CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Diana Kehilangan Zen


__ADS_3

"Maaf, Om. Saya hanya berniat menjenguk Zen. Apa saya boleh melihat keadaan, Zen?" tanyaku ragu akan ucapanku.


"Untuk apa? Zen sedang koma! Dia tidak boleh di jenguk oleh sembarangan orang!" sergah ayahnya Zen menolak niatanku untuk bisa bertemu Zen.


"Tapi, Om..." ucapku lalu menunduk karena merasa sia-sia dengan datangnya aku ke tempat ini.


"Sudahlah, Pah. Kasihan Nak Diana, jauh-jauh ia datang kemari. Biarlah, berikan waktu untuknya agar bisa menjenguk anak kita," bujuk ibunya Zen.


"Baiklah. INGAT! Hanya sebentar!" ancam ayahnya Zen kepadaku.


"Di, ayo masuk!" suara lembut Abdi mengantar langkah kakiku untuk bertemu Zen.


Aku dan Abdi pun masuk ke ruangan dimana Zen di rawat. Hatiku merasa teriris, ketika melihat seluruh alat bantu menempel di sekujur tubuh Zen.


Dengan pakaian khusus, aku dan Abdi melangkah mendekati Zen.


"Zen, aku datang. Aku akan selalu berdo'a untuk kesembuhan mu. Meskipun nanti kita berjauhan, tapi do'a dan cintaku akan selalu mengalir untukmu," bisikku di telinga Zen.


Namun, kata-kataku terhenti ketika mendengar suara dari layar pendeteksi detak jantung.


Tiiitttt....


Garis panjang terlihat jelas di layar komputer tersebut.


Aku membeku, sambil bercucuran air mataku.


Abdi berlari keluar memberitahu dokter dan keluarga Zen.


Seluruh orang yang masuk ke ruangan pun panik. Namun, dokter mencegah kami agar kami segera keluar meninggalkan ruangan.


Aku di papah Abdi keluar meninggalkan Zen. Sekarang, Zen sedang berusaha di selamatkan oleh tim dokter.


Namun, segala daya dan upaya dokter untuk bisa mengembalikan detak jantung Zen, berakhir sia-sia.


Zen akhirnya pergi meninggalkan kita semua. Keluarga Zen begitu histeris ketika dokter telah memutuskan semua alat bantu yang menempel di tubuh Zen.


Begitu juga denganku, aku berusaha untuk berdiri tegak. Namun, rasanya separuh nyawaku hilang bersama Zen.


Abdi mencoba memelukku yang hampir terjatuh tadi. Akhirnya, aku meluapkan seluruh tangisanku di dadanya.


Ia berusaha menenangkan ku, agar aku bisa kuat menerima semua yang terjadi padaku saat ini.


"Kenapa? Kenapa secepat ini Zen meninggalkan ku Abdi?" tangisanku kembali menjadi lebih keras saat aku mengucapkan hal itu.


Abdi hanya mengusap-ngusap kepalaku tanpa bicara sepatah katapun.


Aku histeris ketika dokter sudah keluar dari ruangan Zen. Tanganku memukul-mukul dada Abdi tanpa henti, "Kenapa semua terjadi padaku, Abdi? Kenapa?"


Semua orang yang berada di ruangan itu pun, tak ada yang tak meneteskan air mata.


Semuanya terkejut dengan kepergian Zen yang mendadak.


Setelah di rasa cukup kuat, akupun berjalan mendekat ke arah Zen. Aku ingin melihat dan memeluk Zen untuk terakhir kalinya.


"Sudah! Pergi sana! Dari awal, aku tidak mau adanya dirimu! Saat kau masuk, kenapa anakku langsung pergi meninggalkan ku!" marah ayahnya Zen kepadaku.


Aku hanya diam membisu. Namun, dengan lembut Abdi menarik tanganku mengisyaratkan kalau aku harus segera pergi meninggalkan Zen.


*****


*****

__ADS_1


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, beberapa tahun pun telah terlewati.


Kebersamaanku dengan Abdi kian menuju ke arah yang lebih serius lagi.


Kini, Abdi telah bekerja di perusahaan ayahnya. Memegang salah satu anak cabang perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Abdi.


Begitu juga denganku, kini bengkel pamanku telah resmi menjadi milikku seutuhnya. Bengkel ku berkembang sangat pesat. Hingga, telah memiliki cabang di beberapa kota.


Rumah kontrakkan yang di tempati oleh ku dan ibuku kini menjadi rumah milik kami.


Namun, aku dan ibu memilih tinggal di rumah bekas pamanku. Ya, bengkel tempat dimana aku meraih semua impianku.


/Di, tema apa yang kau inginkan untuk pertunangan kita?/ tanya Abdi melalui pesan chatt yang ia kirimkan kepadaku.


Aku hanya tersenyum bahagia, membaca pesan darinya. Tak kusangka, ia begitu yakin kepadaku.


Selama ini, ia begitu setia menemaniku di saat aku sedang terpuruk sekalipun.


Dengan sabarnya, ia memberikan semangat agar aku bisa menjalani kehidupanku.


Hingga, sampai satu titik dia mengutarakan perasaannya kepadaku.


Perbedaan usia di antara kita, tidak menjadi masalah untuknya. Meskipun, aku lebih tua satu tahun darinya. Tapi, ia begitu menyayangiku dan memanjakan ku.


Ia yang selalu berfikir lebih dewasa daripada diriku. Makannya, seburuk apapun sikap ku, ia tak pernah memarahiku.


