CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Kenal Dekat Denganmu


__ADS_3

Setelah Abdi mengambil mobilnya, aku pun beranjak pergi bersama Abdi.


Abdi membawa mobil sport berwarna hitam. Lalu, dengan cekatan ia membuka pintu mobil untukku.


"Di, mau kemana?" teriak Kak Fadly dari kejauhan.


"Oh, iya. Aku lupa, belum pamit," gumamku sambil berbalik ke belakang.


"Tunggu sebentar ya, Abdi. Aku mau pamit dulu sama Kak Fadly," ujarku kepada Abdi yang sedang berdiri di samping mobilnya.


"Iya, Di. Aku menunggumu..." ucap Abdi dengan seringai tipisnya.


"Apaan sih, Abdi," pikirku. Aku hanya tersenyum kikuk mendengar jawaban dari Abdi.


Lalu, aku menyeret kakiku hingga mendekat ke arah Kak Fadly. Mungkin, tadi Kak Fadly sedang berada di gudang. Hingga aku tak menyadari keberadaanya, dan lupa berpamitan kepadanya.


"Maaf ya, Kak. Sepertinya aku akan pergi dulu selama beberapa hari. Jadi aku titip toko ya, Kak. Aku harus menemani Zen dan mengetahui keadaan Zen sekarang. Karena, Zen mengalami kecelakaan, Kak," paparku menjelaskan tujuan kepergianku.


"Innalillahi... baiklah. Memang seharusnya kau pergi menjenguknya. Karena bagaimanapun itu tukang es, dia telah menjadi bagian dari hidupmu, Diana..." ucap Kak Fadly.


"Huh, dasar kau, Kak! Ku kira, tadi ucapanmu itu benar. Ujung-ujungnya masih saja suka meledekku. Apa Kakak tidak bisa sedikit saja berempati kepadaku?" ketusku mencibir perkataan Kak Fadly.


"Kau sedang PMS ya, Di? Sensitif banget. Maaf deh, aku kan hanya bercanda, hehe" tutur Kak Fadly meminta maaf.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Semoga Zen baik-baik saja.


Hmm... Ku lihat daun muda mu mengagumi mu. Jadi, jangan abaikan dia, ya. hahaha" goda Kak Fadly kepadaku.


Aku hanya berpaling sambil bergumam kesal, "Isshh, dasar orang tua gak tahu malu. Seenaknya kau berucap!"


Setelah itu, aku pun melangkah kembali lalu meninggalkan bengkel pamanku.


Dari pinggir jalan, terlihat Abdi sedang menungguku hingga bercucuran keringat yang mengalir dari kepalanya.


Karena cuaca sedang panas-panasnya, alhasil terik matahari menembus kulit putih Abdi.


"Kenapa kau tidak menungguku di dalam mobil?" tanyaku kepada Abdi yang sedang memainkan gawainya.


"Ku kira kamu hanya sebentar, jadi aku memilih berdiri di sini," tutur Abdi yang menyadari kedatangan ku.


"Ayo masuk, Diana," perintah Abdi kepadaku.


Akupun menuruti perkataan Abdi. Ku langkahkan kaki ini, masuk ke dalam mobil mewah milik Abdi.


Setelah duduk dan siap untuk berangkat, aku pun bertanya kembali, "Benarkah, aku tidak merepotkanmu?"


"Benar, Diana. Aku senang bisa membantumu. Aku juga senang bisa kenal denganmu. Rasanya, aku ingin kenal lebih dekat dengan mu," papar Abdi sambil tersipu malu. Lalu perlahan, Abdi mulai melajukan mobilnya.


Aku hanya menyunggingkan bibirku mendengar ucapan Abdi tadi.


Entah apa yang merasukiku, hingga aku bisa kenal dengan orang asing yang sekarang ia sedang bersamaku dan menemaniku.


Padahal, itu di luar kebiasaanku. Aku yang biasanya tidak pernah ingin mengenal orang asing, kini aku terjebak bersama dengan orang itu.


"Terimakasih Abdi, kamu sudah membantuku." Kata-kataku membuka percakapan antara aku dan Abdi.


Karena sedari tadi, saat Abdi mulai melajukan mobilnya, tidak ada lagi ucapan yang keluar dari mulut kami.


Kami hanya saling diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Sama-sama, Diana. Aku juga berterimakasih kepadamu, karena kamu duluan yang telah membantuku," jawab Abdi kembali memberikan senyuman manisnya.


"Sepertinya kamu orang baru ya di kota ini?" tanyaku karena belum familiar dengan Abdi.


"Iya, Diana. Awalnya aku tinggal di kota nenek ku. Namun, karena sekarang ayah dan ibuku sudah kembali dari luar negeri, akhirnya aku tinggal lagi bersama kedua orang tuaku."


"Oh, rumah yang paling besar dan paling megah itu, milikmu ya?" tanyaku antusias.


"Haha... bukan. Itu milik ayah dan ibuku," jawab Abdi merendah.


