Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan
Awal....?


__ADS_3

Saat Arkana pergi ke dalam mall lagi untuk berpamitan dengan neneknya, Gita berkirim pesan dengan Radit.


"Sorry dit, aku tidak tahu kalo Arkana akan datang ke mall, biasanya dia ngga suka tempat yang ramai." terkirim.


"It's ok, kamu ngga di apa-apain kan ? Kamu kapan putus dengannya, aku ingin kejelasan hubungan kita!". Radit


"Beri aku waktu, udah dulu yah jangan dibalas." terkirim


Pesan itu pun hanya dibaca oleh radit dan tidak dibalas menuruti kata-kata Gita.


Food Court


"Nek aku pergi dulu yah ?" memeluk neneknya.


"Mau kemana kamu ?" membalas pelukan Arkana.


"Ada keperluan nek." melambaikan tangan, memandang Amara dan berjalan meninggalkan mereka.


"Hati-hati dijalan."


Arkana membalas dengan mengacungkan ibu jarinya. Setengah berlari menuju parkiran, Arkana yang masih memendam rasa marah tidak percaya bahwa pacar yang dia cinta pergi dengan laki-laki yang dia tidak kenal.


Dalam perjalanan pulang


Didalam mobil tak ada suara kecuali suara mesin mobil. Mereka terdiam sepanjang perjalanan. Gita yang merasa bersalah kepada Arkana tidak berani membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Ini kali pertamanya mereka bertengkar karena kesalahan yang dia lakukan. Arkana hanya fokus pada jalanan, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa sepatah kata pun membuat Gita semakin tidak berani untuk berbicara terlebih dahulu.


Satu jam terlewati mereka sudah sampai di apartemen Arkana.


"Turun!". Membukakan pintu mobil dan menarik tangan Gita yang masih berdiam diri di dalam mobil.


"Aw sakit" mengusap pergelangan tangannya yang digenggam kuat oleh Arkana.


Arkana masih memegang tangan Gita memasuki gedung apartemen, Menunggu lift karena apartemen Arkana berada dilantai Atas. Lift terbuka, mereka memasuki lift hanya berdua didalam lift itu, Arkana masih memendam amarahnya. lift pun terbuka mereka keluar dari lift langsung tepat didepan pintu apartemen Arkana. Mereka berdua masuk.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan dengan dia?" melepaskan gengaman dari tangan Gita dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.


"Dia teman satu kampusku, dia anak band, vocalis juga, dan kita ketemu tanpa disengaja."


"Kamu yakin?" membuka jas warna navy yang dia kenakan, melonggarkan dasinya dan membuka 2 kancing atas pada baju.


"Iya sayang, aku tidak berbohong." mendekat, melingkarkan tanganya ke pinggang Arkana dan menempelkan kepalanya ke dada Arkana.


"Aku sudah sering bilang, jangan menyentuhku!" menarik tangan Gita dan melepaskan dari tubuhnya.


"Maaf sayang." cemberut.


Gita hanya terdiam dan cemberut. Memang selama ini mereka pacaran Arkana tidak pernah mau dipeluk apalagi hanya berdua didalam ruangan apartemen.


Mereka hanya bergandengan tanggan selama ini jika jalan-jalan.


Arkana memegang prinsip tubuhnya hanya untuk istri yang sah suatu saat nanti.


"Jika kamu berselingkuh, aku tidak akan memaafkanmu!" berdiri berjalan menuju kamar mandi.


Arkana membersihkan diri, menyiram seluruh tubuhnya dengan air dingin untuk meredam amarahnya. Ini salah satu cara ketika kita sedang marah biar adem ngga jadi marah hahaha.


Selesai mandi Arkana pergi bersama Gita ke Mall XX. Gita gemar sekali berbelanja, dan Arkana selalu membelikan apa yang dia inginkan.


***


Setelah selesai makan siang Amara dan nenek Beti pulang.


Mereka berdua terpisah karena nenek Beti harus pergi ke perusahaanya terlebih dahulu.


Amara dijemput oleh orang suruhan nenek Beti untuk mengantar Amara pulang, dan nenek Beti dijemput oleh supir pribadinya.


Didalam mobil kursi penumpang Amara melamun memikirkan apa yang akan terjadi nanti saat hari H pernikahan Arkana tidak menghadiri acara tersebut. Amara membayangkan wajah kecewanya Nenek Amara dan Nenek Beti, serta Ayah, ibu Amara.


"Apa yang harus aku lakukan jika mas Arkana benar-benar tidak datang saat acara nanti?" berbicara dengan diri sendiri. "Arrrgggghhhh, entah lah aku juga tidak menginginkan perjodohan ini."

__ADS_1


Tanpa disadari mobil yang Amara naiki sudah berhenti di depan rumah Amara.


Amara membuka pintu lalu turun dari mobil. Amara berpamitan dan berterimakasih kepada pak supir yang telah mengantarnya pulang dengan selamat. Amara masuk kedalam rumah, didalam rumah Amara hanya melihat nenek dan ibunya sedang berbincang-bincang sambil menonton tv di ruang keluarga. Amara mengampiri nenek dan ibunya ikut ditengah-tengah merka.


Mereka bercengkrama dengan hangat, nenek menanyakan konsep apa saja yang mereka pilih tadi untuk acara pernikahan Amara dengan sangat antusias. Matahari sudah mulai menyembunyikan cahayanya, Amara merasa bandanya sanggat lengket sekali karena tadi setelah pulang tidak langsung mandi. Amara berpamitan untuk pergi mandi terlebih dahulu.


Pukul 07.00 Malam.


"Amara makan malam dulu ayo turun." ibu di depan pintu kamar Amara hendak membuka pintu.


“baik bu” membuka pintu dan melingkarkan tanganya ke tubuh ibunya.


Mereka menuju ruang makan bersama, Amara menuruni tangga sambil bercanda, Amara tak melepaskan pelukanya. Sesekali mengeluarkan gelak tawa bersama entah apa yang dibicarakannya dengan ibu.


Semua orang sudah berada dikursi masing-masing melingkari meja makan.


Tidak ada yang berbicara ketika menyantap makanan. Jangankan berbicara, meninbulkan bunyi sendok yang bersentuhan dengan piring pun dilarang.


Setelah selesai makan Amara membuka percakapn terlebih dahulu.


“bu, Amara pergi berlibur besok pagi yah?” memohon dengan muka imutnya dan mata yang berbinar. “boleh ya bu ya” memegang tangan ibu.


“Dengan Nita dan Reza?” sambil tetap mengupas buah Aple.


“Iya bu, 3 hari 2 malam” mengkat jarinya menujukan 2jarinya.“ayah boleh ya yah, Amara kan belum berlibur, sebentar lagi masuk kuliah.” membujuk ayahnya.


“baik lah, jaga dirimu.” jawab ayah.


“lebih baik Arkana diajak juga.” ujar nenek.


“tapi nek ini acara sama temen Amara, jadi ia cuma kita bertiga.”


Amara pun diberi ijin, mereka telah selesai makan malam dan semua menuju kamar masing-masing untuk mengistirahatkan badan mereka yang telah beraktifitas seharian.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2