
Hari ini, hari aku kembali menginjakkan kakiku ke sekolah. Setelah tiga hari yang terasa sangat panjang telah aku lalui. Seperti pagi yang biasanya, aku berangkat sekolah bersama Nurul.
Tapi, ada yang aneh dengan Nurul hari ini. Sepanjang jalan menuju ke sekolah, dia hanya diam dan hanya fokus mengayuh sepedanya.
Aku pun bertanya, "Nurul, kamu baik-baik saja?" sambil melirik ke arah Nurul. Sedangkan, kakiku masih terus mengayuh melajukan sepedaku.
Nurul hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
"Nur, apa Ibumu sakit lagi?" tanyaku yang masih penasaran akan sikap Nurul kepadaku.
"Ibuku baik-baik saja," jawab Nurul tanpa berbicara lagi.
Aku pun masih sangat ingin meminta penjelasan darinya. Namun terlihat dari sikap Nurul, ia seperti tidak ingin banyak bicara hari ini.
"Apa aku melakukan kesalahan kepadamu, ya?" bisik hatiku yang merasa tidak nyaman ketika Nurul mendiamkanku.
Sesampainya di sekolah, aku dan Nurul memarkirkan sepedaku. Hanya diam yang di tunjukkan Nurul saat sedang bersamaku.
Tapi tangannya mulai menggenggam erat tangan kananku.
Tanpa banyak bertanya, aku pun berjalan melangkahkan kaki menyusuri taman, lalu melewati lapangan basket untuk bisa menuju ke ruang kelasku.
Entah kenapa, rasanya langkah kakiku terasa sangat panjang. Orang-orang di sekelilingku, menatapku dengan tatapan tidak suka. Seperti ada yang mencibir, tapi tidak terdengar apa yang mereka katakan.
Tatapan mereka sinis, dan seolah seperti merendahkan.
"Nurul, apa aku melakukan kesalahan?" akhirnya aku bertanya kepada Nurul, karena merasa heran dengan orang-orang yang melihatku.
Tanpa banyak bicara, Nurul langsung menarik tanganku lalu berlari menuju sebuah papan mading.
Di sana, sudah seperti menjadi tempat pusat perhatian orang. Orang-orang bergerombol mengelilingi papan mading tersebut.
Aku masuk melalui celah-celah orang yang sedang melihat ke arah mading. Sambil sesekali aku menyibakkan tanganku agar orang-orang minggir saat aku melewati mereka.
Betapa terkejutnya aku, ketika melihat foto-foto saat aku sedang bekerja di bengkel tertempel di papan mading.
"Siapa yang beraninya memotretku tanpa sepengetahuan ku, ya?" bisik hatiku.
"Apa... Zen? Tapi, ada masalah apa aku dengan Zen? Terakhir kita bertemu, kita baik-baik saja," pikirku dengan penuh tanya tentang kejadian pagi ini.
"Hai gadis miskin!" ucap Tania muncul dari belakangku.
Aku menoleh, rasanya aku ingin marah meluapkan emosi ku ketika Tania mengatakan ucapan seperti menghinaku.
"Seharusnya kau tak pantas bersekolah disini! Rakyat jelata sepertimu tidak pantas bersekolah di sekolah elite!" tegas Tania merendahkanku.
Aku masih berdiri mendengarkan ocehan Tania dan berusaha tetap tenang meskipun kaki dan tanganku gemetar.
"Wanita macam apa kamu ini? Apa tidak ada pekerjaan paruh waktumu yang pantas? Sehingga kau bekerja di bengkel yang kotor dan di kelilingi banyak lelaki!"
lanjut Tania dengan sombongnya.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pekerjaanku? Toh, pekerjaanku halal kok.
Aku tidak menyusahkan orang lain juga!" jawabku memberanikan diriku yang berhasil membuat ocehan Tania terhenti.
"Aku bekerja keras dengan hidupku. Itu yang membuatku menghargai setiap jerih payahku. Tidak seperti Anda! Anda hanya bisa menikmati tanpa tahu menghargai!" ucapku membuat Tania terlihat marah kepadaku.