"Hmm, berarti mobil ini pun mobil milik ayahmu, ya?"


"Bukan donk... Mobil ini resmi milikku, karena di STNK terdaftar sebagai namaku. Karena mobil ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke 17 kemarin."


"Wah, beruntung sekali hidupmu ya, Abdi. Hadiah ulang tahun saja, sebuah mobil."


"Alhamdulillah, Di. Di syukuri saja," jawab Abdi sambil tersenyum.


"Kamu memangnya bersekolah dimana, Abdi? Perasaan, bet sekolahmu berbeda dengan bet dari sekolahku?"

__ADS_1


"Oh, iya memang. Aku mengambil sekolah di Madrasah Aliyah. Yang berada tidak jauh dari bengkelmu itu."


"Oh, yang di ujung jalan sana, ya. Iya benar," ucapku mengingat Madrasah Aliyah yang berada di kota ini.


Karena, di kota ku jarang sekali adanya Madrasah Aliyah. Mungkin sepuluh berbanding satu, di bandingkan SMK dan SMA.


"Kenapa kamu memilih bersekolah di Madrasah Aliyah? Kenapa tidak di SMK atau SMA mungkin?" tanyaku penasaran.


"Oh, kalau itu karena di tempat nenek ku, aku sudah bersekolah di Madrasah Aliyah.


Jadi pas pindah ke sini pun, biar lebih mudah beradaftasi, aku lebih memilih sekolah di MA lagi."


"Hmm... begitu," ucapku sambil mengetuk-ngetuk daguku dengan telunjukku.


"Sebenarnya sih, dulu nenek ku menyuruhku masuk SMK. Karena aku suka sekali bongkar-bongkar barang, bahkan barang yang masih terpakai pun, aku jadikan bahan percobaan. Haha"


Ucapan Abdi membuatku tertawa geli,


"Terus... terus...?" Aku masih penasaran dengan ceritanya.


"Ya terus, karena aku lebih senang mempelajari agama, akhirnya aku memilih masuk MA saja ketimbang SMK," lanjut Abdi.


"Wih, calon Pak Ustadz toh?" godaku kepada Abdi. "Kenapa gak mondok aja sekalian?"


"Haha... Nggak tahu, nggak kepikiran aku kalau mondok," tutur Abdi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nah, gitu donk... Kamu lebih cantik ketika memberikan senyuman indahmu, ketimbang harus berderai air mata," ucap Abdi yang melihatku menahan tawaku.


"Tapi, matamu masih terlihat seperti di gigit lebah, ya?" tutur Abdi.


"Hah? Kenapa?" tanyaku heran.


"Itu, masih bengkak! hehe"


"Hmm, kirain kenapa! Ya iyalah, udah lama aku gak nangis. Jadi mungkin, nangis sedang merindukanku, hingga ia meninggalkan jejak di kedua mataku," ucapku polos.


"Hah? Apa? Otakku gak nyampe sampe situ, gak ngerti aku! Haha"


"Hmm, otakmu setengah-setengah ya? Kek Author sebelah..."


*'Mohon Maaf Author 'T', Salam DamaiโœŒ๐Ÿ˜‚'


"Iya deh, terserah kamu, Diana." Kesal Abdi kepadaku.


"Hehe... Maaf, maaf. Aku kan hanya bercanda. Lagian, aku percaya kok! Kamu itu udah mah baik, pintar, sholeh lagi!" bujukku kepada Abdi.


"Aamiin," ucap Abdi sambil tersenyum bangga.


"Iya deh, Aamiin," ujarku pasrah.


"Oh iya. Sepertinya, rumah sakit tempat Zen di rawat, sebentar lagi sampai. Soalnya, di GPS tinggal belok kanan. Berarti, belokan depan deh kayaknya. Mungkin, gedung yang tinggi itu rumah sakitnya." Tunjuk ku ke gedung tinggi yang terlihat dari mobil yang Abdi kendarai.


"Iya, Diana. Sepertinya memang benar," ujar Abdi membenarkan perkataanku.


"Tapi, Di. Sepertinya sekarang sudah masuk waktu dzuhur. Kita sholat dulu gimana?" ucap Abdi sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Iya, boleh. Tapi masuk parkir dulu deh, nanti cari mushola di sekitar sini. Mungkin masjid juga ada kayaknya." Mataku menelisik ke sekeliling tempat parkir.


Benar saja, dari kejauhan terlihat sebuah Masjid Agung. Mungkin, memang di buat khusus untuk wilayah rumah sakit dan sekitarnya. Karena di tempat ini, bisa di bilang alun-alun kota. Jadi, pusat keramaian berada tepat di kota ini.


Akupun melepas sabuk pengaman yang mengikat tubuhku sedari tadi. Begitu juga dengan Abdi, dengan segera ia keluar dari mobil dan langsung menuju pintu mobilku.


Lagi-lagi ia kembali membukakan pintu untukku.


