CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Ikut Lomba (Part III)


__ADS_3

Di sepanjang jalan, kami habiskan hanya dengan canda dan tawa. Seperti kawan lama yang baru berjumpa lagi, kami sangat akrab dengan saling bertukar cerita. Sepertinya kursi kamilah yang selalu terdengar ramai dan bersemangat.


Setelah hampir setengah perjalanan, karena merasa sudah lelah akhirnya kami terdiam di jok masing-masing.


Mengedarkan pandangan, menyusuri setiap jalan yang aku lewati. Sedangkan Hans, ia sedang asyik memainkan ponselnya. Seperti, sedang main game online yang sedang digandrungi banyak remaja masa kini.


"Diana," ucap Hans memanggilku.


Aku masih menatap jendela kaca menikmati perjalanan yang aku lalui.


"Sepertinya, dari tadi aku tidak melihatmu memainkan ponselmu!" ujar Hans masih menatap ponsel miliknya.


"Apa kau tidak ingin memeriksanya, mungkin ada seseorang gitu yang ingin tau kabarmu?" lanjut Hans. Sepertinya, dia melihat bentuk ponselku dari dompet yang ada dipangkuanku.


"Aahh... siapa? Bahkan pacar pun aku tidak punya. Haha" jawabku asal.


"Mungkin Ibumu, gituh?" tanya Hans.


"Biar nanti saja jika aku sudah sampai, aku akan mengabari Ibu segera," ujarku menjelaskan.


"Hmm... baiklah!" ucap Hans. Sepertinya ia ingin lebih lama ngobrol denganku, tapi karena ia melihatku sangat lelah maka ia mengurungkan niatnya.


Keheningan pun tercipta di antara kami.


Tiba-tiba ponselku berdering sangat nyaring, mengejutkanku dan Hans.


Ehh bukan, sepertinya semua orang yang ada di dalam bis ini juga merasa terkejut. Karena mereka melihat ke arahku dengan sorotan mata tajam. Mungkin, mereka merasa ponselku mengganggu tidur mereka.


"Hehe... kaget ya? Aku juga kaget!" ucapku mengusap dadaku sambil menatap Adrian yang masih menganga.


Aku langsung meraih ponselku yang berada di dalam dompet. Mungkin, aku lupa tadi pagi tidak mengalihkan mode suaranya. Biasanya, jika aku pergi ke bengkel aku akan mengalihkannya menjadi mode getar. Karena, aku sering sekali membuat seluruh isi bengkel terkejut mendengar suara ponselku.


"Hallo!" ucapku menjawab panggilan.


"Kau sudah sampai mana?" tanya seseorang. Aku agak ragu dengan suaranya, ku lihat lagi dengan jelas siapa yang memanggil telepon kepadaku. Karena tadi aku terlalu panik, aku hanya buru-buru menjawab panggilannya. Dan ternyata benar, siapa lagi kalau bukan Tukang Es yang memanggilku.


"Mana ku tahu!! Memangnya aku hafal setiap jalan yang aku lewati!" jawabku mendengus kesal.


"Ya sudah, jika kau sudah sampai, hubungi aku segera!" perintah Zen melalui telepon.


Tuutt...Tuutt...


Panggilan dimatikan.


"Sialan! Hanya itu yang kau ucapkan!


Setelah membuat suasana setegang ini. Dasar memalukan!" ucap batinku.


Aku langsung mengubah mode suaranya. Takut.. takut nanti mengejutkan orang lain lagi. Bisa berabe kan urusannya! haha


Setelah tiga jam lebih kami melewati perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di tempat tujuan.


Di gerbang utama terlihat tulisan Hotel Telaga Sari. Bis pun mengantarkan kami sampai ke tempat parkir. Terlihat dari sekeliling, sepertinya ini termasuk salah satu hotel mewah di kota ini. Kalau tidak salah dengar, hotel ini termasuk hotel berbintang tiga. Entah apa itu artinya, akupun tidak tahu. hehe


Setelah keluar dari bis, kamipun berpisah.


