CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Kepercayaan Paman


__ADS_3

"Hai, Adik manis..." sapaku pada gadis kecil yang memergokiku saat Zen mendaratkan ciumannya.


Dia masih memberikan senyuman polosnya.


"Kenapa aku yang jadi malu sendiri, ya?" gumam batinku.


Akupun melangkahkan kakiku mendekati gadis manis yang masih berdiri di balik pagar rumahku.


"Ada apa, Neng Alea?" tanyaku sambil tersenyum pada gadis kecil itu.


"Kakak... Kakak... lagi apa tadi?" tanya Alea dengan polosnya.


Akupun tersenyum kikuk mendengar pertanyaannya. Bukannya menjawab pertanyaanku malah balik bertanya.


"Dasar, bocah!" makiku dalam hati.


"Alea... Alea..." terdengar suara ibunya memanggil dari kejauhan.


"Kakak, aku pulang dulu, ya..." pamit Alea kepadaku.


Akupun hanya membalas dengan anggukan kepala.


Cih! Dasar bocah, itu saja yang kau lakukan! Diana


***


Setelah kepergian Zen, akupun berniat untuk pergi ke bengkel pamanku. Sepertinya hari-hari kedepan, bengkel akan menjadi tempat untuk menghabiskan seluruh waktuku.


Akupun bersiap-siap untuk berangkat ke sana. Ku ambil tas kecilku yang berwarna pink lalu menyelempangkannya di pundakku. Tak lupa aku memasukkan ponselku ke dalamnya.


Setelah aku merasa siap, akupun bergegas mengunci pintu. Kemudian menyeret kakiku menuju tempat sepeda yang ku parkir di sudut bagian rumahku.


Aku melajukan sepedaku dengan santai. Karena di siang ini, cuaca sedang meredup, sehingga terik matahari tidak terlalu menyengat ketika menembus kulitku.


Sepertinya, langit akan menurunkan hujannya. Memberikan salah satu sumber kehidupan yang sangat di rindukan oleh penduduk bumi.


Kenapa? Karena sudah sekian lama musim kemarau melanda bumi tercinta ini.


Jika pun turun hujan, tapi air dari langit tersebut datangnya hanya sebentar. Belum juga tumbuh-tumbuhan minum menghilangkan dahaga mereka, hujan telah tiada.


Sehingga, pasokan air mulai berkurang dimana-mana.


Terkadang, meskipun Tuhan menurunkan rahmat-Nya. Namun, karena ulah dan keserakahan manusia, yang tadinya rahmat malah menjadi malapetaka.


Longsor datang tanpa di undang, dan banjir di kota-kota pun sudah seperti makanan yang biasa hadir ketika musim hujan tiba. Ditambah lagi, jika banjir bandang melanda, sungguh mengkhawatirkan nasib penduduk di negeri ini.


Maka dari itu, kita wajib menjaga keseimbangan bumi ini. Dengan cara tidak menebang pohon sembarangan, kalaupun harus di tebang, biasakan menanam benih-benih pohon yang baru. Untuk kehidupan anak cucu kita di kemudian hari.


Begitu tulisan yang aku baca di buku PLH. hehe


Laju sepedaku terhenti sejenak, ketika mataku melihat bungkusan plastik bekas mie instan dan bekas minuman bersoda. Padahal, tong sampah tidak terlalu jauh dari sampah plastik itu.


Namun tetap saja, ada manusia yang masih dengan enggannya untuk membuang sampah pada tempatnya.


Padahal, langkah kecil yang bisa kita lakukan dengan mudah ini berdampak besar pada keselamatan bumi ini.


Akupun menjulurkan tanganku meraih sampah-sampah tadi, lalu berjalan menuju tempat sampah yang telah di sediakan oleh pemerintah ini.


Setelah selesai membuang sampah, aku langsung melajukan kembali sepedaku menuju bengkel pamanku.


Sesaat setelah sampai di bengkel, akupun mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum semua..." sapaku kepada semua penghuni di bengkel ini.


Baik itu penghuni nyata maupun tak kasat mata. haha


"Wa'alaikum salam," jawab mereka serempak.


"Curhat donk, Mah..."


"Iya, donk..." Eh, Eh, salah! Inikan bukan acara Mamah dan Aa. hehe


"Tumben, Diana nyapa kita, biasanya kan cuman Fadly yang di sapa," celetuk salah seorang montir kepadaku.

