
"Aku..." ucapku masih ragu dengan keputusanku.
"Diana, bisakan jika kita saling menjaga dan setia, tanpa harus ada yang terluka?
Bisakan jika kita saling mencinta tanpa ada suatu kendala?" tanya Zen seolah memintaku menerima perasaannya.
"Status tak ada artinya jika kita saling menyakiti.
Status tak ada artinya jika kita tidak saling mengerti dan menghargai. Jadi, percayalah kepadaku. Maukah kamu menemaniku sebagai teman terindah ku?" Yakin Zen dengan semua perkataannya.
"Hmm... baiklah. Jika kita menjalaninya sebagai teman. Aku akan menjaga pertemanan terindah kita," jawabku yakin dengan hatiku.
Tiba-tiba ada sentuhan hangat di bibirku.
Aku refleks mendorong tubuh Zen hingga sedikit terpental kebelakang.
"Apaan sih, Zen? Katanya teman, kok ciuman?" ujarku kesal dengan tindakan Zen.
"Maaf, aku hanya terlanjur senang dengan jawabanmu. Itu sebagai ciuman terimakasih ku kepadamu, Di," tutur Zen mencari alasan.
"Tapi itu ciuman pertamaku, Zen. Bagaimana kalau Ibuku tahu?" ucapku cemas jika Ibu tahu kalau aku telah memberikan bibirku pada seseorang.
"Ya, jangan bilang donk, Di," sahut Zen seperti merasa aneh kalau aku takut Ibuku mengetahui ciumanku. Padahal kan, Ibuku juga tidak akan mungkin mengetahuinya.
"Baiklah, itu akan menjadi ciuman pertama dan terakhirku sebelum menikah. Tapi, aku tidak janji, ya..." goda Zen kepadaku.
"Ya... kamu harus bisa, donk!" ucapku sambil menyilangkan kedua tanganku di dadaku.
"Ya, tergantung..." jawab Zen sambil menatapku.
"Tergantung apanya?" tanyaku sangat penasaran.
"Tergantung jika kau tidak menggodaku dengan bibir indahmu," tutur Zen dengan seringai liciknya.
"Aahh..." gumamku sambil memberikan cubitan kecil di perut Zen.
Zen pun terlihat menggeliat merasa geli karena ulah tanganku.
"Sudahlah, aku mau pulang!" tuturku sambil beranjak pergi.
"Tunggu!" titah Zen menghentikan langkah kakiku.
"Biar ku antar ya, Di," pinta Zen kepadaku.
"Sekarang, aku sedang sehat. Aku juga membawa sepedaku. Aku kuat kok untuk pulang sendiri. Jadi lebih baik kamu pulang, ya..." bujukku kepada Zen.
"Aku pamit, Assalamu'alaikum teman..." ujarku berpamitan kepada Zen.
"Wa'alaikum salam..." jawab Zen pasrah dengan keinginanku.
***
___Nurul POV___
Sementara Nurul, setelah sesaat Diana berpamitan meninggalkannya di dalam kelas, akhirnya ia beranjak lalu melangkahkan kakinya menuju sepeda yang akan menemaninya untuk pulang.
Ia memarkirkan sepedanya ke depan gerbang sekolah. Lalu, kakinya mulai mengayuh pedal sepeda dan perlahan pergi meninggalkan suasana sekolah yang sudah tampak sepi.
Karena, ia pulang sedikit terlambat disebabkan ia harus menyelesaikan piket kebersihan di dalam kelasnya. Agar esok hari, ia tidak harus berangkat terlalu pagi untuk bisa menyelesaikan jadwal piketnya.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, ia menikmati kesendiriannya sambil sesekali melamun membayangkan kejadian di waktu istirahat tadi.
"Kenapa tadi Diana menolak Adrian, ya?"
pikir Nurul mengingat Diana.
"Biasanya, wanita manapun yang dekat dengan Adrian, mereka selalu berusaha mencari perhatian Adrian, agar bisa menjadi kekasihnya Adrian," batin Nurul yang merasa dirinya juga sama seperti wanita kebanyakan.
