Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan
Bab 28


__ADS_3

Reza dan Nita menoleh bersamaan, Amara turun dari mobil lalu berlari menyusul Reza dan Nita.


Nita melambaikan tangan ke arah Amara dibarengi dengan senyum senang bertemu dengan sahabatnya.


Amara langsung mendaratkan pelukannya ke tubuh Nita, tanpa sadar Amara menitikan air matanya. Amara kembali teringat keluarganya yang telah pergi terlebih dahulu.


Nita mengusap sayang punggung Amara. “sabar sayang, kita selalu ada buat kamu.”


Reza yang melihat Amara menitikan air mata hendak mengusap pipi Amara, menghapus kristal bening yang keluar dari pelupuk mata.


Tapi belum juga tangannya mendarat dipipi Amara, tangannya di tahan oleh Arkana.


Arkana menatap tajam Reza. “jangan sentuh istriku!” dengan nada yang penuh penekanan di kata istri.


Pengunjung rumah makan itu langsung ramai-ramai menatap ke arah mereka.


Arkana sudah tidak peduli lagi dengan niatnya menggunakan pakaian serba hitam.


Reza dan Arkana saling tatap tajam.


Amara menyuruh keduanya untuk duduk terlebih dahulu karena banyak yang mengambil potret Arkana sang cucu terkaya di negeri ini.


Walau Reza adalah adik Arkana yang beda ibu, orang-orang belum mengenali Reza.


Amara menuntun keduanya untuk duduk, dan Nita seperti biasa lagi-lagi terkagum kagum dengan Arkana, padahal dia tahu kalo Arkana suami dari sahabatnya.


Amara mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya. “mas, Za.”Amaara memandang bergantian. “jangan seperti itu, banyak orang yang ngelitin malu.” ucap Amara sedikit berbisik.


Reza meraih tangan Amara dan tersenyum. “kita pergi dari sini.” hendak melangkahkan kakinya.


Arkana menampis tangan Reza yang menggandeng tangan Amara. “lepas! _ dia istriku kamu tuli?”


*cih*Reza menyunggingkan salah satu ujung bibirnya. “haha_ jangan ngaku-ngaku!”


“Za, udah Za_” Amara melerai Reza agar tidak menjawab setiap kalimat yang Arkana lontarkan agar tidak terjadi keributan yang panjang.


“perlu bukti?” Arkana tersenyum.“ikut denganku, aku tidak mungkin berbuat disini.” seraya menarik tangan Amara menuju parkiran.

__ADS_1


Nita berjalan mengikuti Amara dan Arkana meninggalkan Reza yang masih tertegun memikirkan apa yang akan diperbut oleh Arkana pada Amara untuk membuktikan semuanya.


Apa benar mereka pasangan?. Reza.


Tuhan kenapa bukan aku jodohnya. Nita.


“masuk.” ucap Arkana membukakan pintu mobil.


“mau kemana mas?” Amara masih berdiri disamping Arkana. “ini cuma salah paham.”


“cih, salah paham katamu?” Arkana menyeringai. “dia mau menyentuhmu dan kamu bilang itu salah paham?”


“menyentuh apa mas?” Amara sudah mulai kesal menghadapi Arkana.


“masuk!”_“aku tidak suka jika kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain, apa lagi berani menyentuhmu.”


Amara masuk ke dalam mobil, Amara memilih diam dari pda harus berdebat dengn Arkana yang tidak akan ada habisnya.


Arkana melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit tinggi, mobil Reza dan Nita mengikuti dibelakang mereka.


Arkana membawa mereka ke rumahnya, sesampainya di garasi mobil. “diam jangan keluar dulu.” ucap Arkana memerintah.


Arkana membukakan pintu mobil agar Amara bisa keluar, Arkana menggandeng lengan Amara hingga didalam rumah tangan Amara tidak dilepas oleh Arkana.


Arkana melemprkan buku. “lihat itu.”


Reza dan Nita membuka buku yang dilempar oleh Arkana.


Reza membuka buku yang berwarna hijau, dan Nita yang berwarna merah.


“sudah jelas?” ucap Arkana.


Reza hanya menatap nanar buku itu. Sedangkan Nita memberi selamat kepada Amara.


Nita sudah tau sebelumnya, tapi Nita tidak datang saat acara pernikahan Amara dilangsungkan.


“Za, maaf ia aku tidak jujur.” ucap Amara.

__ADS_1


Reza hanya memandang Amara lalu menghembuskan nafas yang menyesakan di dadanya.


“za, kita pulang ya.” ucap Nita menenangkan.


Nita tahu betul Reza masih menyimpan rasa kepada Amara.


Reza menyetujui ajakan Nita, mereka berdua pulang.


Amara mengantar kedua sahabatnya sampai depan rumah dan menunggu hingga mobil mereka sudah tidak terlihat dipandangannya.


Arkana sedang duduk di sofa, kemeja hitam yang ia kenakan sudah terbuka dua kancing dari atas.


Arkana masih menyimpan sedikit kekesalan kepada Reza yang berani menyentuh istrinya bahkan tanpa ada penolakan oleh Amara.


Amara mendekati Arkana dan duduk disampingnya. “mas kenapa sih, tidak bisanya seperti itu bikin malu saja.”


Arkana yang mendengar ucapan Amara seperti itu menatap tajam Amara. “kamu yang bilang akan mencintaiku tapi kamu masih mau disentuh oleh laki-laki lain.” ucap Arkana sedikit kesal.


“tapi dia bukan orang lain, dia sahabtku mas.”


“wah, wah, wah.” Arkana membuka semua sisa kancing bajunya. “kamu masih saja membelanya?” dengan nada penekanan.


Arkana mencengkram pundak Amara. “kamu yang menyuruhku agar jatuh cinta kepadamu tapi kamu seperti ini?”


“mas lepaskan sakit.” ucap Amara memohon karena Arkana mencengkram pundaknya terlalu kuat. “mas Arkana, lepaskan!” _“kenapa mas Arkana jadi gila begini.” imbuhnya.


“ia aku sudah gila karena mu.” mendekatkan wajahnya ke telinga Amara. “aku akan memberi hukuman padamu karena kamu telah membela laki-laki lain, dan membiarkan laki-laki lain menyentuhmu saat suamimu tidak ada.” Arkana berbisik yang membuat Amara merinding.


“mas Arka___”


*cup*Arkana mengecup bibir Amara.


“mas kenapa menciumku?” melototi Arkana.


“itu hukumanmu karena membela laki-laki lain.” ucap Arkana.”


Arkana merngkak diatas tubuh Amara, hingga posisi Amara tiduran di sofa.

__ADS_1


Arkana melahap habis bibir tebal Amara dan melakukan hukuman karena Amara mau disentuh oleh laki-laki lain saat suaminya tidak ada disana.


Bersambung...


__ADS_2