
Gita yang sedang bersantai di apartemenya bermain hp menelusuri sosial media miliknya satu persatu, karena masih masa libur kuliah dan besok sudah mulai masuk kuliah kembali Gita berencana ingin bermalas-malasan di apartemennya.
“kalo saja Arkana ada disini pasti bermalas - malasan ku tambah seru.”
“sedang apa ya sekarang dia, apa aku coba untuk menelfon dia yah? ” pikirnya.
Ketika Gita akan menekan tombol angka 1 untuk panggilan cepat ke Arkana, ternyata Arkana lebih dulu mengirim pesan.
Gita senang karena Arkana tidak biasanya mengirim pesan terlebih dahulu.
Gita membuka pesan pertama yang masuk dari Arkana. Dia sangat shock dan marah, rasanya ingin sekali menemui Arkana sekarang juga dan menggagalkan pernikahnya.
“apa-apaan semua ini!” Gita mengepalkan tangannya menahan emosi yang meluap.
Tidak lama dari pesan pertama, hp Gita berdering kembali dua kali.
Gita membukanya, dia meremas hpnya. air mukanya berubah menjadi sangat emosi, matanya berkaca-kaca.
Gita membuka layar hpnya kembali dan mengirim pesan ke Radit.
“aku membutuhkanmu.”Terkirim
“kenapa sayang, Dimana kamu sekarang?” Radit.
“apartemen.” Terkirim.
Radit tidak membalas pesan Gita, mata Gita semakin berkaca-kaca.
“kenapa tidak membalas pesanku, kemana dia, aku sekarang membutuhkannya!” Gita menangis.
Gita sangat emos, dia beranjak dari tempat tidur lalu mengobrak abrik semua barang-barang miliknya.
Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
“cukup, hentikan!” Radit memeluk Gita dan memegang tanganya kuat karena ingin menghancurkan cermin.
Gita hanya diam, dia terkejut karena tiba-tiba Radit memeluknya. Dia fikir Radit tidak akan ke apartemennya.
Gita menangis sangat keras di pelukan Radit untuk meluapkan emosi.
__ADS_1
“A, a, arkana menikah hari ini.” Gita berbicara terbata-bata karena seseguhan.
“tenangkan dirimu.” mengusap sayang punggung Gita. “aku tetap ada untukmu.” mengeratkan pelukanya.
“tapi aku mencintai Arkana, aku tidak bisa ditinggal begitu saja!” memukul-mukul dada Radit.
“hey, hey lihat aku, aku disini.” menangkupkan kedua telapak tanganya ke wajah Gita.
“dia berjanji akan segera bercerai dengan istrinya yang sekarang secepatnya.”memandang Radit dan tangisanya sudah mulai mereda hanya saja masih seseguhan. “tapi aku tetap tidak terima dengan semua ini.”
“ok aku ngerti, tapi apa artinya aku untukmu?” tanya Radit. Melepaskan tangannya dari wajah Gita.
Gita tidak menjawab pertanyaan dari Radit, dia hanya tertunduk.
“baiklah aku akan pergi, tidak ada artinya aku untukmu!” berjalan pergi.
Tiba-tiba Gita mengejar Radit yang sudah akan membuka pintu. Gita menahan gagang pintu itu dan mencium bibir Radit.
“jangan pergi, aku membutuhkanmu.”ucap Gita.
“baiklah, kamu yang meminta.” Radit melingkarkan tanganya dipinggul Gita lalu mencium bibirnya, Radit mengkat Gita menuju sofa tanpa melepaskan ciumanya.
Kembli ******* mengulum habis bibir Gita, setelah puas dengan bibir Gita, Radit turun menyusuri tengkuk milik Gita dengan hidungnya menghembuskan nafas hangat, mengecup, memberi tanda kepemilikan, dan tangannya memainkan pucuk dada yang membuat Gita semakin larut dalam hasratnya.
“ja, ja, ah ngan kasar lagi seperti waktu itu.” ucap Gita.
“baik sayang, nikmati bagianmu.” Radit kembali dengan tugasnya memberikan Gita rasa kenikmatan.
1 jam berlalu dan mereka telah sampai puncak kenikmatan masing-masing.
Gita tertidur di dada bidang milik Radit.
Radit membelai wajah Gita menyisipkan helaian rambut yang menutupi wajah Gita ke belakang telinga.
Radit memindahkan Gita yang tertidur lelap ke atas ranjang. Setelah membaringkan dan menyelimuti tubuh bugil Gita, Radit pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selsai mandi, Radit berbaring disamping Gita dan tidur.
*Arkana dan Amara
__ADS_1
Amara keluar dari kamar mandi dan telah mengenakan pakaian. Amara menghampiri Arkana yang sedang tidur.
Katanya mau pulang, bangunkan atau tidak yah? Amara.
“mas, mas Arkana?” menggoyang-goyangkan kaki Arkana yang terbalut selimut.
“hemmmm...”
“eh, ngga tidur yah?” tersenyum menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “maaf mas aku mengganggu, anu katanya mau pulang”.
Arkana tidak menjawab pertanyaan Amara, dia langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar hotel.
“tunggu...” seru Amara.
Amara yang belum menyisir rambutnya langsung meraih tasnya dan bergegas menyusul Arkana.
***
Mereka sampai di rumah Arkana, Arkana memiliki rumah dan apartemen. Gita tidak tahu kalo Arkana mempunyai rumah, karena Gita belum pernah di ajak kerumahnya.
“masuk! ”. Menghentikan langkahnya tersadar Amara masih didepan pintu. “mau diluar saja?”
Rumahnya besar sekali, kamarnya ngga cuma satu kan?. Amara memandangi isi rumah Arkana.
“i, i, ia.” berjalan memasuki rumah Arkana. “e, e anu mas Arkana kita tidur satu kamar?” tanya Amara malu-malu.
Arkana hanya melengos seraya tersenyum ogah tanpa menjawab pertanyaan Amara.
Arkana berjalan menuju satu ruangan. rumah Arkana hanya satu lantai tapi sangat luas dan banyak lorong kejutan.
Arkana berhenti di depan pintu suatu ruangan.
Apa ini kamar yang akan aku dan mas Arkana tempati. Amara.
“kamu bisa pakai ruangan ini untuk kamar mu.” membuka pintu. “bereskan sendiri karena disini tidak ada pembantu.”
Sukurlah aku dikasih kamar sendiri, aku belum siap kalo untuk tidur dengan laki-laki asing, apalagi dingin seperti dia, bisa-bisa aku tidak bisa tidur karena ke dinginan.
Amara tanpa sadar menggoyangkan tubuhnya merinding.
__ADS_1
Bersambung.....