__ADS_1


"Diana!" panggil montir tadi sambil menoleh ke arahku yang sedang berjalan.


Akupun menghentikan langkah kakiku.


"Sehat kamu?" tanyanya menggodaku.


"Lah! Emang aku kenapa, Mang?" jawabku bingung.


"Tumben aja nyapa!" sahut montir tadi.


"Haha... Mang.. aku sudah insyaf, jadi aku nyapa kalian deh!" ucapku sambil tertawa.


Sedangkan Kak Fadly, dia hanya cekikikan menonton kejadian ini.


"Diana!" seru Paman ketika melihat kedatanganku.


Akupun mendekatinya, lalu mencium punggung tangannya.


"Iya, Paman. Kapan Paman pulang dari luar kota?" tanyaku yang heran melihat keberadaan Paman. Biasanya pamanku jarang sekali ada di bengkel. Maka dari itu, semua tanggung jawab mengenai bengkel ini di serahkan kepada Kak Fadly.


"Iya, Di. Paman baru sampai tadi." jawab pamanku dengan singkat.


Bisa ikut Paman, masuk ke dalam?" pinta Paman kepadaku.


Aku hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalaku.


Aku mengekor di belakang Paman. Paman membawaku masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya, bengkel yang ada di depan, menyatu dengan rumah milik Paman. Bisa dibilang, kalau halaman depan rumah Paman dipergunakan untuk membuka sebuah bengkel.


"Duduk, Di." ucap Paman mempersilahkanku duduk di sofa ruang tamu.


"Terimakasih, Paman," ujarku lalu duduk berhadap-hadapan dengan pamanku.


"Ada apa ya Paman memanggilku?" tanyaku penasaran. Karena tidak biasanya Paman memintaku secara khusus seperti ini.


"Terus, Bibi kemana Paman? Tidak ikut?" tanyaku sambil celingukan mencari keberadaan bibiku.


"Tidak, Di. Bibi sibuk di luar kota." jawab Paman.


"Ah, iya, Paman..." ucapku sambil menundukkan kepalaku.


"Kan, sayang, Di. Prestasi kamu akan terhenti?" ujar Paman antusias.


"Ya, mau bagaimana lagi, Paman. Uangku belum cukup untuk itu. Uang bulanan yang di berikan ayah pun, hanya mencukupi kebutuhanku saja," keluhku yang masih belum berani menatap kedua matanya.


"Jadi, kamu menghentikan kuliahmu?" tegas Paman.


"Kalau rencana sih tidak, Paman. Aku akan mencoba menabung sedikit demi sedikit lagi, hingga nanti bisa meneruskan kuliahku," ucapku meyakinkan.


"Ya, baguslah. Paman harap kamu bisa bersekolah setinggi-tingginya. Meraih semua harapan dan impianmu."


Aku hanya membalas ucapan Paman dengan senyuman.


"Sebenarnya, kepulangan Paman ini, ada keperluan penting mengenai dirimu, Diana!"


"Apa, Paman?" ucapku terkejut. Karena, aku takut aku telah membuat kesalahan, soalnya akhir-akhir ini aku jarang sekali masuk kerja di karenakan kesibukan di sekolahku.


"Hmm.. begini Diana. Paman kan buka cabang baru di luar kota. Kamu tahu kan?" tanya Paman sambil menatapku.


"Iya," aku mengangguk.


"Nah, di karenakan akhir-akhir ini Paman sibuk dengan cabang yang baru. Akhirnya, Paman dan Bibi memutuskan bengkel ini kami percayakan kepadamu, Di!" seru Paman menjelaskan semua maksud kedatangannya.


"Apa Paman?" aku menggeleng,


"Aku belum siap, Paman. Aku belum mampu mengelola segala urusan bengkel ini!" jawabku merasa belum pantas memegang penuh akan bengkel ini.


"Paman percaya akan kemampuan mu, Diana!" Paman menatapku mencoba meyakinkan diriku.


"Paman, sudah bertukar cerita dengan Fadly tentang loyalitas mu, Diana.


Kamu selain bekerja keras, juga berkualitas dalam mengolah bengkel ini. Keramah tamahanmu pada konsumen, menambah banyak pelanggan di bengkel ini," ucap Paman sangat yakin kepadaku.

__ADS_1


"Apa tadi... ramah tamah?" pikirku mengingat sesuatu.


