
Selepas pulang sekolah, biasanya aku melajukan sepedaku ke sebuah bengkel di tengah kota. Bengkel itu milik pamanku. Meskipun, tokonya tidak terlalu besar, namun bengkel pamanku cukup terkenal di kota ini. Mungkin karena pelayanannya yang cukup memuaskan konsumen.
Meskipun rumahku berada di pinggiran kota, namun jarak antara rumahku dengan bengkel pamanku tidak terlalu jauh, maka setiap hari aku selalu memakai sepeda ku untuk pergi ke sana.
Sama halnya seperti jarak menuju ke sekolahku.
Dan aku juga lebih senang memakai sepeda, selain menyehatkan juga mengurangi polusi kan! Lumayan membantu pemerintah mengurangi dampak polusi di kota ini.
Jangan bayangkan aku datang ke bengkel, menjadi montir ya.
Apalagi jadi Montir Cantik.hehe
Karena aku hanya pelayan yang menyiapkan apa yang di butuhkan montir dan konsumen. Jadi penjaga toko gitu ya, tapi bukan sembako melainkan berbagai macam oli, sparepart, ban sepeda motor, baut dan peranakannya. haha
"Hai kak Fadly," sapaku pada pelayan yang sudah lama bekerja di sini. Saat pagi ia bekerja sendiri, di siang harinya baru aku membantunya sampai jam tujuh malam.
"Hai, Di. Baru datang ya," sahutnya sekenanya. Karena keadaan di toko lagi rame-ramenya.
Aku pun langsung menuju konsumen untuk melayani mereka.
Tak berselang lama, seseorang memarkirkan motornya.
Aku terlonjak kaget saat melihatnya. Ya, siapa lagi kalau bukan dia. Si Mister Judes yang tak punya hati. haha
Tapi aku langsung teringat kata-kata Nurul.
"Apa dia ke sini mau melabrakku ya, tapi gak mungkinkan!" teringat saat aku menginjak kakinya.
__ADS_1
"Ahh sial. matanya bersitatap denganku." Tanpa aku sadari dia sudah mendekat ke wajahku. Hanya etalase saja sebagai pemisah diantara kita.
"Selamat datang, ada yang bisa di bantu?"
terpaksa memamerkan senyum ramahku.
"Mau ganti oli," jawab ketusnya.
Ahh dasar orang aneh, senyum kenapa. Pasti ketampanan mu sempurna jika kau tersenyum.
Isshh apa pula pikirku. Diana
"Mau pakai oli apa?"
Sambil gemetar aku bertanya kembali.
"Baiklah tunggu sebentar," sambil mempertahankan senyumanku.
Aku melihat motornya, ternyata motor matic dari YamaXX. Otomatis otakku menggerakkan tubuh ini menuju lemari yang berjejerkan berbagai macam oli. Langsung ku ambil oli dihadapan ku. "Ya, kalau motornya itu, sudah pasti olinya Yamaluxe," ucap batinku.
Maaf ya aku ganti hurufnya sedikit. hehe
"Heh, bisa kan kau ganti oli. Aku tak mau menunggu," katanya mengagetkan pikiranku. Saat itu memang semua montir sedang sibuk. Bahkan kak Fadly pun sedang mengganti oli juga. Karena meskipun hanya pelayan, tapi jika situasi seramai ini, kak Fadly pun sering turun tangan.
"Udah Di, biar cepet kamu aja yang ganti," celetuk salah seorang montir.
Mukaku langsung merah padam. Memang aku pernah belajar membuka mesinnya. Tapi baru kali ini aku memperaktekkannya.
__ADS_1
Dengan gugup aku berjalan keluar etalase.
Ya harus gimana lagi, semua sedang sibuk. Dan dia juga tidak mau menunggu.
Perlahan aku membawa kunci dan ember untuk membuang oli kotornya.
"Cratt..." Tiba-tiba cairan oli muncrat di muka ku.
"Sialan. Dia tertawa," menatap zen.
"Isshh, dia menertawakan ku lagi. Makin sebal aku melihatnya." Batin Diana.
"Hati-hati Di," kak Fadly menyahut, sambil menertawakanku.
Mukaku langsung merah padam menahan kesal.
"Ahhh... Kenapa coba jadi begini," bisikku sambil membersihkan wajahku.
Sedangkan di dekat etalase, ada yang sedang menahan tawanya. Seperti puas melihat seorang Diana cemong di wajahnya.
Kenapa dia manis yaa kalau marah begitu. Pikir Zen sambil tersenyum.
❤❤
**Hi, readers, jangan lupa klik Favoritnya *ya.
Agar tidak ketinggalan up terbarunya.
__ADS_1
Selamat membaca...😙😙***