
Trettt... Trettt... Trettt...
Ponselku bergetar beberapa kali. Karena aku sibuk melayani pembeli, hingga aku mengabaikan panggilan masuk dari ponselku.
Namun, karena penasaran aku pun mengambil ponselku di atas etalase.
"Hallo!" ucapku menjawab panggilan dari kontak Zen.
Namun, bukan suara Zen yang ku dengar dari seberang telepon. Yang terdengar adalah suara dari orang lain yang memberikan kabar kepadaku tentang keadaan Zen saat sekarang.
Hampir aku menjatuhkan ponsel yang berada dalam genggaman tanganku karena mendengar hal tak terduga tentang Zen. Namun, aku langsung sadar kalau membeli ponsel itu mahal. haha
Jadi aku kembali mengeratkan jari-jariku agar menahan ponselku supaya tidak terjatuh ke lantai.
Aku tak berucap sepatah kata pun saat mendengar penjelasan dari seorang perawat yang meneleponku. Akupun melangkahkan kaki meninggalkan bengkel dan berjalan menuju sofa di ruang tamu.
Perawat menjelaskan, kalau seseorang telah mengalami kecelakaan yang cukup hebat.
Namun, karena ponsel yang di temukan terdapat panggilan terakhir dari nomorku. Maka, perawat tadi menelepon ke nomor ponselku.
"A-Apa itu Zen?" tanyaku terbata-bata berharap bukan Zen yang menjadi korbannya.
"Dari identitas yang kami temukan dari dompet milik korban, terdapat sebuah kartu identitas yang bernama Zen Nugraha yang berusia 18 tahun," tutur perawat menjelaskan.
"Astagfirullah..." ujarku tak kuasa menahan ke dua kakiku yang terasa lemas untuk menopang beban tubuhku.
Aku bersimpuh sambil berderai air mata.
Rasanya aku tak sanggup mendengar kenyataan yang harus aku hadapi.
Namun, aku sedikit lega karena kata perawat yang meneleponku, Zen dapat terselamatkan. Hanya saja, Zen mengalami koma yang entah sampai kapan ia dapat sadar dari komanya. Bisa saja Zen koma dalam waktu satu minggu, mungkin bisa satu bulan, bahkan satu tahun atau lebih dari itu.
Karena kepala Zen terbentur cukup keras ke aspal jalanan. Hingga membuat luka dalam di bagian kepala Zen. Namun, rahmat Allah masih menghendakinya. Karena Zen beruntung, ia tidak terlindas truk tronton yang saat itu kebetulan melintas di jalanan tempat kecelakaan yang menimpa Zen.
Jika truk itu satu senti saja mendekat ke arah dimana Zen tersungkur, entah bagaimana nasib Zen saat ini.
"Terimakasih, Sus. Atas informasi yang telah di berikan Suster kepada saya. Namun, saya belum menjadi keluarganya. Nanti saya akan kirimkan nomor telepon kedua orang tua Zen, agar Suster bisa segera menghubungi keluarganya," paparku menjelaskan.
Lalu, setelah aku memberikan nomor telepon kedua orang tua Zen, akhirnya panggilan dari Suster tadi terputus.
Aku kembali mengingat situasi saat ini. Bagaimana tidak, orang yang selama ini menemani hari-hariku, memberikan kebahagiaan ke dalam diriku, dan memberikan semua yang aku butuhkan dalam hidupku. Termasuk cinta dan kasih sayang yang tulus dari seorang Zen, tanpa ia meminta imbalan khusus dari diriku.
Sekarang, sesuatu hal yang tidak diinginkan, bahkan tidak terbayangkan sekalipun. Malah menjadi suatu kenyataan yang cukup pahit yang hadir dalam perjalanan kehidupanku.
Aku menggenggam erat kalung pemberian Zen di kala itu. Dan kalung berhurufkan 'Z' itu, kini di hujani dengan tetesan air mata yang mengalir deras di pipiku.
"Pantas saja kau tadi pagi tiba-tiba terputus, ternyata pertanda buruk sedang mengingatkan ku," ucapku ketika menyadari kalung pemberian Zen yang telah putus secara tiba-tiba.
Aku duduk di sofa sambil memeluk ke dua kakiku, jari-jari tanganku masih mengelus-elus kalung yang masih berada dalam genggaman tanganku.
Kedua mataku tak henti-hentinya mengalirkan bulir-bulir air mata yang dengan mudahnya menetes dari ujung kedua mataku.
