
"Mari Diana!" ucap Bu Fani menyadarkan lamunanku. Mungkin, Bu Fani heran melihatku masih mematung berdiri di samping mejaku dan belum beranjak mengikutinya.
"Ehh, baik Bu," jawabku sambil tersenyum canggung.
Akhirnya, aku mengekor di belakang Bu Fani dan meninggalkan Nurul dengan semua rasa penasarannya.
Sesampainya di ruang guru aku di persilahkan duduk di sofa, dan sekarang wajahku berhadap-hadapan dengan wajah Bu Fani.
"Diana," ucap Bu Fani lembut.
"Ya, Bu," sahutku sambil tersenyum menatap Bu Fani.
"Lusa, kamu dijadwalkan untuk melanjutkan perlombaan cerpenmu. Apa kamu siap?"
"Hmm... tumben secara mendadak Bu?" tanyaku karena merasa terlalu cepat Bu Fani memberi kabar kepadaku. Biasanya kalau ada perlombaan paling tidak seminggu sebelumnya Bu Fani memberitahuku.
"Iya, Di. Soalnya baru kemarin sore Pak Kepsek mendapat kabar dari panitia lomba," jelas Bu Fani.
"Bukannya sekarang pesaingnya lebih berat ya, Bu?" ucapku tidak percaya diri.
"Tenang saja, Di," ujar Bu Fani sambil mengelus bahuku. "Yang penting kamu telah berusaha sebaik mungkin, melatih kemampuan menulismu sesering mungkin.
Kan, belum lama juga kamu mengikuti lomba, itu bisa menjadi pengalaman dan pembelajaran untukmu. Untuk masalah hasilnya kita hanya bisa bertawakkal kepada-Nya," ucap Bu Fani sambil mengangkat telunjuknya ke atas.
"Inikan... tingkat Nasional, Bu!" keluhku merasa khawatir.
"Diana, Ibu percaya kepadamu. Kamu tidak akan pernah mengecewakan sekolahmu. Ibu akan selalu mendukungmu dan membimbingmu semampu Ibu."
"Baiklah, Bu. Aku juga akan berusaha sekuat tenaga, dan berlatih semampuku, Bu," ucapku penuh semangat.
"Bagus! Sekarang, kamu ambil tas sekolah mu. Biar hari ini, kamu seharian berlatih di sini. Ibu akan meminta izin kepada guru-guru yang akan mengajar di kelas mu," jelas Bu Fani.
"Baik, Bu!" ucapku merasa senang.
Ya, senang... karena aku akan terhindar dari ancaman Nurul yang akan mengintrogasi ku, tentang ada hubungan apa yang terjalin antara aku dengan Zen.
"Dan, supaya besok kamu bisa beristirahat seharian ya, Di!" lanjut Bu Fani.
Aku hanya mengangguk, lalu berlalu meninggalkan Bu Fani dan mengambil tas ku ke dalam kelas.
Karena besok hari Minggu, aku berniat untuk masuk kerja. "Maafkan aku, Bu Fani," gumamku sambil melangkahkan kakiku.
"Karena, jikalau aku tidak masuk kerja, bisa habis gajiku sebulan," pikirku.
Hari esok adalah hari pertama dan terakhirku masuk kerja. Karena, tiga hari kedepan aku akan berjuang mengeluarkan seluruh tenaga dan pikiranku. Apakah aku mampu menaikkan derajat sekolahku, atau aku akan berhenti secara hormat.
Karena, dari ucapan Bu Fani sepertinya tidak memaksaku untuk menjadi juara. Juara ataupun tidak, tapi setidaknya aku bisa sedikit membawa harum nama baik sekolahku.
Setelah aku mengambil tas, ternyata benar, seharian penuh aku terus dan terus berfikir membayangkan khayalanku dan menulisnya menjadi sebuah cerita. Dengan tema yang telah diberikan Bu Fani, akupun menuliskan kata demi kata menjadi sebuah kalimat. Kurangkai beberapa kalimat dan jadilah sebuah paragraf. Paragraf demi paragraf, alinea demi alinea ku lalui, dan jadilah sebuah cerpen yang cukup menarik.