"Tidak usah repot-repot, aku bisa sendiri kok," ucapku sambil keluar dari mobil Abdi.


"Tidak repot kok. Malah dengan senang hati aku membukanya untukmu."


Aku dan Abdi pun bergegas menuju masjid yang terlihat dari mobil tadi.


Tidak terlalu jauh kami melangkah, namun terik matahari membuat tetesan keringat mengalir tepat di wajahku.


"Panas, ya!!" ujarku sambil mengipas-ngipaskan tanganku.


"Ya sudah, kamu duluan gih ngambil wudhunya. Biar nggak kegerahan!" titah Abdi kepadaku.


"Oke, baiklah!" Kaki ku pun melangkah menuju toilet di area masjid.


Setelah selesai berwudhu, aku dan Abdi melaksanakan sholat dzuhur bersama. Namun, sholat kami terhalang oleh tirai yang memisahkan antara shaf perempuan dan shaf laki-laki.

__ADS_1


Akhirnya, setelah beberapa lama sholat kami pun usai. Tak lupa, aku mendo'akan untuk kesembuhan Zen.


"Sudah kah?" tanya Abdi yang melihatku sedang merapikan mukena.


"Oh, sudah. Tunggu sebentar, aku akan menyimpan mukena terlebih dahulu."


"Baiklah. Aku tunggu di luar ya!" ujar Abdi sambil melangkah meninggalkan masjid.


***


Setelah menyelesaikan kewajiban sholat kami, akhirnya langkah kaki kami membawa ke sebuah ruang pendaftaran di rumah sakit.


"Permisi, Sus. Mohon maaf, saya ingin bertanya. Jika kamar pasien bernama Zen Nugraha berada di ruangan mana ya?" tanyaku kepada suster yang berada di ruang pendaftaran.


"Sebentar, biar saya cek terlebih dahulu!" jawab suster sambil membuka komputer yang berada di hadapannya.


Setelah beberapa menit, akhirnya suster memberitahukan kamar VVIP tempat dimana Zen di rawat.


Aku pun bergegas menuju ruangan tersebut. Diikuti Abdi yang mengekor di belakangku.


Namun, betapa terkejutnya aku ketika sampai di ruangan Zen.


Telah berdiri beberapa orang dewasa yang tengah menunggu Zen di luar ruangan. Hingga, mataku terfokus pada seseorang yang selalu mengaku sebagai calon tunangan Zen.


"Kak Tania?" Betapa terkejutnya aku saat melihat keberadaan Tania.


"Apa?" Dengan sombongnya ia menyapaku.


"Masih berani kau mendekati, Zen?" tegasnya seolah menolak kehadiran ku.


"Saya hanya mau menjenguknya, Kak. Saya hanya ingin tahu kabar Zen saat ini."


"Tidak perlu. Kau tidak di butuhkan di sini! Benarkan, Tante?" Yakin Tania sambil melirik ke arah ibunya Zen.


"Maaf, Nak. Nak, siapa ya?" tanya ibunya Zen ramah.


"Saya Diana, Tante," jawabku sambil membalas senyuman dari ibunya Zen.


Ibunya Zen mendekat ke arahku, lalu berkata, "Oh, Diana... Zen sering sekali bercerita tentang kamu. Sepertinya, kamu orang spesial ya di hidupnya, Zen?"


Belum juga aku menjawab. Tiba-tiba bentakan dari seorang paruh baya mengejutkan seisi ruangan.


"Mama!" bentak ayah Zen kepada isterinya.


"Papa, sudah jodohkan Zen dengan Tania. Jadi, tidak ada lagi orang spesial. Kecuali, Tania!" tegas ayahnya Zen seolah memberi tahu bahwa ia tidak akan merestui hubungan kami.


Deg!!


Hatiku, seperti di timpa beban berat yang tak mungkin aku mampu menghadapinya.


"Maaf, Om. Saya hanya berniat menjenguk Zen. Apa saya boleh melihat keadaan, Zen?" tanyaku ragu akan ucapanku.


"Untuk apa? Zen sedang koma! Dia tidak boleh di jenguk oleh sembarangan orang!" sergah ayahnya Zen menolak niatanku untuk bisa bertemu Zen.


"Tapi, Om..."


**Bersambung.....


***


***


Wah, ternyata Diana tidak mendapat restu dari ayahnya Zen.


Apa mungkin Diana bukan jodohnya Zen?


Lalu, apa perkenalan Abdi dan Diana akan langgeng yaa???


Terus dukung Diana ya,, dengan membaca,, Diana seneng banget....๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


Dan berterimakasih kepada readers tercintaku...hehe


Simak kelajutan cerita Diana yaaa๐Ÿ’–๐Ÿ’–


#Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-75๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ


#Semoga pandemi cepat usai ya...๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ


Biar kita dapat kembali menyemarakkan kemerdekaan dengan penuh sukacita๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™**

__ADS_1


__ADS_2