CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Kepoin Zen


__ADS_3

Setelah kepergian Zen, aku pun berbalik menyeret kakiku untuk dapat melangkah menuju ke dalam rumah.


Sesampainya di rumah, aku menyimpan tasku di sofa dan langsung pergi ke arah kamarku, lalu merebahkan tubuhku di atas kasur yang sedikit bergerindil. Maklum, bukan kasur busa yang empuk yang biasa di pakai orang. Tapi, kasur yang terbuat dari kapuk yang sudah sedikit berumur.


Entah karena sudah terbiasa, tapi rasanya tidurku selalu terlelap berada di kasur ini.


Sambil rebahan, aku mengingat lagi kejadian saat Zen meminta nomor ponselku.


Setelah aku mengembalikan ponselnya tadi, Zen meraihnya lalu mengetik sesuatu. Seperti sedang memberi nama untuk kontakku. Tapi anehnya, ada seringai licik yang muncul di bibir tipisnya.


Aku berfikir, "Nama apa ya, yang ditulis Zen di kontak ponselnya?" gumamku.


"Untuk apa juga dia meminta nomorku!" Berfikir sejenak, "Ahh, paling juga memudahkan dia untuk menyuruhku mengerjakan tugasnya," ucapku yang tak berharap banyak. Dan tak lama kemudian, karena kepalaku masih terasa pusing akupun terlelap tidur.


***


Trrttt...


Ponselku bergetar lalu berdering sangat nyaring. Karena aku sedikit pelupa, aku mensetting volumenya sampai full. Jikalau aku lupa menyimpannya, maka ponsel tersebut dapat terdengar ke seluruh penjuru di rumahku.


Hingga aku terkejut sendiri dengan nyaringnya suara ponsel tersebut. Aku terjatuh dari ranjang tempat tidurku.


Dengan merangkak, aku meraih ponsel di atas nakas. Lalu perlahan membuka mataku, melihat siapa yang memanggil di layar ponselku. Nomor dari orang yang tidak dikenal. Tanganku dengan hati-hati menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Hallo!" ucapku. Tapi, tiba-tiba panggilan di matikan.


"Siapa sih yang mengganggu tidurku!" keluhku sambil mengumpulkan kesadaran yang tadi hilang di bawa oleh mimpi.


Betapa terkejutnya aku, ketika melihat banyak miscall yang tampil di layar notifikasi. Limabelas panggilan tak terjawab, dan beberapa pesan chatt.


Ku buka satu persatu pesan chatt tersebut.


/Jangan lupa istirahat, agar cepet sembuh./ 10.30


/Jangan lupa makan, makan makanan yang sehat./11.45


/Jangan tidur mulu, nanti perutmu kelaparan!!/ 12.13


"Ahh.. empat puluh lima menit yang lalu, tumben siapa ya, perhatian banget?"


Aku mengklik poto profilnya, tak asing lagi dengan wajahnya.


Aku merasa senang, tapi aku menahan perasaanku, agar tidak boleh mengharapkannya lebih.


Lalu jari-jariku mengetik beberapa huruf, hingga merangkai sebuah kata, "Tukang Es" haha. Kutulis nama itu di nama kontaknya. Benarkan, jikalau es itu dingin, dia itu orang yang paling dingin yang pernah aku temui. Dingin sedingin es di kutub utara. Karena, dia tak bisa bersikap selayaknya Adrian. Selayaknya manusia normal. Bisa ngobrol, bercanda, murah senyum, sedangkan Zen membalas senyuman orang pun jarang.


"Aku jadi ingin merasa kepoin dia, ya!" pikiran anehku muncul. Tapi, ku lihat jam yang ada di sudut atas ponselku, menuliskan angka (13.34).


Aku teringat kalau aku harus berangkat bekerja. Tapi perban yang melingkar di kepalaku saja belum kering dari tetesan obat merah. Itu artinya, aku harus minta izin lagi untuk tidak masuk kerja.


"Sepertinya di bulan ini, jangankan... mendapat bonus, sepertinya gajiku juga akan berkurang. Itu pasti," keluhku merasa tak berdaya.


Cekrek!! Cekrek!!


Aku mengambil beberapa foto yang memperlihatkan kepalaku terbalut dengan perban, untuk di kirimkan ke Kak Fadly. Itu lho, rekan kerjaku di bengkel pamanku.


Kulihat satu persatu foto tersebut, "Jangan yang ini, kalau aku tersenyum manis kaya gini. Nanti, Kak Fadly kira aku pura-pura lagi!"


Ibu jariku menggeser lagi kesebelah kanan,


"Nah, ini nih! Matanya merem, kelihatan seperti orang sakit beneran!" gumamku lagi.


Padahalkan, aku memang sakit ya.


Sesaat setelah pesanku terkirim, ponselku berdering lagi. Ku kira balasan dari Kak Fadly.

__ADS_1


/Kau mau menungguku mati penasaran, menunggu jawaban darimu!!😡😡/


"Emojinya marah pula," pikirku. "Kapan juga dia bertanya!" *Sepertinya aku kurang peka. haha*


Aku langsung mengetikan sebuah kalimat, langsung mengirimnya ke kontak Tukang Es.


Setelah itu, tak ada jawaban lagi darinya.


Hanya muncul notifikasi dari Kak Fadly.


/Kamu gak papa kan, Di?/ tanya Kak Fadly via whatsapp.


/Gak papa ko' Kak. Aku hanya butuh istirahat saja. Aku minta maaf ya, Kak.


Akhir-akhir ini aku sering bolos bekerja./ balasku.


/Iya, Di. Gak papa, tunggu sembuh aja dulu. Nanti baru masuk lagi./ jawaban singkat dari Kak Fadly.


