
Pagi ini, seperti biasa aku bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Sepertinya, di pagi ini juga angin berhembus dengan kencangnya. Sehingga, menambah hawa dingin yang masuk melalui celah-celah bagian rumah.
Setelah selesai mandi, rasanya tubuh ini ingin kembali merebahkan badanku dan menikmati hangatnya dari dalam selimut.
Akupun mengurungkan keinginanku. Karena, mataku ini tipe mata yang nempel langsung molor. hihi
Setelah selesai sarapan pagi, aku kembali ke kamarku untuk menyiapkan peralatan sekolah. Tiba-tiba terdengar suara mesin motor yang berhenti tepat di halaman rumahku. Terdengar bising tapi tidak memekakkan di telinga.
Tok!! Tok!!
"Assalamu'alaikum." Terdengar sapaan salam dari luar rumah.
"Wa'alaikum salam," sahut Ibu lalu membukakan pintu.
"Seperti suara..." gumamku di dalam kamar.
Aku mengenali suaranya. Ya, tidak salah lagi.
"Untuk apa sepagi ini dia datang!" bisik hatiku. Aku menguping pembicaraan dari balik pintu di kamarku. Karena, rumahku tidak terlalu besar dan kamarku terletak di kamar pertama. Sehingga, jarak antara kamarku dengan pintu depan rumahku cukup dekat.
Seorang remaja laki- laki yang terlihat tampan dengan seragam sekolahnya, di balut dengan jaket bomber berwarna putih dan abu di bagian lengannya, membuatnya terlihat tampak sempurna.
"Ada apa ya, Dik?" tanya Ibu.
"Saya Zen, Bu. Temannya Diana di sekolah," ucap Zen lalu menyalami Ibu dan mengecup punggung tangan Ibu.
"Saya ingin menjemput Diana untuk berangkat bersama ke sekolah, Bu. Kemarin, sepedanya Diana di tinggal di sekolah.
Karena, sedikit insiden yang menimpa Diana," lanjutnya.
Ibu menggangguk mengerti maksud kedatangan Zen, lalu mempersilahkan Zen masuk ke dalam rumah.
"Semalam, Diana mengirim pesan agar hari ini saya menjemputnya," ujar Zen.
Dug!
"Aww!!" pekikku tanpa suara. Aku meringis merasakan sakit di kepalaku karena membentur lemari yang ada di sebelahku.
"Apa?" aku terkejut. Lalu memastikan ponselku dan meraihnya di atas nakas.
Namun, yang terlihat dari sisa chatt semalam hanya ucapan selamat malam sebelum tidur.
"Sialan!!" aku mendengus kesal.
"Bagaimana kalau Ibuku marah nanti kepadaku?" Mengingat lagi amanat-amanat keposesifan Ibu kepadaku.
"Awas, Di. Jaga dirimu baik-baik!"
"Jangan pernah pergi dengan laki-laki tanpa status hubungan yang jelas!"
"Jangan pernah memiliki banyak pacar!"
"Kalau bisa, pacaran sekali langsung jadi!"
"Banyak pacar hanya mengundang omongan orang."
"Awas kalau kamu sampai hamil..."
"Ahh,,, banyak lagi yang di ucapkan Ibu," batinku.
Makannya dari SMP aku hanya menyandang status jomblo.
"Nasib... nasib..." gumamku. Tapi, aku percaya kalau Ibu sangat sayang kepadaku.
Menjaga harga diriku sebagai wanita. Karena Ibu bilang kalau kehormatan lebih penting dari segalanya. Jika aku memberikannya sebelum waktunya, itu akan merusak nama baikku. "Karena kan kalau laki-laki, gak dikasih sukanya ngomongin, dikasih pun mereka dengan bangganya menceritakan apa yang pernah dilakukannya!" ucapku mengingat nasehat Ibu.
