng kamu!" ujar Zen merasa gengsi karena Diana menolak bersamanya.


Padahal, tadinya Zen merasa senang bisa dekat lagi dengan Diana.


"Ya sudah, aku aja yang sama Diana. Nurul, kamu bareng Zen yah?" ucap Adrian lagi.


Nurul mengangguk. Tapi, sepertinya Nurul sangat tersiksa


dengan sikap Zen yang dingin. Hanya fokus menulis saja, ditanya pun hanya menjawab empat kata "*Iyah, tidak, mungkin, dan enggak tahu." haha


Kasian yah Nurul...😁😁


Sedangkan, Adrian dan Diana mengerjakannya sambil terkadang tertawa cekikikan. Entah apa yang mereka tertawakan, namun berhasil membuat hati Zen geram*.


"Selesai..." ucapku sambil mengangkat tanganku ke atas dan mengaitkan jari-jariku. Seolah menghilangkan pegal di kedua tanganku.


"Aku juga sudah!" ucap Nurul yang terdengar gemetar. Mungkin, batinnya sudah menahan kesal dari tadi, terlihat dari raut wajahnya yang merah padam.


"Ya sudah, kan semuanya sudah selesai. Aku dan Nurul pamit pulang ya. Kasihan Nurul, sepertinya ia sangat lelah," ucapku tersenyum sambil mengedipkan mata sebelah kiri.


Nurul malah balik memelototiku. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat reaksi Nurul yang salah tingkah. Bahkan ia minum jus milikku juga. Entah apa yang merasuki Nurul, hingga ia menghabiskan dua gelas jus sekaligus.


Adrian hanya tersenyum melihat tingkah lucu Nurul. Sedangkan Zen ia pergi meninggalkan kami, bak hilang ditelan bumi. Tanpa pamit dan tanpa permisi.


Lalu Adrian membantuku membereskan buku dan memasukkannya ke dalam ransel.

__ADS_1


Hingga kami pun pamit pulang dan meninggalkan Adrian di balik pintu.


Bersambung...


__ADS_2