Setelah itu, aku melihat di ponselku sebuah aplikasi sosial media. Berhuruf 'F' berwarna biru. Dikarenakan aku agak sedikit kudet, jadi aku hanya memiliki satu akun media sosial.


Ehh ralat deh! bukan kudet, lebih tepatnya menghemat kuota. hehe


Setelah aplikasi itu menampilkan layar beranda, aku mengklik kolom pencarian.


Ku tulis nama Zen Nugraha.


Ternyata benar, ia menggunakan nama aslinya.


Aku jadi malu melihat profilku. Karena di bagian atas profil, terdapat nama 'Arandita sii Gadis Luchu'. Akun tersebut, aku buat waktu SMP yang masih sedikit alay.


"Gimana kalau dia mengejekku," batinku berbicara.


"Lucu dari mananya? Jelek aja ko' bangga!!" Terbayang wajah datarnya yang menghinaku.


Teringat lagi, saat makan mie ayam waktu itu. Ahh sudahlah yang lalu biarlah berlalu.


Setelah memastikan itu akun media sosialnya Zen, aku mencoba melihat-lihat isi fotonya. Banyak foto bergambar yang selalu di lukisnya. Aku baru sadar, kalau ia hobi melukis. Padahal, sering aku melihatnya di taman sambil memegang kertas gambar dan pensil warna.


"Tunggu!" mataku fokus dengan salah satu gambar.


"Bukannya, ini gubuk di belakang sekolah ya?" Masih memperhatikan gambar tersebut.


Di lukisan tersebut, tergambar jelas sebuah gubuk beratapkan jerami. Kemudian, di dalamnya ada seorang wanita berambut sebahu sedang duduk menangis. Dan dibelakang gubuk tersebut, terdapat sosok laki-laki yang sedang duduk menyandarkan bahunya.


"Ohh ternyata, waktu itu aku tak menyadari kalau dia sudah berada sebelumku, ya!" ujarku merasa senang bahwa aku berada di salah satu foto gambarnya.


"Tapi apa ini, captionnya bertuliskan..." aku mendengus kesal. Karena di bawahnya bertuliskan 'Gadis Bodoh'.


Mana mungkin kan kalau Zen benar menyukaiku.


"Jangan berharaplah, Diana. Buktinya, dia tidak menghubungiku lagi. Laki- laki masih banyak di luar sana!" Menyemangati diri sendiri.


Tapi, aku masih penasaran.


"Mungkin, ini Ayah dan Ibunya.


Ayahnya sangat gagah, tampan, dan berwibawa. Ibunya juga cantik dan berkelas." Masih melihat galery foto-fotonya.


"Ada Adrian juga!"


"Ah, semakin jauh levelku sama dia. Bagai Pangeran dan Rakyat Jelata."


"Sudah ahh, terserah Yang Maha Kuasa aja deh! Kan kalau jodoh tak akan kemana," ucapku pasrah.


Ting!

__ADS_1


Bunyi notifikasi di ponselku.


"Permintaan pertemanan anda di terima."


"Horeee...!" aku berteriak kegirangan.


Zen menerima permintaan pertemanan ku.


Ceklek!


Tiba-tiba suara pintu di depan rumahku seperti ada yang membuka.


"Assalamu'alaikum," ucap Ibu sembari masuk.


Aku langsung keluar dari kamarku.


"Wa'alaikum salam, Bu. Ibu baru pulang?" tanyaku sambil membawakan tas Ibu.


"Iya, Di. Baru saja sampe. Tadi kenapa, Di. Sepertinya kamu berteriak teriak?"


"Ahh.. enggak Bu," senyum-senyum sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Ya Allah Diana, kenapa dengan kepalamu?" tanya Ibu khawatir, dan baru 'ngeuh dengan kepalaku.


"Ini, Bu. Tadi aku keserimpet waktu di sekolah. Akhirnya aku terjatuh dan kepalaku terbentur, Bu," jawabku bohong.


"Tapi kamu tidak apa-apakan?"


"Alhamdulillah baik, Bu."


"Syukurlah," ujar Ibu merasa tenang.


"Tadi Ibunya Nurul nitip salam untukmu, menyampaikan banyak terimakasih kepadamu," lanjut Ibu, lalu duduk disampingku dan mengusap punggung tanganku.


"Ibu sangat bangga kepadamu, Di," puji ibu sambil mengusap lembut rambutku.


"Ahh, Ibu bisa saja." aku hanya tersenyum tersipu malu.


Epilog


Sementara di rumah Zen, seorang laki-laki baru selesai dari kamar mandi. Masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dada bidangnya yang masih terbuka memperlihatkan tubuh sempurnanya.


"Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?"


Saking sempurnanya tubuh seorang Zen. Siapapun yang melihatnya akan terpesona dengan tubuh sixpacknya. Meskipun masih remaja, tapi ia sangat senang berolahraga.


Sambil mengeringkan rambutnya, ia melangkahkan kakinya menuju sofa.


Meraih ponselnya, lalu membuka notifikasi satu persatu.


"Konfirmasi," begitu ibu jarinya mengklik kolom tersebut. Tanda bahwa dirinya menerima pertemanan yang berada di sebuah aplikasi sosial media.


Kemudian membuka pesan whatsapp dari orang yang diharapkannya. Ia tersenyum senang, namun setelah membaca pesannya wajahnya berubah menjadi kecut seperti baju jemuran kusut yang tak mendapat gosokan dari setrika.


/Terimakasih atas perhatiannya,


Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh... hehe.../ begitu balasan whatsapp dari Diana.


Zen pun mendengus kesal, lalu melemparkan hpnya ke sudut sofa.


***Bersambung...


*Jangan lupa like, koment dan votenya ya readers...


Mari saling memberi kebahagiaan🙏😚💖💖****

__ADS_1


__ADS_2