
Selamat membaca :)
Jangan lupa like, coment juga :)
***
Arkana melayangkan tinjuannya ke udara beberapa kali.
“cih...”
Apa-apaan mereka ini. Arkana.
Arkana berdehem. “ekhemm...”
Mendengar deheman dari Arkana, Amara seraya melepas pelukannya dadi tubuh sahabatnya.
“eh, Nita mana?” tanya Amara.
Reza mengusap tengkuknya. “aku lupa mengabarinya, aku sangat menghawatirkanmu.” meraih kedua tangan Amara.
Amara hanya berdiam, matanya berkaca-kaca kembali saat melihat raut wajah Reza yang mengkhawatirkannya.
Tiba-tiba Arkana berjalan melewati tengah-tengah diantara Amara dan Reza.
Amara menghentakan satu kakinya ke lantai.
“apa-apaan sih mas, lewat sini kan bisa.” Amara menunjuk arah belakangnya.
Arkana berjalan lalu memasukan kedua tanganya kedalam saku celananya, dia mengkat bahu acuh terhadap pertanyaan Amara.
Arkana memasuki kamarnya. “wahhh__ kenapa udaranya panas sekali.” mengkibas-kibaskan kerah bajunya. “bisa-bisanya mereka berpelukan didepanku.”
***
“kamu yang sabar ya.” ucap Reza memberi semangat.
Amara mengangguk dan matanya mulai berkaca-kaca kembali. “sekarang aku sendirian Za__” mengusap kasar mukannya.
“tenang Ra, kita selalu ada untuk kamu.” memegang kedua tangan Amara. “sebaiknya kita keluar mencari udara segar, biar kamu tenang sekarang.” Reza memberi saran.
Amara mengangguk tanda setuju apa yang diucapkan Reza. “Tapi za, ajak Nita juga ya__” pinta Amara.
Reza tersenyum. “kita berangkat sekarang?”
__ADS_1
“tunggu, aku harus minta izin dulu ke mas Arkana.”
Reza mengerutkan dahinya berfikir akan suatu hal. “ada hubungan apa kamu dengan kakaku Ra?” hardik Reza.
“nanti aku jelaskan, tapi sekarang aku harus berpamitan dulu dengan mas Arkana ya?”
Amara masuk kedalam rumah hendak meminta izin untuk keluar dengan sahabatnya.
Amara mengetuk pintu kamar Arkana, tapi tidak ada jawaban dan akhirny Amara memutuskan untuk masuk saja kedalam kamar Arkana.
“mas Arakana!” Amara berteriak serentak dengan gerakan tangannya menutupi wajah.
“hemmmm__”jawab santai Arkana.
“bilang donk kalo mas Arkana sedang berganti pakaian!”
“kenapa?” melangkah mendekati Amara.“buka tanganmu.”
Setelah membuka tangannya Amara sepontan melangkah mundur, muka Amara memerah seperti udang goreng.
“ada apa?” melangkah maju mendekati Amara, lalu membungkukan tubuhnya hingga muka Arkana persis di depan muka Amara. “kalo kamu mau meminta izin untuk keluar aku tidak mengizinkan, kecuali aku ikut.” menegapkan badanya.
Amara menghembuskan nafasnya kasar, setelah beberapa detik tadi menahan nafas karena keterkejutannya. “tapi kan aku pergi dengan Reza dan Nita.”
“pokoknya aku mau pergi dengan mereka.” Amara berbalik akan melangkahkan kaki keluar kamar Arakan.
Tapi langkah kakinya tertahan oleh pelukan Arkana.
“aku tidak mengizinkan, dan tolong patuhi aku sebagai suamimu.” ucap Arkana.
Amara menahan nafas.
“bernafas bodoh!” Arkana menyentil kepala Amara.
Amara menghembuskan nafasnya perlahan. “jangan seperti ini, bisa-bisa aku beneran cinta sama mas Arkana nanti. Aku tidak ingin menjadi hama dihubungan mas Arkana dan mba Gita.”
“cintailah aku sesukamu.” mengenakan kaos yang belum sempat ia kenakan tadi. “aku ikut dengan kalian.”
Arkana melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Amara mengekor dibelakang Arkana tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Arkana menghentikan langkahnya, Amara yang masih memikirkan kata-kata Arkana tanpa sadar menubruk punggung Arkana.
*buuk* “aduh.” Amara mengaduh dan mengusap keningnya. “ma, maaf.” menunduk.
__ADS_1
“aku ikut dengan kalian, Amara biar besama denganku menggunakan mobil dan aku akan mengikutimu dibelakang.” ucap Arakan.
Reza merasa bingung dengan kedaaan yang di rasakannya sekarang.
Sebenarnya ada apa diantara mereka? Reza.
Reza hanya mengangguk tanda setuju.
Mereka akhirnya berangkat menuju tempat favorite Amara, Nita, dan Reza tempat biasa mereka menongkrong.
Sesampainya di Cafe ternyata Nita sudah berada disana, Nita menghampiri Amara lalu memeluknya erat mata Nita berkaca-kaca seraya berkata. “Sabar ia ra, yang ikhlas, kita selalu ada untuk kamu.”
*hiks, hiks, hiks* Amara menangis dipelukan Nita.
Nita mengusap sayang punggung Amara, dia pun ikut menangis, seperti merasakan kesakitan yang diderita sahabatnya itu.
Setelah reda tangisan Amara, mereka duduk dan menghabiskan pesanan yang telah dipesan oleh Nita tanpa bicara sepatah kata apa pun.
Beberapa menit mereka hanya diam, Amara yang canggung akan kehadiran Arkana di tengah-tengah mereka, Reza yang masih menyimpan pertanyaan terhadap hubungan Amara dan Arkana, dan Nitat senyum-senyum seperti orang kesambet melihat wajah tampan Arkana.
“emmm, kenalkan aku Nita sahabatnya Amara.” menjulurkan tangannya berharap dijabat oleh Arkana.
Arkana acuh terhadap Nita yang mengajaknya berkenalan. Bahkan dia tidak memalingkan pandangannya dari Amara.
“mas ikh, jawab donk kalo ada orang yang ngajak kenalan!” Amara mendengus kesal.
Arkana tetap tidak bergeming, masih fokus pada pandangannya.
“Ra, sebenarnya hal apa yang belum aku ketahui?” tanya Reza.
“hal apa Za?” Amara berbalik bertanya.
“hubungan kalian?” Reza menunjuk bergantian Amara dan Arkana.
“Za, nanti ya bahasnya kita have fun aja dulu biar Amara ngga sedih lagi.” ucap Nita.
“kalian menyembunyikan apa dariku?” hardik Reza.
“apaan si Za__!” bentak Nita. “kita ngga nyembunyiin apa-apa, saatnya tiba kita akan memberi tahu mu, tapi bukan sekarang.” imbuh Nita.
“kamu mau tahu hunungan kita apa?” ucap Arakan seraya berdiri menghampiri Amara.
Reza, Nita, dan Amara menatap Arkana bersamaan melihat apa yang Arkana akan lakukan.
__ADS_1
Bersambung...