Karena masing-masing guru pembimbing, dan juga lomba yang kami ikuti pun berbeda.


Aku lupa bertanya kepada Hans, "Dia ikut lomba apa ya?" pikirku penasaran.


Setelah bertemu dengan Bu Fani, akhirnya aku mengikuti beliau berjalan dari belakang. Mungkin, Bu Fani telah mengetahui kamar berapa yang akan kami tempati.


Kami menyusuri lorong di lantai pertama. Meskipun hanya berlantai dua, tapi hotel ini sungguh sangat megah. Aku baru pertama kali menginjakkan kaki di hotel seperti ini.


Biasanya, saat ikut lomba sebelumnya, aku hanya menginap di penginapan sederhana.

__ADS_1


Sesaat setelah sampai di depan sebuah kamar, Bu Fani memencet sebuah bel.


Lalu keluarlah seorang Ibu paruh baya, berambut pendek di potong seperti laki-laki.


Tapi, masih terlihat sisi wanitanya.


Bu Fani pun menyodorkan kartu peserta, dan memperkenalkan dirinya.


Ibu itu seperti sudah paham, kalau kami juga termasuk penghuni dari kamar ini.


Kemudian, Ibu itu mempersilahkan kami untuk masuk.


"Diana!" ucap kedua orang yang mengenalku.


"Lho kok. Kita sekamar ya!" ujarku pada keduanya. Ternyata Dita dan Wia pun berada di kamar ini. Namun, mereka terlebih dahulu sampai kesini. Hingga aku datang setelah mereka.


"Hahaaa..." kita tertawa bersama.


"Kalau begitu, tadi kita bersama-sama saja, ya!" ucap Wia menghampiriku.


"Tapi, Diana. Kamar ini hanya ada dua kasur yang berada di atas ranjang," ucap Wia sambil menunjuk ke arah tempat tidur.


"Dan ada satu kasur lagi, tapi tidurnya di bawah," ujar Wia menjelaskan.


"Ya gak papa lah, yang penting aku bisa istirahat!" jawabku sambil menyimpan tasku.


Akhirnya, setelah kami membereskan barang-barang. Kami beristirahat di tempat masing-masing. Sedangkan, guru pembimbing hanya terbaring di atas karpet kamar.


Sedangkan Wia, karena dia di antar oleh ibunya, mereka tidur di atas kasur berdua.


Setelah aku memberi kabar kepada Ibu, aku juga ikut terlelap dalam tidurku.


***


Ceklek!


Tak di sangka, seseorang di seberang kamarku juga sama membuka pintu. Kami hanya diam membisu beberapa saat saling melempar pandangan.


"Hans," sapaku terlebih dahulu sambil memberikan senyuman.


"Diana," jawab Hans masih mengenaliku.


"Haha... kita ternyata tetanggaan ya!" ujarku memecah keheningan.


"Kamu mau makan juga, ya?" tanya Hans kepadaku. Belum juga menjawab, dua bocah keluar dari kamar lalu mendorongku.


"Haannsss..." teriak Dita dan Wia.


Hans hanya mengangguk memberikan senyuman imutnya. Karena di kedua pipi Hans terdapat lekukan lesung pipi yang menambah kesempurnaan dalam wajahnya.


"Kaya liat Afgan aja!" bisik hatiku.


Akhirnya, kami bersama-sama berjalan melangkahkan kaki menuju meja perasmanan.


Ternyata di hotel ini, suasana tempatnya sangat romantis. Ketika melihat ke arah taman, banyak lampion-lampion yang menyinarinya. Meskipun terhalang oleh kolam renang, justru kolam renang tersebutlah yang menambah indahnya ketika memandang.


"Dijadikan tempat honeymoon, sepertinya sangat romantis ya!" pikirku.