"Diam!!" bentak Tania kepadaku.
"Iyah, benarkan apa yang aku katakan! Anda hanya foya-foya menghabiskan uang orang tuamu. Tanpa Anda tahu bagaimana berterima kasih kepada orang tuamu! Orang tua yang rela mengorbankan hidupnya untuk bekerja keras agar anaknya bahagia dan bisa hidup layak!" jelasku membela diriku.
Tania menggeram kesal dengan semua perkataanku.
"Sudahlah! Jangan kotori tangan dan mulut Anda dengan berusaha merendahkan orang lain! Lebih baik Anda hidup tenang dengan mensyukuri nikmat yang telah di berikan Tuhan kepada Anda!" jelasku. Lalu aku menarik tangan Nurul agar pergi meninggalkan Tania.
__ADS_1
Tania terlihat sangat marah ketika ternyata akulah yang pergi terlebih dahulu meninggalkannya.
Dan perlahan, kerumunan orang pun terlihat bersih karena mereka membubarkan diri mereka sendiri.
Ketika aku sudah mulai merasa tenang berada di kelasku, tiba-tiba tanganku di usap lembut oleh Nurul.
"Di, aku minta maaf ya. Sebenarnya, sudah tiga hari ini foto-foto itu tertempel di mading," ucap Nurul seperti merasa bersalah.
"Aku tidak berani untuk mencopotnya, Di. Karena aku tahu aku berurusan dengan siapa! Tania bisa mengeluarkanku dari sekolah ini semaunya. Aku minta maaf ya, Di!" lanjut Nurul.
Aku hanya mengangguk memberikan senyumanku.
"Kalau kemarin-kemarin, tidak terjadi seheboh seperti tadi. Mungkin cerita mulut ke mulutlah yang menyebabkan orang-orang ingin mengetahuinya," ucap Nurul menjelaskan.
Tiba-tiba, dari luar kelas terlihat Zen dan Adrian yang akan menghampiriku.
Kemudian, Adrian menarik sebuah kursi dan duduk persis di sampingku.
"Di, apa kamu baik-baik saja?" tanya Adrian sambil menatapku.
Lagi-lagi aku hanya mengangguk, aku sangat canggung dengan situasi ini.
Aku merasa tak nyaman saat Adrian duduk sangat dekat denganku.
Aku tak enak hati dengan Nurul yang masih bersamaku.
Aku juga sangat sungkan dengan Zen yang berdiri di dekat Adrian. Apalagi Zen menatapku sangat lekat. Seolah memberi isyarat agar aku sedikit menjauh dari Adrian.
"Maafkan aku ya, Di! Karena tiga hari ini, aku dan Zen sangat sibuk mengurusi OSIS. Sehingga tidak mengetahui apa yang telah di perbuat Tania," ucap Adrian meminta maaf.
"Kalau aku tahu, akan ku copot foto-foto tadi dari kemarin!" tegas Adrian seperti terlihat marah.
"Memang kau berani?" tanyaku menggoda Adrian.
"Tidak juga... hehe" jawab Adrian.
"Tunggu!!" ujar Adrian lagi. Lalu dia malah menarik tanganku dan memperhatikan sesuatu di pergelangan tanganku.
"Sial! Sepertinya dia menyadari jam tangan yang ku pakai saat ini," batinku.
"Apa ini? Tidak biasanya kau memakai jam tangan, Di!" ujar Adrian penasaran.
"Hmm... ini..." sekilas aku menatap Zen, meminta bantuan bagaimana aku harus menjelaskan.
Namun, Zen hanya bergeming. Menoleh pun tidak, seperti tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Ahh,, aku harus bagaimana ini?? Diana
"Kaya pernah liat! Dimana yaa??" Ingatan Adrian mencoba menajamkan memorynya.
"Ya iyalah, inikan di pasaran juga banyak! haha" kataku menjelaskan. Tapi, sepertinya Adrian belum puas mendengarnya.
