Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan
Bab 14


__ADS_3

10 menit berlalu.


Amara membangunkan Arkana tepat 10 menit seperti yang Arkana minta.


Arkana membuka matanya, dan meregangkan tubuhnya.


“Ayo pulang.” Arkana berdiri.


“tunggu!” Amara tanpa sengaja meraih tangan Arkana.“ Aku lapar, tolong belikan aku makanan.” Amara mendongak ke arah Arkana.


“tidak!” memandang ke arah tangannya yang masih dipegang erat oleh Amara.“kita pulang.”


“aku belum makan saat masih di kota QQ.”


“salahmu sendiri.” Arkana melangkah meninggalkan Amara yang masih duduk.


“belikan saya roti satu saja di toko itu, toko yang disana.” Amara berlari dan berhenti tepat di depan Arkana, lalu menunjuk toko roti.


“hemm...” berbalik, berjalan menuju toko roti yang ditunjuk oleh Amara.


Amara menunggu di luar toko, sedangkan Arkana sedang membeli roti yang di inginkan Amara.


Arkana keluar dari toko dan menyodorkan kantong kertas yang berisi roti milik Amara.


Arkana juga membeli untuk dirinya, mereka duduk di luar toko roti itu untuk makan roti yang Arkana beli.


“mas Arkana sudah lama berpacaran ?”


“sudah satu tahun.” jawab Arkana.


“oh.” mengguk anggukan kepalannya.


“kamu kenapa tidak pacaran?” tanya Arkana.


“mau fokus dulu sama masa depan cerah.” melahap roti.“ lagian nenek udah wanti-wanti aku dijodohin, entar tiba-tiba putus di tengah jalan dan pas sayang-sayangnya kan nyesek.” memegang dada.


“kamu mau dijodohin memang?”


“mau saja, sudah pilihan nenek mau bagaimana lagi.” mengakat bahunya.“menolak pun ngga ada artinya.”


Arkana tidak bertanya lagi kepada Amara, ia lalu beranjak dari tempat duduknya tanpa aba-aba setelah menghabiskan rotinya.


Amara lalu mengikuti Arkana yang sudah berjalan terlebih dahulu.

__ADS_1


mereka akhirnya pulang.


tidak butuh waktu lama, mobil Arkana sudah berhenti di depan rumah Amara.


mereka belum ada yang keluar dari dalam mobil.


“mas Arkana yakin mau ngebatalin pernikahan kita?


“hemmm...”


“mas Arkana yakin?”


“hemmm.”


“yakin?”


“dengar yah” mengahadap ke arah Amara.“ aku tidak akan meninggalkan pacarku, aku sangat mencintainya!” meninggikan nada suaranya.


“baiklah.” matanya berkaca-kaca. bukan karena sakit bahwa Arkana telah mencintai orang lain, tapi karena nada suara Arkana yang terdengar sangat kasar oleh Amara. Amara walau tomboy tapi hatinya mellow.


Amara membuka seat belt lalu turun, dan masuk ke dalam rumah.


di rumah Amara masih ramai dan mereka masih berkumpul, hanya Alex yang tidak terlihat.


“ia nak.” ibu Amara menganggukan kepala.


Amara membungkukan badanya berpamitan kepada semua orang yang ada di ruangan itu.


Amara lalu pergi ke lantai dua dimana kamarnya berada.


Amara langsung ke kamar mandi, ia memandangi dirinya di cermin.


“sebegitu jelekkah aku di mata mas Arkana?”


mata Amara kembali berkaca-kaca. “apa aku pantas di bentak dengan kasar seperti itu?.


lagian bicara baik-baik dan pelan kan bisa.” Amara mendengus kesal.


Amara lalu mengklucuti pakaian yang ada di badanya, setelah meletakan baju yang ia kenakan tadi ke ranjang pakaian kotor, Amara berjalan menuju bathtub untuk berendam menghilakan rasa lelah dan kesalnya terhadap Arkana.


selesai mandi dan sudah berpakaian dengan piamanya bersiap untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah berlibur.


Amara menaiki ranjang, merebahkan tubuh, dan menyelimuti tubuhnya hingga dada, Amara terlelap.

__ADS_1


**Beberapa minggu berlalu**.


Hari ini tepat 1 bulan dari pertemuan Armara dan Arkana.


Hari ini adalah hari H pernikahan mereka, Amara berada di salah satu kamar hotel tempat acara pernikahan akan diselenggarakan.


Amara di temani oleh ibu dan neneknya, ia sudah mengenakan riasan wajah yang sangat ayu, menggunakan gaun warna putih gradasi hijau tosca yang sangat cantik cocok dengan kulitnya, memberikan kesan kalem yang sangat menyegarkan.


Dia sangat gugup karena memikirkan perkataan-perkataan Arkana sebelumnya.


kata-kata itu selalu menghantui pikiran Amara.


“Tenangkan pikiran mu nak?” ibu Amara mendekati Amara yang terlihat sangat gugup.


“ia bu.” Amara memandang ibunya lewat cermin di depannya.


“semua akan baik-baik saja nak.” memegang bahu Amara. “Dan maafkan ibu, yang tidak bisa berbuat apa-apa walau hanya sekedar menolak keinginan nenekmu.” menatap Amara dengan mata berkaca-kaca.


“Sudah bu, tidak apa - apa.” memegang tangan ibu yang ada di bahunya. “Amara juga ikhlas melakukanya.”


Mas Arkana pun tidak akan datang, aku malah takut melihat wajah ayah, ibu, dan nenek nanti setelah mengetahui mas Arkana tidak datang.Amara.


Anggota W.O menghampiri Amara mengatakan acara akan segera di mulai.


Ibu dan nenek Amara mendampingi Amara keluar kamar dan membatu mengkat gaun bagian belakang yang terjuntai yang sangat indah. Mereka menuju aula tempat acara itu di mulai.


Saat menunggu di depan lift Amara sangat gugup dan bergetar kakinya, semua rasa bercampur jadi satu didalam benaknya.


Amara melangkahkan kaki memasuki lift saat pintu lift itu terbuka.


Dia memandangi Angka yang terletak di atas pintu lift, dia menghitung mundur mengikuti angka yang ada di sana.


hatinya berkencambuk berdebar antara bahagia dan rasa takut melihat raut wajah kecewa keluarganya.


Acara pernikahanya diadakan di lantai dasar, saat hampir sampai Amara memejamkan matanya, mempersiapkan dirinya untuk tidak terlalu kecewa saat Arkana tidak datang.


setidaknya dia tidak terlalu malu, karena tamu undangannya pun hanya keluarga dekat saja.


**Bersambung...


Maaf yah, author belum bisa maksimalin nulisnya. masih belajar :(


terimakasih yang sudah mendukung :)

__ADS_1


jangan lupa like nya yah** :)


__ADS_2