Bagaimana tidak, meskipun dia berkulit sawo matang, tapi pesonanya itu lho!
Ketika dia tersenyum, seakan setiap yang memandangnya meleleh hatinya.
Wajahnya yang tampak berwibawa seperti Zen, di tambah menjadi orang yang cukup berpengaruh juga di sekolah.
"Siapa coba yang tidak mengenal Wakil Ketua OSIS? Kalau bukan Adrian yang super ramah," batin Nurul yang masih mengagumi sosok Adrian.
Ya, jika di bandingkan dengan Sang Ketua OSIS, Zen. Adrian lebih bisa bersahabat dengan semua orang. Makannya setiap murid di sekolah, terutama murid perempuan, mereka sangat ingin mengenal lebih dekat dengannya.
"Apa Diana menolaknya karena aku, ya?" pikir Nurul, mengingat ketika Diana menggelengkan kepalanya saat menolak perasaan Adrian.
"Tapi, dari sorot matanya dan ucapan yang di katakannya, Diana tidak menunjukkan ketertarikannya pada Adrian," pikir Nurul yang merasa lega.
Tapi, di dalam lubuk hati Nurul yang paling dalam, ia merasakan ada kesedihan yang amat sangat menyakitkan bagi hatinya. Karena, cintanya Adrian bukanlah untuk dirinya. Namun, untuk sahabatnya.
Meskipun Diana menolak Adrian, tetap saja hatinya sangat kecewa. Karena cintanya untuk Adrian, hanya sebatas cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Braakk!
Tiba-tiba sepedanya Nurul terjatuh karena melewati jalanan bebatuan yang berlubang.
Saking fokusnya dengan lamunannya, Nurul tidak menyadari jalanan berlubang di hadapannya.
Nurul terjatuh dari sepedanya. Kakinya yang mencium jalanan yang berlubang membuatnya terluka cukup parah.
Bersamaan dengan itu, motor Adrian melintas melewati Nurul. Adrian, memperhatikan siapa wanita yang sedang merasakan sakit karena ia terjatuh dari sepedanya.
Akhirnya, Adrian menepikan sepeda motornya. Ia melangkah mendekati seseorang yang sedang terisak menahan perih di kakinya.
"Nurul?" ujar Adrian ketika melihat wajah Nurul yang tertutup dengan rambutnya yang tergerai.
"Adrian, sakiittt..." rintih Nurul menahan sakitnya.
"Iya, sabar ya, Nurul. Aku akan menolongmu," tutur Adrian sambil melihat kaki Nurul yang berdarah.
"Apa kamu kuat jika duduk di motorku? Aku akan membawamu ke Klinik di dekat sini." ujar Adrian.
Nurul hanya mengangguk.
Lalu, Adrian membantu Nurul memapahnya untuk bisa sampai ke dekat motor Adrian. Nurul berjalan terpincang-pincang sambil memegang kaki yang terluka tadi.
Sesampainya di Klinik, Adrian masuk sambil menggandeng tangan Nurul. Adrian membawa Nurul dengan sangat hati-hati.
Lalu mendudukannya di tempat tunggu pasien.
"Dok, bisa bantu teman saya. Dia terjatuh, kakinya terluka cukup parah!" ujar Adrian kepada Dokter yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Baiklah, silahkan bawa masuk temanmu, Nak!" jawab Dokter laki-laki yang sudah paruh baya, lalu sorot matanya melihat ke arah Nurul.
Dengan telaten, Dokter Bayu membersihkan luka di kaki Nurul. Ya, namanya Dokter Bayu, terlihat dari papan nama yang menempel di dada sebelah kirinya.
__ADS_1
Setelah Dokter selesai menangani Nurul, Adrian duduk di samping tempat tidur Nurul.
Nurul sedang tertidur karena mungkin merasa lelah dan mungkin juga karena efek dari obat yang ia minum tadi.
Adrian menatap Nurul sangat lekat. Ia memandangi wajah gadis yang sedang tertidur pulas, menghadirkan ketenangan ketika memandangi wajah Nurul.