Dia selalu menyampaikan kesalahanku dengan sopan dan lemah lembut. Hingga dengan perlahan, sedikit demi sedikit aku menjadi lebih baik.


Di saat ia menginginkan ku berhijab pun, dengan sabarnya ia membimbingku.


Butuh waktu lama untuk mengambil keputusan itu. Namun, Abdi dengan penuh cinta selalu mendukung ku. Begitu juga dengan Ibu, ia begitu bahagia saat aku berubah menjadi lebih baik.


Sekarang, ibuku selalu menanyakan tentang hubungan kami. Ia berharap, agar aku dan Abdi tidak terlalu lama dalam menjalin hubungan.


Lebih baik pacaran setelah menikah, ketimbang pacaran lama tanpa arah dan tujuan.


Begitu prinsip yang ibu terapkan untukku.


Abdi pun mengetahuinya, hingga ia bertekad untuk segera melamarku dan menghalalkan ku.


/Jika orang tuamu telah merestui kita, aku terserah padamu. Semua ku pasrahkan kepadamu./ Jawabku singkat.


Masih teringat jelas ketika awal-awal aku merasa tak pantas untuk Abdi.


Aku mencoba mundur perlahan darinya. Waktu itu, aku tak ingin terlibat perasaan lebih dalam kepadanya. Selain karena perbedaan umurku, aku juga merasa minder dengan status sosialnya.


Keluarganya termasuk keluarga terkaya di negeri ini. Namun, keluarga mereka terkenal karena keramahan dan sifat rendah hati mereka. Dan juga, terkenal dengan jiwa sosial mereka yang sangat tinggi.


Perusahaan ayahnya tak pernah absen dalam membantu korban bencana alam maupun sumbangan ke setiap panti asuhan.


Sumbangan demi sumbangan selalu mengalir apapun masalah sosial yang di hadapi negeri ini.


Oleh sebab itu, ketika aku di perkenalkan dengan keluarga Abdi pun, aku di sambut sangat ramah oleh kedua orangtuanya.


Namun, aku masih tak percaya diri. Hingga, suatu ketika aku melihat Abdi bersama wanita sebayanya. Dia sangat cocok bersanding dengan Abdi dalam segala hal.


Begitu juga dengan status sosial dari wanita tersebut.


Aku langsung mengirim pesan kala itu.


/Aku do'akan semoga kau bahagia bersamanya./ Saat itu aku belum memiliki status apapun dengan Abdi.

__ADS_1


/Apa maksudmu, Diana?/ balas Abdi dalam pesan whatsapp.


/Aku mendukung siapapun pilihan hatimu./ hatiku seolah berusaha mengikhlaskannya.


Namun, jawaban dari Abdi sungguh tak terduga.


/Kalau aku pilihnya, Diana?/


Perasaanku sungguh bahagia waktu itu. Namun, aku masih sadar diri siapa diriku.


/Jika wanita yang bersanding denganmu lebih cocok, kenapa kau pilih aku? Umurku di atas darimu./


/Tidak papa, yang penting aku nyaman bersamamu. Perbedaan usia tidak menjadi masalah bagiku. Jika yang lebih muda dariku tidak cocok untukku, untuk apa aku bersamanya?/ Jawaban Abdi masih seolah memintaku bertahan.


/Kan belum di coba, jadi kau lebih baik bersamanya!/


/Aku sudah mengenalnya sejak sebelum aku mengenalmu. Tapi, tidak pernah ada kecocokan di antara kami. Jadi kenapa juga aku harus bersamanya. Orang tuaku pun sudah sangat dekat dengan mu. Jadi, jika aku memutuskan memilih Diana, ya tentu aku akan memperjuangkan Diana./


Kalimat Abdi waktu itu, mengubah pendirianku yang kala itu akan mundur darinya.


Hingga terjalinlah hubungan kami sampai ke tahap ini.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum!" sapaan salam terdengar dari luar.


"Wa'alaikum salam." Langkahku langsung menuju ke arah pintu.


Betapa terkejutnya aku ketika Abdi bersama dengan kedua orangtuanya.


Dan, ternyata benar dugaanku. Abdi bermaksud untuk melamarku.


***


Setelah prosesi lamaran itu, tak berselang lama, Abdi memutuskan untuk menikahiku.


Akhirnya, setelah resmi menjadi sepasang suami isteri. Abdi membawaku untuk pindah ke rumah mewah miliknya dan tinggal bersama keluarganya.


Sedangkan ibuku, ia kini kembali menjalankan biduk rumah tangga bersama laki-laki yang siap sehidup semati bersamanya. Ibu dan Ayah sambungku berjanji untuk melewati masa tua mereka bersama.


Dan, kelihatannya ibuku sangat bahagia dengan pernikahan keduanya.


Sekarang, Ibu dan Ayah sambungku menempati rumah lamaku.


Sedangkan aku, aku di terima dengan baik di keluarga Abdi. Mereka begitu menyayangiku selayaknya mereka menyayangi Abdi.


Akhirnya, kehidupan Diana berjalan sangat sempurna dan bahagia bersama Abdi.


***


***


{ TAMAT }


___________________


Terimakasih atas dukungan kalian sampai akhir dari kisah Diana🙏🙏🙏


Semangat Berkarya Untuk Semua Author🙆


Salam dari Karya ku yang Ke Dua✋✋😄😄

__ADS_1


__ADS_2