CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Pelanggan Baru


__ADS_3

"Ayah, biarlah aku menjalani kehidupanku dulu. Untuk masalah jodoh, biarlah Allah yang mengatur. Aku hanya bisa pasrah kepada-Nya," bujukku kepada ayah.


"Hmm, baiklah jika kamu belum siap dengan semua ini. Jadi, aku minta maaf ya, Paman. Aku belum bisa mewujudkan impian Paman dan Bibi. Aku serahkan saja semuanya pada, Diana," tutur Hans meminta pengertian dari ayahku.


Aku hanya tersenyum bahagia mendengar keputusan Hans.


"Terimakasih ya, Hans. Semoga kamu mendapatkan wanita yang kamu cintai.


Dan mendapatkan kebahagiaan dari orang yang kamu sayangi," ucapku pada Hans.


"Aamiin, Diana. Mungkin, rencana ku untuk pindah kerja dan pindah kuliah ke kota inipun, aku akan membatalkannya. Semoga kamu bahagia ya, dengan pilihan hatimu," ujar Hans seolah sudah ikhlas dengan keputusanku.


Aku hanya memberikan senyuman manisku.


"Untuk Ayah, aku minta maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan Ayah. Aku belum bisa memikirkan tentang pernikahan saat ini," senyumku pada Ayah memberikan penjelasan.


"Ayah juga minta maaf kepadamu, Diana. Kedatangan Ayah malah membuat hatimu tergores kembali. Maafkan Ayah karena telah membuat hatimu dan hati ibumu terluka. Ayah ingin menjalin hubungan baik denganmu. Dan Ayah ingin berpesan kepadamu, agar kamu senantiasa menyayangi ibumu, Di. Patuhi segala larangannya. Karena Ayah tahu, seposesif apapun ibumu, dia sangat menyayangimu. Dia hanya ingin melindungimu, Di. Dia tidak ingin harga dirimu ternodai. Maka dari itu Di, pilihlah laki-laki yang menjaga kesucianmu, yang menjaga harga dirimu, dan juga menjaga hati dan perasaanmu.


Jangan pernah percaya dengan yang namanya bukti cinta. Apalagi bukti cinta yang harus menyerahkan kesucianmu," papar ayah menasehatiku dengan gamblang.


Ayah terhenti sejenak, lalu menghembuskan nafasnya dengan pelan.


Kemudian berkata, "Di, laki-laki yang baik adalah laki-laki yang berusaha menahan hawa nafsunya. Dia begitu menjunjung tinggi derajat kekasih hatinya, dia tidak akan pernah meminta sesuatu hal sebelum waktunya. Dia akan membuktikan bukti cintanya dengan rasa bertanggung jawab, dan segera memberikan kepastian tentang hubungannya. Ya, dengan cara melamarmu dan meminta izin untuk bisa memilikimu seutuhnya," lanjut ayah.


Aku merasakan hadirnya kembali ikatan batin antara aku dan juga ayahku setelah sekian lama kami berpisah.


Akupun hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum ramah sambil menatap ke dua mata ayahku yang sedikit berlinang air mata. Mungkin, ayahku merasakan begitu berharganya memiliki seorang anak gadis.


Sehingga, ia begitu lugasnya mewanti-wanti kepadaku. Dan juga, mungkin ia takut jika di zaman sekarang ini, kesucian bukan lagi hal penting yang harus di jaga. Namun, di keluargaku, hal itu sungguh berharga. Sehingga baik ayah maupun ibu, mereka selalu memberikan pesan kepadaku bagaimana aku melewati masa remajaku.


Aku pun tak kuasa menahan tetesan air mata bahagiaku yang mengalir di pipiku.


Meskipun, aku menolak keinginan ayahku, namun dengan lemah lembut ia berbicara kepadaku. Aku senang rasanya, ketika ayahku masih memperhatikanku, berarti meskipun ia sangat jauh denganku, ia begitu menyayangiku.


"Baik, Ayah. Terimakasih atas kasih sayang Ayah kepadaku. Aku juga minta maaf, karena tadi aku sudah berbicara tidak sopan kepada Ayah. Ayah, tunggu aku ya sampai nanti Ayah menjadi wali nikahku," tuturku merasa lega karena aku bisa mengutarakan isi hatiku.


"Baiklah, Ayah dan Hans pamit pulang. Hati-hati ya, Diana. Jaga dirimu baik-baik," ujar Ayah lalu beranjak.


"Baik, Ayah. Hati-hati di jalan. Titip salamku untuk isteri dan anak Ayah di sana," tuturku pada ayah.