Maka dari itu, aku lebih baik tidak pernah memberikan kehormatanku sebelum waktunya. Karena bisa mengangkat harga diriku sebagai wanita dihadapan suamiku kelak.
"Tunggu sebentar ya, Nak Zen. Ibu panggilkan Diana dahulu!" Sahut Ibu lalu memanggilku ke dalam kamar.
__ADS_1
Akupun keluar, sambil menggendong ransel di punggungku.
"Hai, Di. Bagaimana keadaanmu?" ujar Zen yang melihat ke arah keningku.
Sekarang,di pelipisku hanya menempel selembar hansaplast. Karena, perban yang kemarin melilit di kepalaku sudah ku lepas, sekarang aku hanya menutup bekas lukanya saja.
"Baik," ujarku sekenanya.
"Tunggu, biar Ibu buatkan minum sebentar!" ucap Ibu.
"Tumben, Ibu ramah pada teman laki-laki ku," pikirku.
"Sudahlah, Bu. Nanti kami bisa terlambat ke sekolah. Lagipula, Zen juga tidak merasa kehausan, iya kan Zen?" sambil melirik Zen dan memberikan senyuman kemenangan.
Zen pun mengangguk. Akhirnya kami pun pamit tanpa terkendala pertanyaan dari Ibu.
"Naik!" ucapan itu keluar lagi dari mulutnya. Karena, Zen melihatku yang masih mematung berada di samping motornya.
"Motor yang kemarin kemana, Zen?" akupun bertanya. Karena masih ragu untuk naik apa tidak. Sekarang, motor yang ia bawa adalah sebuah motor gede'.
Yups, motor ninja berwarna hitam.
Yang menambah sensasi keren saat Zen mengendarainya.
Tapi, jika aku duduk di belakangnya, aku belum siap, karena sensasinya pasti jadi berbeda.
"Cepat! Jangan buang-buang waktu! ucapnya tegas.
Akhirnya aku pun naik, karena jika Zen telah memberikan tatapan singanya. Otomatis urat-urat di tubuhku memaksaku untuk mengikuti perintahnya.
"Zen," ucapku memecah kesunyian saat dalam perjalanan.
"Hmm..." gumam Zen.
"Kenapa tadi kamu bilang, kalau aku yang memintamu menjemputku sih?" ujarku sedikit sebal.
"Karena kemarin aku yang mengantarmu. Jadi, sekarang aku merasa berkewajiban untuk menjemputmu!" jawabnya.
Cekiiittt!!!
Refleks tubuhku memeluk tubuh Zen.
Teryata ada seekor kucing yang berlari melintas tepat di depan motor Zen, yang menyebabkan Zen menginjak remnya secara mendadak.
Akupun langsung melepaskan tanganku yang melingkar di pinggang Zen.
"Bukannya kau suka memelukku!" ucap Zen yang menyeringai kecil di bibirnya.
"Tidak!" ujarku kesal.
Setelah berhenti, Zen lalu menepikan motornya. Kemudian, membuka jaket yang di kenakannya.
"Dia mau apa ya? Dia, tidak akan ngapa-ngapain kan?" pikirku merasa was-was.
"Pake!" perintah Zen.
Jiwa budakku muncul lagi, aku pun memakai jaketnya Zen. Tercium aroma tubuhnya yang menempel di jaketnya.
"Kenapa dia memberikan jaketnya ya?" ucap batinku.
"Mungkin, saat tadi aku memeluknya, dia merasakan tanganku yang kedinginan.
Hingga, hati nuraninya mungkin tersentuh untuk mengasihaniku."
Setelah sampai di sekolah, aku pun turun dari motornya Zen. Sepertinya, perjalananku sangat melelahkan. Padahal, jarak ke sekolah kan tidak terlalu jauh.
Aku berjalan mengekor di belakang Zen.
Tapi, aku merasa saat ini diriku menjadi pusat perhatian. Beberapa pasang mata melihatku dengan tatapan tidak suka.
