
"Maaf, Kak Tania. Kakak bisa pastikan, jika antara aku dan Zen tidak ada apa-apa. Kami hanya sebatas... Teman!" ucapku memperagakan ketika Zen mengucapkan kata teman kepadaku.
"Iya, kan Zen?" tanyaku memastikan perasaanku.
Muncul dua raut wajah yang berbeda. Tania terlihat senang dengan apa yang aku katakan. Sedangkan Zen, dia terlihat kecewa dengan apa yang aku ucapkan.
Tapi kenapa juga dia kecewa, kan memang benar dia hanya menganggapku sebatas teman.
"Ada yang salah dengan perkataanku gitu?" batinku yang merasa aneh ketika tangan Zen malah menarik tanganku dengan kasar. Dia seperti marah kepadaku.
Lalu, membawaku meninggalkan Tania yang sepertinya ia kegirangan mendengar status ku dengan Zen.
"Setelah pulang nanti, ku tunggu kau di gubuk belakang sekolah!" titah Zen kepadaku. Dia berbicara sambil terus menarik tanganku di belakangnya.
"Mau apa?" tanyaku yang masih ragu untuk menemuinya nanti atau tidak.
Aku berjalan seperti orang yang melakukan kesalahan saja, setiap mata yang memandang tanganku di tarik oleh Zen, seolah beranggapan aku inilah si pembuat onar.
"Lepaskan tanganmu!" perintahku kepada Zen. Seketika langkah kaki kami terhenti.
Tiba-tiba bel tanda masuk pun berbunyi.
Aku berlari mendahului Zen tanpa menengok lagi ke belakang.
***
Ku lalui pelajaran demi pelajaran di jam pertama. Meskipun tadi sempat ada beberapa bab pelajaran yang tertinggal, untungnya kemarin sore aku meminjam buku Nurul dan menyalinnya dengan cermat.
Setelah jam pelajaran pertama usai, sekarang waktunya untuk beristirahat.
Aku memutuskan untuk menikmati kesejukan taman sambil menghabiskan bekal makananku.
Di sampingku, Nurul sedang menikmati jajanannya yang ia beli tadi dari kantin.
Dari kejauhan, terlihat Adrian dan Zen yang sedang asyik duduk di bangku taman.
Adrian terlihat tersenyum kepadaku saat aku kepergok menatap mereka. Padahal maksud ku, aku ingin menikmati menatap pesona Tukang Es dari kejauhan.
"Haha... Tukang Es!" masih sangat geli ketika aku mengucapkannya.
Tak disangka tanpa aku menyadari, Adrian sudah duduk bersimpuh tepat di hadapanku.
"Diana, apa kamu mau jadi pacarku?" ucap Adrian mengejutkanku. Tanpa basa-basi lagi, dia mengatakan cinta kepadaku.
"Uhukk ...uhukk.." Aku tersedak dengan makananku. Lagi-lagi aku di buat tersenyum kikuk dengan tingkah Adrian.
Aku merasa sangat tidak nyaman dengan sikap Adrian. Apalagi di sebelahku, Nurul sedang memperhatikan kejadian ini. Wajah Nurul terlihat sangat kecewa dengan yang di ucapkan Adrian kepadaku, seperti sedang menahan air matanya yang akan mengalir.
Sering sekali aku merasakan situasi seperti saat ini. Sikap Adrian yang berlebihan kepadaku, apalagi di saat aku sedang bersama Nurul ataupun Zen.
Tapi kali ini jauh melebihi batas, ini jauh lebih meningkatkan resiko persahabatan ku dengan Nurul.
Aku berusaha memastikan kepada Nurul dengan gelengan kepalaku.
Namun, Nurul hanya memberikan senyuman kekecewaan kepadaku.
Di tambah tatapan Zen yang bergeming dari kejauhan. Seolah dia tidak ingin melewatkan satu katapun yang keluar dari mulut Adrian.
