
“ekhemmmm.” berdehem.
Amara berjalan dibelakang Arkana, mengekorinya berjalan menuju depan hotel. Amara merasa penasaran mau dibawa kemana dia sebenarnya. tapi Amara tidak berani memulai percakapan terlebih dahulu.
“Masuk.” Arkana membukakan pintu taxi.
Amara merasa bingung dan belum mengerti mau kemana dan apa tujuan sebenarnya Arkana menghampiri Amara.
Amara masih berdiam diri, masih banyak pertanyaan dikepalanya.
“cepat masuk!” Arkana meninggikan suaranya.
“aku mau dibawa kemana?”
Arkana tidak menjawab pertanyaan dari Amara, dia langsung menarik tangan Amara dan mendorongnya masuk ke dalam mobil.
“kenapa mas Arkana kasar sekali.” mengerutkan dahi, dan mengusap lengannya karena sakit.
“kamu terlalu banyak pertanyaan.”
Arkana memberi tahu alamat tujuannya kepada sopir taxi.
mereka berdua tidak ada yang membuka pembicaraan, dan Amara merasa kesal karena sikap Arkana yang kasar terhadapnya.
apa dia juga kasar terhadap pacarnya? aku rasa iya, karena dia sedingin es.Amara
tanpa sadar Amara menggoyangkan tubuhnya karena merasa merinding, lalu menggelengkan kepala menyadarkan diri sendiri dari pikiran-pikiran tentang Arkana.
Tidak butuh waktu lama untuk perjalanan menuju alamat yang Arkana berikan, taxi itu sudah berhenti di tempat tujuan.
Arkana dan Amara menuruni taxi itu, Arkana berjalan didepan, dan Amara mengikutinya.
“kenapa kita kesini?” meraih tangan Arkana.
“katamu diluar dingin.” mengibaskan tangannya, dan melanjutkan jalannya.
mereka sudah berada didalam ruangan, karena ini restoran privat.
mereka memesan makanan.
“aku tidak ingin kamu terlalu mengharap dari perjodohan ini.” Arkana menuang air putih kedalam gelas.
__ADS_1
“kenapa?” menatap Arkana.
“karena aku tidak menyukaimu!” membalas tatapan Amara.
“kata nenek Beti, kalo kita sudah sering bersama lama-lama timbul juga rasa suka.” menopang dagu dengan kedua tanganya dan tersenyum.
“itu tidak akan terjadi.” memalingkan tatapanya dari Amara. “aku tidak mungkin menyukai gadis sepertimu!”.
“Terserah mas Arkana, mau menyukaiku atau tidak.” menundukan kepalanya. “aku tidak ingin mengecewakan nenek dan keluargaku.” mengkat kepalanya dan berusaha tetap biasa saja.
kenapa keras kepala sekali gadis ini! Arkana.
“hemmm..”
kenapa cuma dijawab begitu, apa yang sedang dia rencanakan! Amara.
Pesanan datang, mereka tidak memesan makanan terlalu banyak. karena sebelum datang mereka sama-sama sudah makan.
“mas Arkana akan merncanakan apa untuk membatalkan perjodohan ini?”
“itu urusanku.” masih dengan menyantap makanan didepannya.
“lalu bagaimana denganku?” meletakan sendok yang ia pegang. “apa mas Arkana akan mempermalukan Aku dan keluargaku?”
“aku tidak ingin membuat kecewa keluargaku!” Amara berdiri dari duduknya.“aku pergi dulu, terimakasih atas makananya.”
Amara pergi meninggalkan Arkana sendiri.
Amara merasa sedih memikirkan bagaimana raut wajah keluarganya jika pernikahan ini batal.
apa yang harus aku lakukan?Amara.
Amara pulang berjalan kaki, karena tempat makan tadi tidak terlalu jauh dari hotel tempat menginapnya, untuk menikmati suasana malam kota QQ dan menenangkan pikiranya.
Amara mengamati orang-orang yang berjalan bergandengan dengan pasanganya, dan berbicara tentang apapun itu.
“andaikan saja aku jadi menikah dengan mas Arkana, kita saling mencintai dan melakukan apa yang orang-orang ini lakukan.” tersenyum membayangkan. “membayangkan saja membuat ku merasa bahagia apalagi terjadi dengan nyata.haha.”
“sadar Amara, mas Arkana saja seperti es batu gitu, dingin banget. mana bisa seperti orang-orang pada umumnya.” memukul - mukul lirih kepalanya sendiri.
Tiba-tiba sekelompok pemuda datang menggoda Amara.
__ADS_1
“hay nona?” menyeringai. salah satu pemuda dari kelompok itu.
“kalian siapa?” Amara gemetar ketakutan.
tidak ada yang menjawab Amara, mereka hanya tertawa. Mereka melingkar mengerubuni Amara, kini Amara berada di tengah-tengah mereka.
“tidak usah takut, mari ikut kita.” jawaban dari salah satu pemuda.
tubuh Amara semakin bergetar ketakutan. ia tidak bisa lagi berbicara karena sangat takut.
tiba-tiba Amara merasakan ada yang menarik tangannya dan Amara keluar dari kerumunan pemuda itu.
“sayang apa yang kamu lakukan dengan pemuda-pemuda ini?” Reza melingkarkan tanganya ke leher Amara.
“mereka menggaguku sayang.” Amara mencubit perut Reza.“tolong aku.” menatap tajam ke arah Reza.
“berani-beraninya kalian menggoda istriku!” Reza meninggikan suaranya dan menunjuk-nujuk sekelompok pemuda yang ada di hadapanya.
“memangnya kenapa?” salah satu pemuda mengepalkan tanganya. “gadis itu berjalan sendiri, dan aku rasa dia belum ada pemiliknya!”
“dalam hitungan ketiga kita lari.” Reza berbisik ke Amara.
Amara menganggukan kepalanya, dan Reza mulai berhitung.
hitungan ketiga mereka berdua lari menjauhi sekelompok pemuda itu.
terjadilah aksi kejar-kejaran di antara mereka.
Amara dan Reza berlari dan tertawa bersama.
rasa sedih Amara menghilang seketika.
***
Tanpa disadari Arkana berada di dekat tempat kejadian.
Arkana ingin menolong Amara, tapi mengurungkan niatnya, karena sudah Ada seorang laki-laki yang menolong Amara.
“siapa laki-laki itu.” gerutunya. “apa dia pacarnya?”
“tapi dia bilang dia tidak punya pacar, lalu siapa dia?”
__ADS_1
Arkana masih mengawasi Amara dan Reza dari dalam taxi.
Bersambung...