Ditambah lagi Zen menarik tanganku dan menggenggam erat tanganku. Kita berjalan beriringan. Menambah suasana mencekam di sekililingku.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Zen. Ia terlihat tersenyum senang dengan keadaan ini.
Sesampainya di kelas, ternyata Nurul telah terlebih dahulu duduk di meja kami.
Akupun refleks melepaskan tangan Zen yang masih menempel di tanganku.
Nurul dan Adrian pun melihatku dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Diana..." sahut Nurul .
"Hmm..." gumamku menirukan gumaman Zen di waktu tadi.
"Kamu..." menunjuk jaket yang aku kenakan. Mungkin, Nurul mengetahui jaket yang ku pakai ini milik Zen. Karena hampir setiap hari, ketika Zen berangkat ke sekolah ia selalu mengenakan baju hangat. Entah itu sweater ataupun jaket.
Akupun langsung membuka jaket yang ku kenakan. Membalikkan tubuhku dan berjalan ke arah Zen.
"Terimakasih..." ujarku sambil meraih tangannya agar terjulur kedepan dan menyimpan jaket itu tepat di lengannya.
Akupun kembali ke arah tempat dudukku.
Namun, tanganku ini secepat kilat di tarik lagi oleh Zen.
"Berterima kasihlah dengan benar nanti!" sambil seringai liciknya tersungging di bibirnya.
"Apa?" ucapku. Wajahku memerah mendengar perkataannya. Lalu menepis tangan Zen dan berlari menjauhi Zen.
Karena aku tahu, jika ia sudah mengucapkan hal itu. Akan ada bahaya besar mengintaiku.
Baru saja selesai menghindari ancaman, kemudian ancaman lain datang. Nurul mencecarku dengan banyak pertanyaan.
"Diana, kau baik-baik saja? Kau tidak amnesia kan setelah kejadian kemarin?" ujar Nurul bertanya aneh kepadaku.
"Apaan sih, Nurul. Aku baik ko'. Bahkan aku masih ingat satu persatu nama teman-temanku di kelas ini!"
"Kenapa kamu bisa bersama, Zen?"
Aku hanya diam, lalu mengangkat bahuku seolah aku tidak tahu.
"Kenapa kamu juga bisa memakai jaket Zen?" tanya Nurul lagi.
"Tadi, aku tidak salah lihatkan, tanganmu ini memegang tangan Zen?" sambil membolak-balikan tangan kananku yang tadi di pegang Zen.
Akhirnya, Bu Fani datang ke kelasku. Menghentikan semua pertanyaan Nurul yang seolah mengintrogasi diriku.
Lalu, Bu Fani menghampiriku. "Diana, bisa ikut Ibu ke ruang guru?"
"Baik, Bu," jawabku sopan.
"Ada yang ingin Ibu sampaikan," ucap Bu Fani meyakinkan.
Deg!!
Hatiku merasa takut, "Apa aku berbuat kesalahan ya? Apa karena Zen tadi berjalan menggenggam tanganku?"
"Ahh, tidak mungkinkan!" batinku meyakinkan.
"Mari Diana!" ucap Bu Fani menyadarkan lamunanku. Mungkin, Bu Fani heran melihatku masih mematung berdiri di samping mejaku dan belum beranjak mengikutinya.
"Ehh, baik Bu," jawabku sambil tersenyum canggung.
Epilog
Sementara di ujung ruangan kelas, telah berdiri seorang wanita yang berwajah masam. Ia melipatkan tangannya dan mendengus kesal.
"Awas saja kau, Diana. Ternyata, kau tidak menghiraukan ancamanku, ya!
Tunggu tanggal mainnya, Diana! Jika kau masih selalu medekati Zen!" ucap wanita itu dengan penuh amarah.
***Bersambung....
*Ayo dukung author dengan klik tombol like dan komentnya...๐
__ADS_1
Terimakasih telah setia sampai part ini...๐๐