CINTA DAN KEPASTIAN

CINTA DAN KEPASTIAN
Perasaan Zen


__ADS_3

"Tok..tok...tok," ketukan pintu di kamar Zen.


"Zen, bangun," ujar Adrian membangunkan Zen di balik pintu.


"Hoamm..." Zen menggeliat sambil mengumpulkan separuh kesadarannya.


" Iyah, aku bangun," ucap Zen sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi.


Hari ini hari libur. Sehingga, hari ini Zen bermalas-malasan sampai tidur pun kesiangan.


Setelah selesai mandi, ia mengenakan pakaian rumah. Tidak lagi menggunakan seragam sekolahnya.


Lalu, Zen melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.


Telah duduk seorang laki-laki sebayanya, sedang asyik memainkan ponselnya sambil memakan camilan.


"Kenapa, kau senyum-senyum sendiri?" tanya Zen sambil mengambil camilan di tangan Adrian.


"Tidak," jawab Adrian sambil mengunyah makanan di mulutnya. Masih tersisa senyuman tipis di bibirnya.


Lalu, Zen pergi ke dapur tanpa menghiraukan rasa penasarannya. Karena, perut Zen telah meminta untuk segera diisi sarapan.


Di atas meja, telah tersedia semangkok bubur ayam yang masih sedikit hangat. Mungkin, bibi di rumah yang telah menyiapkannya.


Karena, ayah dan ibu Zen sibuk sekali bekerja. Hingga, di akhir pekan pun mereka tetap berangkat ke kantor.


Oleh sebab itu, Zen hanya sering tinggal berdua bersama Adrian.


Paling, ada Bibi, asisten rumah tangga yang menyiapkan segala kebutuhan rumah.


Zen dan Adrian memang bukan kakak adik. Tapi, semenjak orang tua Adrian meninggal dunia, akhirnya ayah Zen memutuskan membawa Adrian untuk tinggal bersama keluarganya. Karena, ibu Adrian merupakan adik kandung ayah Zen.


Setelah melahap habis buburnya, Zen kembali ke ruang tengah sambil memegang ponsel di tangannya.


Ia duduk di sofa berbeda dengan Adrian. Masih terlihat senyuman di bibirnya Adrian.

__ADS_1


Tiba-tiba, kata-kata Adrian mengejutkan Zen,


"Cantik sekali kamu Diana," ujar Adrian masih menatap ponselnya. Ia sedang asyik melihat-lihat sosial media milik Diana.


"Apa?" geram Zen pada Adrian.


"Iya, Diana memang cantik kan? Kenapa kamu?" Merasa heran melihat Zen dengan wajah memerah.


"Kau suka kepadanya ya?" tanya Adrian menggodanya.


"Tidak," sambil terbata-bata memastikan perasaanya.


"Ya sudah, kapan-kapan, aku akan menyatakan cinta kepadanya," goda Adrian lagi.


"Jangan..." tegas Zen menatap Adrian.


Tapi, Adrian menganggap perkataan Zen hanya bercanda. Karena ia tahu, Zen sosok pria yang memegang prinsipnya. Adrian, masih merasa dirinya tertarik untuk mendekati Diana. Karena, Adrian tipe laki-laki yang gampang tertarik dengan wanita. Dengan senyuman manisnya, dia selalu meluluhkan hati setiap wanita.


"Tunggu! Bukannya, kau nanti akan di jodohkan dengan Tania ya?" ujar Adrian.


"Tapi, aku masih sekolah, masa depanku masih panjang. Masa iya, aku sudah di jodohkan!" elak Zen.


"Masa depan bisa berubah, mungkin, Tania juga bisa menemukan laki-laki lain selain diriku. Itukan, baru rencana," lanjutnya.


Adrian hanya mangguk-mangguk membenarkan perkataan Zen.


Sementara, Zen mulai melamun dan mengingat satu nama, Di..a..na. Gadis ramah, pintar, berprestasi, namun selalu jutek di hadapannya. Gadis, yang dengan beraninya menginjak kakinya. Dan juga, seorang gadis yang ia temui di gubuk belakang sekolah. Yang sedang menangis, meratapi kesedihannya.


Itulah, awal Zen merasa tertarik dengan seorang Diana.


Tapi, hati Zen bimbang. Ia ingin meraih mimpi dan cita- citanya dahulu. Setelah sukses, ia baru ingin mengikat seorang wanita.


