
Setelah beberapa hari ibunya Nurul mendapatkan donor darah, keadaannya berangsur pulih. Di hari ini, Dokter mengizinkan untuk pulang. Namun, aku dan Nurul berpamitan pulang terlebih dahulu.
Karena, ibunya Nurul akan pulang sore nanti. Sedangkan, pagi ini kami memutuskan untuk masuk sekolah. Sudah hampir seminggu, kami izin sekolah karena bolak-balik harus pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap menggunakan seragam sekolahku.
Begitu juga dengan Nurul. Tadi kami berpisah di depan rumah Nurul sesaat setelah pulang dari rumah sakit.
Setelah siap untuk berangkat ke sekolah, tiba-tiba Nurul menghampiriku di depan rumah. Dia memelukku erat, menangis sesenggukan dan berulang kali mengucapkan terimakasih. Aku jadi terharu, aku seperti bak Dewi Penolong di siang bolong. hihi
"Sudah... sudah, aku senang bisa membantumu," ujarku yang perlahan melepas pelukan Nurul.
"Tapi, bagaimana aku bisa mengganti uangmu? Apalagi, uang itu uang tabunganmu. Hasil kerja kerasmu bekerja untuk biaya kuliahmu nanti," ucap Nurul menatapku lalu meraih kedua tanganku.
"Aku ikhlas menolongmu, Nurul. Itu soal mudah, aku kan masih bekerja. Aku masih bisa menabung lagi kan! Aku sudah bertawakkal kepada Allah tentang masa depanku. Allah memberikan apa yang aku butuhkan, bukan apa yang aku inginkan. Aku hanya bisa berusaha dan berdo'a sekarang. Jika Allah menghendaki apa cita-cita dan impianku, maka tak ada yang sulit bagi Allah. Namun, jika Allah belum menghendaki keinginanku Allah lebih tahu yang terbaik untuk hidupku," ujarku menenangkan Nurul.
Nurul tersenyum masih menggenggam erat tanganku, "Terimakasih ya, Di. Aku bangga jadi sahabatmu," Nurul memelukku lagi.
"Sudahlah, ayo kita berangkat ke sekolah. Nanti kita terlambat lagi," ajakku sambil melepaskan pelukan Nurul.
Sesaat setelah sampai di sekolah, kami pun langsung menuju ke ruang kelas dan duduk di bangku tempat biasa kami duduk, lalu membuka tas yang di gendong dari sejak tadi. Beberapa hari kemarin, mungkin kursi ini kosong atau teman lain pindah duduk kesini.
Tiba-tiba Adrian menghampiriku, "Di, apa kabarmu? Kamu tidak apa-apakan? Tidak ada yang sakit?" tanya Adrian mencecarku dengan pertanyaannya dan menarik tubuhku hingga aku berdiri. Lalu membolak-balikan tubuhku seperti memastikan aku baik-baik saja.
Aku merasa risih dengan tindakannya, karena aku tidak enak dengan Nurul yang di sebelahku. Ada Zen juga yang sepertinya memperhatikanku di tempat duduknya.
"Lah, Nurul ko' gak di tanya!" aku duduk lagi dan melirik Nurul.
"Ohh iya, aku lupa. Maaf ya Nurul, tadi aku terlalu khawatir sama Diana," ujar Adrian tanpa melirik Nurul dan terus menatapku duduk tepat di kursi depan mejaku.
Aku tersenyum kikuk mendengar ucapan Adrian. Lagi-lagi aku merasa tak enak hati sama Nurul. Karena ucapan Nurul sore itu yang mengatakan bahwa dirinya menyukai Adrian.
Aku langsung memegang dagu Adrian kemudian menengokkannya ke arah Nurul.
"Lihat Nurul. Yang harus di tanya kenapa ya, Nurul. Dia yang lagi ada masalah bukan aku. Aku hanya menemaninya," ucapku mencoba mendekatkan mereka.
"Oh iya, aku denger Ibumu sakit yah. Bagaimana sekarang keadaanya?" tanya Adrian kepada Nurul.
"Alhamdulillah baik Adrian. Sekarang Ibuku jauh lebih sehat. Itu semua berkat Di..." aku langsung menutup mulut Nurul.
"Sudah ahh, ambil bukumu dan berikan kepadaku. Aku ingin menyalin beberapa pelajaran yang aku lewatkan kemarin," perintahku pada Adrian.
Aku melepas tanganku dari mulut Nurul dan langsung memberi kode kepada Nurul agar Nurul tidak bercerita apapun.
Adrian pun berbalik ke mejanya, dan mengambil beberapa buku lalu menyerahkannya kepadaku.
__ADS_1
Aku berdiri lalu meninggalkan Nurul dan Adrian berdua.
"Mau kemana, Di?" sontak Nurul memanggilku.
"Ahh, ini aku mau ke perpustakaan dulu mengambil buku paket untuk melengkapi tulisan Adrian," ucapku sambil berlalu.
Sepertinya ada seseorang yang mengikutiku. Zen, terlihat dari sudut mataku itu benar Zen.
Aku berjalan menyusuri ruang kelas menuju perpustakaan. Dan tanpa aku sadari ada penjaga sekolah berada di atap genteng sedang membenarkan genteng yang bocor karena hujan semalam.
Aku berjalan di depan pinggiran kelas tepat berada di bawah genteng. Tiba-tiba, orang-orang berteriak menatapku.
Awaaasss!
Dak!