Memang benar apa yang pernah di katakan Zen kepadaku, pada saat aku sedang makan siang bersama Zen di waktu yang lalu. Dia pernah mengatakan, kalau Adrian itu memang tipe laki-laki yang mudah untuk mengutarakan perasaannya.
"Aduuh... bagaimana ini?" batinku risau dengan situasi ini.
__ADS_1
"Haha... kamu bercanda deh, Adrian." tawaku berusaha mencairkan suasana yang mencekam.
"Kaya mau diterkam harimau aja, pake mencekam! haha" Author.
"Ya iyalah, Author mah gak ngerasain jadi aku sih!" Diana.
"Ya emang, aku mah nggak pernah tuh di gituin!" Author.
Hihi... kenapa Authornya yang jadi curhat yah?😅
Lanjut...
"Serius, Di. Aku suka sama kamu, aku suka kepribadian kamu. Aku jatuh cinta saat..."
Belum juga Adrian menuntaskan ucapannya, aku langsung memotongnya.
"Sudahlah, Adrian. Kita masih sekolah, kita masih punya masa depan yang harus kita raih. Semangatku hanya untuk meraih cita-cita dan impianku," tegasku menolak Adrian secara halus.
"Aku lebih nyaman menjadi teman dan sahabat bagi kamu, Adrian.
Suatu saat kamu pasti menemukan orang yang terbaik untuk menjadi teman hidupmu.
Saat ini, kewajiban kita hanya belajar dengan sungguh-sungguh, agar mendapatkan masa depan yang cerah supaya bisa bahagia dan membahagiakan orang yang kita sayangi," ucapku mengingatkan Adrian.
Terlihat wajah Adrian menunduk karena mungkin merasa kecewa dan malu akan semua ucapan yang aku katakan.
Adrian sadar bahwa selama ini, dirinya terlalu banyak mempermainkan hati wanita.
Dia terlalu sombong, karena dirinya merasa bangga telah banyak menaklukan beberapa wanita. Padahal, kewajiban sesungguhnya sebagai pelajar adalah belajar dan belajar.
Karena, hidup ini bukan semata-mata hanya untuk bermain. Tapi, butuh perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karena jam pelajaran selanjutnya akan segera di mulai.
Aku melihat raut wajah Nurul yang sedikit terlihat senang. Mungkin, merasa lega karena aku menolak Adrian.
Adrian juga seperti itu, sepertinya ia bisa memahami kenapa aku menolaknya.
"Jadi muncul keinginanku, untuk bisa menyatukan Adrian dan Nurul, ya!" pikirku.
Jiwa makcomblang ku jadi keluar deh! hehe Diana
***
Setelah hari ini menuntaskan belajar mengajar di kelasku, akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu untuk pulang pun tiba.
"Diana, ikut aku!" perintah Zen sambil berlalu meninggalkan ku dan Nurul yang sedang mengemas buku pelajaran hari ini.
"Nur, kamu pulang duluan, ya. Aku ada urusan dulu yang harus aku selesaikan," ucapku kepada Nurul.
"Kamu gak papa, Di. Kalau harus pulang sendirian?" tanya Nurul mencemaskanku.
"Gak papa, kok. Aku pasti baik-baik saja.
Aku minta maaf ya, gak bisa bareng pulang sama kamu," ujarku meyakinkan Nurul.
Akhirnya, Nurul pun pulang sendirian.
Sedangkan, aku melangkahkan kakiku ke tempat yang Zen minta tadi pagi.
Setelah sampai di gubuk belakang sekolah, aku melihat Zen yang sedang berdiri menatap gunung-gunung yang terlihat indah dari kejauhan.
__ADS_1
Aku duduk di gubuk itu, tepat berada di belakang Zen.
"Zen, aku harus pulang. Aku harus bekerja!" ucapku mencari alasan agar terhindar dari pertemuan ini.
