CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Zen Cemburu?


__ADS_3

"Assalamu'alaikum..." ucapku mengucapkan salam ketika memasuki ruangan tempat Nurul di periksa.


"Wa'alaikum salam..." jawab Nurul dan seorang laki-laki yang tidak terlihat jelas raut wajahnya.


Ia sedang membantu Nurul untuk berdiri. Namun ia membelakangiku, jadi hanya terlihat punggung dan rambut hitam yang di potong cepak sangat rapi jika di lihat dari belakang.


Di saat aku masuk, Nurul kembali duduk di tempat tidur pasien. Dan laki-laki yang memegangi Nurul tadi, menengok ke arahku yang sedang berdiri di balik pintu.


"Adrian?" ucapku terkejut ketika melihat sosok yang membelakangiku tadi.


"Diana!" ujar Adrian dan Nurul bersamaan.


"Hehe... iya. Maaf ya, aku jadi ganggu!" tuturku merasa malu sendiri melihat Nurul dan Adrian berpegangan.


Refleks, mereka melepaskan genggaman tangan mereka.


"Nggak kok, Di. Masuk sini!" ujar Nurul mempersilahkan ku untuk masuk.


Aku pun menyeret kakiku untuk mendekat ke arah Nurul dan Adrian.


"Diana, kok kamu ada di sini?" tanya Adrian sembari menggeser posisi berdirinya yang sedikit menjauh dari ranjang Nurul.


"Iya, Dri. Tadi aku mendapatkan telepon dari Ibunya Nurul. Beliau khawatir Nurul belum pulang ke rumah. Padahal, sekarang sudah jam 04.00 sore. Makannya, Ibunya Nurul memintaku untuk mencari Nurul," paparku menjelaskan kepada Nurul dan Adrian.


"Terus, kamu kok bisa langsung tahu aku ada di Klinik?" tanya Nurul heran.


"Bisa donk... aku kan bisa mengetahui keberadaan orang, meskipun aku tidak sedang bersamanya! haha" jawabku sambil berkacak pinggang.


"Gini-gini, aku kan masih keturunannya Mbah Mijan! Ahahaa" tawaku memecah keheningan di dalam ruangan.


"Apaan sih, Di. Gak lucu tahu!" celetuk Nurul sambil cemberut. Mungkin, ia kesal mendengar candaanku yang terdengar membosankan. hihi


"Iya deh, sebenarnya pas tadi aku melintas di jalanan depan. Aku melihat sepeda Nurul terparkir di halaman Klinik.


Aku mencoba bertanya kepada penjaga di ruang pendaftaran, ternyata benar Nurul yang di rawat di sini!" ujarku menjelaskan.


"Oh, iya. Kenapa Nurul bisa jadi terluka seperti ini?" tanyaku kepada Adrian.


Lalu, Adrian pun menceritakan rentetan kejadian demi kejadian hingga sampai pada saat Adrian harus kembali ke tempat Nurul terjatuh tadi. Hanya untuk sekedar mengambil sepeda Nurul yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan.


"Maaf ya, Nur. Gara-gara aku membiarkanmu pulang sendiri, akhirnya kamu jadi celaka seperti ini," ucapku merasa bersalah.


"Tidak apa, Di. Sekarang aku baik-baik saja.


Lebih baik kita segera pulang, ya. Mungkin Ibuku sekarang sedang menungguku," ucap Nurul lalu beranjak.


Adrian pun membantu Nurul untuk bisa menegakkan tubuh Nurul. Dengan hati-hati ia menuntun setiap gerak Nurul, lalu memapah Nurul yang berjalan terpincang-pincang.


Aku hanya mematung melihat hal langka yang terekam di memori ingatanku.


"Sepertinya, Malaikat telah mencatat niatku untuk bisa mendekatkan Nurul dan Adrian,"


pikirku sambil tersenyum-senyum melihat adegan romantis yang tidak sengaja terjadi. Seperti di drama-drama yang selalu tayang di televisi. hehe


"Diana, kok bengong sih!" ucap Adrian mengejutkan lamunanku.