Karena Zen merasa, belum saatnya ia mengungkapkan isi hatinya. Tentu, karena masih sekolah. Zen menganggap cinta seorang remaja, adalah cinta monyet semata. Bisa berubah-ubah, setelah dirinya merasa bosan. Oleh sebab itu, dia selalu menjaga hatinya.


Prinsip Zen, kebanggaan seorang laki-laki, bukan terletak berapa banyak ia menaklukkan hati wanita. Tapi, seberapa kuat ia menjaga hatinya, hanya untuk wanita yang benar-benar akan menjadi pendamping hidupnya. Ia ingin seperti ayahnya, selalu setia mencintai ibunya. Hanya satu nama seumur hidupnya.

__ADS_1


Menjadi cinta pertama, cinta abadi dan cinta selamanya. Ya, menjadi cinta pertama dan terakhir dalam hidupnya.


Alasan itulah, yang menyebabkan Zen belum menunjukkan perasaannya kepada Diana.


Zen tersenyum, mengingat kejadian di awal-awal, ia mengenal lebih dekat dengan Diana.


Sebelum Diana datang ke gubuk itu, ia lebih dulu ada di sana. Namun, ia hanya duduk manis berlesehan di atas tanah, dengan beralaskan daun pisang tepat berada di belakang gubuk.


Hingga terdengar, suara tangisan. Mungkin, Diana tidak menyadari keberadaanya.


Awalnya, ia mengabaikan tangisan Diana. Karena, merasa tak perlu ikut campur dengan masalah orang lain. Namun, sedikit demi sedikit ia mendengar semua keluh kesahnya selama ini.


Ia tahu, Diana adalah teman barunya. Tapi mendengar semua ucapannya, sepertinya Diana butuh seseorang untuk dapat menenangkannya. Dengan ragu, Zen memberanikan dirinya memberikan sapu tangan di sakunya.


"Setelah lama aku duduk bersamanya, aku senang melihatnya kembali memberikan senyuman indahnya," batin Zen merasa puas.


Mungkin, begitulah rasanya jatuh cinta. Bisa melihat orang yang kita cintai bahagia, kita pun akan merasa sangat bahagia.


Hingga, di suatu malam, setelah Zen pulang mengunjungi neneknya, ia melihat seorang gadis yang sedang menutup tokonya sendirian. Entah kemana, laki-laki yang bekerja bersama Diana. Namun, Zen tertarik untuk mendekatinya. Ia, memarkirkan sepeda motornya tepat di depan toko tersebut. Saking merasa senang, setelah Zen menyapa Diana, tanpa sadar tangan Zen menarik tangan Diana lalu mengajaknya makan. Setelah sampai di tempat makan, entah kenapa makanan yang dimakannya, terasa lebih nikmat dibanding biasanya. Padahal, tempat tersebut menjadi tempat makan mie ayam langganannya. Mungkin, karena Zen pertama kalinya makan dengan wanita yang dicintainya.


Meskipun bukan makanan mewah yang di berikannya, tetapi Diana terlihat sangat menikmatinya.


Saat itulah, lagi-lagi Zen merasa dekat dengan Diana.


Zen sangat terhibur sekaligus bahagia, saat dirinya memperhatikan dari dekat setiap garis wajah Diana. Ia terlihat sangat manis, meskipun raut wajahnya yang terlihat lelah, dan dengan lahapnya ia memakan semangkok mie. Tanpa harus jaim, ia melahap habis mie sampai tak tersisa. Mungkin, ia merasa sangat lapar. Ditambah, siangnya ia harus mengerjakan semua tugas dari Zen.


Semakin lucu lagi, ketika Diana menyadari kalau dirinya sedang di perhatikan.


Raut wajahnya, yang merasa malu dan salah tingkah ketika diperhatikan, berubah menjadi kekesalan ketika Zen meledeknya.


Apalagi, saat tangannya mengusap bibirnya untuk membersihkan sisa saus yang menempel. "Seketika, rasanya aku ingin menempelkan bibirku di bibir hangatnya," khayalan Zen di malam itu.


Dan, dengan senang hati pula, setelah mengantar Diana pulang malam itu, Zen langsung mengantarkan sepeda Diana sampai ke halaman rumahnya. Karena, letak bengkel paman Diana tidak terlalu jauh dengan rumahnya.


***

__ADS_1


Ketika Zen sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba ponsel yang di genggamnya berdering. Tidak tahu siapa yang menghubunginya, namun raut wajah Zen berubah menjadi kesal.


__ADS_2