
Di pagi hari, aku mencoba mengerjapkan mataku yang masih lengket. Ku turun naikkan alisku, agar mata ini bisa terbuka.
Aku masih malas untuk sekedar beranjak.
Namun, sekarang waktunya bukan untuk tidur lagi. Karena kewajiban ku sekarang adalah kerja dan kerja.
Aku mengemban tanggung jawab yang besar terhadap kepercayaan yang telah diberikan pamanku kapada diriku.
"Hoamm..." aku menggeliat mencoba mengumpulkan kesadaran yang tadi hilang di bawa mimpi-mimpi yang indah.
"Mimpi apa ya aku tadi?" mencoba mengingat-ngingat mimpi yang samar-samar melintas dalam bayangan otakku.
"Seorang laki-laki, sepertinya tampan, namanya..." seperti muncul bisikkan yang terdengar melalui telingaku.
"Abdii... Siapa Dia??" pikiranku mulai kacau ketika mengingat mimpi tentang Rizky.
"Entahlah! Aku juga tidak tahu. Mungkin Author saja yang iseng mengganggu mimpiku. haha" ucapku menyalahkan Author.
"Apa hubungannya denganku? Aku tidak salah apa-apa kepadamu!!" Author.
"Memangnya aku tidak tahu, kau akan menjodohkanku kan??" kesalku pada Author.
"Ya, itukan baru rencana. Keputusan tergantung kepadamu, Diana!!" Author.
Ting!
Bunyi notifikasi menyudahi perdebatanku dengan Author. haha
Kulirik ponselku yang tergeletak di atas kasur yang masih acak-acakan karena bekas tidurku semalam.
Deg!
Tingkat kesadaran penuhku kembali muncul.
"Zen!" ucapku mengingat tentang Zen.
"Iya, semalam dia kan meneleponku!" tuturku merasa panik karena meninggalkan panggilan dari Zen tanpa pamit.
Ku ulurkan tanganku meraih ponsel yang berada di tepian tempat tidurku.
Setelah ponsel berada di genggaman tanganku, aku pun menggeser layar ponselku untuk membuka kunci layar.
Karena, aku orangnya tidak suka ribet makannya aku tidak pernah memakai pengaman apapun.
Ditambah lagi aku sedikit pelupa, terkadang aku juga lupa hari ulang tahunku. haha
"Tapi kok, di sekolah aku bisa sedikit pintar, ya?" pikirku merasa aneh dengan diriku ini.
"Ada keajaiban Tuhan, mungkin! hihi" batinku.
Lalu aku membuka aplikasi whatsapp.
/Kebiasaan!! Tiap kali aku menelpon mu, kau selalu tidur, tidur dan tidur!!/ marah Zen melalui pesan whatsapp.
"Untung saja, Zen marahnya cuman di whatsapp. Kalau di depanku, bisa-bisa aku kabur..." gumam batinku.
/Mimpi apa kau semalam? Awas saja jika kau bermimpi tentang laki-laki lain, di mimpi mu hanya ada aku, aku dan aku!!/ tegas Zen melalui ketikan tangannya.
"Apa coba? Memangnya, aku bisa mengatur mimpiku! Dasar aneh! Cemburu juga ada batasnya. Masa mimpi di cemburuin!!" gerutuku ketika mendapat ancaman yang aneh dari Zen.
Akupun beranjak, tanpa membalas pesan yang di kirim dari Zen.
Aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi, sebelum itu tak lupa aku megisi ulang baterai ponsel ku. Karena semalam aku ketiduran, dan mode datanya masih aktif, sehingga hal itu cukup menguras baterai ponselku.
Jangan di tiru ya, kebiasaan jelekku itu. Takutnya efek radiasi dari ponsel dapat membahayakan kesehatan tubuh kita. Apalagi di waktu tidur.
Setelah, memastikan ponselku terisi baterai.
Akupun melanjutkan niatku untuk membersihkan tubuhku. Karena semalam cuaca sedikit membuatku gerah, hingga tubuhku ini terasa lengket karena cucuran keringat yang mengalir di tubuhku.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Suara ketukan pintu menyudahi ritual mandiku. Akupun bergegas memakai handuk, dan secepat mungkin aku memakai baju tidurku. Karena, hanya baju tersebutlah yang ada di kamar mandi.
Akupun menyeret kakiku untuk berjalan ke arah ketukan yang tadi terdengar saat aku sedang membersihkan tubuhku.
Ceklek!
Aku membuka pintu. Di balik pintu telah berdiri teman terbaikku yang memberikan senyuman manisnya.