"Dan Hans... aku titip ayahku, ya. Jaga ia sebagaimana kamu menjaga ayah kandungmu," pintaku pada Hans.


Hans tersenyum menganggukkan kepalanya.


Akhirnya, setelah ayah dan Hans pamit, mereka mulai pergi meninggalkan rumahku.


Karena aku berniat untuk bekerja, akupun bergegas mengambil tas lalu mengunci pintu.


Ku langkahkan kaki menuju tempat sepedaku berdiam diri.


"Ya Allah..." aku terkejut dengan ban sepedaku yang kempes. Sepertinya satu buah paku menancap tepat di karet ban depan yang sekarang terlihat menciut.


Akupun dengan terpaksa harus berjalan kaki menuju bengkel pamanku.


Aku mulai menapakkan kakiku sedikit demi sedikit meninggalkan rumahku yang tampak hening. Karena, ibu sudah berangkat bekerja sebelum aku terbangun dari tidurku.


Langkah demi langkah aku lalui.


Ting!


Tiba-tiba terdengar notifikasi ponsel dari balik tas selempangku.


Ku ulurkan tanganku meraih ponsel dari dalam tasku.


Karena tadi pagi aku tidak membalas pesan dari Zen. Hingga, sekarang Zen pun mengirimkan pesannya kembali.


Ketikan tanganku membuat kata demi kata hingga menjadi sebuah kalimat untuk ku kirimkan ke nomor kontak Zen.


Bruk!!


Saking asyiknya aku dengan ponselku, tiba-tiba tubuhku menabrak tubuh seseorang di hadapanku.


Ia berdiri di samping motornya sambil memainkan gawainya. Karena, mungkin ia juga asyik bemain dengan gawainya, hingga ia tidak menyadari kedatanganku.

__ADS_1


"Maaf Kakak," ucap laki-laki berseragam putih abu-abu.


Seketika aku terpana memandang wajahnya. Senyumnya, suaranya yang lemah lembut, berbeda jauh dengan kesan pertama saat aku bertemu dengan Zen.


Zen hilang dari pikiran dan hatiku hanya dalam sekejap. Ketika aku menatap lelaki di hadapanku. Sepertinya aku pernah melihat sosok dalam dirinya. Tubuh tingginya, wajah dengan paras tampannya, namun terlihat raut kedewasaan menempel dalam senyum manisnya, hingga terkesan berwibawa sesuai dengan umurnya.


Jika dunia dapat ku hentikan, waktu ini akan aku jeda sampai aku merasa puas menatap bola mata beningnya.


Dan jika saja, aku bisa terbang. Aku sekarang seperti terbang melayang di awang-awang bersama bintang-bintang. haha


Rasa ini bukan rasa yang pertama, cinta ini juga bukan cinta yang pertama, namun hati ini seolah mendapatkan getaran yang luar biasa.


"Kenapa aku selalu terpesona dengan pandangan pertama? Tapi, aku yakin dengan hatiku, bahwa cinta untuk Zen lah yang akan kuat bertahan dalam lubuk hatiku," batinku yang berusaha menepati janjiku kepada Zen.


"Kakak," panggil lelaki tadi.


"Apa? Kakak?" pikirku, "Sejak kapan aku punya adik sepertimu?"


Lalu, aku menyodorkan tanganku mendekat ke arah tangannya.


"Diana, panggil aku Diana!" tegasku berucap kepadanya.


Seketika, ia menjulurkan tangan kananya membalas jabatan tanganku.


"Baik, Kakak," jawabnya dengan seringai liciknya.


"Kakak... Kakak... kapan aku punya adik?" kesalku kepadanya. Akhirnya, kata-kata yang tersimpan dalam pikiranku tadi terlontar jelas di telinganya.


Dia hanya cekikikan mendengar makianku.


"Ketawa lagi? Kenapa? Ya, meskipun kamu lebih muda dariku, tapi aku masih terlihat imut untukmu! haha" celotehku membuatnya tersipu malu.


"Sepertinya, aku mengenalmu! Tapi dimana, ya?" ucapku sambil mengamati lekukan wajahnya.


"Abdi, Kak. Namaku Abdi," ujarnya karena merasa risih melihatku yang memperhatikan dirinya.


Deg!!


"Mimpi? Masa iya mimpi menjadi kenyataan?" ucapku risau karena pikiran dan batinku mulai berperang.


"Kamu kelas berapa, sih?" tanyaku penasaran.


"Kelas 3, Kak," jawabnya masih memakai sebutan Kakak.


"Tuh, benerkan? Umurmu tidak terlalu jauh dengan umurku. Aku baru lulus tahun ini. Jadi, panggil saja aku Diana..." paparku menjelaskan.


