CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Hari yang Panjang


__ADS_3

Kulihat diri ini di sebuah cermin besar yang ada di kamar mandi, dan menatapnya lekat.


"Hari yang panjang telah menantiku, aku harus siap untuk menjemputnya.


Semangat Diana!" ucapku mengepalkan tanganku untuk menyemangati diri sendiri.


Setelah selesai dari kamar mandi, ku lihat orang-orang yang ada di kamar ini telah terbangun semua.


Tapi, ada yang menarik dengan Dita dan Wia. Mereka mengambil sebuah gelas yang berisikan air dari luar jendela.


"Kalian minum apa?" tanyaku penasaran.


"Ini air embun, tadi malam kami menyimpannya di luar jendela sampai pagi ini. Katanya sih membaguskan pita suara." jelas Wia sambil meminum air tersebut.


Terlihat dari luar gelas terdapat banyak butiran air yang menempel.


"Apa rasanya, Wi?" tanyaku lagi masih fokus memperhatikan Wia.


"Ya air lah, Diana. Emang, kau kira rasa jus jengkol gituh! ahhaa..haha.." jawab Wia seperti meledekku.


Akupun merasa kesal dengan tingkah Wia, lalu aku memutuskan beranjak pergi meninggalkannya.


Sedangkan Dita, dia hanya senyum-senyum melihat aku dengan kekesalanku.


Setelah selesai memakan sarapan yang di berikan panitia, akhirnya aku, Dita, dan Wia beranjak meninggalkan kamar.


Kami berjalan menyusuri lorong di lantai pertama, lalu berjalan menaiki anak tangga menuju lantai kedua. Dan berakhir dengan perpisahan kita. Karena ruangan lomba untuk bernyanyi dengan ruangan lomba untuk menulis cerpen berbeda.


Aku melangkahkan kaki menuju sebuah ruangan di ujung hotel. Di depan pintu sudah berdiri salah seorang panitia mempersilahkan aku masuk. Mungkin karena melihat kartu tanda pesertaku yang melingkar di leherku.


Perlahan, aku menyeret kakiku yang sedikit gemetar karena merasa sangat tegang.


Kulihat ada seseorang yang sedang duduk sambil memegang bolpointnya.


"Hans!" ucapku merasa terkejut.


Karena, ternyata dia adalah salahsatu dari beberapa belas orang yang akan menjadi sainganku.


Hans menoleh karena melihat kedatanganku.


"Diana!" ujar Hans. Sepertinya dia juga terkejut dengan kehadiranku.


"Hehe... iya. Hans, kamu juga suka menulis?"


ucapku sambil melangkah mendekatinya. Lalu duduk di kursi yang masih kosong tepat disebelah Hans.


"Iya, seperti yang kau lihat!" ujar Hans menatapku.


"Hebat kamu yah! Biasanyakan, menulis identik dengan wanita!"


"Ahh, biasa aja Diana. Aku hanya sekedar hobi," ucap Hans seperti merendah.


"Ku kira kamu ikut lomba bernyanyi, Di?"


lanjut Hans.


Deg!


Rasanya panggilan itu tak asing bagiku. Dan, seperti mengingatkanku pada sosok Zen.


Padahal semua orang di rumah ataupun di sekolah biasa memanggilku dengan panggilan hanya 'Di'. Tapi yang ku ingat hanya seorang Zen.


"Aahh, dia sedang apa ya disana?" bisik hatiku.


"Kangeeennn..." tiba-tiba ucapan itu terlontar begitu saja.


"Kangen sama siapa, Di?" tanya Hans seperti penasaran.


"Hehe... tidak. Kamu kepo ah!" ucapku kepada Hans. Seketika wajahku memerah mendengar pertanyaan dari Hans.

__ADS_1


"Apa? Aku rindu? Iya, benar kata Dilan. Jangan rindu, karena rindu itu berat. haha" Diana


"Pacar, yaaa??" ujar Hans malah menggodaku.


"Ssttt..." telunjukku menempel pada bibirku.