"Nurul," ucapku saat melihat Nurul.
"Iya, Di. Ini aku mengantarkan sarapan pagi untukmu." ujar Nurul lalu menyodorkan satu kantong kresek kecil yang berisi sarapan untukku.
"Tadi, aku bertemu ibumu lalu beliau menitipkan sarapan ini untuk mu," tambah Nurul menjelaskan kedatangannya.
"Oh, baiklah. Terimakasih, Nur. Masuk dulu yuk!" ajakku kepada Nurul.
"Tidak, Diana. Aku masih banyak kerjaan, aku harus membantu ibuku di rumah," ucap Nurul sambil tersenyum.
"Oh, begitu, ya. Iya, aku juga mau beres-beres rumah. Nanti mau lanjut kerja," tuturku kepada Nurul.
Akhirnya, Nurul pun berpamitan kepadaku.
Setelah itu, aku mulai membereskan rumahku. Dimulai dari nyapu, ngepel, cuci baju, cuci sana, cuci sini, banyak deh pokoknya. hehe
Setelah selesai, aku pun bersiap-siap untuk pergi ke bengkel.
Tiba-tiba, ketukan pintu yang kedua kali terdengar di telingaku.
"Assalamu'alaikum..." sapaan salam dari balik pintu.
Suaranya seperti terdengar berat dan sangat tidak asing di telingaku.
Akupun mencoba perlahan memberanikan diriku, agar kaki ini mau di ajak untuk melangkah.
"Wa'alaikum salam."
"Ayah!" ucapku terkejut dengan kedatangan ayahku.
Setelah sekian lama, ia baru muncul lagi di hadapanku. Setelah ia pergi dengan wanita lain dan meninggalkanku juga ibuku.
"Apa kamu tidak ingin mempersilahkan kami masuk?" tanya ayah kepadaku.
Ya, karena ayah datang tidak seorang diri.
Ia, membawa seorang laki-laki seumuran denganku.
"Hai, Diana..." sapa orang yang bersama dengan ayahku.
"Kalian saling kenal?" tanya ayah heran karena orang tersebut mengenaliku.
Aku menggeleng, "Tidak!" ucapku sangat tegas.
"Apa kau sudah lupa kepadaku, Di?" ujarnya sambil mengelus pundaknya yang datar.
"Siapa?" tanyaku sambil mengingat-ingat seseorang yang pernah kenal denganku.
"Apa kamu Hans?" lanjutku meyakinkan pikiranku.
"Benar, Diana." ujar ayah langsung menerobos masuk ke dalam rumahku.
Karena sedari tadi kami hanya berdiri berhadap-hadapan di balik pintu.
Akupun mempersilahkan ayah dan juga Hans masuk ke dalam rumahku.
Setelah aku membuatkan minum untuk kedua orang yang menjadi tamuku hari ini, aku pun duduk berhadap-hadapan dengan mereka.
"Ada apa Ayah menemuiku?" ucapku ketus kepada ayahku.
Karena aku masih menahan kekesalanku. Aku masih mengingat kejadian dulu ketika ayah meninggalkanku.
"Di, Ayah dengar kamu tidak meneruskan kuliahmu. Dan sekarang Ayah beserta isteri Ayah, sedang mengalami sedikit kesulitan ekonomi. Jadi, mungkin Ayah belum bisa mengirim uang dulu kepadamu." tutur ayah menjelaskan kepadaku.
__ADS_1
"Lalu?" lanjutku ingin mendengar lagi tujuan kedatangan ayah.
"Iya, karena Ayah khawatir kepadamu. Selama ini, Ayah belum bisa menjagamu dengan baik. Maka dari itu, Ayah berniat menjodohkan mu dengan Hans!"
Author : "Yah, Abdii... Diana nya mau di jodohin!! Yang sabar ya, Abdii... haha"
Lanjut...
"Apa? Tidak Ayah! Aku tidak mau!!" tegasku menolak perjodohan yang di rencanakan ayah.
"Kenapa, Di? Bukannya kalian saling kenal?" tanya ayah menatapku lekat.
"Hans itu anaknya baik Diana. Dia anak saudara ibu tirimu. Dia juga anaknya pekerja keras. Pasti di kemudian hari dia bisa bertanggung jawab kepadamu," lanjut ayah menuturkan.
"Dan, Ayah yakin Hans bisa menjagamu. Sekarang, dia akan bekerja sambil kuliah di kota ini," tambah ayah lalu melirik ke arah Hans.
"Tidak, Ayah!! Aku sudah memiliki seseorang. Aku sedang menunggu orang yang akan menjadi suamiku. Aku telah berjanji kepadanya, Ayah!!" jawabku memberikan alasan.
