
*GITA*
“lama ya?” tanya Gita lalu duduk.
“katamu pacar tanpa setaminamu itu sudah menikah.” Radit menyangga dagu dengan kedua tangannya di atas meja. “kenapa masih kamu pertahankan?”
“apa harus aku jelaskan lagi, kalo aku cinta dengan Arkana?” Ucap Gita lalu meraih minumanya.
“cih... Dan aku yang menikmati mu?” ucap Radit dengan senyum kemenangan.
“apa-apaan sih kamu!” Gita menatap sinis Radit. “tapi aku belum tahu wanita seperti apa yang Arkana nikahi.” mengaduk-aduk minumanya dengan sedotan frustasi.
“mana aku tau.” celetuk Radit.
***
Rumah Arkana
Amara keluar dari kamarnya setelah setengah jam berada didalam kamar, Amara berjalan malas menuju ruang tamu untuk menemui Arkana.
Sampai di ruang tamu Amara menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.
“ahhh... Aku lelah sekali, dan lapar.” Gerutu Amara dengan mengusap-usap perutnya yang datar itu. “kenapa dirumah sebesar ini tidak ada makanan sedikit pun, arggggh.”
“duduk.” Ucap Arkana ketus.
“aku lelah, biarkan aku berbaring sebentar.” ucap Amara.
Arkana langsung menghampiri Amara, membungkukan badannya menatap tajam Amara yang sedang menggerutu.
Amara langsung mengubah posisinya yang tadinya tiduran sekarang menjadi duduk.
“a, a, a, ada apa?” Amara tiba-tiba gerogi.
“dengarkan pembicaraanku dan jangan memotong.” Arkana kembali duduk di posis semula.” aku mungkin akan memperkenalkan kamu ke Gita.”
“yahhhh, jangan gila!” teriak Amara.
“jangan memotong pembicaraanku!” Arkana menatap Amara, lalu melipat kedua tangannya ke depan dada.“setelah itu aku akan jelaskan kepadanya kalo kita akan cerai secepatnya.”
“apa cerai!” Amara berteriak lagi. “aku akan mempertahankan hubungan ini mas.” ucapnya.
“atas dasar apa?” “bahkan kita tidak saling suka.” ucap Arkana.
__ADS_1
“aku menyukai mas Arkana.” melipat tanganya, dan memajukan bibirnya cemberut. “sudahlah aku lapar, antar aku ke pasar untuk membeli bahan makanan, dan inget aku akan mempertahankan hubungan ini.”ucap Amara dan berlalu meninggalkan Arkana tanpa memberi waktu Arkana berbicara.
Pada dasarnya Arkana pun hanya akan memberi tahu namanya saja, karena akan panjang urusannya jika Gita mengetahui semuanya. Arkana pun tidak percaya 100% dengan kekasihnya itu, tapi Arkana terlalu dibutakan oleh cinta pertamanya itu.
Arkana berhenti menyuruh Zen sekertarisnya itu memata-matai Gita karena Arkana ingin melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.
Amara keluar dari kamarnya setelah mengambil jaket karena udara sore hari sangat dingin.
“huahh!” Amara mengejutkan Arkana yang sedang hanyut dalam pikiranya.
“kalo aku jantungan kamu mau tanggung jawab?” Arkana berdiri dan berteriak dengan muka merah marah.
“maaf.” Amara menunduk penuh penyesalan.
Arkana tidak bicara dan membiyarkan Amara merasa bersalah, ia berjalan keluar rumah.
Amara mengekor di belakang Arkana.
“loh mas, ngga pake motor atau mobil?”
“kita jalan kaki saja.” menjawab tanpa menoleh dan tetap berjalan.
Mereka berjalan beriringan, menikmati suasana sore hari. Di daerah rumah Arkana memang sangat Asri, pepohonan begitu rindang.
Pagi, siang, dan sore hari para pemuda dan orang tua banyak yang berlari-lari menjaga setamina mereka.
Suasananya asik sekali disini, coba jalannya sambil berpegangan tangan. Amara.
“mas, aku boleh mencintai mas Arkana?” Amara berjalan mundur di hadapan Arkana.
Arkana hanya menatap Amara tanpa expresi hanya hembusan nafas kasar yang terdengar oleh Amara.
“mas Arkana tidak perlu berusaha untuk membalasnya, cukup hanya berada disampingku saja dan jangan biyarkan aku menjadi janda muda.” Amara masih berjalan mundur dan menyilangkan tangannya ke arah belakang. “aku yang akan berusaha membuat mas Arkana jatuh cinta kep... Aaaaaa...”
Amara tersandung oleh kakinya sendiri, Arkana sigap meraih tangan Amara dan menahan tubuh Amara yang akan jatuh.
“jalanlah dengan normal.” ucap Arkana, melepaskan tangan Amara dan berjalan memasuki minimarket.
Amara menyusul Arkana ke dalam minimarket dengan muka merah dan senyum-senyum sendiri karena pertolongan Arkana.
Masih ada sisi baiknya juga manusia es batu. Amara.
***
__ADS_1
Setelah selesai membeli bahan makanan, mereka pulang dan Amara memasak untuk makan malam.
Sedangkan Arkana pergi ke kamarnya untuk mandi.
Arkana keluar dari kamarnya menuju meja makan, disana sudah terhidang beberapa menu yang di masak oleh Amara.
Amara pandai memasak, karena dia sering bekerja di rumah makan saat libur sekolahnya.
“selamat makan suamiku.” senyum manis Amara terpancar.
Arkana yang hendak mengambil nasi terhenti dan melihat kagum pada senyuman milik Amara yang sangat manis dan menggoda baginya.
“jangan menggodaku!” ucap Arkana dan melanjutkan gerakanya mengambil nasi.
“issshhh....” Amara mendengus kesal.
Mereka menyantap makan malam mereka berdua, ia hanya berdua dalam rumah.
“apa kamu lelah?” ucap Arkana menyendok nasi dan melahapnya. “kamu tidak perlu beres-beres rumah atau pun mencuci, masak pun sebenarnya tidak perlu, aku masih bisa membelikanmu makanan siap saji.”
“tidak, aku tidak lelah.” memandang Arkana. “kata ibu ini kewajiban seorang istri, aku bisa memasakan mas Arkana setiap hari, dan itu lebih sehat dari pada harus membeli makanaan siap saji.”
“tererah kalo itu maumu.”
“kata pepatah, biasanya dari makanan turun kehati menjadi cinta, siapa tau mas Arkana jadi cinta.” Amara tertawa.
Arkana hanya diam dan menatap Amara yang tertawa begitu bahagia, keceriaanya terpancar membuat wajahnya yang manis menjadi cantik berseri.
Hingga bisa menghipnotis seorang Arkana.
Arkana menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis tanpa ia sadari.
**Bersambung...
Tolong likenya yah hehe
Dan juga kritik saranya, agar saya bisa memperbaiki tulisan sayang :)
Terimakasih.
Sedikit banyaknya kalian yang membaca, saya ucapkan terimakasih.
Disini saya bisa menuangkan khayalan saya.
__ADS_1
Hehehe**...