"Kenapa semua ini terjadi kepadaku?" batinku seolah menyalahkan keadaan.
"Aku belum siap untuk kehilangan seseorang yang berharga dalam kehidupanku. Aku sangat mencintainya, sungguh aku juga sangat menyayanginya, dan aku sangat berharap untuk bisa bersamanya. Aku tak ingin kau pergi meninggalkan ku, Zen. Ingatlah kepadaku, ingatlah janjimu untukku, aku di sini menunggumu, Zen," tuturku bercucuran air mata.
"Bertahanlah untukku, Zen. Janji kita untuk bisa saling melengkapi di saat ijab qobul terucap dari kedua bibirmu. Di saat 'Arasy mendengar suaramu melafalkan janji dunia dan akhiratmu.
__ADS_1
Aku sangat menunggu waktu itu, Zen.
Separah apapun kamu di sana, semoga Allah melindungimu dan menyelamatkanmu." Do'aku berharap agar Zen selamat dan bisa sehat seperti sedia kala.
"Aku mohon jangan ambil dia dulu, Ya Allah. Aku masih belum menepati janjiku kepada ayahku. Aku ingin bersamanya di waktu yang tepat, bahagia bersamanya, suka dan duka bersamanya.
Aku dan Zen berusaha untuk bisa saling memiliki di waktu yang tepat. Kami tidak pernah melakukan apa yang Engkau larang, Ya Allah. Aku mohon jaga Zen untuk bisa bersamaku, Ya Allah."
Semakin derasnya cucuran air mataku, berharap agar Allah menyelamatkan Zen dari hal yang buruk sekalipun.
"Diana," ujar Abdi tiba-tiba muncul di hadapanku.
Aku hanya diam masih memeluk ke dua kakiku dengan pandanganku yang masih kosong.
"Maaf, aku mendengar semuanya. Tadi aku berdiri di ambang pintu, namun sepertinya kamu tidak menyadari kedatanganku," tutur Abdi menjelaskan kemunculannya di hadapanku.
"Awalnya, aku hanya ingin menyampaikan terimakasih kepadamu, Di. Karena, kamu telah memberikan diskon gratis untukku pada saat motorku di perbaiki di bengkelmu.
Namun, mendengar semua keluh kesahmu tadi, apa aku boleh memberikan sedikit nasihat untukmu?" tanya Abdi dengan suara merendah seolah takut melukai perasaanku.
Aku hanya mengangguk, padahal saat ini setengah dari kesadaranku seperti hilang entah kemana. Jiwa dan ragaku seolah terpisah dari dalam diriku. Aku masih memberikan tatapan kosong, yang seperti sadar atau tidak sadar Abdi berada tepat bersimpuh di hadapanku.
"Diana, sadarlah. Tatap kedua mataku," ucap Abdi sambil memegang ke dua tanganku.
Aku masih berderai air mata, seketika Abdi mengusap dengan lembut pipiku dengan sapu tangan yang ia keluarkan dari dalam saku celananya.
"Diana," panggil Abdi kepadaku.
Perlahan, aku mulai mengalihkan pandanganku menuju tatapan sejuk dari mata Abdi. Sedikit demi sedikit aku mulai sadar dengan situasi saat ini.
"Diana, jangan menyalahkan dirimu apalagi menyalahkan keadaan. Semua terjadi atas kehendak-Nya. Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Semua pasti ada hikmahnya, Di. Tinggal kamu yang harus bersabar dan bertawakkal kepada-Nya. Allah tidak pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya, Di," ujar Abdi menguatkanku.
"Apa yang menimpa kekasih hatimu saat ini adalah ujian terhadap cinta kalian, Di. Apa kalian mampu melewatinya, atau menyerah di tengah ujian-Nya. Semua tergantung pada kekuatan dan ketabahan hatimu, Diana. Kamu harus yakin jika Allah memberikan ujian itu karena Allah mencintai hamba-Nya."
"Teruslah semangat untuk melewatinya, Di. Aku yakin kamu mampu melaluinya, dan dapat meraih kebahagiaan di saat lulus dari ujian-Nya. Meskipun, terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi, yakinlah Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan," papar Abdi memberikan semangat kepadaku.
Aku masih diam membisu. Namun, perlahan hatiku sedikit lega mendengar nasihat dari Abdi. Mungkin, ada benarnya perkataan Abdi. Aku tak boleh egois dengan apa yang Allah kehendaki. Karena apa yang Allah kehendaki, itulah tanda kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya.