Ketika hampir menjelang sore, akupun di perkenankan untuk pulang.
***
"Sekali lagi aku minta maaf, Bu Fani. Karena hari ini aku terpaksa berangkat bekerja. Karena aku sudah merasa malu terlalu lama bolos bekerja. Aku masih mengharapkan gaji di bulan ini," ucapku merasa bersalah. Karena kan kemarin aku sudah di wanti-wanti agar aku bisa beristirahat dan berlatih menulis cerpenku di rumah saja.
Akupun berangkat di pagi hari sambil tak lupa membawa beberapa lembar kertas yang telah ku tulis kemarin.
Agar nanti, jika di bengkel tidak terlalu sibuk, aku akan menghafalnya supaya bisa menjadi kisi-kisi saat aku mengikuti perlombaan.
"Hai, Ka Fadly!" sapaku kepada Kak Fadly setelah sampai di bengkel pamanku.
"Hai, Diana... Apa kabarmu?" sahut Kak Fadly.
__ADS_1
"Baik Kak. Sudah lebih baik malah," sambil melangkah mendekati Kak Fadly.
"Sepertinya, ini hari pertama dan terakhirku Kak!" ucapku merasa sedikit malu.
"Memang kenapa lagi, Di?"
"Hmm... sepertinya tiga hari ke depan aku akan berangkat ke luar kota untuk lomba, Kak!" jawabku cepat.
"Ya, bagus donk. Semangat ya! Jangan pantang menyerah! Aku di sini aman ko'. Masih bisa menghendel semuanya," ucap Kak Fadly memberi semangat.
Karena situasi di bengkel cukup ramai, aku tidak terlalu banyak ngobrol dengan Kak Fadly.
Biasanya, sebelum aku menjalankan tugasku aku selalu menyimpan ponselku di sudut etalase.
Hari ini benar-benar sangat ramai, banyak motor keluar masuk ke bengkel ini. Entah, sekedar ganti oli maupun yang ingin menyervis motornya.
Akupun di buat kesana-kemari melayani pembeli.
Tiba-tiba...
Trettt... Trettt... Trett...
Ponselku beberapa kali bergetar. Aku masih sibuk melayani pembeli. Dan Kak Fadly meraih ponselku lalu ingin memberikannya kepadaku. Namun, kelihatannya ia sedikit melirik ke arah ponselku.
"Di, kamu berhutang sama tukang es ya?" tanya Kak Fadly.
Deg!
Aku langsung teringat sama Zen. Nama kontak Zen kan Tukang Es. haha
"Ehh, iya Kak. Kemarin aku lupa bayar!" jawabku bohong.
"Nih, angkat dulu gih! Dari tadi nelpon mulu!" sambil menyodorkan ponsel ke tanganku.
Akupun menggeser perlahan tombol berwarna hijau.
"Hallo!" ucapku menjawab telepon.
"Kau mau mati ya! Lama sekali menjawab teleponku!" ucap Zen memarahiku.
"Apa? Seenaknya kau memarahiku! Aku itu sedang kerja tahu!" jawabku sedikit kesal.
"Bisa tidak mengucapkan perkataan yang benar! Dikit-dikit mati. Dikit-dikit kau mau mati. Bukannya aku harus hidup dan
terus hidup, agar aku bisa mendampingimu dan hidup bersamamu!"
Aku terkekeh sendiri dengan ucapanku.
Apa Kabar Duniaaa???
Suudaahh Gilaaa!!!
(Ciri khas siapa? Yang tahu, jawab di bawah..) hehe
Sementara di seberang sana, terdengar hening sehening saat sedang Mengheningkan Cipta.
Namun, aku lupa saat aku berbicara, aku sedang berada dimana.
Tiba-tiba...
Gerrr....
