CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Pulang Malam


__ADS_3

Seperti biasa, selepas pulang sekolah aku langsung bekerja membantu pamanku menjaga tokonya. Menjaga bengkel pastinya.


Sambil melajukan sepedaku, dengan tas di punggungku, menyusuri trotoar yang ramai lalu lalang pejalan kaki.


Karena aku hampir setiap hari pulang malam, makannya aku selalu membawa tugas sekolahku ke toko.


Di sela-sela waktu senggang, aku belajar dan mengerjakan semua tugasku di sana.


"Ahh, kenapa pula aku harus mengerjakan tugas si Zen sih," ketusku sebal sambil mengayuh sepedaku.


Seperti biasanya, setelah aku sampai di toko, aku menyapa semua orang yang sedang asyik mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Para montir, sedang khusyu' melakukan service mesin dengan wajah seriusnya. Sedangkan Kak Fadly, ia sibuk menghitung jumlah yang harus dibayar konsumen, sesaat setelah motornya selesai diperbaiki.


***


Tak terasa sore pun menghilang berganti dengan gelapnya malam. Untungnya, tadi toko sedikit senggang. Sehingga, pas aku pulang, semua tugas sekolahku selesai. Begitu juga dengan tugas yang diberikan Zen kepadaku.


Ketika aku selesai berkemas dan menutup toko, tiba-tiba ada seseorang di belakangku.


"Kau mau pulang?" suara Zen di balik kegelapan. Ya, aku mengenal suaranya. Dan benar saja, dia berjalan mendekat kepadaku.


"Iya," jawabku pelan.


"Kau sedang apa disini?" lanjutku bertanya.


"Aku hanya memastikan, apa tugas ku sudah selesai kau kerjakan?" Zen malah balik bertanya.


Tadinya aku merasa senang, aku kira dia ke sini mau mengantarku pulang. Karena, ku lihat motornya terparkir di halaman toko. "Untuk apa kan malam-malam dia kesini, gak mungkin mau service motorkan. Toh, bengkelnya pun sudah tutup," pikirku tadi.


Wajahku langsung pias mengingat pertanyaanya.


Tapi aku teringat kalau tugas yang diberikan Zen tadi pagi, sudah selesai semua ku kerjakan.


"Ohh, sudah donk!" jawabku percaya diri.


Lalu aku membuka tasku, dan langsung meraih buku Zen serta menyerahkannya ke hadapannya.


"Sudahlah besok saja. Ayo ikut aku!" sambil menarik tanganku menuju motornya.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana dengan sepedaku?" aku bertanya sambil melirik ke belakang.


"Sudahlah nanti ku antar sepedamu ke depan rumahmu."


"Tapi..." belum juga aku melanjutkan kata-kata ku, tiba-tiba...


"Naik!" ucapnya tegas sambil menyalakan motor. Dengan terpaksa aku naik ke motornya, karena lagi-lagi aku takut dengan sorot mata tajamnya.


Setelah aku naik ke motornya, aku teringat kembali sepedaku. "Bagaimana mungkin dia mengantarkan sepeda ke depan rumahku. Toh dia juga belum tahu dimana rumahku."


Tapi, aku mau di bawa kemana?" tersadar jalan yang kulewati bukan jalan menuju rumahku.


Isshh... Kenapa juga.. aku tadi mau sih di ajak orang aneh ini. Diana


"Aku lapar mau makan," tiba- tiba ucap Zen sedikit keras. Karena motor sedang melaju, mungkin takut aku tidak bisa mendengarnya.


"Iya, tapi aku takut ibuku mengkhawatirkanku. Karena, nanti aku akan pulang lebih malam," jawabku sambil mendekatkan bibirku ke telinganya. Tercium aroma harum dari tubuhnya.


"Sudahlah, nanti aku akan mengantarmu pulang. Kalau ibumu marah kepadamu, biar aku yang menjelaskan," jawabnya meyakinkan.


Lagi-lagi alasanku tidak mempan di telinganya. Padahal aku sendiri sudah memberi tahu ibu melalui ponselku, kalau aku akan pulang terlambat malam ini.


Ya, dia mengajakku makan mie ayam di pinggir jalan. Seperti tau aja perutku yang keroncongan minta di isi.


Akupun duduk menunggu pesanan datang.


Setelah mie ayam sampai ke mejaku, Zen berbicara, "Makanlah, kau juga laparkan?" kata Zen sambil menyodorkan semangkok mie ke hadapanku.


Akupun mengangguk, karena memang aku sudah merasa lapar dari tadi. Dari sore hari, aku belum sempat mengisi perutku. Karena kesibukan di toko hari ini dan di tambah lagi tugas sekolah yang harus ku kerjakan.


Tak sadar, kalau Diana sedari tadi di perhatikan Zen.


"Anak ini, makannya lahap sekali. Apa bos mu tidak memberikan mu makan," bisik hati Zen sambil tersenyum memandangi Diana.


"Kenapa kamu selalu acuh sih di saat sedang bersamaku. Tadi, aku menjemputmu pun kamu hanya tersenyum terpaksa kepadaku. Padahal jelas-jelas dengan orang lain kamu selalu tertawa bahagia." batin Zen sambil menyuapkan mie ke dalam mulutnya.


Aku tersadar kalau diriku sedang di perhatikan oleh seseorang.

__ADS_1


Spontan, aku langsung merapihkan rambutku, mengusap bibirku, jikalau ada saos menempel pada bibirku. Dan tak lupa tangan ini meraba ke dua mataku, takutnya ada cinta menempel di mataku. haha...


Zen tergelak melihat tingkahku.


"Sudahlah, serapih apapun kamu, kamu tidak akan pernah terlihat cantik," ucap Zen meledekku.


Aku hanya memonyongkan bibirku dan memalingkan wajahku menunjukkan kekesalanku.


"Iya..iya... aku juga sadar aku ini jelek. Puas kamu !" sahutku menggerutu.


Zen hanya tersenyum. Semakin menambah kekesalanku.


"Pak, tolong bungkus satu ya," kata Zen sambil mengangkat telunjuknya.


"Baik mas," jawab si penjual sambil tersenyum ramah.


Setelah selesai dengan mangkok ku, dan Zen pun sudah habis tak tersisa dalam wadahnya, aku pun di ajak pulang.


Tak lupa, satu buah keresek di sodorkan si penjual. Zen pun langsung meyerahkan selembar uang berwarna merah.


"Mas, ini kembaliannya," sambil berteriak. Karena aku dan Zen sudah hampir meninggalkan gerobaknya.


"Ambil aja Pak, buat Bapak," jawab Zen sambil menoleh. Terlihat, bapak penjual mie ayam mengucapkan terimakasih.


Aku pun tersenyum sambil meninggalkan tempat makan tadi.


"Orang kaya mah bebas yah berapa pun ia ingin memberi. Padahal kembalian tadi bisa seperti seharian aku bekerja di bengkel pamanku," pikirku sambil merasakan hawa dingin malam ini.


Tapi aku bahagia melihat Zen senang berbagi.


Seperti sisi positif lain yang aku ketahui dari sosok seorang Zen.


Setelah sampai di depan rumah, Zen menyerahkan kantong mie ayam tadi.


"Berikan ini pada ibumu. Sampaikan maafku karena aku membawamu pulang hingga selarut ini," ucap Zen lalu memarkirkan motornya. Kemudian ia berpamitan pulang kepadaku.


Dan tak lama, Zen pun menghilang bersama gelapnya malam.

__ADS_1


"Ahh... kenapa rasanya aku sangat senang malam ini. Hei hati, sadarlah..." sambil memegang dadaku dan melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah.


__ADS_2