Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan
Bab 21


__ADS_3

3 minggu telah berlalu.


“keluarlah!” ucap Arkana di depan pintu kamar Amara.“aku tunggu di luar.”


“iyaa... 5 menit lagi aku akan keluar.” jawab Amara.


Amara di antar ke kampus oleh Arkana, dan seperti biasa Arkana selalu menjemput Gita kekasihnya terlebih dahulu, ia karena mereka satu kampus.


Tapi kali ini Arkana tidak memberi tahu Gita terlebih dahulu.


Sampai di depan gedung apartemen milik Gita, Arkana turun dari mobilnya, berjalan masuk kedalam gedung untuk menemui Gita karena hp Gita tidak aktif.


Saat pintu lift terbuka, ternyata Gita sedang bersama Radit di depan pintu lift.


Arkana kaget dengan apa yang ia lihat.


“Arkana!” Gita memundurkan badanya dari sisi Radit.


“apa tidak ada tempat lain untuk kalian berciuman?” ucap Arkana.


“tu, tu, tunggu aku bisa jelaskan semua ini.” ucap Gita.


“semuanya sudah jelas!” Arkana menekan tombol lift agar pintu tertutup. “kita cukup sampai disini.”


Gita yang hendak mengejar Arkana, tanganya di tahan oleh Radit. Gita memberontak tapi cengkraman Radit lebih kuat dari pada tenaga Gita.


“biarkan saja dia pergi.” Ucap Radit dan memeluk Gita yang menangis.“ada aku disini.”


Radit memapah Gita yang berada dalam pelukannya kembali ke dalam Apartemen Gita.


Radit menenangkan Gita dengan berbagai cara. Namun Gita tetap ingin pergi menemui Arkana, dan Radit menahan Gita, agar Gita tidak menemui Arkana lagi.


***


Arkana masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar. Amara yang sedang minum pun tersedak karena kaget.


“kenapa sih mas.” tanya Amara.


“diam!” bentak Arkana.

__ADS_1


“aku kan hanya nanya, lagian uring-uringan banget seperti habis putus cinta.” berbicara santai, meminum kembali minumanya.


“sialan!!! Gadis sialan!” Arkana berteriak dan memukul-mukuli setir yang ada di depannya.


Kenapa sih ini orang, datang-datang memaki lagi!. Amara.


“aku?” Amara menunjuk dirinya sendiri.


Arkana tidak menanggapi pertanyaan Amara, dia hanya memandang Amara sebentar. Arkana lalu menghidupkan mobilnya dan menancap pedal gas dengan kecepatan maxsimal.


Amara yang ketakutan tidak berhenti berteriak meminta agar Arkana membawa mobilnya dengan normal.


“mas Arkana!” “kalo mau mati jangan ajak-ajak!” ucap Amara.


Arkana mengerem mendadak saat sampai didepan gerbang kampus Amara, Amara yang merasa mual dan lelah karena berteriak-teriak langsung membuka seat beltnya.


Amara henadak membuka pintu mobil, lalu tangan Amara di tahan oleh Arkana.


“aku akan mencium mu.” ucap Arkana.


Tanpa meminta persetujuan dari Amara, Arkana langsung menyambar bibir tebal milik Amara.


Tapi tenaga Arkana lebih kuat dari tenaga Amara.


“Gila yah, ini tuh di depan kampus!” Amara mengusap bibirnya, mata Amara berkaca-kaca, ciuman pertamanya di rebut oleh orang yang bahkan tidak mencintainya walau sudah menjadi suaminya.


Arkana hanya diam tertunduk setelah melepaskan ciumanya dari bibir Amara. Dia memegang dadanya jantungnya berdebar sangat keras.


“maafkan aku.” memandang Amara yang berlari memasuki halaman kampus. “kenapa jantungku berdebar sangat kencang, rasa apa ini?” gerutunya.


***


Arkana sudah ada di rumah ketika Amara pulang. Arkana memutuskan pulang kerja lebih awal karena konsentrasinya buyar tidak karuan.


“sudah pulang?” sapa Arkana.


Amara hanya melihat Arkana sebentar tanpa mau menjawab sapaan Arkana lalu membuang muka dari tatapan Arkana.


Amara masih merasa kesal dengan apa yang di lakukan oleh Arkana secara tiba-tiba.

__ADS_1


Amara lalu masuk ke dalam kamarnya.


Arkana yang merasa bersalah kepada Amara ingin meminta maaf dengan cara membuatkan makan malam untuk Amara.


Arkana di depan pintu Amara dengan raut wajah bingung, memikirkan bagaimana caranya meminta maaf.


Amara yang sedari tadi sore saat pulang kuliah hingga pukul 7 malam belum keluar dari kamar. Arkana hendak mengetuk pintu kamar Amara, Arkana mengkat tangan dengan jari-jarinya mengepal.


Belum sempat Arkana mengetuk pintu, Amara membuka pintu itu terlebih dahulu.


“mau ngapain?” Ucap Amara. “mau mukul aku?” menyilangkan tangannya didepan dada. “minggir aku mau lewat.”


Arkana yang merasa bersalah hanya diam saja, Arkana sangat canggung sekali karena ini pun ciuman pertama baginya.


Arkana menuruti perkataan Amara.


Arkana berjalan mengikuti dibelakang Amara menuju meja makan.


Mereka hanya saling diam, Arkana sesekali memandang Amara.


Amara tidak seperti biasanya makan dengan sangat tenang.


Biasanya dia selalu bercerita tentang kejadian-kejadian di kampusnya.


Kenapa rasanya aneh sekali. Arkana.


Aku akan tetap diam, biar dia sadar apa yang telah dia lakukan. Amara.


Hinggal selesai makan pun mereka tidak ada yang berbicara. Arkana bingung harus dengan cara apa untuk meminta maaf kepada Amara.


Amara memundurkan tempat duduknya hendak berdiri untuk mencuci piring bekas dia pakai.


“biarkan aku saja yang mencuci piring.” ucap Arkana tanpa sadar dia meraih tanggan Amara. “maaf” melepaskan cengkramanya dari lengan Amara.


Amara tidak menjawab sepatah kata pun, dia langsung pergi ke dalam kamarnya.


Arkana yang frustasi karena bingung dan merasa canggung sendiri.


Arkana mengacak-acak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2