"Ayo kita pulang! Aku akan mengantarkan Nurul hingga selamat sampai ke rumahnya," tutur Adrian dengan rasa tanggung jawabnya.


"Ciee.. ciee.. ada yang seneng nih..." godaku kepada Nurul.


"Apaan sih!" jawab Nurul tersipu malu.

__ADS_1


"Oh iya, kamu pulangnya bagaimana?" tanya Nurul kepadaku.


"Biar aku yang mengantarnya!" Seseorang muncul di balik pintu.


"Zen!" Sontak aku terkejut dengan kedatangan Zen secara tiba-tiba.


"Hehe... iya Diana. Tadi, aku yang memberitahu Zen lewat whatsapp. Soalnya aku pikir, sekarang kau akan pulang sendiri.


Maka dari itu, biar Zen saja yang mengantarmu!" jelas Adrian menceritakan kemunculan Zen yang mendadak.


"Tidak ahh, aku tidak mau. Aku kan bawa sepedaku. Jadi, aku bisa pulang sendiri!" Ketusku menolak ajakan dari Zen.


"Sudahlah! Jangan so jual mahal! Di luar sudah mau hujan, kau mau kehujanan dengan sepedamu!" bentak Zen kepadaku.


"Kan sama saja ya, kalau naik motor pun, nanti kalau di jalan hujan, tetap saja kehujanan. Dasar aneh! Apa sih maumu?" gumam batinku yang masih menyisakan perasaan kesal kepada Zen.


"Ayo, keluar!" teriak Zen yang melihatku masih bergeming.


Issh, kenapa aku juga yang kena sih! Diana


Akhirnya, aku mengekor di belakang Zen.


Nurul dan Adrian telah terlebih dahulu keluar ruangan ketika melihat perdebatan antara aku dan Zen.


Mungkin mereka merasa risih melihat tingkah kita seperti anak-anak.


Lalu, Zen melangkah pergi menuju ke ruang administrasi untuk melunasi pembayaran di Klinik.


Ya, Zen. Karena, Adrian sebenarnya menghubungi Zen hanya untuk menyuruhnya membawa uang guna membayar biaya perawatan Nurul.


Karena, tadi pas Adrian bertemu Nurul, Adrian tidak membawa uang sepeser pun.


Adrian sebenarnya hanya akan pergi ke rumah temannya, berniat mengambil buku pelajaran miliknya yang di pinjam temannya ketika di sekolah.


Baik motor matic yang sering ia gunakan, maupun motor yang membuat sensasi berbeda ketika aku di bonceng Zen dari belakang.


Motor apa coba yang kaya gitu?? hehe


"Diana!" Panggil Nurul kepadaku.


Aku sontak kaget dan takut ketika Nurul memanggil dari dalam sebuah mobil.


"Zen, Nurul masuk mobil siapa?" bisikku sambil menyikut perut Zen.


Zen hanya bergeming sambil mengangkat bahunya seolah tidak tahu.


Dan ternyata, mobil itu milik Zen.


Sebuah mobil Avanza berwarna silver yang masih sangat mulus karena terawat dengan baik.


"Ayo masuk!" perintah Zen sambil menarik tanganku.


Zen membukakan pintu mobil dan menyuruhku duduk di depan menemaninya menyetir mobil. Sedangkan, Nurul dan Adrian mereka sudah duduk di jok belakang.


Dan satu lagi kenyataan yang sebenarnya ketika Adrian menghubungi Zen, karena ia meminta supaya Zen membawa mobil ke Klinik. Dikarenakan, Adrian tidak mungkin mengantar Nurul dengan sepeda motor miliknya.


Akhirnya, mobil pun perlahan berjalan menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh orang-orang yang sedang menikmati keindahan di waktu senja.


Sedangkan, suasana di dalam mobil begitu hening tanpa ada yang mengeluarkan satu patah katapun.


Trett.. Trett..

