
Hari mulai petang. Setelah mengerjakan tugas kelompok tadi, aku dan Nurul pulang dengan mengayuh sepeda kami. Aku masih senyum-senyum sendiri mengingat kekonyolan Nurul saat di rumah Zen.
Sambil sesekali aku menggoda Nurul.
"Nur, gimana rasanya tadi bisa deket-deket sama orang ganteng?" ujarku sambil tertawa kecil, lalu menengok ke arah Nurul.
"Rasanya apa sih, Di. Kamu tau kan betapa jengkelnya aku saat bersama Zen!" jawab Nurul masih terlihat emosi.
"Haha... sabar ya, Nur. Kan kamu sendiri yang bilang, ini momen langka, kapan lagi bisa deket sama cowok ganteng!" Aku tergelak sendiri dengan ucapanku. Sedangkan Nurul, mukanya merah padam menahan kekesalannya.
"Jangan marah-marah dong, Nur. Kan kalau orang kenyang selalu jadi orang sabar." godaku lagi.
"Kamu nyindir ya, Di? Mentang- mentang aku minum jus kamu, kenapa tadi gak bilang kalau jusnya mau kau minum!" ucap Nurul kesal.
"Hehe... iya sudahlah, Nurul. Jangan emosi mulu! Nanti jusnya muntah lagi gimana?" Masih belum puas aku menggoda Nurul.
"Diana..." Nurul marah, tapi secepat kilat aku mengayuh sepedaku lagi agar menjauh dari Nurul.
"Maaf..." teriakku tanpa suara sambil mengangkat tangan kiri dan mengacungkan kedua jariku.
Setelah sedikit berjauhan, akhirnya Nurul berhasil mengejarku.
Dan wajahnya yang merah karena marah berubah menjadi merona bercahaya.
Aku heran dengan perubahan sikap Nurul.
"Duduk sebentar, Di. Capek!" ujar Nurul memberhentikan sepedanya.
"Tumben, biasanya kan kamu yang paling kuat. Sekuat..." sambil berfikir nama petinju kelas dunia, tapi aku lupa siapa namanya.
"Udahlah, dasar pelupa! Ayo sini duduk!" ucap Nurul lagi sambil menarik tanganku. Akupun turun dari sepedaku dan duduk di sebelah Nurul.
Kami duduk di sebuah Poskamling di pinggir jalan. Di seberangnya, kami disuguhkan dengan rimbunnya pohon bambu. Menambah keteduhan di jalanan ini.
"Di, aku mau cerita nih!" ujar Nurul sambil menyenderkan tubuhnya kebelakang.
"Hmm... apa?" sahutku sekenanya.
"Tadinya aku suka kedua-duanya, tapi sekarang hatiku yakin dengan yang satu ini," ucap Nurul sambil memegang dadanya.
"Apaan sih, Nurul. Aku gak ngerti!" tanyaku tak paham apa maksudnya.
"Aku suka sama Adrian, Di. Gimana menurut kamu?" tanyanya, sambil tersipu malu.
"Apa?" sontak aku terkejut. "Aneh deh kamu! Kamu mau nembak cowok duluan gitu?" tanyaku memastikan.
"Ya enggak atuh, Diana. Aku cuma minta pendapat kamu tentang Adrian," jelas Nurul.
"Issh, sejak kapan dia jadi orang Sunda?" batinku bertanya.
__ADS_1
Lalu, aku berfikir sejenak mengingat Adrian. Dulu, aku juga pernah menyukainya dengan senyuman manisnya. Tapi, hatiku berpaling ke Zen. Dan sekarang, aku hanya menganggapnya seorang teman biasa.
"Biasa aja!" jawabku enteng.
"Dasar Diana! Udah ahh, kita pulang," ujar Nurul terlihat kesal lagi kepadaku.
"Ya sudahlah, mau hampir malam pula!" ucapku lagi merasa tak bersalah.
"Huh!" maki Nurul dan meninggalkanku.
"Tunggu... aku takut..." teriakku sambil berusaha mengejar Nurul.
Setelah tak berapa lama kami melajukan sepeda, akhirnya sampailah tepat di depan rumah Nurul. Nurul pun pamit kepadaku, meskipun aku tahu dia masih terlihat kesal kepadaku.
Lalu, aku pun melanjutkan untuk pulang ke rumah. Karena jarak rumah Nurul dan rumahku hanya beberapa meter saja.
Hampir sampai di depan pagar rumahku, tiba-tiba Nurul berteriak memanggil namaku.
"Di, tunggu!" ucap Nurul berlari ke arahku.
Aku hanya menoleh, karena ku kira dia hanya akan membahas hal yang tak penting.
"Di, Ibuku sakit. Panasnya sangat tinggi.
Tapi, aku tidak punya uang untuk berobat.
Empat hari ini, Ibuku enggak kerja, dia hanya terbaring di tempat tidur," jelas Nurul sambil gemetar.
Aku langsung masuk ke rumah Nurul. Dan ternyata benar, Ibu Nurul sedang terbaring di kamar sambil tubuhnya tertutup selimut dan terlihat gemetar kedinginan.
"Iyah, Nur. Badannya sangat panas," sambil meletakkan punggung tanganku di kepala ibunya Nurul.