Perlahan tapi pasti aku sedikit tenang dengan hatiku. Aku mulai ikhlas apapun yang terjadi dengan hidupku maupun hidup Zen. Aku pasrahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa. Aku mulai meyakini Allah itu selalu bersama hamba-Nya dan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Rahmat dan Karunia-Nya selalu mengalir untuk hamba-Nya yang bertawakkal kepada-Nya. Karena rezeki, jodoh, bahkan maut sekalipun berada dalam kuasa-Nya.
Kita selaku hamba-Nya hanya bisa bersyukur di kala nikmat hadir dalam kehidupan kita. Begitu juga, kita hanya bisa bertawakkal dan bersabar ketika ujian datang menghampiri jalan hidup kita.
"Apa aku boleh mengantarmu?" tanya Abdi yang sekarang mulai melihat keadaanku jauh lebih baik dari pada saat ia datang tadi.
"Kemana?" jawabku bingung mendengar pertanyaan Abdi.
"Ke pusat kota dimana kekasih hatimu di rawat di sana," tutur Abdi.
Aku termenung sebentar, lalu berkata,
"Itu terlalu jauh dari kota ini, aku tidak mau merepotkanmu!" jawabku datar.
"Tidak! Aku senang bisa membantumu, anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih ku karena kebaikanmu. Boleh ya?" pinta Abdi kepadaku.
"Jangan, aku takut mengganggu sekolahmu. Lagian, bukannya sekarang masih waktu belajar online ya?" cegahku karena tidak mau berhutang budi kepada orang lain.
__ADS_1
Apalagi, mengganggu jam belajar anak sekolah. Aku tidak mau menjadi penghambat proses belajar mengajar Abdi.
Karena bagaimanapun, Abdi sedang mengenyam pendidikan di bangku sekolah.
Yang berarti, masa depan Abdi masih sangatlah panjang. Aku tidak mau Abdi terlalu dalam masuk ke kehidupanku yang rumit ini.
Dan juga, pusat kota terlalu jauh dari kota ini. Kurang lebih satu jam perjalanan baru sampai ke rumah sakit dimana Zen di rawat. Ditambah lagi, aku tidak tahu apa yang terjadi saat aku berada di sana. Aku sendiri saja tidak bisa membayangkan, bagaimana aku bisa kuat melihat Zen terbaring lemah tak berdaya di kamar rumah sakit.
"Tidak kok! Sekarang lagi libur tugas. Makannya, aku bisa mengantarmu. Kamu mau kan?" Mohon Abdi kepadaku.
Aku hanya tersenyum menganggukkan kepalaku.
"Baiklah, tunggu aku ya! Aku akan membawa mobilku terlebih dahulu," ucap Abdi.
"Apa? Mobil? Apa kau sudah memiliki SIM?" tanyaku menghentikan langkah kakinya.
"Sudah donk! KTP, STNK, dan SIM semua aku memilikinya. Hanya satu SIM yang belum aku dapatkan!" jawab Abdi menyita perhatianku.
"Satu SIM... apalagi?" tanyaku heran. Memang ada SIM yang belum di dapatkan setelah semua itu.
"Surat Izin Menikah... hahaha" goda Abdi kepadaku.
Akupun tak kuasa menahan tawaku.
"Apaan sih? Anak kecil ngomongin nikah!!
Nanti, kau menikah dengan pacarmu!!"
"Tidak, aku jomblo. Beneran!!" ujar Abdi sambil mengacungkan kedua jarinya.
"Aahhh, sudah sana!!" ucapku sambil melempar bantal sofa dari belakangku.
Sedangkan Abdi, dia hanya cekikikan melihat tingkah ku seperti anak kecil.
Bersambung.....
***
***
**Tarraaaaa.....
Diana datang kembali!!!
Apa ada yang merindukan Diana???
Ooohhh,, tidak yaaa... Hahaa
Baiklah tidak apa-apa, yang penting semangat Diana semoga tetap membara. Agar Diana bisa melanjutkan kehidupan Diana yang mulai berderai air mata.
Apa Diana mampu melewatinya?
Apa Diana bisa bersama Zen seumur hidupnya?
Simak aja kehidupan Diana selanjutnya ya readers tercinta...๐๐๐
#Salam hangat dari Diana๐๐**
__ADS_1