
Pintu lift terbuka Amara membuka matanya tapi masih menundukan kepalanya, dia masih belum siap untuk melihat wajah kecewa keluarganya.
“Ayo sayang, sudah ditunggu pak penghulu dari tadi.” ucap nenek Beti yang sedari tadi sudah menunggu di depan lift bersama Arkana.
“Amara, tegakan kepalamu!” Ucap ibu Amara menyadarianya.
Arkana mengulurkan tanganya agar Amara berpegangan kepadanya, untuk membatu Amara berjalan.
karena gaun yang di pake Amara terlihat sangat berat.
Amara tertegun tak percaya melihat apa yang ada di depannya sekarang adalah orang yang selama ini selalu mengucapkan kata-kata yang membuat dia tidak pernah tenang saat memikirkan pernikahan.
Amara meraih tangan Arkana, dia berjalan sejajar dengan Arkana melewati karpet merah bak seorang raja dan ratu.
Acara berlangsung dengan lancar, dua belah pihak terlihat bahagia. Apalagi nenek Beti dan nenek Amara.
kedua sahabat itu sepanjang acara terlihat selalu tersenyum saat berbincang-bincang dengan para tamu undangan.
Lain lagi dengan Arkana, yang sedari tadi diam tanpa kata, dan hanya bermain dengan hp nya berkirim pesan entah dengan siapa yang jelas hp nya tidak berhenti berbunyi, dan berbicara seperlunya saat ada tamu yang memberi selamat kepada mereka.
Satu persatu para tamu undangan meninggalkan tempat acara. Arkana dan Amara pun beranjak meninggalkan tempat acara pernikahan mereka menuju kamar mereka untuk beristirahat.
mereka berpamitan kepada keluarga mereka berdua.
“Aku mau langsung pulang ke rumah ku setelah ini.” kata Arkana dan berjalan menuju kamar mandi.
“kenapa tidak menginap disini?” tanya Amara
“kalo kamu ingin di sini silahkan, tapi aku mau pulang!” menutup pintu kamar mandi tanpa mau mendengar perkataan Amara lagi.
“kan sayang ia kak, kaka udah cape-cape ngebuat ini semua ?” Amara berbicara dengan W.O yang sedang menbantunya melepaskan gaun pengantin yang ia kenakan.
Petugas W.O itu hanya tersenyum dengan tangan yang terus membantu merapihkan gaun dan rambut Amara.
setelah selesai semua petugas W.O itu berpamitan karena tugasnya telah selesai.
__ADS_1
Arkana selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililit menutupi bagian perut hingga lutut.
Amara reflek menutup matanya.
“kenapa ngga langsung pake baju sih!” berteriak.
“bajuku di lemari itu, ambilkan.”
“Ambil sendiri!”
“Ambil sekarang!”
Amara terkejut karena nada bicara Arkana yang tiba-tiba meninggi.
Amara membuka tangannya yang menutupi matanya tadi perlahan.
Wah, benar-benar maha karya Tuhan yang indah.Amara.
Amara mengambil baju Arkana, dia menghampiri Arkana yang berada di depan kamar mandi dan memberikan bajunya. Amara masih melihat Arkana yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
“nih mas bajunya.” menyodorkan tangannya yang berisi baju.”mau aku bantuin keringin rambutnya ?” Amara menawarkan bantuan.
“tidak perlu!” meraih baju yang ada di lengan Amara.”Mandi saja kamu, mau ikut pulang atau mau disini ?”
“aku ikut mas Arkana saja, aku takut sendirian.”
“ok, aku tunggu 10 menit.” mengenakan bajunya.
“Apa!” mebelalakan matanya.
“di mulai dari sekarang.” membalikan badanya menghadap Amara. ”masih mau berdiri saja di situ? mau lihat aku pakai celana?”
“tidak!” langsung berbalik, tanpa ia sadari pintu kamar mandi tertutup dan dia terbentur dan mengaduh kesakitan.
Amara mengusap jidatnya yang merasa sakit karena terbentur pintu dan memasuki kamar mandi untuk mandi.
__ADS_1
Mandi apa nih 10 menit, dasar tuan es batu gila.Amara menggerutu kesal.
Arkana tersenyum melihat Amara, lalu ia beranjak menuju tempt tidur setelah memakai pakaianya komplit.
“Seharusnya sekarang aku menikah dengan Gita, bukan dengan gadis bodoh yang tomboy pilihan nenek.” mengerutu dan membaringkan badannya di atas tempat tidur.“maafkan aku sayang, aku berjanji secepatnya akan mengakhiri semua ini dan menikah denganmu.” Arkana memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya saat ini memikirkan untuk mengakhiri semua dengan Amara.
*Sebelum Arkana datang ke acara penikahanya.
“nek Arkana tidak akan menikah dengan gadis itu.”
“apa alasanmu tidak mau menikah dengan Amara, gadis yang sangat baik ?” nenek berdiri dari tempat duduknya.
“Arkana tidak mencintainya nek.” memegang tangan neneknya yang hendak pergi.
“lalu kamu cinta dengan wanita penyayi itu?” memandang Arkana.“ wanita itu tidak baik untukmu!”
“Arkana yakin Gita baik untuk Arkana nek.” dengan nada memohon.“ Arkana sangat mencintai Gita, dan juga sebaliknya.”
“kalo begitu batalkan pernikahan dengan Amara, dan kamu pergi dari keluarga Buana dan tinggalkan semua fasilitas yang nenek berikan!”
“ tapi nek siapa yang akan mengurus perusahan-perusahaan nenek jika Arkana pergi ?”
“Ada adik tirimu, jangan khawatirkan itu. sekarang pergilah.”
“baik nek, Arkana akan menuruti semua yang nenek mau termasuk menikahi gadis bodoh itu.” Arkana berdiri, dia emosi karena nenek yang ia pikir sayang terhadapnya ternyata menyebut adik tirinya didepan Arkana.
Arkana akhirnya menyetujui semua yang neneknya pernitahkan, dia berangkat ke acara pernikahan bersama neneknya.
di perjalanan menuju hotel tempat acara berlangsung dia berkirim pesan dengan pacaranya.
”maafkan aku, aku akan menikah”
“dan jangan khawatir, secepatnya juga aku akan ceraikan dia”
“aku mencintaimu Gita♥” Terkirim.
__ADS_1
Bersambung....