"Bukan ahh! Ini itu seperti Limited Edition!" lanjut Adrian.
"Mana mungkin Adrian, mana mampu aku beli kaya gituan!" ucapku masih mengelak.
"Iya dehh, aku ngaku. Jam tangan aku ini, di kasih temen tau..." sambil kedua mataku mencoba lagi memberi isyarat kepada Zen.
Sekarang, Zen merespon dengan gelengan kepalanya.
"Siapa?" tanya Adrian sambil menatap ku dengan tatapan tajamnya.
Aku yang di tatap otomatis merasa risih, dengan sikap Adrian yang sedikit berlebihan.
"Apa dia tidak sadar posisiku sekarang ya?" gumam batinku.
__ADS_1
"Kenang-kenangan dari Hans!" jelasku dengan tegas.
Sebelum Adrian membuka mulutnya untuk bertanya kembali, aku terlebih dahulu menyergahnya untuk tidak berucap lagi.
"Jangan kepo!" sergahku lalu beranjak pergi meninggalkan Adrian dengan rasa penasarannya.
Sepertinya, Nurul juga tidak mengikutiku.
Tapi, ada langkah seseorang yang mengekor di belakangku.
Aku berjalan menuju arah ke perpustakaan.
Langkah itu masih di belakangku.
Setibanya di perpustakaan, aku mengambil sebuah buku di jajaran teratas lemari buku.
Namun, tanganku kalah cepat dengan tangan seseorang.
"Kau mau ngambil buku ini?" tangan Zen menunjukkan buku yang akan aku pilih tadi.
"Iya," tanganku hampir meraih buku tersebut. Tapi, Zen malah mempermainkan ku dengan membalikkan buku tersebut ke belakang tubuhnya.
"Apaan sih, Zen?" tanyaku sambil menyilangkan kedua tanganku di dada dan memasang wajah yang cemberut.
"Kenapa kau malah menyebut kenang-kenangan dari orang lain, sih?" Zen malah balik bertanya.
"Kan, kamu yang geleng-geleng. Berarti kamu yang ngelarang, donk!" ucapku merasa tidak bersalah.
"Gak usah pake nama orang juga kali!"
"Nama orang siapa?" pura-pura bodoh aja deh! hehe
"Siapa tau Zen peka!" batinku.
"Hans! Apa hubunganmu dengan Hans?"
Zen menatapku lebih dekat dengan tatapan tajamnya.
Refleks, aku memundurkan kepalaku ke belakang.
"Kau cemburu, yaa??" godaku kepada Zen.
Namun, tak di sangka tanganku di tarik kasar oleh seseorang.
"Tania!" ucapku terkejut.
Aku di tarik ke pojok ruangan, di dorong hingga tubuhku menempel di dinding.
"Zen, aku butuh kamu Zen. Kamu dimana?" gumam hatiku merasa takut.
"Kau ya!" ujar Tania sambil menunjuk dadaku. "Aku sudah memperingatkan mu! Apa kurang, tadi pagi aku membongkar kedok mu, Diana! Apa aku perlu menghancurkan hidup mu juga, hah!" ancam Tania.
"Tania. Hentikan!" bentak Zen kepada Tania. Lalu, Zen menarik tubuhku yang tadi hampir terhimpit oleh tubuh Tania.
"Awas kau, ya! Jika berani menyentuh atau menyakiti Diana!" Kini Zen yang mengancam Tania.
Aku merasa Zen seperti dewa penolongku.
Menyelamatkanku dari terkaman macan betina yang sedang mengamuk.
Tapi, aku berusaha tenang agar aku tak terlalu berhutang budi kepada Zen.
"Maaf, Kak Tania. Kakak bisa pastikan, jika antara aku dan Zen tidak ada apa-apa. Kami hanya sebatas... Teman!" ucapku memperagakan ketika Zen mengucapkan kata teman kepadaku.
"Iya, kan Zen?" tanyaku memastikan perasaanku.
__ADS_1
Bersambung...