"Kamu panggil Pak RT, biar Pak RT yang mengurus semua keperluan untuk ke rumah sakit. Aku akan pulang sebentar," jelasku pada Nurul. Karena tidak ada laki-laki di rumah ini, ayah Nurul sudah lama meninggal dunia.
"Tapi, Di. Aku gak punya uang," ujar Nurul memegang tanganku.
"Sudahlah, itu jadi urusanku. Sekarang kamu cepat ke rumah Pak RT!" perintahku kepada Nurul.
Aku bergegas pulang ke rumah. Tanpa berfikir panjang, setelah sampai di rumah aku langsung berlari ke kamarku. Aku membuka lemari dan meraih amplop yang berisi uang tabunganku, yang berada di bawah tumpukan baju yang tersusun rapi.
"Kenapa, Di?" tanya Ibu cemas.
"Bu, ayo ke rumah sakit. Ibunya Nurul sakit, Bu. Kasihan Nurul, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Saudara-saudaranya jauh semua, Bu," jawabku menjelaskan kepada Ibu.
Ibupun langsung pergi ke kamarnya untuk berkemas. Menyiapkan beberapa potong pakaian, siapa tahu di butuhkan saat di rumah sakit.
Setelah semuanya siap, kami pun bersama-sama pergi ke rumah sakit. Memakai sebuah mobil yang di sewa dari seorang tetangga.
Sesampainya di rumah sakit, Ibunya Nurul segera di turunkan dari dalam mobil dan di pindahkan ke atas brankar.
__ADS_1
Beberapa perawat langsung mendorongnya dan masuk ke ruang IGD.
Kemudian, seorang dokter jaga dengan sigapnya melakukan pemeriksaan dan beberapa tindakan jika di perlukan.
Karena sekarang sudah malam, maka dokter jagalah yang menangani ibunya Nurul.
Akhirnya dokter memutuskan, kalau ibunya Nurul harus di rawat di rumah sakit karena terjangkit Demam Berdarah. Kamipun digiring perawat untuk berpindah ke ruang perawatan.
Sedangkan, Pak RT sibuk mengurus administrasi. Untungnya, ibunya Nurul memiliki Kartu Kesehatan dari pemerintah. Sehingga, segala sesuatunya di berikan kemudahan oleh pihak rumah sakit.
Setelah beberapa hari ibunya Nurul di rawat di rumah sakit, kondisinya tidak ada kemajuan. Malah, setiap hari trombositnya terus menurun.
Dokter memanggil Ibuku sebagai perwakilan dari keluarga pasien. Aku dan Nurul mengikutinya di belakang.
"Maaf, Bu. Kondisi Ibu Sumiati terus menurun." ucap dokter tanpa basa-basi.
"Sehingga membutuhkan donor trombosit. Trombosit adalah sel darah yang penting dalam pembekuan darah normal.
Sedangkan, jumlah trombosit di dalam tubuh Ibu Sumiati di bawang batas ambang normal. Itu di karenakan infeksi virus Demam Berdarah Dengue." jelas Dokter.
Sedangkan, kami hanya fokus mendengarkan penjelasan yang di ucapkan oleh dokter. Sambil sesekali terdengar isak tangis dari Nurul.
"Dan, Ibu Sumiati membutuhkan lima kantong darah sekaligus. Dikarenakan di rumah sakit ini stok darah sedang kosong, maka kami menyarankan untuk memesan ke pusat kota agar segera di kirim ke rumah sakit ini. Bagaimana Bu, apa pihak keluarga menyetujuinya?" tanya Sang Dokter.
Aku dan Ibu saling bertatapan. Lalu, aku mengisyaratkan kepada Ibu untuk menyetujuinya. Kemudian, Ibu menganggukan kepalanya.
"Baiklah, Dokter. Lakukanlah apa yang terbaik menurut Dokter," ujar Ibu bergetar.
Mungkin, Ibu merasa ragu mengucapkannya. Karena, biaya untuk mendapatkan donor darah pasti mahal. Begitu pikirku mengartikan raut wajah Ibu.
"Namun, biaya untuk membelinya sekitar dua juta rupiah," lanjut dokter memberitahu.
Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka ransel yang di gendongku.
Aku meraih sebuah amplop berwarna putih lalu membukanya.
"Di, itukan tabunganmu," bisik Ibu yang melihatku sedang menghitung lembaran seratus ribuan. Mungkin, Nurul yang berada di belakangku mendengar ucapan Ibu.
"Iya jangan, Di. Biar aku yang akan mencari pinjaman dan menghubungi saudara Ibu di kampung," cegah Nurul lalu menutup amplop di tanganku.
Aku mendongak melihat Nurul yang di belakangku, "Sudah gak papa, Nur. Aku kan teman mu, aku berkewajiban menolongmu.
Lagian, saudara Ibumu kan jauh di kampung. Ibumu harus segera mendapat pertolongan, Nur. Kita sebagai teman harus selalu bersama dalam suka dan duka. Izinkan aku membantumu ya, Nurul!" aku membujuknya dan memegang tangannya lembut. Akhirnya, Nurul luluh mendengar ucapanku.
Dokter hanya tersenyum mendengar percakapan kami.
"Baiklah, jika semua telah bersedia, silahkan melakukan pembayaran di ruang administrasi," ujar dokter mempersilahkan.
Kami pun mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Kemudian, bergegas ke ruang administrasi lalu membayar sejumlah uang yang telah di sebutkan oleh Dokter tadi.
__ADS_1
Bersambung...