__ADS_1


Tiba-tiba ponselku bergetar kemudian berbunyi sangat nyaring.


Aku langsung meraih ponselku. Dan melihat tiga pasang mata sedang menatapku sangat tajam.


"Hehe... maaf, kaget ya!" ucapku sambil menatap ke arah tiga pasang mata secara bergantian.


Aku lupa, sebenarnya tadi pas di sekolah sudah benar modenya mode getar. Namun, aku ubah kembali ketika Ibunya Nurul berulang kali menelepon ku.


Karena, aku takut ketika di jalanan tadi aku tidak bisa mendengar bunyi ponselku. Makannya, aku kembali mengubah mode getar dengan mode suara yang volumenya full sampai akhir garis panjang. hihi


"Cepat angkat, berisik!" titah Zen yang melihatku hanya menatap ponselku.


Bagaimana tidak, aku melihat nomor yang tidak aku kenal tertera memanggil di layar ponselku.


Akupun dengan ragu mengangkat telepon.


Daripada, aku membuat semua orang yang ada di mobil ini jengkel karena ulah ponselku.


"Hallo!" ujarku memulai suara menyapa orang di seberang telepon sana.


"Hallo, Diana..." jawab seorang laki-laki yang terdengar sangat ramah di telingaku.


"Dengan siapa, ya?" tanyaku karena tidak mengetahui suara yang melakukan panggilan telepon di ponselku.


"Wahh kamu ini, baru beberapa bulan saja sudah lupa!" ujar orang tersebut merasa kecewa.


"Coba deh, lihat chat whatsapp mu!" Suaranya mulai terdengar semangat.


Aku pun menarik ponsel dari telingaku, lalu aku mengarahkan ibujari ku untuk membuka aplikasi whatsapp. Benar saja, beberapa chatt dari orang tadi belum sempat aku membacanya.


Namun, aku terkejut ketika sebuah foto yang menggambarkan saat aku menyandarkan kepalaku di pundak seseorang di waktu yang lalu.


"Hans!" ucapku senang mendengar suara Hans. Lalu kami melanjutkan perbincangan melalui telepon.


Aku asyik sekali bercengkrama dengan Hans. Hingga aku lupa jika di mobil ini, semua orang memperhatikanku.


"Kau mau mati! Aku bukan supirmu!" bentak Zen dengan tatapan penuh amarah kepadaku.


Aku yang melihatnya, timbul keinginanku untuk menggodanya. Karena aku tahu, Zen tidak benar-benar marah kepadaku. "Mungkin Zen cemburu?" batinku berharap. haha


"Kalau aku mati, bagaimana?" tegasku, seolah-olah serius dengan ucapanku.


"Jangan!" ujar Zen mencegah ucapanku.


Aku mengerutkan dahiku, "Memang, apa peduli mu jika aku mati!" pikirku merasa heran.


"Bukankah kau harus hidup, dan terus hidup agar kau bisa mendampingiku dan hidup bersamaku!" ucap Zen penuh dengan semangat.


"Ahahaha..." aku tertawa geli mendengar ucapan Zen.


Sepertinya, jok di belakang pun berubah menjadi ramai, penuh dengan tawa sesaat setelah Zen menyelesaikan kalimatnya.


"Apaan sih, Zen! Itukan punyaku, itukan gombalanku. Kamu telah melanggar hak cipta tanpa izin dariku! haha" ucapku menggoda Zen.


"Wah.. wah .. ternyata itu ya yang kalian bahas sesaat sepulang sekolah. haha" tawa Adrian menyadarkan Zen akan apa yang telah di ucapkannya.


Nurul hanya cekikikan dari belakang, mendengar Adrian menggoda kita berdua.


Wajahku pun berubah menjadi merah padam karena menahan malu yang ke dua kalinya.


"Ciee... Diana. Kok kamu gak pernah cerita sih, tentang ini." Kini Nurul yang malah menggodaku.

__ADS_1


***Aahh, kenapa aku juga yang jadi malu, ya... Diana*


Bersambung**...


__ADS_2