"Siapa? Siapa dia, Diana?" bentak ayah kepadaku.
"Nanti Ayah juga akan mengetahuinya. Lagi pula, sekarang aku sudah memegang penuh bengkel paman. Jadi, aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan Ayah." ucapku merasa yakin.
"Lalu, kemana saja Ayah selama ini. Ayah pergi meninggalkan kami. Ayah juga tidak pernah memperdulikan kami. Sekarang, kenapa Ayah datang untuk mengatur kehidupanku?" jawabku tidak mau kalah.
"Diana, jaga suaramu..." cegah Hans mendengar volume suaraku yang sedikit naik.
"Apa?" jawabku sambil mendelik ke arah Hans.
"Kau tidak tahu tentang kehidupanku! Kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan! Kau juga tidak mungkin tahu bagaimana rasanya menjadi anak broken home!" bentakku pada Hans.
Sedangkan ayah, dia hanya menunduk mendengarkan segala keluh kesahku.
"Selama ini, aku cukup berusaha menguatkan diriku. Memberikan senyuman walau terkadang hatiku menangis, Ayah. Aku iri dengan orang lain, mereka memiliki keluarga yang utuh dan bisa saling menyayangi. Sedangkan aku! Ketika aku membutuhkan Ayah. Ayah kemana??" tuturku berlinang air mata.
"Ketika seharusnya aku mendapat kasih sayang penuh dari Ayah, ketika Ayah seharusnya bertanggung jawab penuh terhadapku. Ayah kemana??"
Aku mencoba mengatur nafasku. Ku hembuskan nafasku dengan kasar.
Lalu aku berkata, "Aku harus bekerja keras dengan hidupku, Ayah. Lelahnya sekolah, tidak membuatku berleha-leha menjalani kehidupanku. Dulu, aku sangat berputus asa dengan hidupku. Tapi, setelah seseorang menyadarkanku, akhirnya aku bisa berlapang dada akan semua rencana Tuhan yang di berikan kepadaku."
"Dan, sekarang, Ayah mau mengatur hidupku? Ayah mau mengatur siapa orang yang akan hidup bersamaku?"
"Jawabannya tidak, Ayah! Tidak perlu! Aku bisa menentukan kebahagiaanku sendiri, Ayah!"
Sebenarnya, mataku sudah penuh dengan genangan air mata. Namun, aku mencoba untuk tidak meneteskannya. Karena, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan ayahku.
"Diana, maafkan Ayah. Ayah tidak bisa menjadi Ayah yang baik untukmu. Ayah selalu saja membuat hatimu terluka. Ayah telah menyakiti hatimu dan ibumu, Diana. Maafkan, Ayah. Tapi, sekarang Ayah dan ibu tirimu sudah saling bersama, kamu telah memiliki adik manis di sana." jelas ayah menceritakan kehidupannya yang sekarang.
Cih! Adik manis, seenaknya kau membuat adik manis. Sedangkan ibuku, kau lukai hatinya! Diana
Kasihan, Diana. Dibalik cerianya, dia menyimpan banyak kesedihan dalam hidupnya. Hans
"Namun, sekarang Ayah belum bisa memperkenalkannya kepadamu. Ayah ingin merasa kembali dekat denganmu. Sampai kamu benar-benar menerima kami tanpa ada rasa kecewa dan tanpa ada rasa terkhianati." ucap ayah seolah aku harus bisa menerima kehidupan barunya.
"Bagaimana aku bisa menerima Ayah dan keluarga Ayah, kalau Ayah sendiri tidak memperkenalkannya kepadaku?"
ucapku berusaha menerima keadaan.
"Kalau kamu sudah ikhlas menerima semuanya, Ayah akan dengan senang hati memperkenalkannya kepadamu, Diana." ucap ayah dengan sumringah.
Aku hanya tersenyum kecil mendengar perkataan ayah.
"Di, bolehlah kamu mengenal dulu sama Hans, siapa tahu kamu ada kecocokan bersamanya." rayu ayah kepadaku.
Issh, baru saja aku mau memaafkan Ayah, tapi Ayah malah mulai lagi. Diana
"Ayah, biarlah aku menjalani kehidupanku dulu. Untuk masalah jodoh, biarlah Allah yang mengatur. Aku hanya bisa pasrah kepada-Nya."
***Bersambung...
Diana milih siapa sihh???
__ADS_1
Dan akan hidup bersama siapa, yaa??
Selalu dukung author, yaaa... di tunggu like, koment and vote nya readers sayang...hehe***