
Setelah pertemuan kita di gubuk itu, aku merubah pemikiranku ke arah yang lebih baik lagi. Tidak lagi membenci kedua orang tuaku. Tidak lagi melawan perintah ibuku. Aku lebih bisa menyayangi ibuku. Karena aku lebih memilih tinggal bersama ibuku dibanding hidup bersama ayahku.
Aku tidak mau ibuku terluka kembali. Karena semenjak ayah melepaskan ibuku, sering sekali aku memergoki ibuku sedang berisak tangis.
Dan seingatku, setelah perpisahan ibu dan ayahku, aku lebih sering menjadi anak yang agresif dan pemarah, apalagi terhadap ibuku yang tinggal serumah denganku. Karena aku merasa prustasi dengan semua keadaanku.
Aku menyesali dengan tindakanku. Sehingga, pada hari itu, setelah selesai rapat di sekolah, aku pulang bersama ibuku. Hingga, tak hentinya tanganku memegang erat tangan ibuku sampai tiba di depan rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah, aku langsung memeluk ibuku erat.
"Maafkan aku Ibu, atas semua sikap jelekku terhadap Ibu selama ini," ucapku masih dalam pelukan ibu.
Ibu sedikit heran dengan perubahan sikapku. Tapi jelas, raut wajahnya berbinar senang.
"Tak perlu minta maaf Di, Ibu sudah memaafkan mu. Ibu mengerti akan perasaanmu," senyum ibu sambil mengelus kepalaku.
***
Plaakk...
Tiba - tiba kepalaku sakit, seperti ada yang menepak jidatku.
"Aawww," aku meringis menahan sakit, dan aku tersadar dari lamunan ku. Ternyata aku itu sedang bersama Nurul, berada di taman sekolah, tempat biasa aku dan Nurul menghabiskan waktu istirahatku.
"Maaf, ada nyamuk tadi di jidatmu. haha..." ketawa Nurul merasa tak bersalah.
__ADS_1
"Ehh Di, kamu gak dengar apa?" tanya Nurul kepadaku. Aku mengangkat pundakku, seolah tak mengerti.
"Tuh, Adrian memanggilmu," tunjuk Nurul kepada Adrian yang sedang duduk di kursinya bersama Zen.
Aahh... Kenapa Adrian memanggilku. Ada Zen lagi, nanti aku harus bersikap apa ke dia. Ucapkan terimakasih tidak yaa. Diana
Perlahan aku bangkit dari kursi yang aku duduki tadi. Aku menyeret kaki ku menuju Adrian dan Zen.
"Maaf Adrian, kamu memanggilku?" Ucapku pada Adrian.
"Iya Di, duduk," lagi - lagi dia menyuruhku duduk. Tapi kenapa sekarang dia malah berdiri.
"Zen ingin berbicara dengan mu, ayo duduklah. Aku akan pergi sebentar membeli makanan," tersenyum sambil menepuk pundakku.
Dan berlalu meninggalkan kami dalam keheningan.
"Duduklah, siapa yang menyuruhmu berdiri," kata Zen dengan ucapannya yang menyebalkan.
"Baiklah. Terimakasih," jawabku sambil duduk di sampingnya.
" Berterimakasihlah dengan benar," seringai tipis muncul di bibirnya.
" Apa?" spontan aku kaget, tidak mengerti maksud dari perkataannya.
"Kenapa? Berani kau memelototi ku?" ia berbicara dengan mata singanya. Iya, mata yang tatapannya menakutkan seperti waktu itu.
__ADS_1
"Tidak. Maafkan aku Zen. Aku hanya tidak paham dengan perkataanmu," tersenyum secerah mentari pagi. Hanya pura-pura pastinya. Karena aku mulai kesal lagi dengannya.
Aku bakar kata-kataku saat aku mengucapkan dalam hatiku aku menyukainya. Ya memang, waktu aku di gubuk saat aku bersamanya. Aku terpesona dengan sikapnya. Dengan pikiran kedewasaanya, membuat aku jatuh hati padanya. "Tapi kenapa kamu kumat lagi sih?" sambil meremas kedua tanganku.
"Jangan melamun!" bentaknya, sambil menyodorkan sebuah buku kedalam pangkuanku. "Kerjakan semua tugasku, harus selesai sampai besok pagi. Itu sebagai balasan terimakasih mu kepada ku."
"Memang kenapa aku harus berterimakasih kepada mu?" jawabku heran, sambil memberikan senyuman palsu.
"Dasar bodoh. Kau kan kemarin mengikuti perlombaan, itu semua gara-gara aku," tuh kan, senyum liciknya muncul lagi.
Isshh, kenapa sih dia.
Apa coba? Seenaknya kau berbicara, semua berkat kerja kerasku belajar menulis dengan baik, dan tentunya berkat bimbingan Ibu Fani sebagai mentorku. Batin Diana
Tapi, memang benar juga sih, setelah ucapannya menyadarkanku di gubuk waktu itu, perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit aku mengukir nama baikku di sekolah ini. Hingga, di saat ada ajang pencarian bakat menulis cerpen, aku mencoba mendaftarkan diri. Dan akhirnya aku lulus seleksi serta bisa mengikuti perlombaan sebagai wakil dari sekolahku. Berawal dari tingkat Kecamatan, lanjut ke tingkat Kabupaten, dan terakhir aku menerima penghargaan di tingkat Provinsi.
"Duhh senang rasanya hatiku, bisa membuat ibu tersenyum bahagia," bisik hatiku. Wajahku serasa memerah membayangkan apa yang telah sedikit aku raih.
"Hei Diana, sudah ku bilang jangan melamun," teriaknya lagi mengagetkan pikiranku.
"Mau tidak mengerjakan tugasku? Kalau tidak mau ya sudah, nanti ku coret namamu, agar tidak bisa melanjutkan perlombaan cerpen mu itu," ucapnya seperti mengancam.
"Iya baiklah, akan ku selesaikan. Besok pagi, akan ku serahkan buku ini kepadamu," jawabku kesal. Sambil berlari menuju ruang kelas ku. Karena bel tanda masuk telah berbunyi.
***Apalagi coba, memang siapa kamu? Apa sebegitu berkuasanya kamu, hingga berani mencoret namaku segala. Itukan perlombaan penting bagiku. Diana
__ADS_1
Kenapa lagi-lagi aku tertarik dengannya ya, lagi-lagi melihatmu kesal membuat aku penasaran saja. Sebegitu menggemaskannya ya dirimu. Zen***