Bagaimana aku tidak ramah coba, namanya kerja di bengkel, ada aja orang yang sekedar minta tanda tanganlah, minta nomor ponsel lah, bahkan ada juga yang minta foto segala.


Memangnya, aku selebritis kali, ya?? Diana


Tapi, terkadang aku senang juga kalau yang mintanya laki-laki terus tampan lagi, lebih-lebih ngasih tip, mau minta nomor pun aku kasih. haha


Nah, kalau sedang sial, yang minta bukannya laki-laki tampan, malah bapak-bapak, terus maksa lagi, gak tahu diri kali ya?! huh...


"Diana... gimana?" tanya Paman seperti memintaku segera mengambil keputusan.


"Memangnya, Paman seratus persen percaya kepadaku?" tanyaku lagi. Karena, aku tidak mau Paman percaya kepadaku hanya setengah-setengah. Takutnya, di kemudian hari Paman dan Bibi menyesali keputusannya.


"Paman dan Bibi sangat yakin kepadamu, Di. Paman sangat percaya kinerjamu sangat baik, selain kamu rajin, kamu juga sangat jujur, Di. Paman tahu itu!" tutur Paman sangat berharap kepadaku.


"Paman yakin, dengan kejujuranmu, kamu akan memajukan bengkel ini. Jangan khawatir, Fadly akan membimbingmu hingga kamu mampu mengurus segalanya."


"Jangan menolak ya, Di. Anggap saja Paman sedikit membantu menambah tabunganmu. Agar tabunganmu bisa terkumpul lebih cepat. Nanti, jika kamu memutuskan untuk melanjutkan kuliahmu, Paman juga tidak masalah. Kamu bisa bekerja paruh waktu sebagaimana biasanya. Dan masih bisa memegang penuh terhadap bengkel ini." jelas Paman.


"Baiklah, Paman. Terimakasih atas kepercayaan Paman dan Bibi.


Aku akan berusaha menjaga bengkel Paman dengan seluruh kemampuanku.


Sampaikan terimakasih juga untuk Bibi ya, Paman. Selama ini, aku sangat berhutang budi kepada Paman dan Bibi." tuturku berterimakasih karena pamanku telah banyak membantu aku dan ibuku.


"Iya, sama-sama, Di. Jaga dirimu baik-baik, ya. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang telah kamu miliki."


"Paman pamit, ya. Karena Paman tidak bisa lama-lama di kota ini. Banyak urusan yang harus Paman selesaikan," pamit Paman kepadaku.


Akupun beranjak lalu mencium kembali punggung tangan Paman.


Setelah itu, aku pergi terlebih dahulu meninggalkan Paman. Karena, aku harus kembali menemani Kak Fadly yang dari tadi sibuk melayani pembeli.


***


Setelah pukul 19:00, akhirnya bengkel mulai tutup. Akupun bergegas meninggalkan tempat kerjaku itu.


Trrtt... Trrtt...


Tiba-tiba ponselku bergetar. Namun, aku mengabaikannya karena aku sedang melajukan sepedaku untuk kembali ke rumahku.


Setibanya di rumah, aku bergegas pergi ke kamar mandi. Berniat membersihkan tubuh ini dari debu dan kuman yang mungkin menempel pada saat aku sedang berada di luar ruangan. Tak lama, ponselku bergetar kembali.


Kulihat di layar ponsel, ternyata seseorang melakukan panggilan ke nomor teleponku.


Aku langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Zen!" sapaku pada Zen di seberang sana.


Namun karena lelah, aku membaringkan tubuhku di atas kasur yang berada di kamarku.


"Hallo, Diana. Apa kau baik-baik saja?"


Aku masih terdiam, tanpa menjawab pertanyaan dari Zen.


"Kau sedang apa?"


"Kenapa kau tadi tidak mengangkat teleponku?"


Namun, Zen hanya mendengar hembusan nafasku. Perlahan tapi pasti aku pun terlelap.


Akhirnya aku ketiduran dan meninggalkan Zen di seberang telepon sana.


Epilog


"Kebiasaan! Tiap kali di telepon, kerjanya tidur!" ucap Zen merasa kesal ketika mendapati Diana terlelap tidur.


**Hahaha...πŸ˜‚πŸ˜‚


Bersambung...

__ADS_1


Sudah dulu ya, ternyata Diana nya ketiduran....πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚**


__ADS_2