
Bunyi tanda pesan masuk pada hp, membuyarkan pikiran Arkana yang dari tadi mengamati Amara dengan laki-laki tertawa, berlari bersama tanpa beban.
Arkana mengambil hp dari dalam saku celananya, dia melihat satu pesan masuk dari sekertarisnya.
Sekertaris : nona Gita pergi ke kamar hotel tempat teman kampusnya menginap.
Arkana tidak membalas pesan itu, ia memasukan kembali hpnya ke dalam saku celananya, dan dia menyuruh sopir taxsi itu kembali melajukan mobil ke hotel tempat dia menginap.
Sesampainya di hotel, Arkana tidak langsung ke kamarnya, melainkan ke kamar Gita terlebih dahulu.
dia menuju kamar Gita berlari kecil dengan tergesah-gesah.
Sampai di depan kamar Gita, Arkana mengetuk pintu kamar Gita, dan membunyikan bel beruntun. Ia juga mencoba menghubungi Gita beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
Arkana mulai menyerah dan berbalik melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar teman sekampus Gita yang diceritakan oleh sekertarisnya. Tapi tiba-tiba pintu kamar Gita terbuka.
“sayang ada apa?”. tanya Gita. Sambil mengercap-ngercapkan matanya khas bangun tidur.
“tidak, aku hanya rindu.” Arkana membalikan badanya lalu menatap lekat Gita. “lanjutkan tidurmu.” Arkana mengatur retime nafasnya, karena berlari tergesah-gesah dan membawa rasa marah dan memikirkan Gita yang negatif.
“baik sayang, selamat tidur.” Gita melambaikan tanganya dan memberi kecup jauh.
“hemm..”
tanpa pikir panjang Arkana langsung berjalan menuju kamarnya.
Gita masih melihat Arkana diambang pintu kamarnya, sampai benar-benar Arkana masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Arkana masuk ke dalam kamarnya, berjalan menuju bibir tempat tidur. dia memikirkan bagaimana bisa sekertarisnya memberikan informasi yang salah.
Arkana mengeluarkan hpnya dari dalam saku, dia mengirim pesan kepada sekertarisnya, bahwa informasi tersebut salah, dan Gita berada dalam kamarnya.
“kenapa aku tidak berpikir panjang tadi, dan memilih mempercayai Zen (nama sekrtarisnya).” membuang hp yang ia pegang jauh-jauh.“argggghhhhh, tapi kalo sampai perkataan Zen benar, aku tidak akan segan-segan memutuskannya!” mengacak-acak rambut dengan tangan.
Malam semakin larut, Arkana merasa lelah karena aktifitas yang padat, dan juga mendapat informasi yang salah mengenai Gita kekasihnya yang sudah membuatnya menaruh rasa marah kepada kekasihnya.
Arkana pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan. kucuran air yang mengenai tubuh membuat segar badannya kembali, gemricik air yang jatuh setelah membasahi tubuhnya juga membuat rasa tenang.
setelah selesai mandi, Arkana pergi ketempat tidur dia berbaring dan menyelimuti tubuhnya hingga perut dia pun terlelap.
Sebelum Arkana datang ke kamar Gita.
*KAMAR HOTEL RADIT
“kenapa, kita lebih aman disini.” Gita mengecup bibir Radit kembali.
“tidak sayang, akan lebih aman dikamarmu.” memegang pundak Gita. “jika Arkana kembali dan memeriksa ke kamar mu dia akan curiga jika hanya tidak dijawab panggilan teleponnya, kita sudah hampir ketahuan satu kali saat di Mall.
“baiklah.” Tersenyum, menggandeng Radit menuju kamarnya.“tunggu” Gita menghentikan langkahnya dan melepas tangan Radit. “sebaiknya aku pergi terlebih dahulu.”
Radit menyetujui idea Gita, mereka pergi secara terpisah.
mereka sudah berada di dalam kamar Gita, Radit memegang kepala bagian belakang Gita dan mendaratkan ciuman dibibir, tangan Radit turun ke pinggul Gita, baru akan mengangkat Gita ke atas ranjang Radit menghentikan aktifitasnya karena mendengar ketukan pintu dan bunyi bel yang beruntun.
“laki-laki tanpa setamina mu datang.” Ucap Radit. memundur satu langkah dari hadapan Gita.
__ADS_1
“biarkan saja, toh dia tidak memegang kunci kamarku.” maju satu langkah mendekati Radit. “aku ingin bersamamu malam ini.”
“berisik sekali!” memalingkan wajah dari hadapan Gita, lalu duduk di tepi tempat tidur. “temui dulu dia, aku akan bersembunyi di kamar mandi!” melangkah ke arah kamar mandi.
Gita menuruti kata Radit, dia berjalan menuju pintu. ia bebenah seakan-akan baru bangun tidur.
Gita membukakan pintu kamarnya, mengeluarkan kepala dan sebagian badannya.
Arkana tidak terlalu curiga dengan dirinya, karena dia berada di dalam kamar.
untung Radit mengajak ke kamarku. Gita
Setelah Arkana pergi, Gita masuk dan menutup pintu kamarnya.
Gita menghela nafas lega, lalu menuju kamar mandi menjemput Radit yang bersembunyi disana.
“keluarlah sayang, dia sudah pergi.” ucap Gita.
“tidak, tempat ini nyaman untuk memberimu kebahagiaan!” menyeringai, lalu menarik lengan Gita untuk masuk ke dalam kamar mandi.
“apakah kamu yakin ini nyaman?” Gita ragu-ragu.
pasalnya Gita pun baru pertama kali akan melakukannya. dia merasa tidak nyaman di kamar mandi, namun karena Radit sudah tidak bisa menahan hasratnya dan dia juga merasa marah teringat kata-kata Gita yang mencintai Arkana, bukan dirinya Radit langsung mengelucuti pakaian yang di kenakan Gita.
Radit bermain sangat kasar, karena terbawa emosi.
“jangan seperti ini!” Gita berteriak.
__ADS_1
Bersambung...