CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Kehadiran Tania


__ADS_3

Di pagi hari, aku bangun dengan senyuman seindah mentari pagi. Mengingat kejadian semalam, membuatku bersemangat untuk segera pergi ke sekolah. Membayangkan senyuman Zen, seperti menambah semangat untuk segera menjemput mimpi. Mimpi seperti apa? Entahlah, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Yang jelas, membuat hatiku berdebar senang.


Setelah merapihkan bajuku, kemudian menyisir rambutku lalu menambahkan bando pita berwarna pink di kepalaku. Tak lupa juga, menyemprotkan sedikit parfum ke arah tubuhku, membuat aku semakin percaya diri untuk menghadapi hari.


Aku beranjak ke meja makan, ternyata ibuku sudah membuatkan sarapan untukku. Sepertinya, ibuku sudah berangkat untuk bekerja, karena biasanya ibuku pergi sesaat setelah adzan subuh dan pulang sebelum magrib.


Setelah aku selesai sarapan, aku membawa tasku dan melangkahkan kakiku lalu mengunci pintu.


Setelah aku melihat sekeliling, ternyata benar sepedaku sudah berada di halaman rumah. Entah bagaimana Zen membawanya semalam.


Aku langsung melajukan sepedaku melewati pagar rumahku.


Tiba-tiba seorang gadis kecil kira-kira berumur 3 tahunan sedang celingukan seperti sedang mencari ibunya. Dia adalah anak tetanggaku. Dan sekarang dia sedang berdiri tepat di depan pagar rumahnya.


Aku berhenti sebentar untuk menyapanya.


"Hallo, Adik manis. Sedang menunggu siapa?" tanyaku sambil mencubit pipinya, karena terlihat menggemaskan.


"Mama," ucapnya dengan suara imutnya.


"Memang, Mamanya lagi kemana?" tanyaku penasaran.


"Lagi ke walung, Papah cakit, demam dan meliang. Mama lagi beliin kipas angin," jawabnya.


"Apa hubungannya dengan kipas angin ya?" pikirku sambil mengetuk-ngetuk telunjuk ke kepalaku. "Kan lagi meriang, masa di kasih kipas angin sih!" sejenak aku berpikir lagi, "Apa mungkin..." aku seperti mengingat sesuatu. Entah apa yang diingat bocah tadi, tapi dengan wajah polosnya, sepertinya dia merasa perkataannya itu benar.


Tiba-tiba seorang ibu datang, membawa dua bungkusan kecil, dua set sepertinya, berwarna kuning bergambar jahe dan madu.


"Ohh, Tolak Angin toh," aku tergelak sendiri.


Lalu ibu itu berjalan mendekatiku. "Berangkat sekolah ya, Di?" tanya nya, dan seperti heran melihatku tertawa.


"Ehh iya Bu, anak Ibu lucu sekali ya, gemes..gemes..gemes," sambil tertawa aku mencubit pipinya lagi hingga berulang kali.


Gadis kecil itu hanya menatapku bingung dan mencoba melepaskan tanganku.


Akhirnya aku berpamitan dan berlalu meninggalkan mereka.


Sambil mengayuh sepedaku menuju sekolah, setiap kali mengingat kejadian lucu tadi, membuatku selalu tergelak. Sehingga, Nurul merasa penasaran dan bertanya kepadaku. Aku pun dengan senang hati menceritakan semuanya.


Dan ternyata Nurul sama seperti ku, merasa terhibur dengan tingkah lucu si kecil tadi. Akhirnya di sepanjang jalan kami hanya tertawa bersama-sama.

__ADS_1


***


Setelah sampai di sekolah, aku dan Nurul memarkirkan sepeda kami. Sambil berjalan beriringan, kami melangkahkan kaki menuju ruang kelas.


Setelah aku masuk, rasanya aku seperti tertimpa sebuah gunung.


Yang tadinya tertawa-tawa merasa bahagia, berubah menjadi rasa marah dan sedih yang bercampur menjadi satu.


"Apa yang aku lihat ini?" spontan aku terdiam membeku, membisu dengan banyak pertanyaan yang berterbangan melintasi kepalaku.


"Ayo masuk!" Nurul menggenggam tanganku dan menariknya lembut.


Aku menyeret kakiku perlahan, dan berusaha menenangkan perasaanku.


Lalu, duduk sebentar kemudian membuka resleting tasku.


Tanganku menarik sebuah buku dari dalamnya dan mengeluarkannya. Buku bersampul biru milik Zen.


