CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Kepergian Zen


__ADS_3

"Hey, bengong mulu!" ucap Zen sambil sedikit menggebrak meja. Sontak aku terkejut mendengarnya.


"Apa sih, Zen?" tanyaku merasa kesal.


"Kenapa kau menunda kuliahmu, Diana..." Perlahan suara Zen menurun, tidak ada lagi penekanan seperti tadi ia memarahiku.


"Sayang, Di. Kau cukup pintar kan di sekolah. Prestasimu juga lumayan. Buat apa dulu di sekolah kau selalu bekerja keras untuk menjadi juara kelas?" tanya Zen seperti menyesali keputusanku.


"Iya, tapi mau bagaimana lagi. Zaman sekarangkan sekolah membutuhkan biaya yang tidak sedikit." keluhku pasrah akan ketidakmampuan ku melanjutkan kuliah.


"Dulu ya dulu... Tapi aku senang kok, aku tidak menyesali semua kerja kerasku dulu.


Aku merasa bisa memanfaatkan waktuku, dan tidak menyia-nyiakan sekolahku. Bisa belajar dengan sebaik-baiknya." lanjutku merasa tidak menyesal dengan tertundanya kuliahku.


Karena, aku telah berusaha untuk mengukir prestasi di sekolahku. Aku tidak pernah berfikir bagaimana nanti nasib sekolahku. Waktu itu aku hanya berfikir, bagaimana memanfaatkan waktuku agar tidak terbuang sia-sia.


Supaya di kemudian hari, meski ilmuku tidak seluas orang lain, meski ilmuku hanya sebutir gandum, tapi berharap bisa berguna untuk masa depanku nanti.


Bermanfaat agar bisa berbagi ilmu dengan orang lain.


"Hmm... baiklah. Semoga suatu saat nanti, Allah memudahkan jalan untuk menggapai semua impian dan cita-cita mu." Ungkapan Zen menumbuhkan keyakinan di dalam hati ini.


"Aamiin..." aku mengamini ucapan Zen.


"Lantas, kau mau apa datang kesini?" tanyaku kepada Zen. Lalu secara tidak sengaja, kedua mataku bertemu dengan sorot mata indah Zen. Kita saling pandang beberapa detik, mencoba menyelami perasaan hati kita melalui tatapan mata.


"Aku mau pamit kepadamu!" ujar Zen.


Aku mencoba mengerjapkan kedua mataku, kembali ke titik kesadaran yang tadi hilang saat saling melempar pandangan dengan Zen.


"Apa? Kau mau pergi kemana?" tanyaku panik. Rasanya hati ini, tidak bisa untuk berjauhan dengan Zen.


Setelah dua tahun bersama, aku sudah terbiasa hari-hariku dengan kehadiran Zen.


"Kan, aku sudah pernah bilang. Tunggu aku hingga aku bisa menyelesaikan kuliahku. Dan sekarang, aku ingin segera mewujudkan itu. Aku akan berusaha untuk bisa menyelesaikan kuliahku secepat mungkin." tutur Zen menjelaskan.


Mendengar ucapan Zen, wajahku berubah menjadi merah merona. Rasanya, dunia ini hanya milikku seorang. Yang lain mah numpang! haha


Aku merasa telah memiliki hati dari seorang Zen. Akan memiliki cinta dan kasih sayangnya yang sebentar lagi menjadi milikku seutuhnya. Namun, entah kapan waktu itu akan berpihak kepadaku. Akupun juga tidak tahu.


Tiba-tiba, terlintas wajah seseorang muncul dari pikiranku.


"Zen, sepertinya suatu saat nanti, kita tidak akan mudah untuk bersatu. Apalagi, jika kamu nanti lulus sarjana. Derajat kita sekarang saja, sudah terlihat sangat jauh.


Apalagi, kalau kamu mendapatkan gelar S1. Apalah artinya aku ini," ucapku merasa sedih.


"Diana, aku tidak suka dengan perkataanmu." ujar Zen lalu mengelus tanganku. Kini, tangan kanan Zen bertumpuk menjadi satu dengan tangan kiriku. Ada kehangatan ketika tanganku mendapatkan sentuhan lembut dari tangan Zen.