Seperti ada yang jatuh menimpa kepalaku. Ya, genteng tanpa sengaja jatuh dari atas tepat mengenai kepalaku. Meskipun hanya ujungnya saja, tapi berhasil membuat keleyengan di kepalaku. Sepertinya ada darah menetes di ujung pelipisku.
Setelah itu hanya menyisakan bayangan hitam yang mulai gelap terlihat oleh mataku. Dan hanya sayup-sayup terdengar seperti banyak orang yang mengerubungiku, tapi ada tangan yang menarikku ke pelukannya. Dan akupun tidak sadarkan diri.
Perlahan, aku membuka kedua mataku. Aku berada di sebuah ruangan. Tidak terlalu besar, tapi membuat hidungku mengetahui ada aroma obat di ruangan ini. Ya, ruang UKS di sekolahku. Aku baru pertama kali berada di ruangan ini.
Lalu aku menoleh ke sisi kanan dan kiriku. Ada Zen dan Adrian yang sedang berdiri seperti sedang menungguku.
"Diana!" ucap keduanya bersamaan.
"Minum!" ucap keduanya lagi berbarengan.
Lalu, Zen menjulurkan tangannya hampir meraih gelas di atas meja.
"Tidak!" ujarku menyadari bahwa aku masih harus menjauhinya.
Perlahan, akhirnya Zen mundur. Kemudian, Adrianlah yang memberikan minum untukku.
Tiba-tiba, Nurul datang di balik pintu.
"Uhukk..uhukk.." sontak aku tersedak. Karena terkejut dengan kedatangan Nurul saat tangan Adrian menopang gelas yang memberi minum kepadaku.
Nurul mendekat ke arahku dan bertanya, "Apa kamu sudah merasa baikan?"
Aku hanya mengangguk.
Lagi-lagi Adrian yang berbicara, "Biar ku bantu memapahmu ya, dan aku akan mengantarmu ke dalam kelas."
Aku jadi bingung, kalau aku jalan sendiri aku tidak yakin karena kepalaku masih sedikit keleyengan. Kalau aku sama Adrian, aku merasa sungkan sama Nurul. Dan kalau sama Zen, aku kan lagi berusaha agar tidak dekat dengannya.
__ADS_1
Dan ternyata, Adrian sudah menjulurkan tangannya hampir memegang tanganku, tapi aku langsung menepisnya.
"Zen, bisa bantu aku!" ucapku pada Zen. Dengan menanggalkan segala kegengsianku, akhirnya kata itu yang terucap dari mulutku.
Zen menyeringai dari bibirnya. Dia mendekat kepadaku dan dengan lembut membantuku berdiri, lalu melingkarkan tanganku di pundaknya. Nurul membantu memegang tanganku yang sebelahnya.
Sepanjang perjalanan menuju ruang kelas, semua orang menatapku saling melempar pandangan mereka.
Dari kejauhan ada yang berbicara, "Sejak kapan Zen perhatian dengan perempuan, apalagi bisa sedekat itu, memapahnya pula.
Biasanya kan dia anti kalau bersentuhan dengan wanita," ucap salah seorang kakak kelas.
Dan ada sepasang mata menatap benci ke arah Diana.
Sepanjang jam pelajaran, aku tidak bisa fokus memperhatikan guru. Hanya merasakan denyutan di kepalaku. Hingga jam istirahat tiba, aku meminta Nurul untuk pergi ke ruang guru.
Meminta izin kepada Bu Fani agar aku di perbolehkan pulang.
Setelah Bu Fani mengizinkan, aku diantar Zen lagi untuk pulang ke rumah. Adrian juga menawariku, tapi aku menolaknya. Kebetulan, penjaga sekolah sedang sibuk sehingga tidak bisa mengantarku pulang.
"Naik!" ucap Zen sesaat setelah di parkiran motor. Lagi-lagi aku mendengar ucapan itu lagi. Aku teringat sepeda malangku, tapi tadi aku sudah menitipkannya kepada penjaga sekolah.
Dengan cepat aku naik ke jok motornya. "Pegangan!" perintah Zen lagi.
"Issh, kenapa juga aku harus bersama orang aneh ini lagi sih!" ujar penyesalanku. "Sukanya memerintah orang semaunya."
"Kau mau mati! Kalau kau pingsan di jalan gimana, aku tidak akan mau menolongmu!" ucap Zen sambil melajukan motornya.
Akhirnya aku pun mengalah, karena memang kepalaku masih terasa pusing. Akupun melingkarkan tanganku di pinggang Zen. Dan sesekali menyenderkan kepalaku di bahu Zen, karena kepalaku masih terasa muter-muter.
Di sepanjang jalan, terlihat dari kaca spion Zen menyeringaikan ujung bibirnya. Akupun tidak terlalu peduli, karena merasakan kenyamanan saat bisa memeluk Zen dari belakang.
"Cari-cari kesempatan saja ya, seenaknya kau memelukku!" ujar Zen tiba-tiba. Tanpa sadar, ternyata aku telah sampai di halaman rumahku. Akupun pamit dan tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Tunggu! Enak saja kau pergi begitu saja, bayar sekarang!"
Aku mengernyitkan dahiku, heran dengan perkataan Zen.
Lalu, Zen mengeluarkan ponsel di saku celananya.
"Simpan nomor ponselmu!" Zen mengarahkan ponselnya ke tanganku.
Akupun dengan cepat kilat, menekan-nekan tombol angka di ponsel pintarnya, memasukkan nomor ponselku yang sudah hafal di luar kepalaku.
Kemudian, Zen pun pamit pergi dan berlalu meninggalkanku.
__ADS_1
Bersambung...