Dengan gemetar, aku berusaha berdiri dan membalikkan tubuhku menuju sebuah meja. Disana, telah duduk sepasang muda-mudi yang sedang asyik bercengkrama. Terlihat dari tatapan mereka yang saling memberikan kebahagiaan.


"Maaf Zen, aku ingin menyerahkan bukumu. Semuanya telah selesai aku kerjakan," ujarku sambil gemetar dan berusaha tersenyum.


"Siapa Dia?" tanya seorang wanita pada Zen. Ia pura-pura tidak mengenal Diana. Padahal sudah lama ia selalu mengawasi Diana.


Entah apa yang membuatnya populer, mungkin karena ia cantik dan lahir dari keluarga terpandang.


Aku menelan ludah mendengar suaranya.


Lalu Zen melirikku dan mengatakan, "Temanku," seolah memberi penegasan.


Glek, rasanya aku ingin tenggelam ke dasar bumi mendengar ucapan Zen. Akhirnya aku berlalu pergi tanpa sepatah katapun.


Tanpa terlontar ucapan terimakasih dari mulut Zen.


Dadaku berkecamuk. Ingin marah tapi entah sebabnya apa, hingga linangan air mata tak dapat ku bendung lagi.


Pelajaran hari ini pun aku lewatkan tanpa berkonsentrasi.


Di waktu istirahat, aku menghilang meninggalkan Nurul. Karena, aku tidak mau Nurul mengetahui keadaanku. Aku pergi ke gubuk di belakang sekolah tempat dimana Zen mengetahui kesedihanku. Tapi itu dulu, secara tak sengaja.


Sekarang, rasanya aku ingin berteriak, tapi hal itu ku urungkan. Karena, masih banyak siswa di sekolah ini.

__ADS_1


Secara tidak sadar, sesaat setelah aku duduk, aku mengepalkan kedua tanganku menahan semua kekecewaan, kemarahan dan kesedihanku. Mengingat kehadiran Tania dalam hidup Zen.


"Apa aku yang bodoh, menganggap sikap Zen yang baik kepadaku, mengartikan dia memang menyukai ku!" mengingat lagi perkatan Zen.


Zen yang bahkan menganggapku hanya sebagai teman, tidak lebih.


"Hanya teman! Diana," tegasku sambil mengacak rambutku. Dan, mungkin sikap baiknya selama ini hanya sikap seorang sahabat.


Tetesan air mataku jatuh mengiringi penyesalanku.


"Kenapa? Kenapa aku jatuh hati kepadamu?" ucapku melemah.


"Kenapa kau tunjukkan sikap baikmu di hadapanku, bodohnya aku, tanpa kau memberi kepastian aku telah memberi cinta kepadamu," bibirku bergetar menahan penyesalan.


"Senyummu, menyadarkan ku akan kasih sayang. Tanganmu, menghapuskan luka dan air mataku. Dan sekarang, mulutmu lah yang menorehkan luka di hatiku," ucapku diiringi dengan hembusan nafasku.


"Mungkin, cintaku memang bertepuk sebelah tangan. Karena cintamu bukanlah milikku, tapi milik orang lain," air mataku bercucuran dengan derasnya.


Teringat, kejadian tadi pagi sesaat setelah aku meninggalkan Zen dan Tania.


Ternyata, tanpa aku sadari Tania telah mengikuti ku. Dia menarik tanganku kasar, membawaku ke sebuah toilet, dan mendorong tubuhku menempel di dinding.


"Hei, Diana," ujarnya sambil menunjuk dadaku.


"Awas kau ya, jika berani mendekati Zen. Zen itu milikku. Dia milikku," tegasnya lagi.


"Zen sangat mencintaiku, karena orang tua kami akan menjodohkan kami," ucapnya percaya diri.


"Jadi, kau jangan pernah mengganggunya lagi. Atau kau akan tahu akibatnya," ancam Tania.


Belum juga aku sempat menjawab, bel pertanda masuk sudah berbunyi. Akhirnya, Tania berlalu meninggalkan ku.


Epilog


Padahal, hanya Tania yang mencintai Zen.


Tidak dengan Zen, meskipun Zen tahu akan di jodohkan dengan Tania, tapi Zen hanya menganggap Tania sebagai seorang kakak.


Sementara itu, di kursi taman, seorang remaja laki-laki sedang asyik dengan lamunannya. "Apa dia cemburu ya? Melihat kedekatanku dengan Tania tadi pagi.


Ahh, aku akan menggodanya dengan sikap acuhku nanti.

__ADS_1


Aku ingin melihat, wajah kesalnya yang terlihat menggemaskan," pikir Zen dengan rencananya.


__ADS_2