Karena aku melihat seseorang datang ke ruangan ini. Seseorang yang tampak gagah dengan kemeja hitamnya. Sepertinya dia yang akan menjadi pengawas di ruangan ini.


"Selamat pagi anak-anak," sapa pengawas tersebut.


"Pagi..." serentak kami semua menjawab.


"Hari ini, bakat yang kalian miliki sedang di pertaruhkan," ujar pengawas tersebut yang menambah ketegangan di dalam ruangan ini.


"Maka menulislah dengan sangat baik. Berikan seluruh kemampuan kalian untuk menghasilkan sebuah cerita yang berharga,"


lanjut pengawas tersebut.


"Waktu yang di berikan selama sembilan puluh menit. Dan tema untuk hari ini adalah..." Pengawas tersebut memberitahukan tema apa yang akan menjadi persaingan imajinasi.


Ya, Karena cerpen datang dari sebuah imajinasi yang dituangkan ke dalam sebuah tulisan.


Aku, Hans dan seluruh peserta di ruangan ini mulai bertarung menguji kecepatan, ketepatan dan mengeluarkan kreativitas yang berkualitas dalam bentuk tulisan.


Kata demi kata ku tuliskan dalam kertas polio yang di berikan oleh pengawas.


Akhirnya, sembilan puluh menit pun berlalu.


Satu persatu peserta, menyerahkan hasil karya yang telah mereka tulis. Ada yang merasa puas dengan kerja kerasnya, dan ada yang merasa was-was akan hasil keputusannya nanti.


Aku menyeret kakiku melangkah memberikan hasil karya penaku kepada pengawas. Aku merasa cukup puas dengan kerja kerasku. Tak sia-sia, semalam aku terbangun dari tidurku. Karena bacaan tadi malam menguatkan memory ingatanku.


"Alhamdulillah, untung saja tema yang di berikan Bu fani sama dengan tema yang diberikan pengawas hari ini," ucapku merasa sangat lega.


"Diana!" panggil Hans ketika melihatku beranjak meninggalkan ruangan.


Aku menoleh, "Iya, Hans," jawabku sambil membalikkan tubuhku melihat ke arah Hans.


"Di, main dulu yuk! Lihat Dita dan Wia, kalau mereka belum tampil, mungkin kita bisa menontonnya," ajak Hans sambil menarik tanganku.


Aku hanya bisa mengekor di belakangnya.


Karena, meskipun aku menjawab tidak mau pun, percuma karena tanganku sudah di tarik oleh tangan Hans.


Kami berjalan melewati tiga ruangan dari ruanganku tadi. Dan ternyata benar, Dita dan Wia baru beranjak naik ke podium untuk mempersembahkan suara emas mereka.


"Pantas saja mereka selalu berdua, chemistry nya dapet bangeettt..." ucapku sambil memegang kedua pipiku, karena merasa baper mendengar Dita dan Wia bernyanyi.


Mereka menyanyikan lagu daerah dari Jawa Barat 'Bulan Sapotong'.


"Bulan sapotong kiatkeun abdi kiatkeun


Buleudkeun hate leupas ti manehna


Bulan sapotong datangkeun atuh datangkeun


Gaganti Cinta anu langkung sagalana"


Saking menikmatinya, aku tak menyadari kalau kepala ini telah bersandar di bahu Hans.


Dia juga tida bergerak sama sekali ketika kepalaku mulai bersandar di bahunya.


Dia seperti tersenyum senang dengan posisi ini.


Cekrek!


Hans memotret ku dengan ponselnya. Aku langsung mengangkat kepalaku. Dan mencoba bertanya dengan sorotan mata tajamku.


"Hehe... bagus, Di. Lumayan buat kenang-kenangan kita," ucap Hans sambil menatap foto hasil jepretan tangannya.

__ADS_1


"Apa? Kenang-kenangan kita?" tanyaku karena terkejut dengan ucapan yang di katakan Hans.


"Iya, kenang-kenangan kalau kita pernah kenal," jawab Hans santai.