"Apa? Honeymoon? Nikah aja belum, udah mikirin honeymoon... Boro-boro nikah, status pun masih menyandang jomblo. haha" aku terkekeh sendiri dengan pikiranku.


"Diana!" Panggilan Dita mengejutkanku.


"Maju!" lanjut Dita sambil sedikit mendorong tubuhku.


Karena, kami sedang berjejer rapi untuk mengantri mengambil makanan.

__ADS_1


Setelah, masing-masing mendapatkan makanannya, kami duduk di sebuah meja yang terdapat empat buah kursi.


Kami makan bersama-sama di meja tersebut.


Trrtt... Trrttt...


Ponselku bergetar, tanda seseorang memanggil telepon kepadaku. Kulihat layar ponselku, ternyata Zen yang menelponku.


"Aduuh, aku lupa tidak memberi kabar kepadanya tadi siang!" ucapku sambil menghentikan aktivitas makanku.


"Hallo!" ujarku menjawab telepon.


"Kau sedang apa?" tanya Zen.


"Makan," jawabku sambil menyuapkan sendok berisi makanan.


"Tadi jam berapa kamu sampai di sana?"


"Uhuuukk... uhuukk..." aku tersedak mendengar ucapan Zen.


"Tumben dia berbicara lembut." batinku.


Lalu tangan Hans menyodorkan segelas minuman ke arahku.


"Terimakasih Hans..." lalu meminum air tersebut. Aku lupa tanganku masih memegang ponsel di telingaku.


"Siapa?" bentak seseorang di telepon.


"Hans, dia temanku makan saat ini." jawabku. Sengaja aku tidak menyebutkan Dita dan Wia, karena aku ingin tahu bagaimana reaksi Zen. haha


Ternyata benar, dia memutuskan sambungan telepon tanpa pemberitahuan.


"Kebiasaan!" keluhku sambil mematikan ponselku.


"Jadi kita di anggap nyamuk nih!" celetuk Dita sambil memandang Wia.


"Haha... tidak... Maaf ya maaf!" ucapku meminta maaf.


Sementara Hans, dia hanya tersenyum mendengar obrolan kami.


Setelah kita selesai makan, kami pun lantas pergi ke kamar untuk istirahat. Begitu juga dengan Hans.


Tak banyak yang kami perbincangkan sesaat setelah berada di dalam kamar. Karena hari yang panjang, telah menanti kami pada esok hari.


Akupun tidur dengan Bu Fani. Karena meskipun tidur di bawah, tapi kasurnya cukup lebar untuk kita berdua.


Tapi, mataku ini sulit untuk terpejam. Apalagi, Bu Fani tidurnya kemana-mana, tidak bisa diam. Dia menghimpit kakiku dengan kakinya.


"Aahh... rasanya tidur di kasur kerasku lebih nyaman ketimbang di kasur empuk tapi tidak membuatku terlelap," keluhku lalu menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku.


Aku berdiri kemudian melangkah menuju ke arah tas sekolahku. Aku mengambil sebuah buku yang menjadi coretan cerpenku. Lalu, aku merebahkan tubuh ini di atas karpet kamar, kemudian membalikkan tubuhku lalu menopang dagu dengan kedua tanganku.


Perlahan aku baca kata demi kata dalam buku tersebut dan sesekali aku menghafalnya. Hingga kantuk pun mulai menyerang. Aku merasakan tubuh ini seperti ada yang memberikan hangatnya sebuah selimut. Dan tak terasa, akupun terlelap.


***


Aku membuka mataku di pagi hari. Lalu, aku bergegas ke kamar mandi sebelum orang lain bangun dari tidur mereka.


Kulihat diri ini di sebuah cermin besar yang ada di kamar mandi, dan menatapnya lekat.


"Hari yang panjang telah menantiku, aku harus siap untuk menjemputnya.


Semangat Diana!" ucapku mengepalkan tanganku untuk menyemangati diri sendiri.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2