"Dari dulu sampai sekarang, aku tidak suka membeda-bedakan status sosial seseorang.


Aku selalu bersahabat dengan semua orang. Aku juga tidak pernah merasa malu jika berbaur dengan anak jalanan sekalipun.


Tuhan, menciptakan manusia itu sama, Di.

__ADS_1


Kita hanya di ciptakan untuk menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya. Tugas kita hanya berbuat baik kepada semua makhluk yang diciptakan-Nya. Begitu juga denganmu, kita ini sama, Di. Tidak ada pembatas di antara kita." tambah Zen menuturkan.


Aku hanya mengangguk memberikan senyuman kekaguman pada seorang Zen.


Zen, benar-benar berhati lembut.


Memang benar, dulu jika akhir pekan, Zen selalu rutin berkunjung ke panti asuhan.


Aku pernah beberapa kali menemaninya.


Zen juga sering berbagi dengan anak jalanan. Bahkan setiap pengamen yang berada di jalanan pun, mereka sangat mengenal sosok Zen. Mengenal kebaikannya yang gemar sekali menolong sesama.


Pernah, saat itu aku sedang bersamanya.


Padahal, waktu itu kami akan berangkat ke sekolah. Tiba-tiba, seorang pemulung yang berpakaian sangat lusuh menghampirinya.


Lantas ia meminta tolong kepada Zen agar membantunya. Isterinya yang sedang sakit, membutuhkan obat yang harus ia beli.


Namun, pemulung itu tidak mampu bahkan hanya sekedar membeli obat.


Akhirnya, Zen tidak segan memberikan semua uang sakunya kepada pemulung tersebut. Kalau di hitung-hitung, mungkin uang saku Zen senilai dengan tiga hari aku bekerja di bengkel paman.


"Sungguh beruntung orang tuamu memiliki anak sebaik kamu, Zen." gumam batinku.


"Diana, percayalah aku sangat mencintaimu. Aku hanya meminta mu untuk menungguku. Supaya, jika aku telah menyelesaikan pendidikanku. Aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Meskipun, nanti aku memegang perusahaan ayah, tapi aku ingin di kenal dengan namaku sendiri, hasil dari jerih payah ku sendiri. Agar, aku bisa bertanggung jawab menjadi suami yang baik untuk mu dan untuk keluarga kita nanti," ucap Zen meyakinkan hatiku.


Duhh, kok author yang jadi baper yaa. haha


Lanjut...


"Di, itu hanya rencana ayah untukku. Aku masih bisa menolaknya nanti." ucap Zen dengan kesungguhan hatinya.


"Tapi, Tania sudah mengetahui tentang perjodohan ini, Zen. Itu akan sulit kamu tolak jika kedua belah pihak sudah saling mengutarakan niatnya masing-masing."


"Kan, Tania yang diberi tahu. Aku sendiri belum pernah ngobrol langsung dengan ayah tentang perjodohan ini." tutur Zen seolah terlihat kesal ketika aku membahas tentang Tania.


Karena, tangan yang menempel tadi di tanganku, kini ia angkat dengan kasar.


"Tapi, Zen..." jawabku masih ragu.


"Sudahlah, kau percaya hanya kepadaku. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Aku akan selalu memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi kebahagiaan ku." ujar Zen menatap mataku, seolah menunjukkan bahwa antara ucapan dan tindakannya menyatu dengan hatinya.


"Aku takut... Zen. Takut harapanku menjadi sia-sia. Takut penantianku akan berakhir luka, juga takut masa depan tidak berpihak kepada kita, Zen." ucapku merasa tidak yakin karena masih terlihat gelap masa depanku dengan Zen.


"Diana, aku sangat menyayangimu. Aku akan selalu setia kepadamu. Mari kita berjuang bersama, Di. Buktinya dua tahun kita di sekolah, kita bisa melewati semuanya.


Yakin... yakinlah kepadaku, Di..." mohon Zen agar aku mempercayainya.