"Baik, Kakak..." ucapnya memberikan senyuman manisnya.


"Kalau bengkel dimana ya, Kakak?"


Aku mendelik ke arahnya. Spontan, ia mengerti apa maksud tatapanku.


"Baik, Diana. Iya deh aku minta maaf,"


"Hmm..." gumamku sambil menyilangkan kedua tanganku di dadaku.


"Lho! Kok ngambek?" tanyanya panik.


"Nggak!" jawabku asal sambil membuang muka.


"Beneran?"


"Iya," masih sok jutek aku. haha


"Serius?"


"Iya."


"Bentar deh!"


"Lama juga silahkan!!"


"Gak lama kok," ucapnya langsung mengambil gawainya.

__ADS_1


"Cepetan! Katanya mau ke bengkel. Bisa-bisa kesiangan banget aku!" bentakku.


Lalu, ponselku berbunyi nyaring. Pertanda panggilan masuk dari ponselku.


Akupun meraih ponsel dari dalam tas ku.


"Hallo, Zen!" jawabku mengangkat panggilan dari Zen.


"Hallo Diana, kau sedang apa?" tanya Zen dari seberang telepon sana.


"Mau berangkat ke bengkel, sama..." Seketika ucapanku terhenti. Karena aku menyadari, jikalau aku mengatakan dengan lelaki lain, meskipun itu sepupuku sendiri, Zen pasti marah.


"Sama siapa?" tanya Zen datar.


"Tumben, dia tidak pake nada tinggi. Biasanya kalau aku sebut sama siapa, bisa-bisa pecah ini layar ponsel. Karena saking cemburunya dia," gumam batinku.


"Sama sendiri..." jawabku polos.


"Masa sendiri pake sama, Di. Kamu bohong, ya?"


"Nah, lho!! Ketahuan bohongnya aku," pikirku.


Karena aku tidak suka berbohong, mending jujur saja deh.


"Iya, iya. Ini aku sama Abdi, pelanggan baru di bengkel, Zen," tuturku berucap jujur.


"Ngapain?" tanya Zen seolah penasaran.


"Ya, namanya di bengkel motor, mau apa lagi? Kalau bukan urusannya sama motor.


Nah, kalau urusannya sama perasaan, baru datangnya ke bengkel hati. haha"


Seketika, Abdi menertawakan gombalan recehku.


Namun, seperti biasa, yang di seberang sana hanya hening seperti mengheningkan cipta.


"Lagi-lagi aku yang menanggung malu," ucap batinku.


Akhirnya, aku memutuskan panggilan dari Zen. Karena percuma, Zen hanya diam dan membisu di balik panggilan telepon.


"Oh, ya? Kau mau apa ke bengkel?" tanyaku pada Abdi.


Ia hanya menjawab dengan tunjukkan dari ibu jarinya.


"Sopan sekali, dia?"


"Oh, iya. Kan kita baru kenal. Kalau udah kenal, gak tahu bagaimana dia. Nyebelin kah? Mungkin? bisa jadi... bisa jadi..." perang batinku.


"Lah, kok kempes sampai dua-duanya begitu? Sama seperti roda depan ban sepedaku. Banyak ranjau paku kali ya?" tanyaku memastikan.


"Nggak tahu, Diana!" ucapnya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Ya sudah, ikuti saja aku."


Langkah kakiku membawa Abdi dan motornya menuju bengkel pamanku yang tidak terlalu jauh dari tempat kita bertemu tadi.


Setelah kita sampai di depan bengkel, tiba-tiba Kak Fadly berkata, "Hai, Di. Tukang Es mana lagi yang kau taksir? hahaha" goda Kak Fadly kepadaku.


Seketika wajahku bersemu merah. Mungkin, Kak Fadly melihatku berjalan berdampingan dengan Abdi. Hingga, ia berfikir kalau aku sengaja datang bersamanya.


Bersambung...


***


***


Catatan :


*Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka. Jika Ada Kesamaan Nama Tokoh, Tempat Kejadian Ataupun Cerita, Itu Adalah Kebetulan Semata Dan Tidak Ada Unsur Kesengajaan. Haha


#Jujur memang sulit, tapi kebohongan juga tidak akan merubah segalanya.


Yah!! Halunya si Author muncul, mending simak kehidupan Diana selanjutnya Yuk!!

__ADS_1


Untuk part ini sampai sini dulu ya, terimakasih atas dukungan like and komentnya. Diana cinta kalian😙😙


Sampai jumpa lagi di kehidupan lain...😇😇*


__ADS_2