"Buahaahahahaha..." semua tergelak menertawakanku.
__ADS_1
"Cieeee...Diana ... Tukang Es mana sih yang kau taksir??" ledek Kak Fadly.
Seketika itu mukaku langsung merah padam, menahan rasa malu yang tak tertahankan. "Enggak...ko' Kak. Aku hanya mengingat gombalannya Andre Taulani di televisi. hehe" ucapku asal.
"Masa iya, Tukang Es juga kau embat, Di.. Di..!!" goda Kak Fadly kepadaku.
"Setampan apa sih Di, itu Tukang Es. Hingga kau mengeluarkan jurus gombalan mu? haha.."
"Sepertinya aku kalah saing nih!" ujar Kak Fadly mengedipkan matanya.
"Apaan sih Kak, belum puas Kakak melihatku dimarahi sama pacar Kakak?" ucapku sedikit kesal.
Iya, karena berulang kali aku di sangka pacarnya Kak Fadly. Beberapa wanita yang pernah menyukai Kak Fadly, mereka selalu merasa cemburu kepadaku. Karena tampang Kak Fadly lumayan lah. Jadi terkadang mereka ada yang marah, ada yang neror lewat whatsapp, dan ada juga yang mendadak jutek.
Bagaimana tidak mereka seperti itu, soalnya kalau Kak Fadly sedang kumat, dia bisa memaksaku memakan dari suapannya. Dan, sendok bekasku dia pakai sendiri untuk makan makanannya. Apa gak aneh tuh?
Tiba-tiba sebuah motor parkir di depan bengkel pamanku. Aku mengenal motor itu, tentu dengan orangnya.
"Orang kaya mah bebas ya, mau punya motor berapapun. Dari yang kecil hingga yang gede'. Dari yang biasa sampai membahana. haha"
"Aku mah punya sepeda butut aja bangga!
Apalah arti diriku ini!" batinku.
"Ikut denganku!" perintah seseorang. Siapa lagi kalau bukan Zen, Si Tukang Perintah.
"Tidak mau, aku sedang bekerja!"
"Ayo, sebentar saja!" ucap Zen sedikit memaksa.
"Kan, aku sudah bilang di telepon, aku sedang sibuk. Sedang bekerja. Sudahlah, pergi sana!" ujarku mengusir Zen.
Aku tak menyadari kalau sepasang mata, sedang mengawasiku.
"Ohh,, rupanya Tukang Es ini yang membuatmu menggila, Diana..." ucap Kak Fadly menggodaku.
Raut wajah Zen, menjadi bingung.
"Tukang Es, apa hubungannya?" pikir Zen.
"Ssttt... diam!" Aku berteriak tanpa suara ke arah Kak Fadly.
"Hehe... pantesan tampan sekali pacarmu, Diana. Pantas saja, akhir-akhir ini kamu mengabaikanku! Sedih... hi..hi..hi" lanjut Kak Fadly pura-pura menangis.
"Apaan sih, Kak!" bentakku sambil menginjak kaki Kak Fadly.
"Awww!" teriak Kak Fadly.
"Lumayan juga tenagamu ya, Adik manis..." berlalu sambil mengusap daguku.
Akupun spontan mengelap daguku dengan telapak tanganku.
"Sudah, pergi sana. Kalau kalian disini akan membuatku cemburu!" ujar Kak Fadly sambil tertawa kecil.
Hanya pura-pura kan dia mengucapkan cemburu, karena selain dia sudah memiliki kekasih, dia juga hanya menganggapku adik manisnya.
Akupun, keluar dari dalam lingkaran etalase. Karena etalase sebagai skat antara penjual dan pembeli. Juga, sebagai pembatas antara pelayan dan tempat montir bekerja.
"Aku pergi dulu sebentar ya, Kak!" izinku sambil berjalan keluar.
Mungkin, karena sekarang saatnya makan siang, makannya Zen kesini. Tapi mau kemana, entahlah, akupun tidak tahu!
Bersambung...
__ADS_1