"Baiklah, aku akan berusaha memegang janjiku untuk selalu setia kepadamu." Akhirnya kata itu terlontar jelas di telinga Zen.


Zen pun terlihat sumringah mendengar bisikanku di telinganya.


"Nah, dari tadi kenapa? Dasar so jual mahal!" goda Zen sambil memalingkan mukanya.

__ADS_1


"Ya iyalah, aku tidak mau penantianku berakhir sia-sia." ucapku tidak mau kalah.


"Ya sudah, pakailah ini." Zen pun beranjak lalu berdiri memakaikan kalung tadi di leherku.


"Jaga kalung ini baik-baik. Jaga huruf Z ini seperti kau menjaga dengan separuh nyawamu bahkan dengan sepenuh hatimu." pinta Zen kepadaku.


"Jangan pernah melepasnya kalau bukan aku yang memintanya! Kalung ini kalung kepemilikan, jadi awas saja kalau nanti aku kembali, kau tidak memakainya!" ancam Zen.


Masih saja di situasi seperti ini, Zen mengancamku. Jiwa pengancamnya memang tidak pernah lepas dalam dirinya.


Ya, mau bagaimana lagi. Aku hanya bisa pasrah.


Zen kembali duduk di sampingku dengan kursi yang berbeda. Karena di teras depan rumahku, ada dua buah kursi dan satu meja untuk tempat bersantai menikmati semilir angin di sore hari.


"Baiklah, terimakasih atas semua yang kau berikan kepadaku." tuturku sambil tersenyum, sedangkan tanganku masih menempel di dadaku mengusap lembut kalung yang di berikan Zen kepadaku.


"Hanya terimakasih saja yang kau berikan?" ucap Zen seolah meminta sesuatu.


"Lantas, kau mau aku memberikan apa?" tanyaku penasaran.


"Apa gitu, yang spesial. Aku sudah memberikan kenang-kenangan yang tidak akan kau lupakan. Kalau sekedar ucapan terimakasih saja, mungkin pas pulang ke rumah pun pasti aku sudah melupakannya.


Besok kan aku mau pergi, berikan ciuman gitu yang mungkin akan selalu ku ingat!" pinta Zen tanpa basa-basi lagi.


Akupun menuruti keinginannya. Perlahan, aku meraih tangannya, mengusapnya lembut, lalu 'cup' aku mencium tangannya. haha


Seperti seorang anak mencium tangan ibunya untuk pergi ke sekolah.


Raut wajah Zen pun yang tadinya berbinar senang, kini berubah menjadi merah padam karena ulah tanganku.


Kan, aku hanya membantunya menepati janjinya, kita tidak akan ciuman sampai waktunya sudah tepat. hehe


Karena aku takut dia benar-benar marah, aku pun berkata, "Zen, belajarlah dengan baik disana. Selalu ingat aku disini yang selalu menunggumu. Cepatlah pulang jika urusanmu sudah selesai. Aku pasti akan merindukanmu. Aku juga mencintaimu, Zen." ucapku penuh senyum.


Zen pun membalas senyumanku.


"Baiklah, aku pamit ya. Jaga dirimu baik-baik." ujar Zen lalu beranjak.


'Cup'


Satu kecupan mendarat di keningku. Akupun terkejut, hingga nafasku terhenti untuk sejenak.


"Kakak..." teriak seorang anak kecil di balik pagar rumahku. Ternyata, gadis kecil yang ibunya membeli Tolak Angin waktu itu, lho!!


Aku pun jadi merasa malu, "Apa?" batinku, "Apa dia melihat kejadian tadi?"


Gadis kecil itu tersenyum dengan polosnya ke arahku.


Wajahku pun langsung terasa hangat, berubah menjadi merah padam karena menahan malu yang tak tertahankan.


Sedangkan, Zen. Ia terlihat senyum bahagia dengan tindakannya, kemudian berlalu dengan motornya meninggalkanku yang sedang menahan malu.


***Bersambung...

__ADS_1


Ditunggu like, koment and vote nya ya... hehe***


__ADS_2