"Berikan nomor ponselmu donk, Di!" lanjut Hans seperti memohon.


"Tidak! Kita kan hanya kenal di sini. Untuk apa kamu meminta nomor ponselku?" tanyaku, yang seolah tak perlu lagi untuk saling bertukar nomor ponsel.


"Kan bisa silaturahmi, Di. Siapa tau di kemudian hari kita berjumpa kembali," jawab Hans lalu menyodorkan ponselnya ke tanganku.


Akhirnya aku pun memberikan nomor ponselku.


Setelah itu kami memutuskan untuk pulang beristirahat di kamar hotel. Karena mungkin, tadi sedikit banyak memutar otak untuk berfikir. Dan rasanya, mata ini pun sudah sangat ingin terpejam. Mungkin, semalam aku tak bisa tidur nyenyak. Hingga hari ini, aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku.


***


Keesokan harinya, sebelum memutuskan untuk pulang. Kami ingin merasakan terlebih dahulu, kolam renang yang ada di dekat taman. Kolam yang waktu malam itu, aku hanya bisa memandanginya saja dari kejauhan.


"Dita... Wia... cepetan donk!" ujarku memanggil Dita dan Wia. Karena mereka masih sibuk berada di kamar mandi.


"Iya... sebentar lagi, Diana!" jawab mereka.


Setelah Dita dan Wia selesai dengan urusannya, akhirnya dengan bergembira kami berlari seperti anak kecil yang sangat senang akan berenang.


Tanpa aba-aba, Dita dan Wia menceburkan diri mereka.


Buurrsshh!!


Suara air ketika mereka melompat ke kolam renang.


Aku hanya diam, karena aku lupa, aku sama sekali tidak bisa berenang.


Jikalau di sekolah pun ada pelajaran berenang, aku hanya bisa satu macam gaya.


Yaitu... Gaya Batuuu...!! Hahaa


"Ayo donk, Diana. Tadi kau memaksa kami. Sekarang kau malah diam tak berdaya! haha" ucap Wia meledekku. Karena aku hanya mematung berdiri di pinggir kolam.


"Aku juga mau, tapi takut tenggelam. hehe" jawabku yang merasa iri melihat mereka berenang kesana kemari.


"Biar aku yang menyelamatkanmu, Diana!" teriak Hans yang muncul tiba-tiba dari belakang.


Aku hanya menoleh melihat ke arah Hans.


"Ekheemm...ekheemm..." gumam Bu Fani sambil tersenyum seperti menggodaku.


"Baru kenal, tapi sepertinya kalian sudah sangat dekat, ya!" ucap Bu Fani.


"Ahh, enggak, Bu. Hans aja yang bercandanya berlebihan," elakku mendengar ucapan Bu Fani.


"Sudah.. sudah.. Jangan terlalu lama ya, main-mainnya! Harus ingat sebentar lagi kita harus bersiap untuk pulang," ujar Ibunya Wia dari kejauhan.


Kami hanya mengangguk, mendengar perintah dari Ibunya Wia.


***


Epilog


Sementara itu, di sekolah Diana seseorang sedang merindukannya. Dia sedang duduk di sebuah gubuk yang berada di belakang sekolah.


"Kenapa rasa rindu ini menggangguku yah?" ucap Zen memegang dadanya yang berdebar.


"Sial! Bahkan dia tidak mengabariku sama sekali. Kemarin pun, kalau aku tidak menghubunginya, mana mau dia mengabariku!" lanjut Zen merasa kesal dengan sikap Diana.


"Apa dia sedang bersenang-senang ya, dengan..." pikir Zen seperti mengingat-ngingat nama seseorang.


"Hans! Iya benar, kemarinkan Diana menyebut nama Hans. Dasar bedebah gila! Kalau aku mengenalmu, tak akan ku biarkan kau mengenali Diana!" ucap Zen merasa sangat marah.


"Apa aku cemburu?" pikiran Zen di alam bawah sadarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2