"Aku sudah meminta izin kepada Kak Fadly tadi. Sudahlah jangan mencari alasan yang tak penting!" jawab Zen seolah mengetahui hatiku yang akan mencari alasan melalui pekerjaanku.
Akhirnya, aku hanya duduk manis di belakang Zen, tanpa ada bantahan lagi yang keluar dari mulutku.
"Bisa kan jika kau menungguku?" Zen mengawali pembicaraan seriusnya denganku, namun masih berdiri membelakangiku.
"Dari tadi juga aku masih menunggumu," jawabku dengan polosnya.
"Maksudku, aku mau kamu menjaga hatimu hanya untukku. Aku tahu kamu mencintaiku kan?" tanya Zen sambil membalikkan tubuhnya lalu menatapku sangat lekat.
"Apa?" aku merasa terkejut dengan apa yang tiba-tiba Zen utarakan.
"Zen, aku sadar siapa diriku. Aku tidak akan berharap lebih kepadamu. Berulang kali aku telah mendapatkan kepastian dari dirimu, kamu hanya menganggapku sebagai teman kan, Zen?" tanyaku memastikan kepada Zen.
"Tidak, Diana," ujar Zen lalu duduk di sampingku.
"Aku mengatakan hal itu hanya untuk menjaga perasaanku. Aku ingin memilikimu di waktu yang tepat. Mengikatmu di waktu yang seharusnya. Aku hanya ingin bersamamu ketika Ijab Qobul sudah terucap," jelas Zen kepadaku.
"Apaan sih, Zen. Itukan omongan orang dewasa," ucapku berusaha menutupi kesenanganku karena ternyata cintaku terbalaskan.
"Aku serius, Diana. Tadinya aku pikir, aku akan mengatakannya nanti setelah kita lulus. Tapi mendengar Adrian menyatakan perasaannya, aku merasa jadi tak ingin kehilanganmu," ucap Zen lalu memegang kedua tanganku.
"Sudahlah Zen, kamu dengar kan apa yang aku ucapkan sama Adrian?" elakku masih tak ingin menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya.
"Lagi pula, aku tahu kok kamu akan di jodohkan sama Tania."
Deg!
Zen merasa tidak menyangka, kalau Diana mengetahui tentang perjodohan ini.
"Tapi itu kan baru rencana, Di," bujuk Zen agar aku bisa menerima alasannya.
"Aku tidak ingin Ayahku mengatur hidup ku.
Aku berusaha untuk tidak mengutarakan perasaanku, karena aku tidak mau ada coretan nama kamu di hatiku. Aku hanya ingin dekat dengan mu sebagai teman terindahmu. Dan menjadi imam mu setelah Tuhan memberikan restu-Nya."
"Maksud kamu?" tanyaku yang tidak mengerti perkataan Zen.
"Iya, aku memilih dekat denganmu tanpa status, bukan berarti aku hanya memberikan harapan palsu bagi dirimu. Tapi, aku takut cinta ini hanya cinta monyet belaka. Yang bisa berubah saat hati ini merasa bosan," lanjut Zen meyakinkanku.
"Kamu tahu kan kalau aku tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita pun?" tanya Zen kepadaku.
Aku hanya mengangguk, karena aku tahu, "Siapa sih yang tidak mengenal sikap dingin Zen?" batinku.
"Iya, itu karena aku hanya ingin menyimpan satu nama di hatiku. Aku hanya ingin mengukir namamu di lubuk hatiku.
Menjadi cinta pertama dan terakhir dalam perjalanan cintaku," ucap Zen mengatakan perasaannya.
Aku hanya termenung, mengingat kejadian demi kejadian di hari ini.
"Padahal aku kan biasa saja, cantik banget juga tidak. Tapi kenapa dua laki-laki sekaligus yang menyatakan perasaannya di hari yang sama lagi!" batinku.
"Di, kamu mau kan menungguku hingga aku menyelesaikan kuliahku nanti?" Zen bertanya lagi kepadaku.
"Aku....."
Bersambung...
__ADS_1