Kulit Nurul yang putih bersih, rambutnya yang lurus namun di ujungnya sedikit ikal berwarna kecoklatan, membuat gadis yang Adrian tatap begitu terlihat cantik.
Adrian, baru menyadari bahwa Nurul sangat cantik bila di pandang dari dekat. Raut wajahnya yang teduh, dan terlihat senyuman hangat yang muncul dari bibirnya, membuat hati Adrian ingin merasakan kedekatan yang lebih dalam terhadap Nurul.
"Adrian," ucap Nurul memanggil Adrian.
Adrian terkejut mendengar suara Nurul, karena ia terlalu asyik dengan lamunannya.
"Kamu sudah bangun, Nurul?" tanya Adrian yang masih sedikit panik. Karena ia takut jika Nurul menyadari kalau dirinya memperhatikan Nurul.
"Iya, maaf ya aku jadi merepotkan mu," ujar Nurul yang merasa tidak enak karena telah menyusahkan Adrian.
"Tidak apa-apa, Nurul. Aku senang kok, bisa membantu mu," tutur Adrian.
"Apa kakimu sudah baikkan?" tanya Adrian sambil melihat ke arah kaki Nurul yang sudah di lilit oleh perban.
"Hmm... sepertinya sudah. Soalnya, rasa sakitnya tidak sesakit tadi," sahut Nurul sambil sedikit menggerak-gerakkan kakinya.
"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya," ucap Adrian merasa tenang dari kekhawatirannya.
"Permisi," ujar Dokter Bayu masuk ke dalam ruangan Nurul.
"Bagaimana, Nak. Apa kakinya sudah tidak sakit lagi?" tanya Dokter Bayu kepada Nurul.
"Sudah, Dok," jawab Nurul.
"Syukurlah, jika sudah merasa baikkan. Nak Nurul boleh langsung pulang. Nanti, saya akan resepkan antibiotik untuk Nak Nurul," jelas Dokter Bayu.
"Iya, terimakasih banyak, Dokter," ucap Nurul sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, saya tinggal sebentar ya, Nak," pamit Dokter Bayu kepada Adrian dan Nurul.
Sepeninggalnya Dokter Bayu, terjadi keheningan antara Adrian dan Nurul. Mereka menjadi canggung untuk memulai bersuara.
Nurul pun begitu, ia merasa salah tingkah ketika berada di dekat Adrian. Baru pertama kalinya, Nurul begitu akrab dengan Adrian.
"Hmm... sekali lagi terimakasih ya, Adrian. Karena kamu telah menolongku," tutur Nurul memulai pembicaraan.
"Sama-sama, Nurul," sahut Adrian sambil memberikan senyuman mautnya.
Ya, senyuman maut, karena setiap orang yang mendapatkan senyuman Adrian, serasa hati inilah pemilik hati Adrian. Begitu pun yang di rasakan Nurul sekarang.
"Oh, iya. Bukannya kamu biasanya pulang dengan Diana, ya?
Kemana dia, kok kamu tadi sendirian?" tanya Adrian yang merasa heran. Karena biasanya Nurul dan Diana sudah seperti perangko, kemana-mana selalu berdua.
"Oh, Diana ya. Tadi dia pamit, pergi duluan. Gak tahu tuh, tadi Zen nyuruh Diana ikut bersamanya!" jawab Nurul sambil mengangkat bahunya, karena dia memang tidak tahu Zen mengajak Diana pergi kemana.
"Hmm... gitu ya? Kira-kira kemana ya mereka perginya?" tanya Adrian. Soalnya, tidak biasanya Zen mengajak seorang wanita untuk bertemu, apalagi ini Diana. Batin Adrian sangat penasaran dengan mereka berdua.
Nurul hanya menggelengkan kepalanya. Sambil berusaha menenangkan hatinya. Karena mendengar Adrian bertanya tentang Diana, muncul rasa cemburu di dalam hatinya.
"Sudah ya, sepertinya hari menjelang sore. Aku mau pulang!" ujar Nurul lalu beranjak.
__ADS_1
"Baiklah, biar aku yang mengantarmu untuk pulang," tutur Adrian lalu membantu Nurul yang berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
Bersambung.....