Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan
Kesepakatan yang terburu-buru


__ADS_3

Amara terkejut dengan pernyataan Arkana. Yang bahkan Amara pun belum tahu harus menjawab apa.


"Bagaimana Amara, Arkana sudah setuju?" Nenek Beti.


"Nek bolehkan Amara mengenal terlebih dahulu mas Arkana?" memohon.


"Setelah menikah kalian akan lebih mudah untuk mengenal, Amara setuju?"


"Apakah langsung menikah nek?"


"Iya." menjawab antusias.


"Tapi nek Amara kuliah."


"Kamu ngga keberatan kan Arkana kalo istrimu kuliah juga?" beralih menatap ke Arkana yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Tidak masalah." mengkat bahunya menjawab padat dan jelas.


"Apalagi yang Amara khawatirkan semuanya beres. Nenek akan memberi tahu keluargamu secepatnya." nenek memeluk Amara, tersenyum lebar.


Amara ijin pulang karena sudah larut malam.


Amara yabg tadinya ingin menggunakan taxi untuk pulang akhirnya diantar pulang oleh Arkana dengan paksaan nenek Beti.


Suasana malam sangat indah bagi Amara yang sangat menyukai gemerlap lampu-lampu yang dipancarkan oleh kendaraan lain. Seperti lampu berjalan sendiri. Keduanya hanya diam tak berkutik.


Arkana fokus pada jalanan didepannya, sedangkan Amara entah fokus ke lampu-lampu atau memikirkan sesuatu.


"Apa Anda yakin dengan keputusan Anda tadi ?" Amara memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Hemmm..."


"Apa anda tidak mempunyai pacar, dengan mudahnya menerima semua ini!" sedikit gugup.


"Punya!"


"Apa! Lalu kenapa menerima perjodohan ini." argggggahhhh membalikan pandanganya menuju Arkana.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa anda bilang? Anda sudah punya pacar tapi malah menerima perjodihan ini. Apa yang sebenarnya anda pikirkan !" menatap tajam.


"Pada hari H aku tidak akan menghadiri acara pernikahan ini."


"Lalu bagaimana denganku?"


"Pikirkan saja caramu sendiri."


Jadi dia hanya akan memepermainkan aku, dan membuat malu keluargaku. Tidak bisa dibiarkan!.


Mereka sampai di rumah Amara.


Arkana langsung ijin pulang karena sudah larut malam.


Amara langsung masuk kamar, membersihkan diri dan bersiap pergi tidur.


----------------------------------------------------------


Matahari yang sudah meninggi, cahaya menembus jendela kaca kamar Amara.


Amara terbangun karena pipinya tercium cahaya matahari dan mendengar suara ricuh dirumah.


Amara berjalan keluar dari kamarnya, sesampainya di tangga Amara terkejut, setelah menyadari siapa yang datang dan membuat keributan di pagi hari ternyata ada nenek Beti dan Arkana yang sudah ada dirumahnya.


Amara menyadarkan dirinya dan hendak berbalik menuju kamarnya tapi dicegah oleh adiknya.


"Mau kemana kak, ayo turun." seringay jahil


"Alex!" berteriak kaget. "aku mau ganti baju dulu malu tau!" mengerutkan dahinya.


"Alex biarkan kakamu untuk bebersih diri dulu." ibu


"Iya bu." jawab Alex. "Haha, ketahuan jeleknya oleh calon suami." Alex meledek dengan bibir yang dibuat-buat


Amara berjalan setengah lari menuju kamarnya, dan mengabaikan Alex yang masih tertawa puas.


Kenapa mereka bertamu kerumah orang pagi-pagi sekali membuat repot saja.


"Kenapa juga aku harus keluar dari kamar tadi, sebelum membersihkan diriku. Arggggahhhhhhh" bicara sendiri. "Malu, malu, malu, rasanya pingin pura-pura pingsan saja tadi. Mas Arkana ganteng juga tadi, apalagi senyumnya." Amara memegang pipinya, lari kecil ditempat dan tersenyum mengingat Arkana yang ganteng.

__ADS_1


Semua sudah berkumpul termasuk Amara, Amara duduk disebelah nenek Beti. sedari tadi Amara turun Arkana hanya memperhatikan handphone yang dia pegang.


Hanya mengangguk dan tersenyum sesekali saat ditanya.


Ah iya, mungkin dia sedang sibuk dengan pacaranya.Amara


"Amara mau konsep pernikahan yang seperti apa?" nenek Beti.


"Apa!" Amara terkejut dan sepontan berteriak.


"kenapa mau menolak?" Arkana bertanya dan membuat senyum tipis yang penuh arti.


"eh-anu tidak" Amara menjawab kebingungan.


"lalu mau konsep sepertia apa sayang?" Arkana bertanaya dengan nada menggoda Amara.


Amara mengabaikan pertanyaan Arkana.


"Nek maaf, kita kan baru satu kali bertemu, dan kita sepakat untuk mengenal satu sama lain selama satu bulan kan?" Amara menjawab dengan nada yang tegas mempertahankan tubuhnya agar tidak terlihat bergetar. Walau sebenarnya rasa takut yang menghujani sekujur tubuhnya.


"Ya, kalian akan menikah satu bulan lagi terhitung dari hari ini. Maka dari itu kita persiapkan terlebih dahulu semuanya." Nenek Beti.


"Amara, sudah pilih saja jangan terlalu banyak membantah!" ibu Amara berbisik kepada Amara.


Amara menjawab hanya dengan anggukan.


"Baik nek, konsepnya saya serahkan ke mas Arkana saja." memandang Arkana yang masih sibuk dengan Handphonenya setelah tadi puasa meledek Amara.


"Arkana setuju dengan apa yang dipilihkan nenek."menjawab dengan senyuman, lalu beralih menatap tajam ke arah Amara.


Toh, aku tidak akan datang saat hari itu tiba. Arkana


Amara yang seperti paham dengan tatapan yang diberikan Arkana hanya terdiam.


ya ya ya, aku tau kamu tidak akan datangkan! Amara


Akhirnya konsep pernikahan mereka pun sudah ditentukan oleh kedua nenek mereka, semuanya setuju dengan pilihan nenek Beti dan Nenek Amara.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2